ADS Akt FE : Membuat Artikel Bisnis “IT”
Silahkan membuat artikel tentang Analisis dan Desain Sistem Informasi dengan tema “Membangun Bisnis berbasis Teknologi Informasi” masing-masing mahasiswa satu artikel kumpulkan disini. Caranya adalah dengan meng-klik add your opinion, setelah itu isi box nama dan email, kemudian di box comment Saudara paste Artikel Anda. Selamat mencoba. Paling lambat dikumpulkan pada hari Senin tanggal 3 Mei 2008. Artikel maksimal 1 halaman. Sebutkan Sumbernya.
nh*
Popularity: 44% [?]




78 Responses to “ADS Akt FE : Membuat Artikel Bisnis “IT””
Kerangka Sistem Analisa & Desain
System adalah sekumpulan komponen saling terhubung yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai hasil tertentu.
Information system (IS) kumpulan orang, data, proses, dan teknologi informasi yang berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung suatu organisasi
Information technology adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kombinasi teknologi komputer (HW dan SW) serta teknologi telekomunikasi (jaringan data, citra, dan suara)
Kerangka Sistem Analisa & Desain
System adalah sekumpulan komponen saling terhubung yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai hasil tertentu.
Information system (IS) kumpulan orang, data, proses, dan teknologi informasi yang berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung suatu organisasi
Information technology adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kombinasi teknologi komputer (HW dan SW) serta teknologi telekomunikasi (jaringan data, citra, dan suara)
sumber : http://www.ikom.usd.co.id
By Ispriyanti on Apr 28, 2008
INFORMASI
Informasi dapat diibaratkan sebagai darah yang mengalir di dalam
tubuh manusia, seperti halnya informasi di dalam sebuah perusahaan yang
sangat penting untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga
terdapat alasan bahwa informasi sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan.
Akibat bila kurang mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan
akan mengalami ketidakmampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam
mengambil keputusan-keputusan strategis sangat terganggu, yang pada akhirnya
akan mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan pesaingnya.
Disamping itu, sistem informasi yang dimiliki seringkali tidak dapat
bekerja dengan baik. Masalah utamanya adalah bahwa sistem informasi tersebut
terlalu banyak informasi yang tidak bermanfaat atau berarti (sistem terlalu
banyak data). Memahami konsep dasar informasi adalah sangat penting (vital)
dalam mendesain sebuah sistem informasi yang efektif (effective business
system). Menyiapkan langkah atau metode dalam menyediakan informasi yang
berkualitas adalah tujuan dalam mendesain sistem baru.
DATA VERSUS INFORMASI
a. Data adalah deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi
(data is the description of things and events that we face).
b. Data bisnis (business data) adalah deskripsi organisasi tentang sesuatu
(resources) dan kejadian (transactions) yang terjadi
(business data is an organization’s description of things (resources)
and events (transactions) that it faces).
c. Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan
kesatuan nyata. Kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat
tertentu. Sebagai contoh, dalam dunia bisnis kejadian-kejadian nyata
yang sering terjadi adalah perubahan dari suatu nilai yang disebut
dengan transaksi. Misalnya penjualan adalah transaksi perubahan nilai
barang menjadi nilai uang atau nilai piutang dagang. Kesatuan nyata
(fact and entity) adalah berupa suatu obyek nyata seperti tempat, benda
dan orang yang betul-betul ada dan terjadi.
Sumber dari informasi adalah data. Data merupakan bentuk jamak dari
bentuk tunggal data-item. Data merupakan bentuk yang belum dapat
memberikan manfaat yang besar bagi penerimanya, sehingga perlu suatu
model yang nantinya akan dikelompokkan dan diproses untuk menghasilkan
informasi. Hal tersebut dapat dilihat dalam contoh kasus sebagai berikut ; didalam kegiatan suatu perusahaan, dari hasil transaksi penjualan oleh sejumlah salesman, dihasilkan sejumlah faktor-faktor yang merupakan data dari penjualan pada suatu periode tertentu. Faktur-faktur penjualan tersebut masih belum dapat memberikan informasi yang baik bagi manajemen. Untuk pengambilan keputusan bagi manajemen, maka faktur-faktur tersebut harus diolah lebih lanjut untuk menjadi suatu informasi. Sesudah diolah, akan dapat diperoleh informasi, antara lain mengenai :
a. Laporan penjualan penjualan setiap salesman, yang berfungsi untuk
memberikan besarnya komisi dan bonus.
b. Laporan penjualan setiap daerah, yang berfungsi untuk pelaksanaan
promosi dan periklanan.
c. Laporan penjualan setiap jenis barang, yang berfungsi untuk mengontrol
persediaan barang dan untuk mengevaluasi barang yang tidak atau kurang
laku terjual.
KONSEP DASAR INFORMASI
Terdapat beberapa definisi, antara lain :
a. Data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti
bagi yang menerimanya.
b. Sesuatu yang nyata atau setengah nyata yang dapat mengurangi derajat
ketidakpastian tentang suatu keadaan atau kejadian.
Sebagai contoh, informasi yang menyatakan bahwa nilai rupiah akan naik,
akan mengurangi ketidakpastian mengenai jadi tidaknya sebuah investasi
akan dilakukan.
c. Data organized to help choose some current or future action or nonaction
to fullfill company goals (the choice is called business decision making).
PENGOLAHAN DATA (DATA PROCESSING)
Adalah masa atau waktu yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan
bentuk data menjadi informasi yang memiliki keguanaan (data processing is
the term used to describe changes performed on data to produce purposeful
information).
Operasi yang dilakukan dalam pengolahan data :
1. Data input
a) Recording transaction data ke sebuah pengolahan data medium
(contoh, punching number ke dalam kalkulator).
b) Coding transaction data ke dalam bentuk lain (contoh, converting
atribut kelamin female ke huruf F).
c) Storing data or information untuk pengambilan keputusan (potential
information for future).
2. Data transformation
a) Calculating, operasi aritmatik terhadap data field.
b) Summarizing, proses akumulasi beberapa data (contoh, menjumlah
jumlah jam kerja setiap hari dalam seminggu menjadi nilai total jam
kerja perminggu).
c) Classifying data group-group tertentu :
c.1) Categorizing data kedalam group berdasar karakteristrik tertentu
(contoh, pengelompokkan data mahasiswa berdasar semester aktif).
c.2) Sorting data kedalam bentuk yang berurutan (contoh, pengurutan
nomor induk karyawan secara ascending).
c.3) Merging untuk dua atau lebih set data berdasar kriteria tertentu
(menggabungkan data penjualan bulan Januari, Februari dan Maret
kedalam group triwulanan).
c.4) Matching data berdasar keinginan pengguna terhadap group data
(contoh, memilih semua karyawan yang total pendapatannya lebih
dari 15 juta pertahun).
3. Information output
a) Displaying result, menampilkan informasi yang dibutuhkan pemakai
melalui monitor atau cetakan.
b) Reproducing, penyimpanan data yang digunakan untuk pemakai lain yang
membutuhkan.
c) Telecommunicating, penyimpanan data secara elektronik melalui saluran
komunikasi.
+—–+
: : __________________
: M S : Data Input : : Information Output
: A T :=============>: Data :====================>
: J E : (Transaction): Transformation : (Report)
: O P : __________________
: R S : : :
: : : :
:_____:_____________________________________________________
: : : :
: F : * Record : * Calculate : * Display
: U : : :
: N : * Code : * Summarize : * Reproduce
: C : : :
: T : * Store : * Classify : * Telecommunicate
: I : : :
: O : * Select : :
: N : : :
: : : :
+—–+ : :
Gambar 1.2 : Proses Utama dan Fungsi Pengolahan Data
TEST KEBUTUHAN INFORMASI
Terdapat 4 tes untuk menjelaskan sebuah pesan yang spesifik dalam informasi :
1. Kepada siapa (pembuat keputusan) informasi ditujukan ?
(to whom (which decision maker) is the message intended ?)
2. Untuk keputusan spesifik apa informasi ditujukan ?
(for what specific decision is the message intended ?)
3. Sejauh mana informasi dapat digunakan untuk mendeteksi dan memecahkan
masalah ? (how is the message used to detect or resolve the condition)
4. Sejauh mana (kapan) tingkat pembuatan keputusan ?
(how often (when) is the decision made ?)
SIKLUS INFORMASI
Untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi penerimanya, perlu untuk
dijelaskan bagaimana siklus yang terjadi atau dibutuhkan dalam menghasilkan
informasi. Pertama-tama data dimasukkan ke dalam model yang umumnya memiliki
urutan proses tertentu dan pasti, setelah diproses akan dihasilkan informasi
tertentu yang bermanfaat bagi penerima (level management) sebagai dasar
dalam membuat suatu keputusan atau melakukan tindakan tertentu,
Dari keputusan atau tindakan tersebut akan menghasilkan atau diperoleh
kejadian-kejadian tertentu yang akan digunakan kembali sebagai data yang
nantinya akan dimasukkan ke dalam model (proses), begitu seterusnya.
Dengan demikian akan membentuk suatu siklus informasi (information cycle)
atau siklus pengolahan data (data processing cycles), seperti gambar berikut :
+———–+
: Proses :
+——>: (Model) :——-+
: +———–+ :
: :
: :
+————+ +—————+
: Input : : Output :
: (Data) : : (Information) :
+————+ +—————+
^ :
: :
+————+ +—————+
: Data : : Penerima :
: (Kejadian) : : (User) :
+————+ +—————+
^ :
: :
+————+ +————-+
: Hasil : : Keputusan :
: tindakan : : tindakan :
+————+ +————-+
^ :
: :
+—————————+
Gambar 1.3 : Siklus informasi
KUALITAS INFORMASI
Kualitas informasi (quality of information) sangat dipengaruhi atau
ditentuka 3 hal, yaitu :
a. Relevan (relevancy)
Berarti informasi harus memberikan manfaat bagi pemakainya.
Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya
berbeda. Misalnya informasi mengenai sebab-musabab kerusakan mesin
produksi kepada akuntan perusahaan adalah kurang relevan dan akan lebih
relevan bila ditujukan kepada ahli teknik perusahaan
* How is the message used for problem solving (decision masking) ?
b. Akurat (accuracy)
Informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau
menyesatkan, dan harus jelas mencerminkan maksudnya. Ketidakakuratan
dapat terjadi karena sumber informasi (data) mengalami gangguan atau
kesengajaan sehingga merusak atau merubah data-data asli tersebut.
Komponen akurat :
b.1) Completeness ; Are necessary message items present ?
Berarti informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus memiliki
kelengkapan yang baik, karena bila informasi yang dihasilkan
sebagian-sebagian tentunya akan mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan atau menentukan tindakan secara keseluruhan, sehingga
akan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk mengontrol atau
memecahkan suatu masalah dengan baik.
b.2) Correctness ; Are message items correct ?
b.3) Security ; Did the message reach all or only the intended systems
users ?
c. Tepat waktu (timeliness)
Informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan tidak boleh terlambat (usang).
Informasi yang usang tidak mempunyai nilai yang baik, sehingga kalau
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan akan berakibat fatal
atau kesalahan dalam keputusan dan tindakan. Kondisi demikian menyebabkan
mahalnya nilai suatu informasi, sehingga kecepatan untuk mendapatkan,
mengolah dan mengirimkannya memerlukan teknologi-teknologi terbaru.
* How quickly is input transformed to correct output ?
d. Ekonomis (Economy)
* What level of resources is needed to move information through
the problem-solving cycle ?
e. Efisien (Efficiency)
* What level of resources is required for each unit of information
output ?
f. Dapat dipercaya (Reliability)
NILAI INFORMASI
Ditentukan dari :
a. Manfaat (use)
b. Biaya (cost)
+———————————————————————–+
: Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif :
: dibandingkan dengan biaya mendapatkannya dan sebagian besar informasi :
: tidak dapat tepat ditaksir keuntungannya dengan satuan nilai uang, :
: tetapi dapat ditaksir nilai efektivitasnya. :
: Pengukurannya dapat menggunakan analisis cost effectiveness atau :
: cost benefit. :
+———————————————————————–+
INFORMASI DAN TINGKAT MANAJEMEN
Berdasarkan tingkatan manajemen, informasi dapat dikelompokkan berdasar
penggunanya, yaitu :
a. Informasi Strategis
Digunakan untuk mengambil keputusan jangka panjang, mencakup informasi
eksternal (tindakan pesaing, langganan), rencana perluasan perusahaan
dan sebagainya.
b. Informasi Taktis
Digunakan untuk mengambil keputusan jangka menengah, mencakup informasi
trend penjualan yang dapat dipakai untuk menyusun rencana-rencana
penjualan.
c. Informasi Teknis
Digunakan untuk keperluan operasional sehari-hari, informasi persedian
stock, retur penjualan dan laporan kas harian.
+————————————————————————-+
: Supaya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dapat berguna :
: bagi manajamen, maka analis sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan :
: informasi yang dibutuhkannya, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan :
: untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang :
: diambilnya. :
+————————————————————————-+
SISTEM INFORMASI
Dapat didefinisikan sebagai
a. Suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari komponen-
komponen dalam organisasi untuk mencapai suatu tujuan yaitu menyajikan
informasi.
b. Sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat dilaksanakan akan
memberikan informasi bagi pengambil keputusan dan/atau untuk
mengendalikan organisasi.
c. Suatu sistem didalam suato organisasi yang mempertemukan kebutuhan
pengolahan transaksi, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan
kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar
tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan,
MANFAAT SISTEM INFORMASI
a. Organisasi menggunakan sistem informasi untuk mengolah transaksi-
transaksi, mengurangi biaya dan menghasilkan pendapatan sebagai salah
satu produk atau pelayanan mereka.
b. Bank menggunakan sistem informasi untuk mengolah cek-cek nasabah dan
membuat berbagai laporan rekening koran dan transaksi yang terjadi.
c. Perusahaan menggunakan sistem informasi untuk mempertahankan persediaan
pada tingkat paling rendah agar konsisten dengan jenis barang yang
tersedia.
PEMAKAI SISTEM INFORMASI
Sebagian besar sistem informasi berlandaskan komputer terdapat di dalam
suatu organisasi dalam berbagai jenis. Anggota organisasi adalah pemakai
informasi yang dihasilkan sistem tersebut termasuk manajer yang bertanggung
atas pengalokasian sumber daya untuk pengembangan dan pengoperasian
perusahaan.
KOMPONEN SISTEM INFORMASI
a. Hardware
Terdiri dari komputer, periferal (printer) dan jaringan.
b. Software
Merupakan kumpulan dari perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan
tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugas tertentu.
Software dapat digolongkan menjadi Sistem Operasi (Windows 95 dan NT),
Aplikasi (Akuntansi), Utilitas (Anti Virus, Speed Disk), serta Bahasa
(3 GL dan 4 GL).
c. Data
Merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut
untuk menghasilkan informasi.
d. Prosedur
Dokumentasi prosedur/proses sistem, buku penuntun operasional (aplikasi)
dan teknis.
e. Manusia
Yang terlibat dalam komponen manusia seperti operator, pemimpin sistem
informasi dan sebagainya. Oleh sebab itu perlu suatu rincian tugas yang
jelas.
KEGIATAN SISTEM INFORMASI
a. Input
Menggambarkan suatu kegiatan untuk menyediakan data untuk diproses.
b. Proses
Menggambarkan bagaimana suatu data di proses untuk menghasilkan suatu
informasi yang bernilai tambah.
c. Output
Suatu kegiatan untuk menghasilkan laporan dari proses di atas tersebut.
d. Penyimpanan
Suatu kegiatan untuk memelihara dan menyimpan data.
e. Control
Suatu aktivitas untuk menjamin bahwa sistem informasi tersebut berjalan
sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam mendisain dan menganalisa sistem informasi, perlu menerapkan
pengetahuan dari berbagai macaam bidang. Suatu sistem informasi melibatkan
orang-orang pada berbagai tingkat di dalam sebuah organisasi, komputer,
program, dan prosedur serta personil untuk mengoperasikan sistem.
Bidang-bidang seperti manajemen, perilaku organisasi, teknik industri,
ilmu komputer, teknik elektro, komunikasi, psikologi dan lain-lain semuanya
memiliki peranan penting dalam membuat, mempelajari dan mendisain sistem
informasi. Apabila Sistem Informasi digunakan dalam mendukung kegiatan
manajemen, maka sistem tersebut disebut SIM (Sistem Informasi Manajemen).
+————————————————————————–+
: Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah kumpulan dari sistem manajamen :
: atau sistem yang menyediakan informasi yang bertujuan mendukung operasi :
: manajemen dan pengambilan keputusan dalam suatu organisasi yang cenderung:
: berhubungan dengan pengolahan informasi yang berbasis pada komputer :
: (computer base information processing) dengan mempertimbangkan informasi :
: apa, untuk siapa, dan kapan harus disajikan. :
+————————————————————————–+
SIM tergantung dari besar kecilnya organisasi yang dapat terdiri dari sistem-sistem informasi :
a. Akuntansi (Accounting Information Systems)
b. Pemasaran (Marketing Information Systems)
c. Penyediaan (Inventory Information Systems)
d. Personalia (Personnel Information Systems)
e. Distribusi (Distribution Information Systems)
f. Pembelian (Purchasing Information Systems)
g. Kekayaan (Treasury Information Systems)
h. Analisis Kredit (Credit Analysis Information Systems)
i. Penelitian dan Pengembangan (Research and Development Information Systems)
j. Teknik (Engineering Information Systems)
DETAIL KOMPONEN SISTEM INFORMASI
a. Blok Masukan (Input Block)
Meliputi, metode-metode dan media untuk menangkap data yang akan
dimasukkan, dapat berupa dokumen-dokumen dasar.
b. Blok Model (Model Block)
Terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang
berfungsi memanipulasi data untuk keluaran tertentu.
c. Blok Keluaran (Output Block)
Berupa keluaran dokumen dan informasi yang berkualitas.
d. Blok Teknologi (Technology Block)
Untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data,
menghasilkan dan mengirimkan keluaran serta membantu pengendalian dari
sistem secara keseluruhan.
e. Blok Basis Data (Database Block)
Merupakan kumpulan data yang berhubungan satu dengan lainnya, tersimpan
di perangkat keras komputer dan perangkat lunak untuk memanipulasinya.
f. Blok Kendali (Controls Block)
Meliput masalah pengendalian yang berfungsi mencegah dan menangani
kesalahan/kegagalan sistem.
SISTEM INFORMASI BISNIS
Umumnya topik-topik yang membahas SIM (Sistem Informasi Manajemen) dan
SIB (Sistem Informasi Bisnis) menekankan pada pembahasan sistem informasi
penjualan, akuntansi, personalia dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa
SIM dan SIB secara sepintas adalah sama, karena seorang manajer pada
dasarnya menjalankan suatu bisnis, tetapi bila dianalisa lebih lanjut akan
ditemukan beberapa hal yang berbeda, yaitu :
a. Sumber data SIB lebih dominan bersumber dari luar organisasi (peraturan
pemerintah, perpajakan, bursa tenaga kerja, demografi, lembaga keuangan,
serikat buruh, pasar modal), sedangkan SIM dari transaksi harian
organisasi.
b. SIB lebih dominan digunakan oleh investor dan SIM lebih ditujukan untuk
manajemen agar dapat mengawasi sumber daya yang tersedia sehingga dapat
bekerja secara efisien dan efektif· SIB dapat diperoleh dari hasil
penelitian, membeli dari pusat data statistik dan dari informasi-
informasi lainnya.
c. SIM dalam menyajikan informasi penjualan berkaitan dengan target yang
dicapai, perbandingan dengan anggaran, gambaran trend penjualan,
sedangkan SIB lebih menekankan pada beberapa persen pangsa pasar yang
dikuasai oleh perusahaan, beberapa persen lagi yang dapat dikuasai,
bagaimana strategi pesaing dalam meningkatkan pangsa pasar.
Dari tingkatannya SIM merupakan bagian dari SIB, sedangkan SIA merupakan
bagian dari SIM
ORGANISASI SISTEM INFORMASI
Lokasi sistem informasi di dalam suatu organisasi belum ada kesepakatan.
Ada yang memisahkan dalam departemen sendiri, yaitu departemen sistem
informasi dan ada yang menggabungnya dengan departemen lain, misalnya
dengan departemen akuntansi yang dibawah koordinasi oleh controller (kepala
eksekutif/manajer tingkat atas akuntansi yang mempunyai fungsi perencanaan,
pengendalian, pelaporan, akuntansi, dan tanggungjawab penting lainnya).
Jika departemen sistem informasi dibawah controller bersama-sama dengan
departemen akuntansi, biasanya departemen sistem informasi hanya terbatas
pada pengolahan data elektronik saja dengan struktur organisasi tampak
sebagai berikut :
+———–+
: Direktur :
: Utama :
+———–+
|
+————-+————-+
| | |
+———–+ +———-+ +———-+
: Direktur : : Direktur : :Controller:
: Pemasaran : : Produksi : : :
+———–+ +———-+ +———-+
|
+————-+————-+————–+————+
| | | | |
+———–+ +———-+ +———-+ +———-+ +———-+
: Internal : : Akuntansi: : Akuntansi: : PDE : : Anggaran :
: Audit : : Keuangan : : Biaya : : : : :
+———–+ +———-+ +———-+ +———-+ +———-+
Gambar 2.3 : Controller membawahi akuntansi dan PDE
Pengaturan seperti ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
1. Perubahan dari sistem manual ke sistem komputer dengan diterapkannya
departemen PDE tidak terlalu mengejutkan dan mudah diterima karena bukan
merupakan departemen yang terpisah.
2. Peranan dan fungsi pengolahan akuntansi dan pelaporan keuangan terpusat
dengan PDE sehingga fungsi dari akuntansi yang bertanggungjawab terhadap
pengolahan transaksi serta penyediaan informasi keuangan kepada manajer
fungsi yang lainnya dan kepada piahk luar lebih efektif.
3. Karena keberhasilan aplikasi komputer didalam kegiatan akuntansi seperti
misalnya penggajian, piutang dagang dan pengendalian persediaan merupakan
tanggungjawab akuntan sedang akuntan terlibat langsung didalamnya, maka
diharapkan pengembangan aplikasi tersebut dapat lebih mengena.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam bentuk struktur organisasi demikian
adalah tentang peranan controller bersangkutan. Jika controller betul-betul
memahami dan menguasai teknologi pengolahan data elektronik, hal ini tidak
menjadi masalah. Kekuatiran lebih lanjut adala bahwa data yang diolah
mungkin tidak hanya data mengenai akuntansi saja, tetapi juga data lain
yang non-akuntansi, sehingga pengetahuan controller mengenai masalah lainnya
juga harus cukup. Di beberapa organisasi, fungsi sistem informasi atau PDE
diorganisasikan secara terpisah dari fungsi akuntansi dan dibawah
tanggungjawab manajer tersendiri, yaitu manajer PDE atau manajer sistem
informasi.
+———–+
: Direktur :
: Utama :
+———–+
|
+————-+————-+————–+————-+
| | | | |
+———–+ +———-+ +———-+ +———-+ +———-+
: Direktur : : Direktur : : Direktur : :Controller: : Direktur :
: Pemasaran : : Produksi : :Personalia: : : : PDE :
+———–+ +———-+ +———-+ +———-+ +———-+
Gambar 2.4 : Fungsi PDE tidak dibawah controller
Alasan bahwa departemen sistem informasi atau disebut dengan departemen PDE
berdiri sendiri tidak dibawah controller adalah karena departemen PDE
sebagai service departemen tidak hanya mengolah data akuntansi saja, tetapi
juga mengolahdata non-akuntansi (ingat sistem informasi manajemen, sedang
SIA hanya subsistem dari SIM). Ada pendapat jika lokasi departemen PDE
dibawah controller, informasi keuangan cenderung mendominasi sistem ini,
karena controller akan lebih menekankan pada masalah-masalah keuangan saja,
sebagai akibatnya bagian-bagian lainnya dalam organisasi akan tidak puas
terhadap kebutuhan-kebutuhan informasinya. Dengan memisahkan fungsi sistem
informasi (PDE) dibawah tanggungjawab manajer sistem informasi, maka semua
aspek yang berhubungan dengan pengolahan data akan dapat dilaksanakan
dengan lebih efektif, karena pengetahuan manajer PDE sebagai spesialis
dibidangnya lebih baik dibandingkan dengan controller. Untuk organisasi
yang kecil, departemen PDE hanya terdiri daru sejumlah kecil personil-
personil yang bertanggungjawab hanya untuk mengoperasikan peralatan-
peralatan komputer saja.
+———–+
: Manajer :
: PDE :
+———–+
|
+————-+————-+
| | |
+———–+ +———-+ +———-+
: Analis : :Pemrogram : : Operator :
: Sistem : : : : :
+———–+ +———-+ +———-+
Gambar 2.5 : Organisasi departemen PDE yang kecil
Departemen in hanya terdiri dari beberapa fungsi saja, yaitu analis sistem,
programmer dan operator. Bahkan untuk perusahaan yang lebih kecil lagi,
analis sistem dan programmer tidak diperlukan, karena menggunakan program-
program yang sudah jadi dalam bentuk paket. Dalam organisasi departemen PDE
uang lebih besar, masing-masing fungsi tersebut dapat dilakukan oleh ratusan
personil. Bila organisasi PDE telah berkembang sedemikian rupa, maka masing-
masing fungsi dalam departemen PDE harus diatur kembali dan dibagi-bagi lagi
menjadi beberapa fungsi yang penting.
+———–+
: Direktur :
: Utama :
+———–+
|
+———-+————-+———-+———————–+
| | | | |
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———-+
: Manajer : : Manajer : : Database : : Manajer : : Manajer :
: Analis : : Pemogram: :Administra: : Operasi : :Komunikasi:
: Sistem : : : : tor : : : : :
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———-+
| | | |
| | +————+————+ |
| | | | | |
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———+ +———-+
: Kepala : : Kepala : : Kepala : : Kepala : : Kepala : :Komunikasi:
: Pengope : :Pemogram : : Pengawas : : Pemasuk : :Librarian: : Data :
: rasi AS : : : : Data : : Data : : : : :
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———+ +———-+
| | | | |
| | | | |
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———+
: Analis : :Pemogram : : Pengawas : : Pemasuk : :Librarian:
: Sistem : : Senior : : Data : : Data : : :
: Senior : : : : : : : : :
+———+ +———+ +———-+ +———+ +———+
| |
| |
+———+ +———+
: Analis : :Pemogram :
: Sistem : : Yunior :
: Yunior : : :
+———+ +———+
Gambar 2.6 : Organisasi departemen PDE yang besar
sumber : http://kuliah.dinus.ac.id/ika/asi21.html
By Resa Tulisiana on Apr 28, 2008
Apa yang dikerjakan seorang System Analist??
Secara ringkas, bisa diuraikan sebagai berikut. Pertama, komputerisasi tak bisa jalan begitu saja, hanya karena kita sidah membeli sebuah komputer. Kedua, sebuah komputerisasi tak cuma urusan membuat laporan semata-mata, tetapi merupakan sebuah aliran data, yang diproses secara bertahap, dengan menggunakan program. Hanya dengan memasukkan datanya, lalu memilih-milih jenis proses yang berlaku, tanpa intervensi apa pun dari operator, maka laporan-laporan sudah bisa dihasilkan melalui komputer.
Bagaimana bisa demikian ? Ajaib ? Tentu tidak. Program yang dijalankan tersebut sudah dibuat dengan menyesuaikannya terhadap prosedur pengolahan data, yang sebelumnya dikerjakan secara manual. Program benar-benar mewakili proses manual, bila ditinjau dari prosedur dan urutan kerjanya. Tetapi, dalam program, kita bisa mengaturnya dalam suatu sistematika yang lebih praktis.
Program komputer adalah rangkaian instruksi dalam bahasa yang dipahami oleh komputer, yang disusun sedemikian rupa, sehingga menghasilkan sebuah pengertian proses, sesuai dengan tujuannya. Dengan demikian, pembuatan sebuah program tidak hanya berupa pemahaman mengenai kaidah-kaidah bahasa komputer tertentu, namun juga memahami kebutuhan proses yang bagaimana yang akan dibuatkan programnya tersebut. Pun, harus mengaturnya sedemikian rupa, sehingga aliran proses dalam program tadi bisa bekerja secara efektif, dan efisien, dengan memanfaatkan secara penuh semua kemampuan bahasa dan perangkat keras komputer yang digunakannya tersebut.
Seorang programmer (pembuat program komputer) melakukan pembuatan programnya berdasarkan sebuah permintaan yang diajukan kepadanya, melalui sebuah catatan permintaan yang berisikan uraian kebutuhan sebuah program, disebut spesifikasi program, atau program specifications. Pada catatan ini akan disertakan informasi-informasi mengenai masukan data (input) yang seperti apakah yang akan diolah, proses yang harus dikerjakan, serta keluaran apa yang harus dihasilkan. Sebuah aplikasi, akan terdiri dari sejumlah program, yang akan diolah dalam sebuah rangkaian. Masing-masing program akan bekerja satu dengan yang lain, dalam sebuah kesatuan aplikasi tersebut.
Darimana desain aplikasi tadi berasal ? Seorang system analist telah melakukannya. Yang bersangkutan, setelah menerima penjelasan dari user mengenai lingkup aplikasi yang ingin dikomputerisasikan akan membuat sebuah konsep mengenai bagaimana sistematika komputerisasi itu dilakukan. Mula-mula ia akan membuat dalam sebuah kerangka umum (general system design), untuk dipresentasikan kepada user. Jika sudah benar, maka ia akan membuat desain sistem secara rinci.
Dari desain sistem yang sudah rinci itulah muncul sejumlah (bisa puluhan atau ratusan) spesifikasi program. dan dari spesifikasi program inilah programmer membuat programnya.
(Sumber: Vtryanespa.com, Jogyanto “Sytem Teknologi Informasi”)
By IRFAN HELMY on Apr 28, 2008
ANALISIS DAN DESAIN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS X
Perpustakaan Universitas X telah memiliki sistem informasi perpustakaan yang dinamakan iSIPUX yang terdxi dan sejumlah modul utama, yaitu katalog, akuisisi, administrasi katalog, adrmnistrasi urnurn, sirkulasi, pengolahan digtal, pengolahan perpustakaan, referensi, dan transfer data. Tetapi saat ini mash terdapat modul-modul yang belurn terakomodasi dalam ISIPUX, seperti modul serial, rnformasi manajemen, silang layan perpustakaan, dan fasilitas lain-lain seperti informasi perpustakaan, bulletin perpustakaan, dan administrasi perpustakaan. Untuk itu perlu dilakukan penambahan modul bam dalarn iSIPUX agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan surnber daya manusia, waktu, dan dana, mengembangkan jenis layanan baru, meningkatkan peluang mtuk dapat melakukan kerja sama antar perpustakaan, dan meningkatkan kepuasan pengguna. Untuk menentukan modul yang dkembangkan, dalam penelitian ini telah dilakukan investigasi awal terhadap kebutuhan modul baru. Dari investigasi awal terpillh modul serial dan modul informasi manajemen sebagai modul yang perlu hkembangkan. Dalarn penelitian ini dibahas hasil penelitian berupa analisis dan desain pengembangan sistem informasi Perpustakaan Universitas X (ISIPUX) dengan penambahan dua modul bm, yaitu modul serial dan modul lnformasi manajemen. Selain itu juga dilakukan analisis biaya-manfaat terhadap pengembangan sistem lnformasi perpustakaan ini. Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan model Waterfall yang didokumentasikan dengan mengunakan Unified Modeling Language (UML). Analisis biaya dan manfaat dilakukan dengan menggunakan metoda cost dzsplacement. Implementasi terhadap hail desain modul serial dan informasi manajemen diharapkan dapat menjadikan sistem informasi perpustakaan Universitas X semalam lengkap daTl terpadu, yang pada gilirarvlya akan membenkan dam@ terhadap peningkatan lunerja perpustakaan secara keselwuhan. Hasil perhtungan analisis biayamanfaat menunjuklcan bahwa pengembangan kdua modul tersebut layak untuk diimplementaskan.
Sumber : http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=oai:digilib.its.ac.id:ITS-Master-3100006025264&q=Teknologi
By Dwi Maria P on Apr 28, 2008
Gambaran Umum Sistem Komputerisasi dan Aplikasi
Kegiatan komputerisasi adalah sebuah kegiatan pengelolaan data dalam rangka menghasilkan informasi-informasi penting bagi manajemen, agar yang bersangkutan mampu mengendalikan perusahaan yang menjadi tanggungjawabnya dengan lebih baik. Komputerisasi adalah kegiatan pengolahan data, yang sebagian besar prosesnya dilakukan menggunakan komputer, yang sudah terprogram dengan berbagai program yang akan menangani suatu aplikasi. Aplikasi sendiri adalah sebuah kegiatan pengolahan data suatu urusan tertentu dari sebuah perusahaan. Di bagian Akuntansi sebuah perusahaan, misalnya, akan melakukan kegiatan semua admistrasi pembukuan dan akuntansi. Semua pekerjaan yang berkait dengan akuntansi disebut sebagai Alikasi Akuntansi. Dengan mengacu hal tersebut, maka di sebuah perusahaan bisa beberapa aplikasi sekaligus. Misalnya, mereka yang menangani masalah persediaan, mulai dari pengadaan, pembelian, penjualan, penyimpanan, dan lain sebagainya, maka mereka berhadapan dengan Aplikasi Persediaan. Lalu di bagian personalia, yang hampir setiap hari berhadapan dengan urusan kepegawaian, maka mereka memiliki persoalan di Aplikasi Personalia dan Aplikasi Penggajian. Demikian seterusnya.
Sistematika Aplikasi
Pada umumnya, sebuah aplikasi pasti sudah didesain secara sistematis, bahkan sudah disediakan pedoman-pedoman sebagai panduan pengerjaan aplikasi yang bersangkutan. Para pegawai baru, sebelum mereka diterjunkan untuk menangani suatu urusan tertentu selalu diminta untuk mempelajari (buku-buku) pedoman tersebut. Sistematika sebuah aplikasi mutlak diperlukan, antara lain sebagai bahan rujukan (referensi) jika timbul masalah pada urusan (aplikasi) yang bersangkutan. Juga, akan memudahkan bagi para staf, khususnya yang baru diterima jadi pegawai, untuk belajar. Sementara bagi para senior, akan memudahkan proses pemberian pelatihan pada staf baru tadi. Aplikasi yang sudah sistematis akan bekerja dengan pola yang sama dari waktu ke waktu. Bakan untuk beberapa aplikasi, prinsip ketaatasasan terhadap suatu sistematika tertentu mejadi sebuah keharusan. Sistematika suatu aplikasi juga memudahkan dalam usaha melakukan modifikasi atas sistem tersebut, jika dipandang perlu. Sebuah aplikasi bisa dibuat sistematikanya, jika prosedur penyelenggaraan kerja di urusan tersebut berlangsung dalam rangkaian dan urutan pekerjaan yang relatif tetap dan konsisten. Meskipun dalam beberapa hal ada kemungkinan terjadi penyimpangan, namun selalu ada prosedur untuk mengatasi hal tersebut, juga dengan pendekatan yang konsisten pula.
Urusan-urusan yang terlalu banyak mengandalkan kebijaksanaan, yang berkemungkinan selalu mengalami perubahan, jelas tidak bisa disistematiskan. Sebagai contoh, di sebuah perusahaan pihak manajemen lebih menggunakan pertimbangan subyektif dalam mengangkat pegawai dan kenaikan gajinya. Untuk mengangkat dan menaikkan gaji pegawainya tak pernah digunakan pertimbangan yang baku. Untuk perusahaan model demikian tentu tak bisa dibuatkan aturan yang bisa dijadikan pedoman bagi karyawan, jika mereka ingin diangkat atau naik gajinya. Aplikasi tersebut akan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada ’selera’ boss. Di perusahaan lain, manajemen menggunakan, antara lain, masa kerja sebagai pertimbangan kenaikan pangkat dan gajinya. Aturan ini secara konsisten dipatuhi, bahkan disertai dengan tabel-tabel yang memudahkan proses kenaikan pangkat dan gaji tersebut. Maka, untuk urusan kepegawaian di perusahaan tersebut kita bisa membuat suatu aturan, yang memuat aturan secara sistematis mengenai pedoman kenaikan pangkat dan gaji. Aplikasi ini bisa dibuat sistematikanya Sebuah sistematika merupakan gambaran yang lengkap tentang prosedur, aliran data, dimulai dari data-data masukan, pemrosesan, dan akhirnya keluarannya.
Jika sebuah aplikasi sudah berlaku sistematikanya, maka sejumlah urusan bisa dikerjakan oleh personil-personil dengan taraf pendidikan dan pengetahuan yang tak terlalu berlebihan, namun sesuai. Bahkan, jika memang sudah merupakan hal baku, kenapa tidak dikomputerisasikan saja ?
(Sumber : Mrsyalesdyas/articels.com, Jogyanto :”Sistem Teknologi Informasi”)
By GINANJAR ADHITYA S. (C1C005264) on Apr 28, 2008
BANK MANDIRI IMPLEMENTASI SILVERLAKE UNIVERSAL BANKING SOLUTION BERBASIS WIMDOWS
Bank Mandiri
Bank Mandiri adalah bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman dan simpanan. Total aset yang diperoleh hingga 31 Maret 2002 sebesar Rp 261,9 triliun atau sekitar 24% dari system perbankan. Dengan keuntungan bersih sebesar Rp 1,17 triliun hingga 31 Maret 2002 (meningkat 270% dari periode yang sama pada tahun 2001), Bank Mandiri merupakan bank paling menguntungkan di Indonesia. Bank Mandiri merupakan bank kapitalis terbesar di Asia dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) lebih dari 27%.
Tantangan Bisnis
Saat ini, Bank Mandiri telah menyediakan berbagai fasilitas elektronik seperti telepon, mobile dan internet banking untuk melayani sekitar 6 juta kustomernya. Untuk mewujudkan visi sebagai bank universal, Bank Mandiri harus didukung oleh teknologi yang efektif dan biaya yang efisien untuk mendukung operasi bisnisnya.
Silverlake Universal Banking Solution
Silverlake Universal Banking Solution merupakan solusi aplikasi core banking berbasis Microsoft Windows untuk melayani kustomer dari segmen korporat, konsumer dan retail. Aplikasi ini sesuai untuk mendukung operasi perbankan skala besar diberbagai wilayah geografis.
Kenapa Memilih Silverlake Universal Banking Solution?
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, Bank Mandiri memutuskan untuk mengimplementasi Silverlake Universal Banking Solution yang berbasis Microsoft Windows untuk semua aplikasi kustomer. Ada beberapa alasan mengapa bank ini memilih solusi tersebut. Pertama, sebagai aplikasi, Silverlake terintegrasi penuh dan dapat beroperasi pada kapabilitas yang ada pada Wintel platform. Kedua, popularitas Microsoft Windows platform memberikan resiko minimal mengingat setiap orang merasa lebih mudah menggunakan Windows. Ketiga, Microsoft dan Silverlake Services dapat memberikan technical support melalui telepon. Keempat, Microsoft Windows dapat terintegrasi dengan berbagai aplikasi Microsoft Office dan platform lainnya.
Implementasi dilakukan pada bulan Juli 2002 setelah kedua belah pihak mendiskusikan bersama keuntungan yang akan diperoleh dari investasi ini. Saat itu dipilih Windows 2000 sebagai platform untuk mendukung secara optimal bisnis di bank tersebut. Selanjutnya Bank Mandiri mengikat kontrak bisnisnya dengan Microsoft melalui Microsoft Select Agreement.
“Kami percaya bahwa ini adalah langkah penting. Kami siap untuk menginvestasikan sekitar US$3 juta untuk teknologi Microsoft. Kami yakin dapat memperoleh nilai maksimal dari investasi ini, “kata Andreas E. Susetyo, CITO & SEVP, Information & Technology, Bank Mandiri.
Hasil
Tujuh tahun setelah merger dengan empat bank, Bank Mandiri melalui kemitraannya dengan Silverlake dan Microsoft, merupakan bank yang mampu mengimplementasi TI tingkat tinggi di bidang industri perbankan nasional. Bank Mandiri telah memiliki sebuah centralized data center, mirroring disaster recovery center, command center, jaringan di sekitar 2000 mesin ATM, 700 kantor cabang dan helpdesk yang dapat diakses dari berbagai tempat. Dan yang lebih penting, kebutuhan untuk melatih kembali sekitar 14.000 karyawan dapat dikurangi karena mereka sudah familiar dengan Windows.
Bank Mandiri terus mencari teknologi yang efektif dan biaya yang efisien untuk mendukung operasi bisnisnya di masa yang akan datang. Teknologi tersebut yaitu Business Intellegence (BI), Loan Origination Systems, Customer Relationship Management (CRM dan Enterprise Resource Planning (ERP). Solusi-solusi bisnis tersebut diharapkan terintegrasi dengan operasi Silverlake Universal Banking Solution berbasis Microsoft.
Sumber: http://www.indocommit.com/?menu=29&idnews=463&kid=2
By GALIH FEBRYATMOKO (C1C005043) on Apr 28, 2008
NAMA : KURNIATI (C1C006006)
MEMBANGUN BISNIS DISTRIBUSI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
Pengamat Bisnis Teknologi Informasi (Nukman Luthfie)mengatakan Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
sumber :http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By kurniati on Apr 29, 2008
MEMBANGUN BISNIS DISTRIBUSI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
Nukman Luthfie, Pengamat Bisnis Teknologi Informasi mengatakan banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Sumber :http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By Kurniati( C1C006006) on Apr 29, 2008
FRESTIKA R
C1C005146
Pariwisata Berbasis Teknologi Informasi Dengan Menggunakan Website
Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk Website / Portal sangat beragam mulai dari sekadar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks misalnya : reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi dll), sistem pembayaran online, pengelolaan data base pariwisata daerah dan proses interaksi dan transaksi lainnya.
Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain :
1. Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu , misal : orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.
2. Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah
3. Menyediakan informasi sedetail mungkin : harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.
4. Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.
5. Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia misal : Indonesia dianggap tempat teroros dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.
6. Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.
Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan, untuk sekadar publikasi, maka cukuplah sebuah website yang memuat info pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/ foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakatmengetahui (web prsence).
Agar website menarik maka:
1. Informasi harus di up date secara berkala (events, info baru, berita, artikel, gambar, film, animasi, dll)
2. Suatu website juga harus responsif terhadap request dan pertanyaan (banyak yang tidak menjawab email) serta tanggap terhadap keiningan pengunjung dan komunikatif (memahami alasan mengapa audiens web mendarat di suatu website).
3. Sesuaikan dengan target pembaca/ pengunjung dengancara penyampaian informasi (calon wisatawan asing membutuhkan informasi dalam bahasa Inggris/ atau bahasa asing lainnya dan dalam bahasa Indonesia).
Kendala
• Kesulitan utama secara teknis ada pada ketersediaan akses internet, serta peralatan komputer dan jaringan yang kurang memadai.
• Secara non teknis kesulitan ada pada ketersediaan data (content) dari Dinas Pariwisata sendiri yang mana sangat membutuhkan kerjasama dan keterbukaan dari setiap bidang dan seksi yang ada, sehingga data dapat terintegrasi dengan baik.
• Kemampuang SDM yang relatif masih rata-rata dan belum sampai pada tingkat yang mahir khususnya penguasaan jarirngan komputer dan internet.
• Pariwisata berbasis TI belum menjadi ”minded” dari pimpinan daerah yang dimana pada beberapa daerah, Dinas Pariwisata masih ”dianggap” dinas yang ”kering” dan ”dihindari” oleh para pejabat
Sumber: http://egovindonesia.com/index.php/artikel/59
By FRESTIKA R/ C1C005146 on Apr 29, 2008
Menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi Secara Efektif
Seorang eksekutif puncak sebuah perusahaan operator telekomunikasi dengan latar belakang non IT mengatakan bahwa ia telah nekad mengeluarkan puluhan miliar rupiah untuk membeli (belum menerapkan) sebuah sistem software. Setelah dipelajari selama lima tahun baru sistem tersebut dapat diterapkan satu per satu.
Memang dewasa ini seorang pimpinan puncak organisasi bisnis apapun tidak cukup hanya memahami soal keuangan, SDM dan pemasaran. Ada pilar pemahaman dengan bobot yang sama yaitu soal teknologi informasi komunikasi.
Bisnis adalah informasi, dan informasi adalah bisnis. Oleh karena itu pimpinan puncak tidak dapat mendelegasikan begitu saja aspek teknologi informasi komunikasi kepada manajer atau bahkan direktur di bidang ini.
Ibarat seseorang yang dapat mengemudikan mobil, ia tidak harus menjadi montir. Pemahaman yang diperlukan pimpinan tentu bukan soal teknis karena itu kompetensi engineer. Pimpinan wajib memahami berapa nilai efisiensi, efektivitas kerja dan produk/jasa baru apa yang dapat diciptakan dengan penerapan teknologi itu.
Prakteknya, pimpinan puncak merumuskan apa yang ia kehendaki, lalu panggil manajer/direktur IT untuk berdiskusi secara intens tentang solusi dan keterbatasan teknologi saat ini dan bagaimana tren teknologi ke depan.
Mengurai kemampuan teknologi informasi komunikasi
Untuk memudahkan pemahaman, apa saja yang dapat dilakukan dengan teknologi informasi komunikasi dalam suatu proses bisnis, semuanya dapat dipetakan menjadi:
• Otomatisasi. Dapat mengoptimalkan jumlah sumber daya manusia dalam sebuah proses pekerjaan yang rutin dan berulang-ulang. Aplikasinya sering kita jumpai pada lingkup perusahaan industri manufakturing.
• Informasi dan analisis. Memudahkan proses analisa pengambilan keputusan, karena pengolahan data komputer akan menghasilkan informasi yang menyajikan berbagai opsi pengambilan keputusan. Dengan program spreadsheet, hasil pengolahan dari database perusahaan secara mudah dapat dianalisis dan dibuat simulasinya.
• Penelusuran (tracking). Mempermudah pemantauan status sebuah obyek berikut prosesnya.
• Menghilangkan kendala geografis. Melalui jaringan komputer yang menghubungkan baik internal maupun eksternal perusahaan, koordinasi-komunikasi dan integrasi perusahaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efisien.
• Disintermediasi. Komputerisasi dan jaringan komputer mampu menghilangkan mata rantai suatu proses yang secara logis tidak diperlukan lagi.
• Sekuensial dan paralel. Urutan sebuah proses bisnis dapat diubah secara lebih fleksibel. Begitu pula proses kerja yang sebelumnya berurutan dapat dibuat menjadi paralel.
• Aset intelektual. Teknologi memudahkan proses perekaman dan distribusi aset intelektual sumber daya manusia organisasi. Memasuki era knowledge worker saat ini, teknologi sangat membantu meningkatkan nilai dari knowledge capital organisasi. Aplikasi dibidang ini masih sangat jarang diterapkan di Indonesia. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengandalkan sumber daya fisik/material dan belum sampai ke tingkat knowledge industry.
Dari uraian di atas, jelas bahwa diperlukan kemampuan analisa, power dan keputusan strategis yang tidak mungkin dibuat oleh seorang manajer/direktur di lapisan middle management. Levelnya sudah harus top level management.
Menerapkan secara efektif
Setiap hari kita dibanjiri oleh informasi tentang sebuah produk teknologi baru. Keterbukaan akses informasi makin memberi ruang untuk memilih. Namun, jangan lupa bahwa banyak produk teknologi negara maju yang hanya berganti kemasan, tetapi inti kemampuan solusinya adalah sama dengan produk sebelumnya. Ketelitian dalam mengkaji produk teknologi khususnya bagi sebuah solusi bisnis makin diperlukan di era informasi ini.
Fakta lain adalah masih banyaknya anggapan bahwa dengan membeli dan memasang sebuah sistem teknologi informasi komunikasi semua masalah akan beres. Teknologi informasi komunikasi akan efektif jika didasari oleh kebutuhan proses bisnis yang matang terlebih dahulu. Setelah itu menyiapkan SDM yang berarti bukan hanya soal melatih penggunaan alat. Ada titik krusial yaitu bagaimana SDM dapat mengadopsi perubahan sistem, prosedur dan proses akibat dari penerapan teknologi yang dipilih. Tanpa melalui tahapan seperti itu, betapapun canggihnya teknologi yang dibeli akan menjadi sia-sia.
Sumber : dontmissit.wordpress.com
By Anandya M.Y on Apr 29, 2008
Anandya M.Y
NIM : C1C006064
Menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi Secara Efektif
Seorang eksekutif puncak sebuah perusahaan operator telekomunikasi dengan latar belakang non IT mengatakan bahwa ia telah nekad mengeluarkan puluhan miliar rupiah untuk membeli (belum menerapkan) sebuah sistem software. Setelah dipelajari selama lima tahun baru sistem tersebut dapat diterapkan satu per satu.
Memang dewasa ini seorang pimpinan puncak organisasi bisnis apapun tidak cukup hanya memahami soal keuangan, SDM dan pemasaran. Ada pilar pemahaman dengan bobot yang sama yaitu soal teknologi informasi komunikasi.
Bisnis adalah informasi, dan informasi adalah bisnis. Oleh karena itu pimpinan puncak tidak dapat mendelegasikan begitu saja aspek teknologi informasi komunikasi kepada manajer atau bahkan direktur di bidang ini.
Ibarat seseorang yang dapat mengemudikan mobil, ia tidak harus menjadi montir. Pemahaman yang diperlukan pimpinan tentu bukan soal teknis karena itu kompetensi engineer. Pimpinan wajib memahami berapa nilai efisiensi, efektivitas kerja dan produk/jasa baru apa yang dapat diciptakan dengan penerapan teknologi itu.
Prakteknya, pimpinan puncak merumuskan apa yang ia kehendaki, lalu panggil manajer/direktur IT untuk berdiskusi secara intens tentang solusi dan keterbatasan teknologi saat ini dan bagaimana tren teknologi ke depan.
Mengurai kemampuan teknologi informasi komunikasi
Untuk memudahkan pemahaman, apa saja yang dapat dilakukan dengan teknologi informasi komunikasi dalam suatu proses bisnis, semuanya dapat dipetakan menjadi:
• Otomatisasi. Dapat mengoptimalkan jumlah sumber daya manusia dalam sebuah proses pekerjaan yang rutin dan berulang-ulang. Aplikasinya sering kita jumpai pada lingkup perusahaan industri manufakturing.
• Informasi dan analisis. Memudahkan proses analisa pengambilan keputusan, karena pengolahan data komputer akan menghasilkan informasi yang menyajikan berbagai opsi pengambilan keputusan. Dengan program spreadsheet, hasil pengolahan dari database perusahaan secara mudah dapat dianalisis dan dibuat simulasinya.
• Penelusuran (tracking). Mempermudah pemantauan status sebuah obyek berikut prosesnya.
• Menghilangkan kendala geografis. Melalui jaringan komputer yang menghubungkan baik internal maupun eksternal perusahaan, koordinasi-komunikasi dan integrasi perusahaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efisien.
• Disintermediasi. Komputerisasi dan jaringan komputer mampu menghilangkan mata rantai suatu proses yang secara logis tidak diperlukan lagi.
• Sekuensial dan paralel. Urutan sebuah proses bisnis dapat diubah secara lebih fleksibel. Begitu pula proses kerja yang sebelumnya berurutan dapat dibuat menjadi paralel.
• Aset intelektual. Teknologi memudahkan proses perekaman dan distribusi aset intelektual sumber daya manusia organisasi. Memasuki era knowledge worker saat ini, teknologi sangat membantu meningkatkan nilai dari knowledge capital organisasi. Aplikasi dibidang ini masih sangat jarang diterapkan di Indonesia. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengandalkan sumber daya fisik/material dan belum sampai ke tingkat knowledge industry.
Dari uraian di atas, jelas bahwa diperlukan kemampuan analisa, power dan keputusan strategis yang tidak mungkin dibuat oleh seorang manajer/direktur di lapisan middle management. Levelnya sudah harus top level management.
Menerapkan secara efektif
Setiap hari kita dibanjiri oleh informasi tentang sebuah produk teknologi baru. Keterbukaan akses informasi makin memberi ruang untuk memilih. Namun, jangan lupa bahwa banyak produk teknologi negara maju yang hanya berganti kemasan, tetapi inti kemampuan solusinya adalah sama dengan produk sebelumnya. Ketelitian dalam mengkaji produk teknologi khususnya bagi sebuah solusi bisnis makin diperlukan di era informasi ini.
Fakta lain adalah masih banyaknya anggapan bahwa dengan membeli dan memasang sebuah sistem teknologi informasi komunikasi semua masalah akan beres. Teknologi informasi komunikasi akan efektif jika didasari oleh kebutuhan proses bisnis yang matang terlebih dahulu. Setelah itu menyiapkan SDM yang berarti bukan hanya soal melatih penggunaan alat. Ada titik krusial yaitu bagaimana SDM dapat mengadopsi perubahan sistem, prosedur dan proses akibat dari penerapan teknologi yang dipilih. Tanpa melalui tahapan seperti itu, betapapun canggihnya teknologi yang dibeli akan menjadi sia-sia.
Sumber : dontmissit.wordpress.com
By Anandya M.Y on Apr 29, 2008
((REVISI))
Membangun KUMUH-Net untuk Wong Cilik melalui Peran Electronic Data Interchange (EDI) Dalam Pemanfaatan Layanan Jasa & Pembiayaan Perdagangan Perbankan Bagi Export Usaha Kecil - Menengah Pertanian
Pemberdayaan ekspor hasil pertanian juga merupakan peluang untuk melaksanakan secara nyata konsep ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM). Salah satu penunjang pemberdayaan UKM adalah menciptakan akses ke layanan jasa dan finansial transaksi ekspor perbankan. Dari sisi pemberi layanan jasa dan finansial, akses ini juga harus diimbangi dengan kemudahan dan keakuratan proses kontrol dan monitoring aktivitas UKM penerima layanan. Pada umumnya, terdapat keengganan bagi perbankan komersial dalam memberikan layanan jasa dan finansial ekspor kepada UKM, karena tingginya biaya overhead dan besarnya resiko credit, dan sulitnya dilakukan monitoring terhadap pelaksanaan usaha. Selain itu, pada umumnya, UKM tidak cukup memiliki keahlian dalam mengadministrasikan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan transaksi ekspor. Keengganan ini menjadikan UKM pertanian hanya menjadi pemain lokal yang tidak akan siap menghadapi persaingan dalam perdagangan global.
>>>Peluang Penerapan EDI
Dalam dasawarsa terakhir, semakin berkembang pemanfaatan Electronic Data Interchange (EDI) pada berbagai macam skala usaha. Pemanfaatan EDI dalam skala usaha kecil menengah disarankan terutama untuk : efisiensi pemasaran, dukungan proses otomasi – untuk efisiensi dan kemudahan, dan transparansi dalam interaksi dengan institusi terkait. Berbagai kelebihan tersebut membuat penerapan EDI untuk UKM pertanian yeng berorientasi ekspor menjadi sangat menarik. Selain akan banyak berperan dalam otomasi, efisiensi, dan kemudahan proses (khususnya dokumentasi ekspor), EDI akan banyak berperan dalam proses pemberian kredit perdagangan (ekspor) yang terintegrasi dengan kredit investasi/modal kerja dari perbankan.
>>>Action Yang Sedang Berjalan
Dalam menerapkan EDI untuk UKM Pertanian, setidaknya perlu disiapkan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Studi Permintaan / Market Produk Komoditi UKM Pertanian Indonesia
Hal yang menjadi prioritas utama dalam menjalankan kegiatan ekspor adalah studi intensif mengenai pasar. Studi mengenai pasar, berikut segala kebiasaan, hukum, dan hambatan umumnya menjadi kendala bagi UKM berorientasi ekspor di beberapa negara (Amerika Latin, Amerika Utara, dan Eropa). Pola kemitraan dengan organisasi pemasaran ekspor bersama dan institusi pemerintah / negara tujuan ekspor yang kompeten (BPEN – Deprindag, Badan Agribisnis – Deptan, Atase Perdagangan – Deplu, serta Lembaga Penelitian terkait) akan sangat berperan dalam menentukan pasar dari komoditi yang dihasilkan oleh UKM Pertanian.
2. Konsep EDI Program Kemitraan
UKM Pertanian peserta program kemitraan akan dilengkapi dengan aplikasi tepat guna (murah, dapat dijalankan pada PC Low-level) yang akan mempertukarkan data dengan peserta program kemitraan lain (administratif, keuangan, maupun dokumen ekspor) secara mudah dan aman. Pertukaran data dapat dilaksanakan dalam berbagai tingkatan (diskette, komunikasi radio, maupun melalui jaringan EDI publik). Secara umum, aplikasi UKM Pertanian akan memungkinkan pengguna untuk melakukan analisa-analisa yang diperlukan (sesuai tahapan siklus bisnis ekspor). Hasil analisa, monitoring, maupun pencatatan atas kegiatan produksi UKM selanjutnya dapat dipertukarkan dengan institusi terkait.
>>>Kemungkinan Penerapan EDI
Secara konsep, mekanisme pertukaran data (EDI) akan membantu kendala yang dihadapi oleh UKM dan institusi terkait (khususnya perbankan dan institusi pendanaan lain) dalam melaksanakan transaksi ekspor. Agar mekanisme EDI melalui program kemitraan ini dapat diterapkan secara luas, perlu dilakukan studi comprehensive – khususnya mengenai pasar dan analisa teknis produksi komoditi. Keberhasilan program kemitraan akan membuka kesempatan kepada banyak UKM Pertanian potensial dalam menghasilkan devisa ekspor yang akan membantu Indonesia mengatasi krisis ekonomi dan menyiapkan diri dalam menghadapi perdagangan global secara kompetitif.
>>>Konsep Pengembangan Wilayah / Masyarakat Bertumpu Pada System Informasi
Konsep untuk membangun sistem perekonomian berbasis jaringan komputer adalah dengan menggunakan informasi semaksimal mungkin untuk membangun masyarakat atas inisiatif masyarakat itu sendiri yang bertumpu pada pranata ekonomi yang ada. Pendekatan ini diharapkan agar dapat menjamin kesinambungan perkembangan sistem maupun perekonomian tersebut. Konsep ini bertumpu pada pengembangan wilayah yang bertumpu pada masyarakat itu sendiri. Secara konseptual sistem informasi berbasis jaringan komputer khususnya yang berkaitan dengan pengembangan wilayah / masyarakat dapat kita pandang dari dua arah / pendekatan, yaitu:
• Pendekatan struktural
• Pendekatan fungsional
Sumber: http://google.id/Gerombolan Wong-Cilik@isnet.itb.ac.id/Soni Setia Nugraha (soni@isnet.itb.ac.id) , Arief (arief@isnet.itb.ac.id) , Herry Hykmanto (herryhyk@indo.net.id) & Onno W. Purbo (onno@itb.ac.id)
By GINANJAR ADHITYA S. (C1C005264) on Apr 29, 2008
Peningkatan Fungsi Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Berbasis Teknologi Informasi
Untuk meningkatkan fungsinya sebagai Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, APJATI terus berupaya menjalankan program kerjanya untuk dapat memfasilitasi dan mendukung seluruh anggota Perusahaan Jasa Tenaga Kerja (PJTKI) guna meningkatkan usaha pengerahan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri, terutama pada peningkatan kualitas Tenaga Kerja yang akan dikirim serta peningkatan prasarana bisnis melalui pendistribusian informasi secara elektronis.
Dalam konteks ini APJATI telah menentukan sikap untuk mulai mengembangkan suatu sistem informasi secara ‘on-line’ yang dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh pelaku pengerah tenaga kerja, tetapi lebih jauh kepada pihak-pihak yang terkait didalam proses pengerahan Tenaga Kerja Indonesia.
Dengan melihat bahwa sistem pengerahan Tenaga Kerja Indonesia harus mampu mengakomodasikan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Tenaga Kerja yang akan dikirim serta melihat jumlah yang selalu meningkat dari tahun ke tahun dan sifatnya yang begitu tersebar dengan transaksi yang sangat dinamis, maka tidak dapat dihindari lagi diperlukannya dukungan peralatan teknologi untuk menunjang pelayanan dan monitoring penyelenggaraan pengerahan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri.
Suatu langkah tepat yang telah diambil oleh APJATI dalam upaya meningkatkan usaha pengiriman Tenaga Kerja Indoensia ke luar negeri adalah dengan membangun suatu Sistem Informasi Tenaga Kerja Terpadu berbasis web dan teknologi internet dengan alamat situs: http://www.indonesian-manpower.com, yang merupakan suatu sistem informasi dengan pola ASP (Application Service Provider) yang dapat diakses secara on-line dan real time antara para pelaku PJTKI, Agen-agen di luar negeri (overseas agent), pihak terkait dari instansi pemerintah serta informasi umum untuk publik yang ingin mengetahui informasi mengenai ketenagakerjaan.
Pembangunan Sistem Informasi ini tidak hanya dirancang untuk menampilkan informasi mengenai ketenaga kerjaan, tetapi lebih jauh dapat dimanfaatkan secara interaktif untuk menyempurnakan tahapan dalam proses pengiriman Tenaga Kerja mulai dari pembuatan biodata calon tenaga kerja, proses pemilihan TKI (booking) oleh agen-agen di luar negeri, proses administrasi bebas fiskal luar negeri, proses pengeluaran sertifikasi ketrampilan, proses pemberangkatan, proses penempatan dan proses pemulangan.
Dengan demikian hampir seluruh alur proses pengiriman tenaga kerja telah disiapkan dalam Sistem Informasi ini, sehingga akan sangat membantu semua pihak yang ‘concern’ mengenai ketenagakerjaan.
Pada pengembangan selanjutnya pemanfaatan sistem yang telah dibentuk di lingkungan APJATI dan seluruh anggotanya akan terus dioptimalkan untuk dapat diintegrasikan dengan pihak terkait agar dapat terbentuk suatu sistem pengelolaan ketenagakerjaan yang lebih lengkap lagi.
Sumber:http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda.co.id/Prototype/customersApjati.html
By Cucu Kurniawati on Apr 30, 2008
Peningkatan Fungsi Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Berbasis Teknologi Informasi
Untuk meningkatkan fungsinya sebagai Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, APJATI terus berupaya menjalankan program kerjanya untuk dapat memfasilitasi dan mendukung seluruh anggota Perusahaan Jasa Tenaga Kerja (PJTKI) guna meningkatkan usaha pengerahan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri, terutama pada peningkatan kualitas Tenaga Kerja yang akan dikirim serta peningkatan prasarana bisnis melalui pendistribusian informasi secara elektronis.
Dalam konteks ini APJATI telah menentukan sikap untuk mulai mengembangkan suatu sistem informasi secara ‘on-line’ yang dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh pelaku pengerah tenaga kerja, tetapi lebih jauh kepada pihak-pihak yang terkait didalam proses pengerahan Tenaga Kerja Indonesia.
Dengan melihat bahwa sistem pengerahan Tenaga Kerja Indonesia harus mampu mengakomodasikan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Tenaga Kerja yang akan dikirim serta melihat jumlah yang selalu meningkat dari tahun ke tahun dan sifatnya yang begitu tersebar dengan transaksi yang sangat dinamis, maka tidak dapat dihindari lagi diperlukannya dukungan peralatan teknologi untuk menunjang pelayanan dan monitoring penyelenggaraan pengerahan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri.
Suatu langkah tepat yang telah diambil oleh APJATI dalam upaya meningkatkan usaha pengiriman Tenaga Kerja Indoensia ke luar negeri adalah dengan membangun suatu Sistem Informasi Tenaga Kerja Terpadu berbasis web dan teknologi internet dengan alamat situs: http://www.indonesian-manpower.com, yang merupakan suatu sistem informasi dengan pola ASP (Application Service Provider) yang dapat diakses secara on-line dan real time antara para pelaku PJTKI, Agen-agen di luar negeri (overseas agent), pihak terkait dari instansi pemerintah serta informasi umum untuk publik yang ingin mengetahui informasi mengenai ketenagakerjaan.
Pembangunan Sistem Informasi ini tidak hanya dirancang untuk menampilkan informasi mengenai ketenaga kerjaan, tetapi lebih jauh dapat dimanfaatkan secara interaktif untuk menyempurnakan tahapan dalam proses pengiriman Tenaga Kerja mulai dari pembuatan biodata calon tenaga kerja, proses pemilihan TKI (booking) oleh agen-agen di luar negeri, proses administrasi bebas fiskal luar negeri, proses pengeluaran sertifikasi ketrampilan, proses pemberangkatan, proses penempatan dan proses pemulangan.
Dengan demikian hampir seluruh alur proses pengiriman tenaga kerja telah disiapkan dalam Sistem Informasi ini, sehingga akan sangat membantu semua pihak yang ‘concern’ mengenai ketenagakerjaan.
Pada pengembangan selanjutnya pemanfaatan sistem yang telah dibentuk di lingkungan APJATI dan seluruh anggotanya akan terus dioptimalkan untuk dapat diintegrasikan dengan pihak terkait agar dapat terbentuk suatu sistem pengelolaan ketenagakerjaan yang lebih lengkap lagi.
Sumber:
http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda.co.id/Prototype/customersApjati.html
By Cucu Kurniawati on Apr 30, 2008
TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi
Perubahan demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman berikutnya telah mengantarkan manusia memasuki era digital, suatu era yang seringkali menimbulkan pertanyaan : apakah kita masih hidup di masa kini atau telah hidup di masa datang. Pertanyaan ini timbul karena hampir segala sesuatu yang semula tidak terbayangkan akan terjadi pada saat ini, secara tiba-tiba muncul di hadapan kita. Masa depan seolah-olah dapat ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat kemajuan teknologi informasi.
Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and communication technology –ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana memecahkan masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional.
Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global.
Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada “kotak” tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia ilmu pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis tersebut, dalam kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai pihak yang paling benar.
Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan nasional suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi keunggulan daya saing suatu negara. Dengan kata lain, pendidikan memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa. Dan hal ini telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti Singapore, Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas kehidupan bangsa-bangsa tersebut terus meningkat.
Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan dijadikan alat politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too slow), sehingga tidak dapat mengejar tuntutan perubahan. Pendidikan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan pendidikan seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Faktor penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal sulam, juga dibuat secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum memiliki visi dan komitmen yang jelas tentang pendidikan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia baru dan sedang melakukan perubahan orientasi pendidikan dari pendidikan yang berbasis akademis kepada pendidikan yang berbasis kompetensi. Disinilah pokok bahasan tentang technopreneurship tersebut perlu dikembangkan. Memang tidak mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk memajukan bangsa ini pada masa yang akan datang.
___________
Sumber :
Tata Sutabri S.Kom, MM — Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id .
http://artikel.total.or.id/kategori.php?id=1&kategori=Teknologi%20Informasi
By Erike Tresnandianty Wahyurin (C1C006043) on Apr 30, 2008
Maaf Pak, artikel sebelumnya yang saya posting salah, karena saya posting sebelum Bapak menentukan temanya.
Ini artikel revisinya.
Terimakasih.
Microsoft Indonesia Dorong Inovasi Bisnis IT
Inovasi merupakan kata kunci keberhasilan bisnis teknologi informasi (IT). Untuk membangun bisnis IT yang kuat di Indonesia, Microsoft Indonesia melakukan serangkaian program yang akan merangsang terciptanya bisnis-bisnis baru yang dapat bersaing di kancah internasional.
Program terakhir yang digulirkan adalah kompetisi berhadiah Rp1 miliar yang diberi nama iMulai. Kompetisi yang digelar Microsoft Indonesia bersama United States Agency for International Development, melalui proyek pemberdayaan masyarakat SENADA, ini menawarkan dana pembiayaan kepada 3 proposal usaha bidang ICT paling inovatif dan layak diwujudkan.
“Kami mengharapkan pemenang mampu memberi dampak pada industri, apakah dari bisnis yang sudah apan atau bukan,” kata Farid Ma’aruf, Senior Industry Advisor Senada. Masing-masing pemenang akan memperoleh hibah pembiayaan dalam bentuk uang tunai Rp220 juta dan teknologi pengembangan software dan perangkatnya dari Microsoft senilai Rp145 juta.
Program ini terbuka bagi siapa saja - pengembang software independen atau independent software vendor (ISV), developer, wirausaha, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Peserta yang berminat harus mengisi aplikasi online dan mengirimkan proposal bisnis paling lambar 31 Desember 2007 melalui situs http://www.imulai.com. Tidak hanya itu saja, setiap peserta yang berpartisipasi berhak mengikuti dua kali lokakarya mengenai kewirausahaan dan pengembangan piranti lunak secara teknis yang akan diadakan USAID pada 15 Januari - 4 Februari 2008.
Panel juri yang terdiri dari perwakilan Microsoft, USAID, dan SENADA akan menilai aplikasi yang masuk untuk memilih tiga pemenang berdasarkan originalitas ide, kreativitas, sebaiak apa inovasi dapat menjawab kebutuhan pasar, implementasi, dan visi kesuksesan di masa depan. Pemenang selanjutnya akan diumumkan pada 14 Februari 2008.
“Inovasi bisnis merupakan hal sangat penting di Indonesia agar mampu bersaing di pasar global. Indonesia begitu kaya dengan budaya, ide-ide bagus. Anda dapat memanfaatkan keragaman tersebut untuk mecapai kesuksesan,” ujar Tony Chen, Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia. Program iMulai diharapkan merangsang inovasi yang akan memperkuat bisnis IT di Indonesia sehingga dapat bersaing dengan India, China, Singapura, juga Malaysia.
iMulai adalah sinyal awal usaha jangka panjang yang melibatkan mitra swasta dan publik. Microsoft Indonesia telah memulai usaha tersebut dengan mendirikan Microsoft Innovation Center melalui kerja sama dengan ITB Bandung, ITS Surabaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia. Melalui
Khusus untuk membangkitkan minat mahasiswa berinovasi, secara rutin Microsoft Indonesia mengirimkan wakil-wakil dari Indonesia dalam kompetisi Imagine Cup. Sejak dimulai 6 tahun lalu, kompetisi ini telah diikuti lebih dari 100.000 mahasiswa di seluruh dunia. Indonesia mulai mengirim delegasi sejak tahun 2005, tetapi kompetisinya di tingkat lokal baru diikuti sekira 500 mahasiswa.
Untuk menjaring bibit-bibit muda ke dalam industri IT, Microsoft menjembatani melalui progra Student to Business. Program ini membantu universitas dan sekolah menerapkan apa teori perkualiahan dengan praktik di bidang IT yang akan dipilih sebagai karir mahasiswa setelah lulus sehingga siap pakai.
Microsoft juga membuka program ISV Empower. Melalui program ini, mitra ISV dapat mempercepat proses pengembangan produk yang menggunakan platform Microsoft. Mereka akan memperoleh software, support, dan dukungan lainnya. Program ini akan membantu ISV memperkecil biaya pengembangan dan mempercepat produk mitra ISV dipasarkan. Namun, program tersebut hanya ditawarkan kepada Microsoft Partners Program yang masuk kategori Registeres Members sehingga tidak berlaku bagi mitra ISV yag sudah masuk dalam level Certified Gold Partner dari Microsoft Partner Program.
Layanan portal Innovate On memberikan kemudahan bagi mitra ISV mempercepat pengembangan piranti lunak secara sederhana langkah demi langkah. Mitra ISV yang bergabung akan memperoleh development tool dan insentif. Melalui portal yang disediakan, ISV dapat melihat koleksi tool dan Software Development Kit (SDK), bantuan testing, menggunakan MIcrosoft online katalog, da template iklan yang dapat di-customize.
Sementara itu, Microsoft juga menyediakan program pendampingan ISV yang disebut Bina ISV. Mereka juga dapat memasarkan produknya - termasuk pemenang iMulai - melalui portal marketplace di http://www.hanomanonline.com. Lebih dari 250 ISV telah bergabung melalui program tersebut dalan sekitar 30 di antaranya sudah dipasarkan. Dengan portal ini, pemasaran software dapat dilakukan secara global karena pembeli bisa datang dari negara manapun.
sumber : Kompas Cyber Media
http://64.203.71.11/ver1/Iptek/0711/29/095131.htm
By Dwi Maria P (C1C006103) on May 1, 2008
Artikel revisi Pak, karena artikel pertama dikirim sebelum Bapak nentuin tema..
Bisnis IT Unik, Lahir dari Kreativitas
Kesuksesan bisnis Information Technology kadang dimulai dari sesuatu sesuatu yang sederhana, dari hobi atau kemampuan membaca kebutuhan masyarakat terhadap suatau solusi. Bidang IT termasuk unik, karena banyak pebisnis dan tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter dan kreativitas.Hal itu diungkapkan Romi Satria Wahono (Pendiri dan Pengelola Brainmatics Cipta Informatika dan ilmukomputer.com), pada seminar nasional ‘Techno Entrepreneur’, Rabu (12/12), di Gedung Kantor Pusat Layanan Terpadu (KPLT) Lt III FT UNY. Seminar yang didukung SKH Kedaulatan Rakyat ini juga menghadirkan pembicara, Dr Sayoga (staf Menegristek RI) dan Jaeni Sahuri (praktisi bisnis online dan Pimpinan jogjawebcenter). Menurut Romi, keunggulan yang diperoleh seseorang karena pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk, ide dan perjuangannya merupakan keunggulan depacto. Sebaliknya, keunggulan karena gelar kesarjanaan, sertifikasi dan pengakuan formal, disebut keunggulan dejure. Bisnis dan peluang bisa lahir dari keunggulan defacto maupun dejure, keduanya bisa saling melengkapi.
“Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs dan William Joy, nama besar di dunia IT karena keunggulan defacto mereka. Bill Gates dan Kevin Mitnik juga memberikan bukti keunggulan defacto menjadi dominan dalam lahirnya sebuah bisnis,” ungkapnya. Kepada generasi muda yang ingin mendaki jalan hidup sebagai enterpreneur bidang IT, Romi menyarankan, sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah sebuah tool (alat) yang harus dikuasasi dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool bersifat tak kekal dan bukan ‘agama’ yang harus dianut atau difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool, merupakan kebodohan. Sebab, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sedangkan Jaeni mengatakan TI telah membuka mata dunia akan sebuah dunia baru. Sebuah jaringan bisnis dunia tanpa batas. Internet telah menunjang efektivitas dan efisiensi operasional perusahaan. Terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi.
By admin on December 14th, 2007
http://jogjaweb.com/blog/bisnis-it-unik-lahir-dari-kreativitas/
By Resa Tulisiana on May 1, 2008
Saatnya Pariwisata Berbasis Teknologi Informasi
Sebagaimana kita ketahui seiring perkembangan teknologi informasi secara global yang melanda seluruh aspek kehidupan dan membawa banyak sekali perubahan secara revolusioner, contoh sederhana adalah begitu maraknya pemakaian ponsel walaupun untuk sekedar bertelepon dan ber-sms ria, didunia perbankan tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ATM dan internet banking. Fenomena chatting di kalangan kaum muda yang begitu besar walaupun masih dalam taraf “ngobrol ngalor ngidul”. Di dunia bisnis pemanfaatan email dan website telah mampu meningkatkan performa dan daya saing bisnis di era globalisasi dimana kebutuhan akan komunikasi yang cepat dan ketersediaan data untuk proses pengambilan keputusan dan proses transaksi yang kompleks menuntut dunia bisnis untuk selalu meningkatkan pemanfaatan TI dalam berbagai aspek bisnis, dari sekadar menampilkan info perusahaan (web presence) sampai proses transaksi yang lebih rumit (semisal e-commerce dan e-bussiness).
Bahwa dunia pariwisata adalah menjadi salah satu bidang garapan pemerintah daerah dalam implementasi egovernment untuk mempublikasikan/ memasarkan) potensi wisata di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen yang berbasis pada pengolahan data elektronik.
Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.
Selain kebutuhan wisatawan akan informasi yang lengkap, akurat dan mudah didapat, maka pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan dibidang pariwisata. Namun penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat membantu baik pemerintah maupun industri/ pelaku pariwisata.
Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata maka tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat dan dapat disebarluaskan dengan mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau jaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi dan media informasi lainnya maka sekarang dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.
Sumber :
Website Dinas Pariwisata, Seni, & Budaya Pemerintah Kota Yogyakarta
Penulis : Santoso Nugroho
http://pariwisata.jogja.go.id/index/extra.detail/1686/saatnya-pariwisata-berbasis-teknologi-informasi–penulis-santoso-nugroho.html
By Tri Feriana on May 1, 2008
Assalamualaikum Wr.Wb
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Wassalamualaikum Wr.Wb
By Syahriatun Resma Melly C1C006004 on May 1, 2008
Sebagaimana kita ketahui perkembangan teknologi informasi secara global melanda seluruh aspek kehidupan manusia dan membawa banyak sekali perubahan;misal: penggunaan ATM dan e-banking. Di dunia bisnis pemanfaatan web-site telah mampu meningkatkan performa dan daya saing bisnis di era globalisasi di mana kebutuhan dan proses transaksi yang kompleks menuntut dunia bisnis untuk selalu meningkatkan pemanfaatan TI dalam berbagai aspek bisnis, dari sekadar menampilkan info perusahaan (web presence) sampai proses transaksi yang lebih rumit, misal: e-commerce dan e–bussiness.
Masa depan seolah ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat kemajuan teknologi informasi. Teknologi komunikasi dan informasi (TI) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi,pengolahan, dan informasi yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia.
Roy Suryo, seorang pakar telematika mengatakan, semua bisnis cocok jika mengaplikasikan internet karena internet benar-benar mampu menghadirkan dunia nyata ke dalam dunia maya. Tapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar desain internet (web) dapat menarik perhatian massa;yaitu: brand yang menarik, lay-out yang eye-cathcing,dan konsep yang benar dan simpel.
Lebih lanjut Nukman Lutfi, Pengamat Bisnis Teknologi Informasi mengemukakan bahwa tantangan untuk mengembangkan teknologi berbasis TI salah satunya berada di tangan Independen Distributor (DI). DI harus mampu dan sanggup mengimplementasikan TI yang tepat.
Dengan demikian kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya. Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. http://www.pariwisata.jogja.co.id,www.artikel.total.or.id,www.inilah.com,wwwpratesis.com
By MIRANTI WULANDARI C1C006095 on May 1, 2008
GROUP LIPPO MEMBANGUN BISNIS DENGAN E-COMMERCE
Perusahaan yang bergerak dalam industri barang dan jasa pada saat ini mengarah kepada suatu bentuk organisasi yang semakin kompleks, dan menghadapi masa depan yang tidak menentu. Setiap perusahaan harus meningkatkan kualitas dan produktivitas masing-masing untuk merebut pasar bagi produk yang dihasilkannya dengan cara mengerahkan sumber-sumber daya dan kemampuan yang dimiliki.
Langkah yang baik adalah mengembangkan sistem informasi yang luwes, dan yang disesuaikan dengan arah dan strategi perusahaan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi secara tepat sebagal penunjang sistem informasi, memungkinkan setiap perusahaan mengantisipasi tuntutan perubahan dalam kegiatan bisnis, baik dari segi organisasi maupun lingkungan yang dihadapi.
Pertumbuhan e-commerce diprediksi akan berkembang terus seiring dengan makin memasyarakatnya jaringan global Internet. Bahkan beberapa pakar teknologi informasi memprediksi bahwa Internet akan menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat modern pada masa mendatang. Ini artinya mereka akan demikian kental berurusan dengan Internet dalam segala hal termasuk membeli atau menjual barang dan jasa. Begitu pula perusahaan-perusahaan akan mengupayakan pelebaran pangsa pasarnya melalui jaringan internet sebagai strategi baru yang sangat global. Dengan kata lain, e-commerce akan menjelma menjadi infrastruktur bisnis alternatif yang mumpuni pada era informasi kini dan mendatang.
Menyadari akan hal tersebut diatas, Group Lippo sebelumnya berkonsentrasi di finansial kemudian beralih menjadi perusahaan berbasis Internet sebagai pilar kekuatan bisnisnya yang baru. Dengan bisnis finansial yang kuat, teknologi informasi yang canggih, dan jaringan department store yang luas, Lippo tentunya telah menguasai customer base untuk menjadikan LippoShop terjun ke e-commerce. Keputusan bisnis yang diambil oleh Group Lippo menjadikan LippoShop sebagai portal belanja vertikal terkemuka dan perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan Lippo memadukan bisnis offline dengan online-nya. Terdapat dari implementasi e-commerce ketika LippoShop mengadopsi teknologi atau aplikasi untuk memulai bisnis e-commerce.
Tiga faktor yang secara umum berpengaruh terhadap implementasi tersebut, yaitu: lingkungan bisnis, karakteristik teknologi, dan tekanan kompetisi. Disini, LippoShop memerlukan tiga konipetensi, yaitu;
1.Pertama, kompetensi teknikal yang membutuhkan knowledge.
2.Kedua, kompetensi konseptual untuk menentukan asumsi dan peramalan masa depan dan melakukan pergeseran perspektif serta kemampuan mengelola resiko dengan baik.
3.Ketiga, LippoShop memerlukan kompetensi interdependen yang meniampukan perusahaan untuk berinteraksi dan bekerjasama secara efektif untuk menghasilkan sinergi.
Dari sisi teknologi informasi, potensi strategis TI yang dimiliki LippoShop dapat dimanfaatkan untuk memenangkan persaingan di industri e-commerce yang ketat ini. Pemanfaatan potensi strategis tersebut membantu manajemen dalam memfokuskan fungsi, peranan, dan posisi teknologi informasi sebagai alat utama dalam persaingan dan keunggulan kompetitif Di masa datang, pemain dalam industri e-commerce yang memiliki strategi fokus terbaik yang akan memenangkan persaingan. Untuk itu, LippoShop membutuhkan suatu studi manajemen teknologi informasi yang memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya (SCA). Hal ini juga akan memberikan keluasaan bagi Lipposhop untuk melakukan adaptasi terhadap kebutuhan pasar.
Sumber:
ITB Central Library
Http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-aryonoseti-28549
By Fandi Achmad (C1C005055) on May 1, 2008
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Sumber :http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By Iyamg Feri Ferdiama on May 1, 2008
((REVISI NAMA))
Nama : Iyang Feri Ferdiana
NIM : C1C005109
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Sumber :http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By Iyang Feri Ferdiana on May 1, 2008
Nama : Iyang Feri Ferdiana
NIM : C1C005109
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Sumber :http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By Iyang Feri Ferdiana on May 1, 2008
( REVISI LAGI PAK,JUDUL YANG TADI SAMA DENGAN KURNIATI)
NAMA : Iyang Feri Ferdiana
NIM : C1C005109
Telkom Terus Bangun Kampung-Kampung Digital
Pembentukan kampung-kampung digital di Indonesia dilakukan Telkom sebagai wujud keperdulian PT Telkom Tbk dalam mencerdaskan bangsa dan sekaligus untuk mendapatkan keuntungan dari bisnis tekonologi informasi pada masa yang akan datang.
“Bertambah pintar warga, maka kebutuhan teknologi informasi akan semakin diperlukan dan Telkom akan mendapatkan keuntungan tersendiri di luar sebagai salah satu CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan,” kata Direktur Konsumer PT Telkom, Ermadi Dahlan, usai peresmian Kampung Digital Terang Bulan, di Desa Serbajadi Kecamatan Sunggal, Deli Serdang, Senin.
Dusun Terang Bulan itu terletak sekitar 17 kilomter dari Kota Medan. Dusun yang berpenduduk sekitar 500 kepala keluarga itu sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani.
Dusun itu bisa menjadi kampung digital pertama di Sumatra karena sekelompok pemuda daerah itu yang sudah memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi, merasa terpanggil untuk mencerdaskan warga disekitar itu dan tindakan tersebut mendapat dukungan dari Telkom dengan membantu penyedian komputer, sumbangan akses internet gratis Speedy dan pembanguan tower internet.
Menurut dia, sejalan dengan era globalisasi dimana persaingan semakin ketat, maka dalam menjalankan bisnisnya, Telkom harus pro aktif.
“Telkom tidak lagi bisa menunggu peluang bisnis itu datang, tapi harus dikejar bahkan kalau bisa peluang itu diciptakan,” katanya.
Menyangkut nasib kampung-kampung digital di Indonesia itu nantinya karena dikhawatirkan “mati” karena tidak bisa berkembang akibat kekurangan SDM, menurut dia, Telkom memiliki komitmen untuk mengembangkan program itu yang merupakan alah satu program pencerdasan masyarakat.
Telkom tetap memegang komitmen itu antara lain dengan memberikan pendiikan secara terus menerus serta penyediaan infrastruktur mulai dari pemberian komputer gratis hingga pembangunan tower.
Executive General Manager Telkom Divre I Sumatra, Muhammad Awaluddin, menyebutkan, Telkom akan membangun/membentuk sedikitnya 100 kampung digital.
Pembagunan kampung-kampung digital itu merupakans salah satu cara untuk mempercepat program Telkom menjadikan Sumatra sebagai Pulau Digital pertama di Indonesia.
Selain kampung digital, Telkom sudah membentuk pustaka dan arsip digital serta kampung wisata digital.
Untuk program itu, Telkom mengembangan antara lain berupa alayanan broadband access dengan brand Speedy di 132 kabupaten/kota di Sumatra.
Awalludin menjelaskan, dengan menjadikan Sumatra sebagai Pulau Digital, maka cita-cita untuk memberdayakan masyarakat yang berbasis berpengetahuan dapat direalisasikan lebih cepat.
SUMBER :http://www.antara.co.id/arc/2008/1/7/telkom-terus-bangun-kampung-kampung-digital/
By Iyang Feri Ferdiana on May 1, 2008
BSM DORONG PENJUALAN REKSA DANA SYARIAH DENGAN SISTEM INFORMASI & TEKNOLOGI TERBAIK
Bank Syariah Mandiri (BSM) mendorong pengembangan bisnis penjualan reksa dana syariah melalui sejumlah kantor cabang. Hingga kini, BSM memiliki 29 kantor cabang yang juga berfungsi sebagai wakil agen penjual reksa dana (WAPERD).
Hingga akhir tahun, BSM memproyeksi memiliki hingga 40-50 kantor cabang WAPERD. “Kita memang mendorong pengembangan bisnis ini karena memang cukup positif responsnya,” kata Kepala Divisi Pengembangan Produk BSM, Dewa Bagus Ivan Baruna kepada Republika, Jumat, (24/8).
Menurut Ivan, penjualan reksa dana syariah memiliki potensi pengembangan bisnis perbankan syariah cukup signifikan. Saat ini, BSM bekerja sama dengan PT Mandiri Manajer Investasi menjual reksa dana syariah bernama Mandiri Investasi Berimbang Syariah. Hingga kini, penjualan reksa dana syariah tersebut berjalan cukup baik. “Respons masyarakat cukup positif. Saat ini, dana yang dihimpun kurang dari Rp 20 miliar,” katanya.
Ivan menyebutkan, BSM juga akan melakukan kerja sama dengan manajer investasi lainnya untuk .menjual reksa dana syariah. Saat ini, terdapat sekitar lima manajer investasi telah menyatakan tertarik bekerja sama dengan BSM. “Saat ini, kami masih melakukan beauty contest dengan sekitar lima manajer investasi,” katanya.
Untuk mendorong bisnis penjualan reksa dana tersebut, Ivan menyebutkan, BSM akan terus mengembangkan sejumlah kantor cabangnya menjadi agen penjual. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses produk investasi syariah tersebut. “Kami berharap hingga akhir tahun bisa memiliki sekitar 40-50 agen penjual (WAPERD),” katanya.
Raih penghargaan Direktur Utama BSM, Yuslam Fauzi me’ nyebutkan, BSM kembali memperoleh penghargaan untuk kategori sistem teknologi informasi (TI) konvensional dan syariah. Penghargaan tersebut berupa eCompany Award sebagai salah satu bank dengan sistem TI terbaik dari majalah Warta Ekonomi. Mei lalu, BSM juga memperoleh penghargaan serupa dari Majalah SWA.
Menurut Yuslam, pemilihan BSM tersebut didasarkan pada tiga kategori. Mereka adalah kriteria dasar yang terdiri dari pengelolaan dan inovasi TI, kriteria efisiensi yang terdiri dari strategi pengembangan, pengetahuan pengembangan, dan kompetensi TI, dan kriteria operasional yang terdiri dari efisiensi dan kecepatan respon dalam pengelolaan.
Yuslam menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, BSM memang tengah fokus pada pengembangan sistem Tl-nya. Hal tersebut untuk memastikan produk dan layanan perbankan syariah BSM menjadi lebih berkualitas bagi nasabah. “BSM memang beberapa tahun terakhir ini bekerja keras untuk lebih memenuhi keinginan dan kepuasan nasabah dengan produk dan layanan berbasis teknologi,” katanya.
Beberapa produk terbaru BSM berbasis teknologi, menurut Yuslam, adalah layanan berbasis internet, BSM Net Banking, dan layanan berbasis GPRS (General Packet Radio Service), BSM Mobile Banking. “Layanan kedua merupakan varian terbaru layanan mobile banking yang tidak lagi berbasis SMS, melainkan GPRS” katanya. (Republika)
Sumber:
http://www.syariahmandiri.co.id/berita/details.php?cid=1&id=465
By Setiawati M Putri (C1C006114) on May 1, 2008
PELAYANAN PUSKESMAS BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI di KABUPATEN PURWOREJO
Sejak lima tahun terakhir Puskesmas di Kabupaten Purworejo telah bebenah diri untuk berkembang. Tujuan umum pengembangan tersebut, adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dengan pelayanan yang prima dan biaya yang terjangkau. Pelayanan prima tersebut dapat berupa cepatnya pelayanan, akuratnya tindakan yang diterima, mudahnya mendapatkan informasi, dan kemudahan dan kesederhanaan proses-proses administrasi. Selain itu, pihak manajemen Puskesmas bisa mengendalikan dan mengaudit biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pelayanan terhadap pasien. Beberapa item barang, misal obat, juga harus dikontrol pengeluaran dan stoknya di Puskesmas.
Infrastruktur Teknologi Informasi Puskesmas Kab. Purworejo
Pada saat ini Puskesmas Kabupaten Purworejo telah mempunyai struktur teknologi informasi yang terintegrasi. Komputer dan perangkatnya telah digunakan untuk proses pelayanan dan administrasi yang terintegrasi secara on-line dengan memanfaatkan teknologi nirkabel (wireless) yang sat ini telah berkembang pesat.
• Lingkup Sistem.
Sistem ini bertujuan untuk membangun suatu SIK dengan menerapan kumpulan-kumpulan dari sistem-sistem manusia/mesin di jajaran kesehatan dan simpul-simpulnya guna mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, penggerakan, pelaksanaan, serta pengawasan peng-endalian dan penilaian. Adapun titik beratnya pada sistem pelayanan pasien, billing, inventory obat sederhana, dan pelaporan serta auditing.
• Kemungkinan pengembangan sistem.
Pada saat ini Puskesmas Kabupaten Purworejo telah mengembangkan diri, selain pengembangan jenis layanan di poliklinik dengan membuka UGD 24 jam dan rawat inap. Tentunya di masa yang akan datang akan banyak perkembangan lain di Puskesmas Purworejo. Untuk itu Sistem Informasi Manajemen Puskesmas yang dibangun harus dapat diperluas sesuai dengan perkembangan Puskesmas tanpa adanya perubahan yang berarti. Dengan kata lain, sistem yang dibangun adalah sistem yang extensible sesuai dengan perkembangan Puskesmas.
• Aspek Keamanan Data dan Sistem
Dalam sebuah sistem selalu ada batasan keamanan yang menyangkut autentikasi dan autorisasi. Autentikasi menyangkut identifikasi, bahwa orang tersebut memang orang yang bersangkutan. Autorisasi menyangkut hak orang tersebut untuk melakukan beberapa hal sehubungan dengan suatu sistem. Faktor keamanan menjadi penting karena dampak kerugian yang dapat terjadi terhadap sistem sangat besar. Dalam sebuah sistem informasi maka data menjadi suatu bahan yang yang sangat berguna. Karena itu pemberian hak untuk mengakses data dan merubahnya harus diatur secara hati-hati. Selain itu, perubahan pengaturan setting oleh yang tidak berhak dapat mengacaukan sistem yang ada.
• Aspek Performansi
Dalam sebuah sistem pelayanan maka kecepatan respon sistem menjadi sebuah kebutuhan yang penting terutama agar seluruh proses pelayanan dapat lebih cepat.
• Aspek pemeliharaan
Sebagai sebuah sistem yang mendukung dalam proses bisnis di suatu organisasi maka sudah seharusnya sistem tersebut mudah untuk dipelihara dan tidak menghabiskan resource yang besar untuk pemeliharaan, dengan kata lain kecil TCO (total cost of ownership)nya. Dalam sebuah sistem informasi manajemen pemeliharaan ini menyangkut pengaturan-pengaturan sistem, penambahan dan pengubahan user, dan troubleshooting terhadap kerusakan.
• Aspek availabilitas
Sebagai sebuah sistem yang mendukung pelayanan, terlebih lagi dalam sebuah pelayanan kesehatan, maka sistem harus dapat melayani salama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tetapi tentunya hal ini tidak mungkin karena ada banyak batasan yang harus diperhatikan agar sistem dapat berjalan tanpa adanya down time. Karena itu sistem yang dibangun harus mempunyai down time yang minimal yang masih dapat diterima agar pelayanan dapat terus berjalan dan perlu disusun suatu prosedur off line (tanpa sistem komputer) apabila sistem down.
• Aspek skalabilitas
Aspek ini berkaitan dengan kemampuan sistem untuk menangani jumlah data ataupun pengguna yang seimbang dengan kebutuhan kini dan perkembangan kebutuhan dalam beberapa tahun kedepan. Dalam hal penggunaan dalam waktu bersamaan dari sekitar 29 node dengan rata-rata 5 user setiap node, pada saat ini dengan aplikasi tahap awal sistem telah menunjukan kinerja yang dapat diterima. Pada perkembangan tahap berikutnya, seiring dengan bertambahnya aplikasi dan pengguna, baik software maupun hardware dapat dikembangkan tanpa perubahan yang mendasar.
• Aspek manusia.
User atau operator dalam sistem di Puskesmas telah menerapkan aspek autentikasi dan autorisasi untuk menjaga keamanan data dan sistem, karena aplikasi/sistemnya beroperasi dalam jaringan On-Line dengan sistem intranet maupun internet (WEB BASED APLICATION), dengan platform dasar web base system. Sehingga sistem dapat berjalan disemua platform/sistem operasi yang memiliki fasilitas grafis/GUI (Graphical User Interfaces) dan terhubung secara on-line ke Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo. Client yang akan mengakses sistem hanya membutuhkan browser seperti internet explore di sistem operasi mereka sehingga tidak ada aplikasi yang harus diinstal disisi client, dengan demikian aplikasi ini akan menghemat biaya yang cukup besar. Sistem dapat diubah sewaktu-waktu tanpa merubah sistem itu sendiri, sehingga aplikasi ini dapat dikembangkan dalam tampilan yang lebih menarik dan tidak membuat pengguna bosan.
Customer Puskesmas (masyarakat) dapat dilayani oleh seluruh Puskesmas di Kabupaten Purworejo dengan menggunakan one number id.
SUMBER : http://www.dinkespurworejo.go.id
By Istiqomah Dewi R (C1C005059) on May 1, 2008
PT. Telkom Tuntaskan Akuisisi Sigma Perkuat Bisnis TI
Jakarta, 05/02/08 (ANTARA News) - PT Telkom Tbk melalui anak perusahaannya PT Multimedia Nusantara (Metra) akan menuntaskan akuisisi 80 persen saham PT Sigma Cipta Caraka paling lambat akhir Februari 2008, untuk memperkuat posisi Telkom Grup di pasar teknologi informasi (TI).
“Transaksi akuisisi akan tuntas Februari ini juga, sebagai upaya perseroan memperkuat posisi Tekom di pasar TI,” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, di Jakarta, Selasa.
Dengan akuisisi tersebut, TelkomGrup bisa bergerak lebih cepat melebarkan bisnis TI dan enterprise bertaraf kelas dunia, khususnya di bidang piranti lunak dan Data Recovery Center.
Ia menuturkan, percepatan penuntasan akuisisi sejumlah perusahaan terutama berbasis TI juga untuk meningkatkan kapasitas layanan Telkom kepada pelanggan korporasi.
Penandatangan nota kesepahaman (MoU) akuisisi Sigma oleh Telkom dilakukan pada pertengahan Desember 2007.
Namun, Eddy tidak menyebutkan nilai akuisisi perusahaan pengembang piranti lunak independen (independent software vendor/ ISV) tersebut.
Ia hanya menjelaskan, akuisisi ini merupakan strategic partnership kedua pihak dengan kompentensi yang dimiliki masing-masing sehingga dapat saling melengkapi.
Selain Sigma, Telkom pada 25 Januari 2008, melalui anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (TII) juga mengakuisisi 6,8 persen saham Scicom, perusahaan “business process outsourcing & contact centers,” berbasis di Malaysia.
Pembelian sebanyak 18 juta lembar saham Scicom dilakukan melalui pasar saham Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE).
Menurut Eddy, sebagai anak perusahaan yang baru dibentuk, TII juga akan akan fokus mengembangkan sayap bisnis ke sejumlah negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Ia mencontohkan, TII selain melakukan transaksi bisnis dengan menyewakan transponder satelit Telkom kepada Timor Leste, juga menjajaki kerjasama dengan sejumlah negara dalam membenahi manajemen operator telekomunikasi seperti dengan Ekuador, dan sejumlah negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yaman.
“Belum ada putusan final, tapi prinsipnya Telkom memberikan konsultasi bisnis maupun dalam bentuk kerjasama manajemen kepada operator yang membutuhkan,” katanya.(*)
Sumber :http://www.bkpm.go.id/id/node/1307
By Otik Septi Wigatiningtyas (C1C006129) on May 1, 2008
FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN E-COMMERCE BUSINESS-TO-BUSINESS (B2B)
Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah membuka peluang bagi pelaku bisnis untuk melakukan perdagangan secara online, yaitu dengan e-commerce. E-commerce dibagi dalam beberapa kategori, yaitu e-commerce business-to-consumer (B2C), e-commerce business-to-business (B2B), dan e-commerce consumer-to-consumer (C2C).
E-commerce business-to-consumer (B2C) adalah sebuah aplikasi e-commerce yang berfokus pada pelanggan dengan tujuan untuk menarik calon pembeli, melakukan transaksi atas barang dan jasa, serta membangun loyalitas pelanggan melalui pelayanan yang baik untuk setiap individu dan terlibat dengan berbagai fitur komunitas. Bentuk dari e-commerce B2C adalah toko web. E-commerce B2C telah mengalami perkembangan dari pajangan toko web dan katalog elektronik menuju model layanan mandiri, tempat para pelanggan menyesuaikan berbagai barang dan jasa yang akan mereka beli.
Di internet, halangan waktu, jarak, dan bentuk ditembus hingga perusahaan dapat melakukan transaksi penjualan barang dan jasa 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun dengan para pelanggan dari seluruh dunia. Hal ini membuat perusahaan harus menemukan cara untuk membangun kepuasan, loyalitas, dan hubungan pelanggan agar para pelanggan tetap kembali ke toko web mereka. Jadi, kunci dari keberhasilan ritel elektronik adalah dengan mengoptimalkan beberapa faktor utama seperti pilihan dan nilai, kinerja dan efisiensi layanan, tampilan dan cita rasa dari situs, iklan dan insentif untuk membeli, perhatian personal, hubungan dengan komunitas, serta keamanan dan keandalan.
Pilihan dan Nilai. Sebuah bisnis harus menawarkan pilihan barang dan jasa yang menarik bagi pelanggan dengan harga bersaing. Harga dari produk tidak harus terendah dalam web jika ingin membangun reputasi untuk kualitas tinggi, jaminan kepuasan, dan dukungan yang bagus setelah penjualan bagi pelanggan.
Kinerja dan Pelayanan. Orang tidak ingin dibuat menunggu ketika menjelajahi, memilih, atau membayar dalam sebuah toko web. Oleh karena itu, sebuah toko web harus didesain supaya navigasi, proses belanja, pembelian, serta konfirmasi dapat berjalan dengan cepat dan mudah.
Tampilan dan Cita Rasa. Sebuah toko web dapat menawarkan pajangan web, area perbelanjaan dan katalog produk dengan multimedia serta fitur belanja online yang menarik lainnya. Jadi, sebagian besar situs e-commerce peritel memungkinkan pelanggan menjelajahi berbagai bagian produk, memasukkannya ke dalam kereta belanja virtual, lalu menuju kasir virtual ketika mereka siap untuk membayar pesanan.
Iklan dan Insentif. Beberapa toko web beriklan dalam media tradisional, tetapi kebanyakan beriklan dalam web dengan spanduk iklan serta promosi dalam halaman web atau e-mail. Kebanyakan situs B2C juga menawarkan insentif bagi pembeli untuk membeli dan mengembalikan.
Perhatian Personal. Toko web yang mempersonalisasikan pengalaman belanja seorang pembeli akan mendorong pembeli itu untuk melakukan kunjungan ulang dan membeli kembali di toko web tersebut. Oleh karena itu, software e-commerce dirancang untuk dapat secara otomatis mencatat rincian dari kunjungan seorang pembeli dan membangun profil orang itu dan pembeli lainnya. Dengan adanya fasilitas ini, toko web akan menyapa seorang pembeli, yang pernah melakukan transaksi di toko web itu, ketika ia berkunjung kembali ke toko web tersebut.
Hubungan dengan Komunitas. Memberi para pelanggan online, yang memiliki minat khusus, suatu perasaan memiliki atas sekelompok individu yang hampir sama akan membantu membangun loyalitas serta nilai pelanggan. Jadi, hubungan situs web dan daya tarik program pemasaran akan membangun serta mempromosikan komunitas virtual di antara pelanggan, pemasok, perwakilan perusahaan, dan lain-lainnya melalui newsgroup, ruang bincang, serta berbagai hubungan ke situs-situs terkait.
Keamanan dan Keandalan. Seorang pelanggan harus merasa yakin bahwa kartu kredit, informasi personal, dan rincian transaksi aman dari penggunaan yang tidak sah. Ia juga harus merasa bahwa ia sedang berhubungan dengan perusahaan yang dapat dipercaya, yang produk dan informasi lainnya seperti yang diiklankan, dan yang akan mengirimkan pesanan sesuai permintaannya dan dalam jangka waktu yang dijanjikan. Oleh karena itu, sebuah toko web harus memenuhi hal-hal tersebut.
Referensi:
O’Brien, James. 2005. Pengantar Sistem Informasi. Jakarta: Salemba Empat.
By ARIEF KURNIAWAN on May 2, 2008
AMAZON.COM
Amazon.com ialah toko online yang menjual buku, film, permainan, DVD, CD musik, perangkat lunak komputer dan barang lain. Merupakan toko online terbesar untuk saat ini. Pada awalnya terjadi pada bulan Mei tahun 1994. Seorang lelaki berusia 30 tahun sedang duduk di depan kantor di gedung lantai 39 di pusat kota Manhattan, yang sedang mengeksplorasi teknologi yang masih sangat muda yaitu Intenet. Kemudian, ia melihat dengan hampir tidak percaya, bahwa Internet sedang mengalami angka pertumbuhan sebesar 2300% setiap tahun. Angka tersebut bagaikan membangunkan Jeff Bezos dari tidur sehingga membuatnya berpikir keras untuk menentukan bisnis apa yang paling tepat untuk menangkap peluang yang besar ini. Sambil memikirkan bisnis yang akan diambilnya, Bezos pada saat itu merupakan salah satu pekerja di D.E. Shaw.
Bezos lulus dari Universitas princeston, di bidang Teknik Elekro dan Ilmu Komputer. Sebenarnya ia memilih jurusan tersebut adalah di luar rencananya. Semula ia memilih Princeston karena memiliki Departemen Fisika yang legendaris. Setelah lulus pekerjaan pertama yang dilakoninya adalah di Fitel, perusahaan yang baru berdiri yang membangun sebuah jaringan untuk menangani perdagangan keuangan internasional. Ia menghabiskan waktu sekitar 2 tahun di sana. Bagaimana sejarahnya Bezos berhasil mengambil manfaat dari ledakan dunia online tersebut ? Internet mulai menjadi wilayah perdagangan bebas sampai tahun 1994 yang dimuat oleh Departemen Pertahanan untuk menjaga jaringan komputer mereka agar bisa senantiasa berkomunikasi dalam hal pendeteksian serangan nuklir. Jaringan tersebut kemudian berevolusi menjadi sebuah jaringan yang menggabungkan lembaga penelitian di universitas dan pemerintah sehingga dapat bertukar pesan dan data melalui berbagai macam platform.
Pemerintah memutuskan untuk mengembangkan bisnis di Internet dan mengizinkan perusahaan swasta untuk ikut bergabung dan mengembangkan bisnis online ini. Bezos lalu melakukan penelitian terhadap perusahaan yang melakukan pemesanan lewat surat, dan membandingkan bahwa hal serupa dapat dilakukan dengan lebih baik secara online. Ia membuat daftar 20 produk terkemuka yang dapat dipesan lewat surat dan Bezos mengamati metode tersebut dapat memberikan nilai pelayanan terbesar kepada konsumen. Bezos menyadari bahwa ia harus membangun toko buku online sendiri. Pernah ia membicarakan gagasannya dengan MacKenzie. Hingga akhirnya pada tanggal 16 Juli 1995, Amazon.com membuka situnya ke seluruh dunia. Selama 30 hari masa percobaanm, dengan tanpa publikasi, Amazon berhasil menjual buku ke 50 negara bagian dan 45 negara.
Selanjutnya, perusahaan ini tumbuh dan terus tumbuh. Amazon berkembang begitu cepat dan sangat mengejutkan Jeff Bezos. Pada bulan mei 1996, Amazon diulas pada halaman depan media Wall Street Journal. Dengan semakin berkembangannya Amazon memiliki beberapa cabang site di 6 negara, yaitu: Canada, United Kingdom, Germany, Japan, France, and China.
sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Amazon.com
By Yuniar Wilda Fitriani (C1C006116) on May 2, 2008
Dengan TI Membangun Bisnis “Low-cost, high value”
Tuesday, 23 October 2007
Dalam waktu setahun, Virgin America membangun sebuah ekosistem TI dari nol untuk mendukung operasi perusahaan penerbangan yang efisien namun bernilai tinggi. Apa saja yang dilakukannya?
Dulu, naik pesawat terbang bagi sebagian besar orang hanyalah sekedar impian. Naik pesawat terbang identik dengan harga tiket mahal, dan eksklusif bagi kalangan mampu.
Tapi, belakangan kondisi itu berubah. Selama lebih dari satu dekade terakhir, dunia penerbangan komersial global semakin marak, diwarnai dengan hadirnya berbagai low-cost airlines atau no-frills airlines.
Sesuai namanya, low-cost airlines menawarkan harga tiket jauh lebih murah ketimbang airline tradisional. Namun, hal itu harus ditebus dengan “sedikit” mengorbankan kenyamanan penumpang. Full services seperti yang diberikan airline tradisional dipangkas. Layanan-layanan seperti minuman gratis misalnya, ditiadakan.
Namun, pelan-pelan citra low cost airline yang mengesampingkan kenyamanan bagi penumpang agaknya akan segera berubah. Sejumlah low-cost airline, baik yang sudah eksis maupun yang akan segera beroperasi mengambil ancang-ancang melakukan terobosan untuk meningkatkan customer experience-nya.
Hal itu yang menjadi salah satu tujuan low-cost airline Virgin America. Sebagai maskapai penerbangan debutan, yang baru akan melakukan penerbangan perdananya tahun ini, Virgin America bercita-cita membangun citra baru di dunia low-cost airline.
Harga tiketnya setara dengan harga tiket terendah untuk penerbangan cross-country pulang pergi seharga dibawah 300 dolar, seperti yang ditawarkan maskapai penerbangan JetBlue. Tapi, lebih dari itu, perusahaan ini ingin memberikan customer experience layaknya maskapai penerbangan kelas dunia seperti Singapore Airlines.
Diferensiasi apa yang akan ditawarkan Virgin America memang belum sepenuhnya diungkap para petinggi perusahaan itu sebelum mereka benar-benar beroperasi tahun ini.
Setidaknya publik baru mengetahui rute perdana maskapai ini adalah San Fransisco ke New York, memiliki armada terdiri dari 34 unit pesawat gres Airbus A320 serta penawaran fasilitas in-flight yang nyaman untuk penumpang, misalnya penggunaan kursi penumpang buatan Recaro dengan sandaran tipis sehingga memberikan ruang kaki lebih lega bagi penumpang di belakangnya. Selain itu, calon penumpang pun akan lebih mudah mendapatkan tiket karena 70 persen tiket akan mereka bisa peroleh melalui Web.
Pada intinya, seperti yang diungkapkan Todd Pawlowski, vice president guest service and airports, Virgin America, pihaknya ingin memberikan kastamer lebih dari apa yang mereka bayar dan meningkatkan kualitas guest experience-nya.
“Akan ada lebih banyak full service. Tapi kami tidak akan membuat kastamer harus membayar lebih untuk menikmatinya,” tegasnya.
Nah, yang tak kalah menarik adalah bagaimana Virgin America bisa mewujudkan segala fasilitas layaknya airline tradisional itu. Perusahaan ini membangun visi yang jarang dilakukan maskapai penerbangan debutan lainnya: menjadikan TI sebagai kunci dengan membangun strategi TI yang ramping, murah dan efektif.
Low cost, high value
Virgin America sejak awal sadar bahwa kemampuannya untuk menawarkan diferensiasi layanan kepada kastamer yang peka terhadap harga akan sangat bergantung pada bagaimana menjaga biaya TI tetap rendah.
Layaknya perusahaan startup, Virgin America harus melakukan banyak hal dengan dana terbatas, meski termasuk yang terbesar untuk ukuran low-cost airline. Modal awal perusahaan tidak lebih dari 177,3 juta dolar AS, sebagian untuk membeli lisensi penggunaan nama Virgin yang dibeli dari Virgin Management milik entrepreneur terkemuka asal Inggris, Sir Richard Branson.
Upaya untuk membangun TI yang kuat namun efisien pun tercermin dari keputusan perusahaan itu untuk merekrut Bill Maguire sebagai chief information officer (CIO) Virgin America.
Membaca rilis pers terkait dengan penunjukkan Maguire terlihat jelas bahwa Virgin America terkesan akan gaya kepemimpinan pria 53 tahun ini yang cenderung cost oriented.
Prestasinya menekan cost TI sebesar 4 juta dolar per tahun ketika menjabat sebagai CIO Aspect Communications, serta menghemat biaya sebesar 3 juta dolar dengan melakukan pembenahan infrastruktur TI ketika ia menjabat juga sebagai CIO di Legato Systems adalah nilai plus yang membuat Virgin America meminangnya.
“Bill adalah seorang technology leader yang inovatif dan fokus pada biaya,” puji Fred Reid, CEO Virgin America. “Ia dapat membuktikan bahwa ia dapat memanfaatkan teknologi untuk secara efektif menyeimbangkan cost control di dalam sebuah perusahaan jasa high-profile yang penuh dengan berbagai macam tuntutan.”
Maguire pun sadar bahwa sebagai perusahaan start-up, Virgin America memiliki sumberdaya yang relatif terbatas. Sedapat mungkin setiap dolar yang dihemat dari sebuah sistem TI, katakanlah memangkas sistem back-end TI yang tidak memberikan value bagi kastamer, bisa dialihkan ke hal-hal yang memberikan dampak lebih besar bagi kastamer. Misalnya, pembangunan kios-kios layanan di setiap terminal bandara.
Oleh karena itu, begitu ia menduduki kursi CIO Virgin Airlines, ia pun merencanakan untuk menggelar sebuah paduan sistem yang berbiaya rendah (bahkan dalam beberapa kasus tidak memerlukan biaya), efisien serta agile untuk membangun basis bisnis Virgin America yang bergaya “low-cost, high-value”.
“Kami hadir pada saat teknologi sudah berkembang jauh lebih ringkas, cepat dan fleksibel,” ujarnya. ”Jadi kami tidak perlu menggelar mainframe untuk menjalankan sistem-sistem kompleks yang dimiliki airline besar seperti United dan American.”
Tuesday, 23 October 2007
Source : http://www.ebizzasia.com
By DITA ANDRAENY (C1C006136) on May 2, 2008
Kiat mudah bisnis melalui internet
Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut semua orang untuk bias melakukan dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Kemajuan IPTEk sangat membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan IT (Information technology). Peralatan yang modern sekarang banyak dibutuhkan untuk membantu kegiatan manusia. Terhapusnya batasan ruang dan waktu dengan adanya Internet membuka peluang baru untuk melakukan pekerjaan dari jarak jauh. Ini memunculkan istilah remote working atau teleworking. Seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dari rumah tanpa perlu memikirkan masalah lalulintas. Hal di atas menunjukkan adanya peluang-peluang baru dalam bisnis dengan adanya IT dan Internet.
Jika dilihat dari aksesnya, sebagian besar sambungan Internet di Indonesia masih berupa akses dial-up, yaitu sekitar 90%. Baru sekitar 10% dari sambungan Internet di Indonesia yang telah menggunakan akses komunikasi data berkecepatan tinggi (broadband access). Target pertumbuhan pengakses termasuk target penetrasi Internet di Indonesia untuk tahun ini diperkirakan akan terlampaui. Ini didukung oleh pertumbuhan pengakses Internet yang melonjak tajam dari sekolah dan pemda [2, 3].
Dari data di atas terlihat, bahwa peluang bisnis melalui internet terbuka lebar. Pertumbuhan pengkases juga terus melonjak setiap tahun. Dilihat dari jumlah pengakses internet tersebut, ini berarti bahwa bisnis melalui internet sangat menjanjikan. Dengan kata lain, calon pembeli di market/pasar internet adalah 12 juta orang sampai akhir tahun 2004.
Pelaku bisnis melalui internet kebanyakan adalah pebisnis UKM, atau home-based. Sehingga dikenal istilah home-based-internet-business, internet bisnis SOHO (small office/home office) dan sejenisnya. Home-based-business ini hanya memerlukan modal awal yang kecil, tetapi begitu bisnisnya dijalankan dengan benar akan menghasilkan income yang besar. Bisnis ini bagi orang-orang yang selalu mencari peluang usaha dan para wirausahawan di internet (atau istilah barunya adalah netrepreneur, gabungan dari kata ‘internet’ dan ‘entrepreneur’), internet telah menjadi sarana yang sangat mudah dan cepat untuk mendapatkan keuntungan.
Tetapi selain ada keuntungan yang ditawarkan bisnis melelui internet juga memiliki kendala. Beberapa kendala dalam melakukan bisnis melalui internet (kasus di Indonesia) bisa disampaikan sbb. Kendala ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang bagi netrepreneur untuk meraih kesuksesan berbisnis melalui internet.
1. Terbatasnya sambungan internet broadband baik berbasis DSL/ADSL dan fiber optic.
2. Kurang adanya kepercayaan terhadap internet banking untuk e-payment atau pembayaran electronik via internet dengan kartu kredit yang dikeluarkan bank lokal Indonesia. [2]
3. Kurang adanya sarana penunjang bisnis internet, seperti layanan “pembayaran antara” untuk COD (Cash on Delivery) dan layanan antar barang.
4. Masih rendahnya kepercayaan masyarakat kepada web shop, yang selaras dengan masih kuatnya pasar tradisional. Rendahnya kepercayaan masyarakat ini juga didukung oleh kurang bisa dipercayanya pelaku web shop dalam berbisnis di internet.
5. Minimnya propaganda berbisnis melalui internet oleh pakar IT maupun netrepreneur/pelaku bisnis di internet.
6. Belum adanya dukungan pemerintah atau lembaga terkait dalam hal kebijakan dan regulasi.
source : http://www.altavista.com
By Nurul Pratiwi C1C005027 on May 2, 2008
Strategi Bisnis PLN
PT. PLN (Persero) segera memasuki babak yang akan membawa perusahaan mampu mensejajarkan diri dengan perusahaan-perusahaan, setidak-tidaknya, perusahaan ketenagalistrikan kelas dunia. Babak baru yang akan dimasuki PLN itu berkaitan dengan diimplementasikannya Enterprise Resource Planning (ERP), suatu sistem manajemen bisnis yang trintegrasi berbasis IT. Dengan diterapkan ERP, seluruh bidang (fungsi) kerja yang ada dilingkungan usaha PLN, baik pusat maupun daerah, nantinya akan terintegrasi secara on-line. Dengan terintegrasi ini artinya, di semua unit PLN sistemnya akan menjadi sama (standar) dan terkontrol.
Sebagai suatu sistem manajemen bisnis berbasis IT, kehadiran ERP jelas akan menciptakan suatu perubahan mendasar dan membentuk pola kerja baru yang berbeda dengan sebelumnya. Adanya perubahan mendasar ini sudah pasti menuntut setiap pegawai PLN, suka atau tidak suka, harus mengadaptasikan diri dengan lingkungan dan suasana kerja yang benar-benar baru itu.
Penerapan ERP di PLN sebenarnya bukanlah barang mewah. Perusahaan-perusahaan ketenagalistrikan di beberapa negara, seperti Tenaga Bhd., perusahaan ketenagalistrikannya Malaysia dan Shanghai Power di China sekedar contoh, telah menerapkan ERP sejak lama. Sementara di Indonesia, beberapa perusahaan yang telah menerapkan ERP adalah Pertamina dan perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.
Direktur Utama PT. PLN, Eddie Widiono menyatakan, penerapan ERP di PLN jelas akan memiliki beberapa manfaat. Diantaranya, proses kerja di lingkungan usaha PLN akan menjadi terkontrol dan standar. PLN juga akan memperoleh mekanisme operasi dan kontrol yang lebih baik. Dan yang terpenting, proses bisnis yang berlangsung di PLN akan menjadi sama dengan proses bisnis yang biasa digunakan perusahaan listrik lainnya di dunia. Dengan begitu, “ERP akan menjadi alat bagi PLN dalam melaksanakan transformasi menuju perusahaan kelas dunia”, kata Eddie kepada ERP News di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Selain itu, adanya ERP juga akan sangat membantu manajemen PLN dalam mengambil keputusan. Sebab, “Kecepatan dan keakuratan informasi yang diperoleh melalui ERP akan lebih baik sehingga dalam pengambilan keputusan pun juga menjadi lebih cepat dan akurat”, kata Eddie menambahkan.
Gagasan menerapkan ERP di PLN bukanlah suatu gagasan yang tiba-tiba. Gagasan tersebut merupakan sesuatu yang telah direncanakan. Penerapan ERP sejalan dengan rencana kerja PLN yang tertuang di dalam IT Master Plan dan telah disinkronisasikan dengan Strategi Bisnis PLN.
Hal tersebut dikemukakan Deputi Direktur Strategi Teknologi Informasi, Zulkifli.
Menurutnya, ERP merupakan bagian integral dari strategi besar PLN dalam membenahi seluruh pengelolaan perusahaan.
Saat ini, penerapan ERP di PLN baru sebatas sebagai pilot project, yang dilaksanakan di empat unit, yaitu Kantor Pusat, Distribusi Bali, Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang dan P3B Jawa Bali. Pengembangan selanjutnya, seperti dikemukakan Benni Hermawan, Project manajer Tim Imbangan ERP PLN, bagaimana ERP bisa berintegrasi dengan sistem lain. Misalnya, dengan sistem pelayanan pelanggan CIS. “ERP akan mendahulukan yang telah memiliki sistem pelayanan pelanggan. Karena PLN sangat berkepentingan dengan itu. Yang sudah siap sejauh ini di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi ini yang akan di dahulukan”, kata Benni.
Sumber : http://www.plnkalbar.co.id/Warta_PLN.asp?id=2315&idm=5&idSM=2
By EKA SETIYADI (C1C005242) on May 2, 2008
Telkom Kembangkan Jaringan Berbasis IP
//Pengembangan
Perkembangan teknologi menciptakan tren market yang menuntut kemudahan layanan apapun hanya dengan satu jaringan di masa depan. Perkembangan layanan teknologi pun sudah bergeser ke arah layanan digital. Ini mendorong PT Telkom Tbk untuk mengembangkan layanannya menuju layanan TIME (technology, information and media entertainment).
Untuk mendukung layanan ini, Telkom mulai menyempurnakan infrastruktur jaringannya dengan teknologi NGN (next generation network) yang berbasis IP (internet protocol). Direktur Informasi Teknologi Telkom Indra Utoyo mengatakan, tahun ini pihaknya tengah merampungkan persiapan fondasi infrastruktur NGN. Tahun 2012 diharapkan seluruh pembangunan infrastruktur itu sudah selesai.
’’Kondisi eksisting saat ini baru 20 persen jaringan infrastruktur Telkom yang berbasis IP,’’ katanya saat konperensi pers di kantor Telkom Divre V Jatim kemarin (14/3). Tahun 2008 ini TELKOM mentargetkan membangun akses broadband sebanyak 1,5 juta SSL (satuan sambungan layanan), seluruh jaringan kota besar berbasis fiber optic, dan penguatan backbone network nasional.
Diakui Indra, bahwa infrastruktur berbasis IP ini akan mempermudah Telkom untuk bertransformasi menuju NGN.
Menurut Indra, setidaknya ada beberapa langkah yang harus ditempuh Telkom guna menyongsong layanan TIME. Yakni, penyederhanaan untuk konvergensi infrastruktur Telkom berbasis IP. Kedua, Telkom juga mulai menata lebih dari 250 produk layanannya yang disimplifikasikan menjadi produk basic, yang ke depannya diharapkan mampu menggenerik produk-produk turunannya.
Langkah selanjutnya, Telkom ingin meningkatkan costumer experience terhadap value produk yang dijual. Untuk ini Telkom mulai mengembangkan komunitas digital yang diberi nama Indigo (Indonesia Digital Community). ’’Telkom mendukung tumbuhnya industri kreatif digital, diantaranya industri games, edukasi, musik dan animasi yang makin marak di Indonesia,’’ ujar Indra.
Terakhir, Telkom akan mulai bertransformasi pada teknologi berbasis IP dalam satu sistem terpadu, mulai pengelolaan layanan pelanggan juga pengelolaan bisnis dan SDM nya, yang dilakukan bertahap hingga 2012. *
By Chandra mulyana on May 3, 2008
Pak maaf ayatidak menuliskan sumbernya, ini revisi tugassaya
Telkom Kembangkan Jaringan Berbasis IP
//Pengembangan
Laporan : Wartawan JPNN/Editor : Eko Jaya Saputra/Editor Posting: Wawa’k GX
JAKARTA — Perkembangan teknologi menciptakan tren market yang menuntut kemudahan layanan apapun hanya dengan satu jaringan di masa depan. Perkembangan layanan teknologi pun sudah bergeser ke arah layanan digital. Ini mendorong PT Telkom Tbk untuk mengembangkan layanannya menuju layanan TIME (technology, information and media entertainment).
Untuk mendukung layanan ini, Telkom mulai menyempurnakan infrastruktur jaringannya dengan teknologi NGN (next generation network) yang berbasis IP (internet protocol). Direktur Informasi Teknologi Telkom Indra Utoyo mengatakan, tahun ini pihaknya tengah merampungkan persiapan fondasi infrastruktur NGN. Tahun 2012 diharapkan seluruh pembangunan infrastruktur itu sudah selesai.
’’Kondisi eksisting saat ini baru 20 persen jaringan infrastruktur Telkom yang berbasis IP,’’ katanya saat konperensi pers di kantor Telkom Divre V Jatim kemarin (14/3). Tahun 2008 ini TELKOM mentargetkan membangun akses broadband sebanyak 1,5 juta SSL (satuan sambungan layanan), seluruh jaringan kota besar berbasis fiber optic, dan penguatan backbone network nasional.
Diakui Indra, bahwa infrastruktur berbasis IP ini akan mempermudah Telkom untuk bertransformasi menuju NGN.
Menurut Indra, setidaknya ada beberapa langkah yang harus ditempuh Telkom guna menyongsong layanan TIME. Yakni, penyederhanaan untuk konvergensi infrastruktur Telkom berbasis IP. Kedua, Telkom juga mulai menata lebih dari 250 produk layanannya yang disimplifikasikan menjadi produk basic, yang ke depannya diharapkan mampu menggenerik produk-produk turunannya.
Langkah selanjutnya, Telkom ingin meningkatkan costumer experience terhadap value produk yang dijual. Untuk ini Telkom mulai mengembangkan komunitas digital yang diberi nama Indigo (Indonesia Digital Community). ’’Telkom mendukung tumbuhnya industri kreatif digital, diantaranya industri games, edukasi, musik dan animasi yang makin marak di Indonesia,’’ ujar Indra.
Terakhir, Telkom akan mulai bertransformasi pada teknologi berbasis IP dalam satu sistem terpadu, mulai pengelolaan layanan pelanggan juga pengelolaan bisnis dan SDM nya, yang dilakukan bertahap hingga 2012. *
http://www.rakyatlampung.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=29&artid=4328
sumber:
By Chandra mulyana on May 3, 2008
Pengembangan Teknologi Informasi
- Sentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika berbicara mengenai sentralisasi seringkali kita lebih memfokuskan diri pada aspek antara pusat dan daerah. Seringkali kita melupakan aspek sentralisasi dalam kajian global.
Diambil kutipan dari wawancara Alan Cox pada http://www.plcom.net/news/top_stories/linux/articles/990726.php3.
Q: One of the beautiful things about Linux is its international flavour. Linus Torvalds is from Finland, you’re from Britain. It’s not California -centric, as so much software is. How important is this to the Linux community, and Linux users?
A: It’s very, very important to a lot of countries, especially Third World countries, because American software is expensive. With Linux, developing nations can download the operating system, modify it to suit their needs, make copies, and no money flows out of the country.
- Barrier untuk mengembangkan teknologi informasi
Salah satu barrier atau hambatan yang cukup dirasakan bagi pengembangan teknologi informasi antara lain:
·a. Masih dikuasainya hak pengembangan dan modifikasi perangkat lunak oleh vendor besar. Sehingga para konsumen ataupun calon pengembang haruslah melewati jalur yang panjang dan membutuhkan biaya tinggi untuk menjadi solution provider di dunia Teknologi Informasi. Biaya ini sangat membebani untuk keperluan investasi awal, dan produksi selanjutnya.
·b. Biaya perangkat lunak yang digunakan untuk mengembangkan produk teknologi informasi masih sangat tinggi, misal harga sistem operasi, harga kompiler, harga development tool. Di tambah biaya komponen perangkat lunak yang mau tidak mau dimasukkan ke dalam produk jadi. Sebagai contoh misal membangun suatu sistem Point of Sale (POS) yang berbasiskan sistem operasi komersial, mau tidak mau komponen harga sistem operasi tersebut akan dimasukkan ke dalam harga akhir dari perangkat POS yang dikembangkan tersebut.
·c. Biaya memperoleh informasi pendukung yang tersedia yang sangat dibutuhkan oleh developer. Hal ini lazim dikenal sebagai Developer Network Subscription Fee. Sehingga apabila kita ingin menjadi pengembang teknologi informasi, agar dapat dilakukan akses kepada informasi-informasi penting biaya ini haruslah diperhitungkan.
·d. Biaya pelatihan yang sangat tinggi agar memenuhi suatu syarat sertifikasi dari vendor sehingga dapat dipercaya untuk menjadi solution provider ataupun trainning provider.
Biaya-biaya tersebut jelas menghambat keinginan pengguna yang antusias terjun mejadi pengembang teknologi informasi yang handal dan dikenal dunia. Di samping itu juga penguasaan secara sentral hak akses kepada pasar, serta pengakuan kerja menjadikan para pengembang TI di Indonesia kurang terdengar kiprahnya di dunia internasional, karena harus melalui tahapan-tahapan memutar yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebelum akhirnya dapat menghasilkan suatu produk teknologi informasi.
Di samping barier finansial terdapat juga barier hukum yang mau tidak mau harus dipertimbangkan dalam mengembangkan teknologi informasi lokal. Sebagai contoh dikutipkan definisi PEMBAJAKAN menurut salah satu perusahaan perangkat lunak besar, Microsoft di Indonesia [ http://www.microsoft.com/indonesia/piracy/:
Anti-Piracy (Bahasa Indonesia)
Berbagai bentuk Pembajakan Piranti lunak:
1.Pemuatan Hard Disk (Hard Disk loading)
Terjadi saat penjual komputer memuat salinan program piranti lunak yang tidak sah ke hard disk komputer yang akan dibeli oleh konsumen, sebagai rangsangan bagi konsumen untuk membeli perangkat PC dari penjual tersebut. Penjual ini tidak menyediakan disket/CD-ROM asli, dokumentasi atau persetujuan lisensi, yang seharusnya diberikan bersama-sama dengan copy program yang legal. Dengan demikian konsumen tanpa mereka sadari menerima piranti lunak ilegal yang telah diinstal di Hard Disk.
2.Softlifting
Tejadi jika copy ekstra piranti lunak dibuat di dalam suatu lembaga untuk dipakai oleh karyawannya atau untuk dibawa pulang. Menukarkan disket/CD dengan rekan rekan di dalam maupun di luar perusahaan juga termasuk dalam kategori pembajakan ini.
3.Pemalsuan piranti lunak (Software counterfeiting)
Penggandaan ilegal seluruh paket p iranti lunak dan dijual dalam kemasan yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak asli. Bentuk lainn pembajakan ini adalah kompilasi berbagai judul piranti lunak tiruan yang dikemas dalam satu CD-ROM secara ilegal dan dipasarkan dengan nama yang berbeda. Berbeda dengan pelanggaran yang terjadi dalam perusahaan, pemalsu piranti lunak beroperasi murni untuk keuntungan, tanpa mengindahkan pemilik hak cipta produk yang dipalsukan.
4.Penyewaan piranti lunak
Dikenal tiga bentuk pembajakan melalui penyewaan piranti lunak : produk yang disewa untuk digunakan pada komputer di rumah atau di kantor penyewa; produk yang disewakan melalui mail order dan produk yang dimuat dalam komputer yang disewa untuk waktu terbatas.
5.Downloading ilegal melalui BBS/Internet
Terjadi melalui downloading piranti lunak sah melalui hubungan modem ke buletin elektronik adalah bentuk lain pembajakan. Pembajakan ini tidak sama dan jangan disalah artikan dengan penggunaan piranti lunak yang diberikan di public domain, ataupun fasilitas shareware yang digunakan bersama.
Dari batasan piracy di atas tampak bahwa pengguna yang ingin memanfaatkan program informasi untuk mengembangkan pemanfaatan teknoloogi informasi akan mengalami hambatan yang cukup besar. Hambatan tersebut dikarenakan dikuasainya hak pengembangan secara sentral oleh suatu institusi. Sehingga sulit sekali pelaku bisnis TI lokal untuk mengembangkan secara optimal kemampuannya tanpa melakukan pelanggaran hukum. Sebagai contoh :
· Dari point 1, jelas para penjual komputer yang ingin menjual komputer yang telah disertai dengan perangkat lunak (Pre-installed) akan mengalami hambatan yang cukup berarti. Apabila para penjual tersebut ingin menyertakan software asli yang terinstall pada sistem komputer tersebut, maka mau tidak mau dia harus membeli lisensi yang cukup berharga mahal (minimal 100 USD). Hal ini belum termasuk perangkat lunak aplikasi lainnya. Sehingga paling tidak untuk menyediakan jasa penjualan pre-installed haruslah disisihkan dana yang cukup tinggi yang akhirnya dibebankan ke para pembeli. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah dengan cara melakukan instalasi program ``as-pal'' (asli tapi palsu), jadi satu salinan program asli diinstal di banyak komputer yang dijual. Secara hukum dan etika hal ini tak dapat dibenarkan.
· Pemakaian bersama (biaya tinggi). Bagi suatu insitusi seperti sekolah, ataupun lembaga pemerintahan pembelian perangkat lunak untuk tiap komputer di institusi tersebut akan menyebabkan ongkos yang cukup tinggi untuk pembelian perangkat lunak. Hal ini menyebabkan banyak institusi mengambil jalan pintas dengan melakukan ``pelanggaran'' yaitu dengan membeli versi asli satu buah dan menggunakan banyak salinannya di komputer laionnya. Jelas secara etika hal ini tak dapat dibenarkan (Wiryana, 1998).
· Praktek penggandaan program secara ilegal banyak sekali dijumpai di Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pada peringkat atas pembajak. Hal ini menimbulkan image yang kurang baik bagi dunia Teknologi Informasi.
· Pada point berikutnya, hal ini sering dilakukan secara tidak sadar. Sebagai contoh pada Warung Internet, ataupun penyedia jasa layanan penyewaan perangkat komputer yang sering dijumpai di sekitar kampus. Secara tidak sadar, walaupun program yang digunakan adalah asli tetap merupakan pembajakan, karena termasuk ``menyewakan'' perangkat lunak.
Dari contoh di atas, jelas adanya keterbatasan pemanfaatan dari perangkat lunak baik digunakan untuk keperluan sehari-hari ataupun untuk digunakan sebagai alat produksi. Sekarang bagaimana cara mengatasi hal tersebut agar kita dapat menghilangkan timbulnya praktek pelanggaran hukum ini. Pilihan yang ada adalah :
· Membeli perangkat lunak asli dan menggunakannya sesuai dengan batas yang ada dan tertera pada lisensi perangkat lunak tersebut. Hal ini jelas berdampak pada biaya yang tidak sedikit dan hal ini nampaknya sangatlah kurang bijaksana pada situasi ekonomi saat ini.
· Memanfaatkan program Open Source yang memberikan keleluasan tanpa harus melanggar hukum. Hal ini dimungkinkan karena program Open Soure memungkinkan pengguna memperbanyak ataupun mengubah program sesuai dengan yang diinginkannya.
Di samping faktor ekonomi dan hukum ternyata Open Source menimbulkan beberapa faktor-faktor non teknis yang disebabkan gaya pengembanganyannya.
- Era keterbukaan telah tiba : Open Source
Salah satu contoh keberhasilan dan yang menjadikan Open Source menjadi perhatian dunia pada saat ini, adalah fenomena GNU/Linux, suatu sistem operasi yang dapat dikatakan berkembang dengan pola Open Source. Internet pun dapat dikatakan berkembang dalam kerangka kerja ala Open Source pula. Program-program yang menjalankan Internet, aturan-aturan yang dikembangkan via Internet Engineer Task Force juga menerapkan ini.
Perkembangan Linux sendiri berciri ``self organizing'', hal ini memberikan ilusi bagaikan suatu perusahaan besar tanpa dinding, tanpa pemegang saham, tanpa gaji, tanpa iklan dan tanpa pemasukan. Tetapi keberadaanya tak dapat diabaikan pada saat ini, bila Linux dihilangkan dari muka dunia, maka Internet dapat dipastikan tidak akan bekerja. Kemampuan evolusi dan adaptibilitas dan bantuan yang tersedia untuk pengguna memberikan suatu jaminan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan khusus pengguna.
Banyak pihak yang mengkhawatirkan, bahwa GNU/Linux ini tak berbeda dengan trend komputer lainnya, dengan kata lain mereka berpendapat bahwa hal itu adalah sekedar pergantian trend saja, saat ini yang populer Microsoft, dan mendatang Linux dan begitu seterusnya. Sehingga tidak ada hal perbedaan essential yang dibawa oleh Open Source. Bahkan masih banyak pihak yang berpendapat atau memperoleh kesan bahwa GNU/Linux ini adalah suatu produk Amerika dari suatu perusahaan seperti Linux Inc. Masih sedikit pihak di Indonesia yang menyadari bahwa adanya perbedaan yang sangat krusial, bahwa GNU/Linux memakai prinsip "Open Source" yang memiliki implikasi yang sangat berbeda dalam tatanan hak cipta, dan dorongan sosial.
Sebagai akibat dari fenomena bahwa setiap tool yang digunakan akan merubah tata cara pandang si pengguna tersebut terhadap suatu permasalahan., ternyata Open Source menimbulkan beberapa dampak pendorong yang dapat membawa ke perubahan cara pandang pada masyarakat luas. Dengan adanya perbedaan motivasi dan perubahan attide pada pelaku Open Source maka adanya suatu kemungkinan untuk digunakan sebagai "pendorong" terciptanya pemikiran yang lebih baik pada masyarakat luas. Open Source membawa "attitude" seperti "peer review, pengakuan karya cipta, maka akan mendorong si pengguna memiliki attitude yang baik.
Sebetulnya pola Open Source ini bukanlah hal yang baru, Pada tahun 1960-an semua perangkat lunak dapat dikatakan ``open-source''. Komputer yang dijual (pada saat itu sebagian besar adalah IBM) selalu disertai dengan source code. Pada era tersebut perkembangan komputer dan sains oleh para saintist melalui penggunaan bersama source code secara bebas. Pada tahun 1970-an ketika para individu dan perusahaann mulai menggunakan program untuk beragam kebutuhan, software berubah menjadi bersifat proprietary. Pada saat itu mulai disadari keuntungan bisnis yang diakibatkan oleh monopoli source code yang dilakukan dengan cara membatasi orang untuk memiliki source code dengan kata lain penguasaan source code menjadi memiliki nilai ekonomi. Walau pada tahun 1983 Richard Stallman berusaha mempopulerkan lagi kebersamaan antar pengembang perangkat lunak dengan Free Software Fundationnya (FSF) tetapi usaha ini belum begitu berhasil. Walau begitu hingga saat ini FSF tetap memainkan peranan penting pada perkembangan Open Source. Barulah dengan perkembangan Linux pola Open Source ini mulai diperhitungkan orang kembali, hingga Netscape pun melepas source code dari browsernya.
Perkembangan Unix sendiripun memanfaatkan proses peer review ini. (Darwin dan Collyer, 1984). Sebuah buku yang dikeluarkan oleh Lion pada tahun 1976 yang berisi source code Unix dan komentarnya menjadikan sumber acuan informasi bagi para pengembang komputer pada saat itu. Dokumentasi Unix sendiri merupakan sumber informasi yang baik, tertulis dalam bentuk yang konsisten, akurat dan langsung ke pokok permasalahan. Rata-rata para saat itu para programmer menulis program dan juga menulis dokumentasi. Dan secara biasa pengakuan sumbangan kerja selalu dilakukan kepada mereka yang telah memberikan idea, saran dan dukungan pada suatu proyek.
Dengan mekanisme yang serba terbuka ini, para developer didorong untuk menjadi terbuka dengan keterbatasan mereka (misal tertulis pada bagian BUGS pada manual). Penulisan bagian BUGS ini menunjukkan agar pengguna mengetahui keterbatasan program mereka, bukannya membiarkan pengguna menemukannya. Tidak seperti pada closed source model mereka cenderung tidak menyertakan daftar bugs yang ada.
Keinginan mereka berbagi source code tersebut adalah untuk menyesuaikan program tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan Usenet pun dibuat dengan tujuan untuk mempermudah mereka saling mendistribusikan source code, informasi yang terkait dan juga melakukan diskusi. Dapat dikatakan Internet pun dibangun oleh suatu komunitas yang terdiri dari developer bebas yang membangun perangkat bantu mereka agar dapat bekerja sama lebih baik dan lebih efektif.
Keterbukaan Unix dihentikan oleh AT&T yang menerapkan kebijakan lisensi. Terbukti kebijakan ini membawa perkembangan dunia komputer menjadi terhambat dan terjadi ``reinvented the wheel''. Walaupun telah ada proposal untuk menjadikan Unix sebagai ``sourceware'' yaitu tersedia source code untuk masyarakat luas yang diajukan oleh McCoy pada tahun 1984 (McCoy, 1984). Tetapi hal itu tidak membawa perubahan lisensi. Keterbukaan ini menjadi terulang kembali dengan lahirnya Linux dan FreeBSD.
Internet Engineering Task Force (IETF) mendefiniskan suatu standard terbuka yang memungkinkan terciptanya dan beroperasinya internet. Sebagian besar pekerjaan dilakukan melalui mailing list. Setiap orang dapat bergabung dalam mailing list tersebut dan memberikan kontribusi. Tak ada yang memimpin untuk memberikan keputusan, bahkan voting relatif jarang dilakukan, yang ada hanyalah konsensus dan sistem yang dapat beroperasi dengan baik. Banyak sistem yang dibangun berdasarkan Open Source ini dan sekarang dapat dikatakan sebagai tulang punggung Internet.
GNU/Linux sendiri kini telah menjadi kesayangan para programmer berbakat di berbagai belahan dunia (Sanders, 1998). Konsep kerja sama pada Open Source makin menarik minat para programmer sedunia. Ditambah dengan makin menggejalanya konsep masyarakat virtual. Perkembangan masyarakat virtual pun tak terlepas dari semangat seperti kolaborasi secara sukarela seperti dalam Open Source ini, seperti yang ditunjukkan pada inisiatif Global Electronic Vilage, the Whole Electronic Link. (Rushkoff, 1994). Internet dan World Wide Web (WWW) juga berkembang dengan pesat sebagai suatu perkembangan dari jaringan untuk riset yang terbuka. Sukses keduanya tidak terlepas dari ``kerelaan'' orang yang membuatnya, dan semangat untuk saling berbagi. Teknologi ini tersedia secara bebas, dan kini mulai diambil alih sebagian oleh perusahaan besar (Lang, 1998). Jadi dari sudut pandang pengembangan sistem (system development) sejarah telah menunjukka bahwa Open Source ini sudah cukup teruji keefektifan dan keefisienannya sebagai suatu metode pengembangan sistem.
Kesuksesan pengembangan Internet menunjukkan bahwa pola Open Source yang membuat suatu bentukan ``gift economy'' telah mendorong inovasi secara cepat (Newman, 1999). Standardisasi yang dianut oleh Internet memungkinan beragam komputer melakukan penggunaan sumber daya secara bersama.
4 Pengembangan sistem yang berprinsip pada desentralisasi
Pada dasarnya Open Source adalah pengembangan sistem yang tak dikoordinasi oleh suatu entitas pusat, tetapi oleh para pelaku yang saling bekerja sama dengan memanfaatkan source code yang terdistribusi dan tersedia secara bebas dan menggunakan fasilitas komunikasi melalui Internet (O'Reilly, 1998). Pola pengembangan Open Source ini berdasarkan konsep pengembangan sistem yang mengambil model pengembangan ala "Bazaar". Sehingga pengembangan suatu software bebas bagi siapa saja yang ingin melakukannya. Di samping itu pola Open Source ini memiliki suatu ciri lain yaitu adanya dorongan yang bersumber dari "gift culture". Artinya ketika suatu komunitas menggunakan memakai suatu program Open Source komunitas telah menerima "sesuatu manfaat'' kemudian akan memotivasi dan menimbulkan pertanyaan "apa yang bisa si pengguna berikan kembali kepada orang banyak".
Pola Open Source ini telah digunakan secara optimal di berbagai proyek penelitian sebelum era komputer digunakan secara luas ataupun sebelum adanya Internet. dan telah menghasilkan beberapa prototipe yang dibuat oleh Engelbart dan sekarang relatif menjadi dasar berbagai produk komersial (Newman, 1999), seperti email, word procssing, mouse, environment Windows, hypertext browser yang telah dikembangkan sejak lama sebelum adanya produk komersial sejenis.
*Permasalahan pada pola pengembangan sistem saat ini
Salah satu permasalahan pada hasil produk perangkat lunak adalah kehandalan (reliabilitas). Bila pada tahun belakangan ini dunia Teknologi Informasi (TI) mendapat pandangan sinis karena kesalahan program yang berkaitan dengan Y2K, maka menjadi pertanyaan bagi orang awam, apakah ada sesuatu yang kurang tepat padametoda pengembangan perangkat lunak yang lazim digunakan. Mungkin dibutuhkan suatu metoda yang meninggalkan pola pengembangan sistem yang terlalu berbentuk hiererarki ini, atau pengembangan sistem hanya dilakukan oleh suatu team yang khusus untuk suatu projet, dan serba tertutup.
Model pengembangan perangkat lunak secara traditional menyarankan bahwa untuk membangun sistem yang handal, maka harus digunakan para developer yang terkontrol secara ketat, terkelola secara detail, dan proses yang dikontrol secara ketat. Hal yang berlawanan terjadi di dunia Open Source. Open Source lebih menitik beratkan pada kemampuan intelektual para programmer tenimbang proses mekanis pengembangan suatu perangkat lunak.
Salah satu cara untuk memperoleh kehandalan yang tinggi pada suatu produk adalah melakukan peer review yang independent dan banyak sekali. Sehingga produk telah diuji secara sangat intensif. Sebagai contoh suatu tulisan ilmiah pada jurnal ilmiah biasanya telah melewati proses peer review yang intensif sebelum dapat diterbitkan. Begitu juga dengan perekayasaan bidang lainnya. Internet menjadikan kemungkinan melakukan proses peer review secara masal. Misal setelah suatu project Open Source diluncurkan di Web, para pengguna dapat mendownload, mencoba dan melaporkan kesalahan, atau bahkan memberi masukan berupa program tambahan
Evolusi Linux memberikan inspirasi akan kemungkinan penerapan pola Open Source tersebut. Keterbukaan source code perangkat lunak adalah hal yang biasa bagi pengguna seperti NASA yang terkenal dengan ungkapan :
``If it is not source, it is not software''.
Hal ini disebabkan kebutuhan pengujian dan kustomisasi dari pihak NASA. Biasanya makin kritis suatu perangkat lunak, maka kustomer makin menginginkan tersedianya source code. Salah satu keuntungan nyata dari pola Open Source adalah mencegah duplikasi pekerjaan yang pernah dilakukan oleh orang lain. Sebagian besar pengembangan perangkat lunak adalah menggunakan perulangan dari solusi yang telah dilakukan orang lain pada hal tertentu. Hal lainnya dengan keterbukaan ini adalah permasalahan yang tertimbun pada source code dapat terbuka dan dievaluasi secara luas. Permasalahan seperti Y2K akan lebih kecil apabila program bersifat terbuka. (Stoltz, 1999).
*Model Bazaar
Pola pengembangan secara Open Source yang ditampakkan pada free software movement yang pada dasarnya adalah suatu kegiatakan yang bersifat kolektif (Perkins, 1999). Para pengembang Open Source bekerja mengembangkan source code mereka dan membuka kepada pengembang lain agar dapat bekerja sama. Mereka menginginkan ``kebebasan berkarya'' tanpa intervensi berfikir, dan mengungkapkan apa yang mereka ingini, menggunakan pengetahuan dan produk yang menurut mereka cocok. Kebebasan adalah pertimbangan utama ketika mereka membolehkan orang melihat source code mereka. Mereka mendapatkan ``kebebasan'' untuk belajar, mengutak-atik, mendisain ulang, membenarkan atau menyalahkan, mengaudit, menambahkan dan menggunakan code tersebut sesuai dengan yang mereka inginkan. Tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan ``tanggung jawab'', bukan bebas tanpa tanggung jawab. Artinya mereka berbuat dengan bebas tetapi dengan menanggung resiko sendiri. Tanpa bisa menyalahkan orang lain, karena mereka memilih proyek mereka sendiri dan memilih team mereka sendiri.
Pola pengembangan Open Source sendiri membalikkan teori-teori pengembanan sistem yang biasanya meliputi analisis kebtuhan, process maturity, software configuration control. Bahkan menunjukkan adanya suatu pola pengembangan yang bisa menghasilkan produk yang handal tetapi tanpa adanya sistem configuration and management control seperti halnya pada sistem pengembangan perangkat lunak biasa (Bollinger adn Beckman, 1999).
Bisa dikatakan prinsip dasar dari pengembangan ala Open Source ini adalah :
``rapid code evolution and massive independent peer review''.
Pada Open Source pengunaan ulang code (code reuse) yang sangat diingini oleh sistem pengembangan software konvensional selalu dimanfaatkan melalui ketersediaannya source code. Pada paper The Cathedral and Bazaar, prinsip pengembangan perangkat lunak secara Open Source adalah sebagai berikut (Raymond, 1998) :
· Proses dimulai dengan suatu prototipe yang telah agak berbentuk. Penayangan prototipe ini untuk menunjukkan bahwa memang proyek memiliki hasil yang menjanjikan. Janji hasil akhri ini berbentuk produk yang bermanfaat bukan dalam arti profit secara langsung. Memang program tidak harus bekerja sepenuhnya, mungkin masih penuh bug, belum lengkap, belum ada dokumentasi, tetapi cukup meyakinkan bagi para co-developer untuk turut serta mentransformasikan hingga ke hasil yang makin berbentuk.
· Produk diluncurkan sesegera dan sesering mungkin. Berbeda dengan konsep pengembangan perangkat lunak konvensional, pada open source pengguna mendapat posisi sebagai co-developer bukan saja sebagai end-user belaka. Komunitas merupakan kunci utama dari pengembangan sistem, sehingga respon terhadap pertanyaan atau saran dari pengguna menjadi sangat berperan. Peran komunikasi antar developer utama dan pengguna menjadi penting sekali. Sementara itu dengan cara meluncurkan produk sesering mungkin menjadikan para developer tetap terstimulasi dengan tantangan baru, dan tertarik untuk memberikan kontribusi. Dengan prinsip inilah dikenal Linus's Law :
``Given enough eyeballs, all bugs are shallow''.
· Delegasikan apapun yang mungkin. Bukannya berfungsi sebagai manajer proyek seperti dalam pola pengembangan konvensional, pemimpin pada suatu proyek Open Source cenderung berperan sebagai ``penjaga gerbang'' dengan kata lain sebagai koordinator dari semua orang yang telah memberikan kontribusi. Koordinator bekerja dengan cara lebih banyak mendelegasikan wewenang kepada para co-devoper, yang mengakibatkan kontribusi akan lebih bervariasi. Koordinator tidaklah harus seorang disainer program yang brilian, tetapi harus dapat mengenali idea disain yang baik dari orang lain (menerima dan memahami pendapat kontributor lain). Sudah barang tentu dia juga harus memiliki kemampuan menarik dan menjaga para kontributor yang berbakat tersebut.
· Keterbukaan. Hal ini merupakan bagian yang sangat asing bagi para developer yang terbiasa dengan metoda konvensional. Hal utama dari Open Source, adalah menarik orang sebanyak mungkin sehingga bisa memberikan fokus kerja ke banyak hal. Hal yang disembunyikan akan mempengaruhi kepada produk akhir secara keseluruhan.
*Keterlibatan pada pola Open Source
Untuk mengembangkan sistem dengan pola Open Source dibutuhkan keterlibatan fungsi personal yang berbeda yaitu (Behlenhof, 1999)
· Pendukung infrastruktur : yaitu personal yang berperan dalam menginstall, mengelola mailing list, web server, Concurrent Versioning System (CVS) dan database untuk bug, dengan kata lain menyediakan infrastruktur untuk terjadinya komunikasi antar pengembang.
· Code Captain personal yang mengawasi hal keseluruhan dan bertanggung jawab akan kualitas dari code yang dihasilkan. Melakukan integrasi dari patch yang disumbangkan pihak lain, memperbaiki bug dan ketidak-kompatibilitasan antar penyumbang program.
· Pengelola database bug penting bagi masyarakat banyak untuk mengetahui mengenai bug ini. Juga untuk melaporkan adanya bug yang ditemukan sehingga developer dapat segera memperbaikinya. Pengelola bug ini biasanya secara sukarela menjadi penjawab pertanyaan mengenai bug tersebut.
· Pengelola dokumentasi dan isi web site. Karena proses pengembangan sangat menggunakan Internet maka Web site selalu digunakan untuk menginformasikan seluruh kegiatan, untuk itu dibutuhkan seseorang yang secara ruting mengelola situs tempat informasi tersebut berada. Termasuk untuk memberikan informasi tentang sumber informasi yang dibutuhkan bagi siapapun yang tertarik untuk membantu proyek tersebut, dan juga berisi informasi tentang hal-hal umum termasuk bug yang sering ditemukan dan telah dilaporkan. Keberadaan situs ini akan mendorong mereka yang tadinya pengguna akan menjadi pengembang. Dokumentasi utama tentang sistem yang dikembangkan biasanya dijabarkan di situs ini.
· Pengatur strategi dan lainnya, pihak ini adalah orang yang membantu membangun momentum agar proyek dapat berjalan, dengan cara mencari pengembang lain, mendorong calon komsumen yang potentsal, termasuk mendekati perusahaan untuk menjelaskan tentang proyek ini. Personal ini memiliki karakteristik berbeda dengan personal pada pemasaran, karena orang yang bertugas ini harus memahami hal teknis dari sistem secara dekat.
Sebagian besar para pengembang freeware meminta diperlakukan secara fair dan menerima ``kebebasan'' berkreasi (Hecker, 1999). Proyek pada dunia Open Source biasa dilakukan secara kooperatif untuk mendorong inovasi dan tetap mengakui perbedaan dan tetap menghindarkan kebingungan (Leibovitch, 1999).
*Motivasi dan proses umpan balik
Para developer yang bergerak dengan paradigma Open Source relatif memiliki dorongan yang lain, mereka sebagian besar tidak berfokus pada mengasilkan uang secara langsung dari produk mereka. Tetapi mereka bertujuan memuaskan rasa artistik mereka dan memecahkan masalah mereka. Kecintaan akan pekerjaan menjadi lebih utama dibandingkan hasil finansial secara langsung yang mereka peroleh. Karena sifat keterbukaannya melalui media Internet, secara alami proyek Open Source menjadi lebih memiliki karakter mendunia dan bersifat kolaboratif.
Pada tinjuan filosofis, pola pengembangan Open Source mengakibatkan terbentuknya ``medan morpogenesis'' dari para pelakunya atau kebersamaan untuk mencapai tujuan. Hal ini disebabkan suatu dorongan yang sama dan mengakibatkan fenomena phase locked loop, yang membuat para pelakunya melakukan pergeseran dimensi. Walau para pelakunya berbeda tempat secara fisik tetapi mereka mengalami pergeseran dimensi ini karena melakukan suatu ``proses umpan balik'' yang terus menerus. Hal ini bisa lazim terlihat pada fenomena fraktal. (Rushkoff, 1994). Jadi jelas pada Open Source ini ada suatu ``kesamaan dorongan'' dari para pelakunya.
Kerja sama dilakukan atas hubungan ``win-win''. Pada tingkat individu ketimbang imbalan nilai ekonomis, maka pengakuan secara psikologi seperti reputasi di kalangan, kepuasaan menyelesaikan permasalahan, kebanggaan menjadi nilai-nilai yang ingin dicapai. Berbeda dengan dunia closed source, nilai ekonomis lebih ingin dicapai oleh para pengembang dengan cara melakukan penguasaan terhadap hasil kerja. Hal ini disebabkan pada Open Source yang berlandaskan budaya hacker (hacker bukan dalam arti cracker) mengakibatkan terjadinya ``gift economy'' dan bukannya ``exchange economy''.
Pada dunia Open Source ini nilai-nilai penghargaan terhadap individual akan berdasarkan pertimbangan : , pengetahuan, ketrampilan teknis, produktifitas, dedikasi mengerjakan proyek, analisis penilaian secara tajam dan berelasan, serta kreatifitas (Perkins, 1999).
Peer review atau penilaian terhadap rekan sejawat (atau sesama developer) terhadap hasil kerja memiliki fungsi yang penting dalam pelaksanaan proyek open source. Penilaian hasil karya bukan terhadap yang mereka ``ucapkan/janjikan'' tetapi terhadap apa yang mereka ``hasilkan''. Para developer akan bergabung dalam komunitas ini berharap agar mengalami peningkatan kemampuan setelah bergaul dengan pihak yang memiliki kemampuan lebih tingi. Proses peer review inilah yang merupakan umpan balik yang dilakukan secara terus menerus.
Dengan membuka source code yang merupakan hasil kerja, maka si penulis harus bersiap menerima kritikan atau perbaikan dari pihak lain. Proses kritik dan perbaikan ini berlangsung secara alami di alam Open Source. Dunia open source ini sepertinya terbentuk dari orang-orang yang individualitis tetapi mereka dapat bekerja secara kolektif. Tak ada figur utama yang memegang otoritas untuk menentukan segalanya secara diktator. Jadi bisa dikatakan bentukan kelompok terjadi secara self-organization, kooperasi terjadi secara otomatis untuk mengatasi ``tantangan'' yang ada. Dengan bentuknya yang desentralisasi disertai keterbukaan, maka mereka dapat menghasilkan suatu produk yang berkualitas tinggi, handal dan berguna. Kesalahan dapat dicegah terjadi sejak awal karena terlihat oleh pihak lain.
4.5 Kaitan dengan metoda ilmiah
Sains, bisa dikatakan juga merupakan komunitas Open Source yang sangat besar. Metoda ilmiah biasanya berlandaskan suatu proses penemuan, dan proses justifikasi hasil penemuan. Bagi kalangan ilmiah, agar suatu hasil dapat dijustifikasi, maka hasil tersebut haruslah dapat direplikasi. Proses replikasi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa adanya penggunaan bersama sumber informasi, yang biasanya terdiri dari: hipotesis, syarat pengujian, dan hasil pengujian. Memang proses penemuan dapat dilakukan secara terisolir, akan tetapi proses penemuan tersebut harus memungkinkan penggunaan bersama informasi, sehingga memungkinkan ilmuwan lain untuk bergerak ke arah pengembangan yang tidak sama.
Bila para ilmuwan memandang kemungkinan replikasi untuk percobaannya, maka para programmer membandingkan dengan proses debugging (penemuan kesalahan). Bila para ilmuwan mencoba melakukan penemuan, maka analogi dengan para programmer yang mencoba mengkreasikan suatu program dengan melewati tahapan-tapahan pengembangan sistem yang biasanya melewati tahapan : Requirement Analysis, System Level Design, Detailed design, Implementation, Integration, Field testing, dan Support.
Pada ilmu komputer, yang sangat berbeda dengan keilmuan lainnya, proses replikasi hanya dapat dilakukan oleh para ilmuwan apabila dilakukan proses penggunaan bersama source code. Untuk mendemonstrasikan validitas suatu program kepada orang lain, maka harus ditunjukkan proses kompilasi, dan juga eksekusi program tersebut. Jadi apa yang dipraketkan para pengembang di Open Source tidak lain adalah adopsi dari metoda ilmiah. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar mereka yang terlibat dalam pola Open Source ini berlatar belakang ilmuwan, mahasiswa dan akademisi, walau banyak juga yang berlatar belakang lain. Pengembangan perangkat lunak di awal sejarah komputer memang melibatkan proses kolaboratif antara akademisi dan mahasiswa. Software dipandang sebagai milik publik yang bisa digunakan bersama. Keterbukaan ini memungkinkan suatu kesalahan diperbaiki secara cepat. Komersialisasi komputer di era 1970-1980 merubah pola ini.
Pada dasarnya ada beberapa proses review yang lazim dilakukan terhadap suatu sistem adalah Peer review, Mentor/management review dan Cross disciplinary review. Replikasi untuk melakukan proses review telah dibuktikan oleh para ilmuwan sangat berguna, dan memberikah hasil yang tidak perlu diragukan lagi. Dengan memberikan keterbukaan terhadap hipotesis dan hasil pengujian pada komunitas setingkat, para imuwan dapat melihat apakah terjadi kekurang tepat pengamatan oleh ilmuwan lainnya.
Keterbukaan ini juga mendorong inovasi, karena mencegah terjadinya duplikasi usaha yang sama. Karena mereka akan tahu apakah ada pihak lain yang telah melakukan hal yang sama. Dengan cara ini suatu inovasi akan memberikan inspirasi pada inovasi yang lain. Bukan terjadi reinvention, yang banyak terjadi di dunia Closed Source.
Pengembagan perangkat lunak memiliki kemiripan pola dengan perkembangan teori matematik (Lang, 1998). Sains dan matematika khususnya biasanya sangat tidak cocok dengan hal yang ``rahasia'' dan adanya keterbatasan yang biasanya banyak dijumpai di pengembangan perangkat lunak komersial. Spesifikasi yang baik dan produk yang handal hanya dapat disusun melalui proses perlahan dan melalui proses sosial yang terbuka yang melibatkan ealuasi, pembandingan, dan kerja sama. Sehingga tidak mengherankan bila Linux walau jauh lebih muda dari Windows NT dalam pengembangannya telah mencapai tingkat kualitas yang lebih baik. Sehingga menimbulkan pertanyaan pada pola pengembangan klasik dari perangkat lunak.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5.2 Definisi Open Source
Tujuan dari definisi Open Source adalah untuk melindungi proses Open Source dan menjamin bahwa perangkat lunak yang didistribusikan dengan menggunakan lisensi open source akan tersedia untuk peer review secara bebas, dan secara kontinyu mengalami perbaikan secara evolusi, seleksi dan mencapai suatu tingkat kehandalan serta menjaga kemungkinan menjadi produk yang closed source. Lisensi ini harus menjamin mencegah orang mengunci software sehingga hanya orang tertentu yang dapat membaca source code dan memodifikasinya. Definisi ini bukan perangkat untuk mengumpulkan biaya lisensi. Penggunaan merk ini bebas dan tetap bebas bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Definisi Open Source sendiri bukanlah lisensi, dan tidak dimaksud sebagai dokumen bernilai hukum (legal document). Untuk menjadi Open Source semua syarat dalam definisi Open Source harus dipenuhi bersama pada semua kaseadaan.
Open Source sendiri menjamin hak untuk (Perens, 1999):
· Untuk membuat salinan program, dan mendistribusikan program tersebut
· Untuk mengakses source code, sebelum melakukan perubahan
· Melakukan perbaikan pada program
Definisi di bawah ini mengacu pada The Open Source Definition Version 1.3. yang awalnya ditulis oleh Bruce Perens dan dikenal sebagai `The Debian Free Software Guidelines', setelah diperbaiki dan batasan yang spesifik terhadap Debian dihilangkan maka diperkenalkan sebagai Open Source Definition. Berikut ini disertakan tulisan asli definisi Open Source dan penjelasan singkat.
1. Free Redistribution
The license may not restrict any party from selling or giving away the software as a component of an aggregate software distribution containing programs from several different sources. The license may not require a royalty or other fee for such sale.
Ini berarti orang boleh membuat salinan tak terbatas, menjual atau memberikan bebas, dan pengguna tak perlu membayar untuk melakukan hal tersebut. Dengan membatasi lisensi ini sehingga membutuhkan kebebasan mendistribusikan ulang, maka dicegah kemungkinan orang untuk mengambil keuntungan singkat dari penjualan yang berdasarkan usaha yang dilakukan orang dalam waktu lama.
2. Source Code
The program must include source code, and must allow distribution in source code as well as compiled form. Where some form of a product is not distributed with source code, there must be a well-publicized means of downloading the source code, without charge, via the Internet. The source code must be the preferred form in which a programmer would modify the program. Deliberately obfuscated source code is not allowed. Intermediate forms such as the output of a preprocessor or translator are not allowed.
Jelas pengaksesan source code menjadi syarat utama, sebab program tak dapat berevolusi bila tidak dimodifikasi. Karena tujuan dari Open Source membuat agar evolusi berlangsung mudah, maka dibutuhkan modifikasi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan tersedianya source code. Source code adalah syarat utama untuk melakukan modifikasi atau perbaikan. Tujuan dari klausa ini adalah agar source code didistribusikan dalam bentuk awal dan pekerjaan yang diturunkan darinya.
3. Derived Works
The license must allow modifications and derived works, and must allow them to be distributed under the same terms as the license of the original software.
Hanya keberadaan source code saja tidak cukup untuk mendorong peer review dan seleksi evolusi secara cepat. Agar terciptanya evolusi yang cepat, orang harus dapat mencoba dengan dan meredistribusi modifikasi yang dilakukannya.
Software akan berkurang manfaatnya bila tidak dapat dirawat, misal untuk memperbaiki bug, memport ke sistem baru, membuat perbaikan, dan melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal. Tujuan dari klausa ini bertujuan agar segala bentuk modifikasi diperbolehkan. Harus diijinkan melakukan pekerjaan modifikasi dan didistribusikan dengan lisensi seperti pekerjaan aslinya. Tetapi tidak disyaratkan bahwa semua jenis hasil kerja turunan harus menggunakan lisensi yang sama. Ini bergantung pada jenis lisensi yang digunakan, BSD memungkinkan hal tersebut, tetapi GPL tidak.
4. Integrity of The Author's Source Code.
The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of "patch files" with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software.
Mendorong dilakukannya banyak perbaikan adalah hal yang baik, tetapi pengguna harus memiliki hak untuk mengetahui siapa yang bertanggung-jawab terhadap program yang mereka gunakan. Penulis software dan perawat memiliki hak yang sama untuk menjaga reputasi mereka. Lisensi open source harus menjamin ketersediaan source code,yang memungkinkan perbaikan dengan menggunakan patch. Dengan cara ini perubahan ``tidak remsi'' dapat dilakukan tetapi tetap dapat dibedakan dengan hasil karya utama.
5. No Discrimination Against Persons or Groups.
The license must not discriminate against any person or group of persons.
Agar mendapatkan keuntungan maksimum dari proses open source, maka kemajemukan dari pengguna, dan kelompok pengguna harus diusahakan tercapai, sehingga setiap orang atau kelompok memiliki hak yang sama untuk melakukan kontribusi pada open source. Dengan cara ini lisensi open source mencegah dilarangnya seseorang untuk terlibat dalam proses. Sehingga tidak bisa dilakukan pelarangan berdasarkan sentimen politis, ataupun juga berdasarkan perkiraaan keinginan mereka untuk menggunakan program tersebut.
6. No Discrimination Against Fields of Endeavor.
The license must not restrict anyone from making use of the program in a specific field of endeavor. For example, it may not restrict the program from being used in a business, or from being used for genetic research.
Hal utama dari klausa ini adalah tetap adanya kemungkinan open source digunakan secara komersial. Diinginkan agar dunia komersial juga bergabung dengan komunitas Open Source sehingga tidak merasa dikucilkan. Oleh sebab itu dibuat tidak ada keterbatasan penggunaan Open Source untuk dunia bisnis atau pun untuk kegunaan lainnya.
7. Distribution of License.
The rights attached to the program must apply to all to whom the program is redistributed without the need for execution of an additional license by those parties.
Lisensi ini bersifat otomatis, jadi tidak membutuhkan tanda tangan, jadi berbeda dengan perjanjian seperti pada non-disclosure aggreement. Memang ini masih dipertanyakan pada beberapa pengadilan. Akan tetapi mengingat makin umumnya Open Source hal ini akan berubah di kemudian hari. Beberapa pihak menganggap bahwa lisensi adalah bagian dari perjanjian kontrak, dan ada yang berpendapat sebagai pernjanjian hak cipta.
8. License Must Not Be Specific to a Product.
The rights attached to the program must not depend on the program's being part of a particular software distribution. If the program is extracted from that distribution and used or distributed within the terms of the program's license, all parties to whom the program is redistributed should have the same rights as those that are granted in conjunction with the original software distribution.
Ini berarti tak ada pembatasan suatu produk yang dinyatakan sebagai Open Source menjadi bebas selama hanya menggunana merk distribusi tertentu saja. Program tersebut harus tetap bebas jika dipisahkan dari program distribusi yang menyertainya.
9. License Must Not Contaminate Other Software.
The license must not place restrictions on other software that is distributed along with the licensed software. For example, the license must not insist that all other programs distributed on the same medium must be open-source software.
Pada model Open Source suatu lisensi tidak bisa mensyaratkan agar diletakkan bersama-sama dengan program dengan lisensi tertentu. Harus dibedakan antara prinsip ``derivation'' dan ``aggregation''. Derivation terjadi ketika suatu program memasukkan program lain ke dalamnya program tersebut. Aggretation terjadi ketika suatu program menyertakan program lain dalam suatu media yang sama (misal pada CD ROM). Klausa ini membahasa permasalah aggregation bukan derivation, derivation dibahas pada klausa nomor empat.
10. Conforming Licenses and Certification.
Any software that uses licenses that are certified conformant to the Open Source Definition may use the Open Source trademark, as may software explicitly placed in the public domain. No other license or software is certified to use the Open Source trademark.
Klausa ini dijelaskan pada sub bab berikutnya.
5.3 Lisensi Open Source
Suatu kesalah-pahaman yang masih timbul pada masyarakat luas adalah pengertian bahwa free software adalah public domain (Perens, 1999). Suatu program public domain adalah program, yang penulisnya menyerahkan hak ciptanya (copyright) kepada publik. Dengan demikian siapapun dapat melakukan apapun terhadap program yang bersifat public domain. Bahkan dapat mengubah lisensi dari public domain menjadi komersial, mengubah nama penulis dan sebagainya. Perlu diketahui proram yang memiliki copyright adalah hak milik pemegang copyright. Suatu program memberikan beberapa hak kepada penggunanya bergantung lisensi yang diterapkan.
Beberapa contoh a lisensi yang memenuhi Open Source Definition adalah
· The GNU GPL, GNU General Public License. Bertujuan untuk membatasi kemungkinan developer dapat menjadikan software yang memiliki lisensi ini menjadi produk komersial yang tak memberikan kontribusi balik kepada ke komunitas. GPL ini menggunakan Copyright untuk menjamin agar program tetap ``free'' dibawah lisensi GPL. Setiap orang boleh mengcopy, mendistirbusi dan memodifikasikannya. Akan tetapi setiap distribusi dari softaware yang termodifikasi harus dengan GPL juga.
· The LGPL, Library GNU GPL
· The BSD license, Berkeley Software Distribution License. Lisensi relativ memiliki lebih sedikit kterbatasn pada apa yang boleh dilakuakn oleh developer. termasuk boleh membuat produk turunan yang bersifat proprietary.
· The X Consortium license, yang digunakan oleh distribusi X Window. Lisensi ini juga hampir membolehkan modifikasi apapun.
· The Artistic, yang digunakan oleh Perl. memodifikasi beberapa aspek yang bersifat kontroversial pada GPL. Lisensi ini melarang penjualan perangkat lunak, tetapi membolehkan penyertaan program lain yang dijual.
· The MPL and , Mozilla Public License, yang digunakan oleh Netscape ketika melepaskan source code browser Netscape. Juga membolehkan para developer untuk membuat karya derivatif yang bersifat proprietary.
· The QPL, Q Public license, yang digunakan Troll Tech ketika melepaskan library Q.
Lisensi Dapat dicampur dengan software non free Modifikasi dapat dilakukan secara privat dan hasilnya tidak dikembalikan ke publik Dapat dilakukan relisensi oleh siapapun Memberikan hak khusus kepada pemegang copy right awal atas modifikasi yang dilakukan
GPL Ya
LGPL Ya
BSD Ya Ya
NPL Ya Ya Ya
MPL Ya Ya
Public Domain Ya Ya Ya
Lisensi-lisensi tersebut memiliki perbedaan pada hak redistribusi, modifikasi dan beberapa hak minor lainnya. Bagi pihak yangtertarik ingin mengetahui apakah lisensi yang dibuatnya dapat memenuhi kriteria Open Source, cukup dilakukan dengan cara menulis email ke certification@opensource.org. Tetapi dengan cara melihat lisensi yang telah ada akan lebih mudah lagi, sebab proses review tidak perlu dilakukan.
5.4 Dampak pada hak cipta dan paten
Konsep dasar yang melatar-belakangi Hak atas kekayaan intelektual (HAKI), merk dan patent adalah untuk menyediakan suatu monopoli secara sah yang melindungi hasil usaha kreatif sebagai suatu bentuk insentif bagi orang untuk melaksanakan atau melanjutkan usaha kreatif tersebut. (Alsop, 1999). Konsep ini berdasarkan pandangan bahwa masyarakat tak termotivasi untuk menghasilkan sesuatu bila hasilnya dapat ditiru dengan bebas (pandangan ini memang timbul dari masyarakat ``West'').
Hukum ``copyright'' melindungi ekspresi fisis dari suatu ide, misal tulisan, musik, siaran, software, dan lain-lain. Hukum ``trademark'' melindungi nama dagang dan logo perusahaan. Hukum ``patent'' melindungi suatu pendemonstrasian suatu idea baru, sehingga nilai ``kebaruan'' tersebut dilindungi untuk tidak disalin secara tidak sah. Hukum ``copyright'' berevolusi di dunia ini sehingga hal apa yang dapt dilindungi. Hukum ``copyright'' ini memang tumbuh ketika proses penyalinan dapat dibatasi.
Pada saat ini, memang sulit untuk mencegah dilakukannya penyalinan tersebut. Sehingga usaha untuk menerapkan monopoli pada usaha kreatif menjadi tidak beralasan lagi. Pada era tahun 1980-1986 ketika perusahaan software sangat khawatir dengan masalah penyalinan ini, mereka memanfaatkan teknik proteski disk yang membuat orang sulit menyalin disk atau program. Tetapi hal ini menjadikan kustomer sulit dan program makin sulit digunakan. Setelah perusahaan perangkat lunak menyadari bahwa mereka tetap memperoleh keuntungan yang besar dari hal lain seperti, manual, service, dan pempelian perangkat lunak asli tetap tinggi, mereka meniadakan mekanisme proteksi penyalinan ini.
Secara umum memang tidak ada yang salah dengan konsep keterbukaan source code demi kepentingan publik pada Open Source ini. Sebab konsep hak cipta dan patent pun pada dasarnya diterapkan untuk melindungi kepentingan publik. Mengacu pada 1909 House of Representative yang menyertai Copyrigth Act (Cunard, 1995):
The enactment of copyrigth legislation by Congress under the terms of Consititution is note based upon any natural right that the author has in his writings, for the Supreme Court has held that such rigths as he has are purely statutory rights, but upon the ground that the welfare of the public will be served and progress of science and useful arts will be promoted.... Not primarily for the benefit of the author, but primarily for the benefit of the public, such rights are given. Not that any particular class of citizens, however, worthy, may benefit, but because the policy is believed to be for the benefit of the great body of people, in that it will stimulate writing and invention, to give some bonus to authors and inventors.
Hak intelektual, suatu sistem hukum yang memberikan dampak hasil penemuan dan kreatif dibatasi demi memberikan upah pada penciptanya, memberikan suatu pengaruh yang besar pada pasar, telah mengurangi pengadopsian suatu idea baru dan inovasi. Hukum paten memberikan keuntungan bagi para pencipta, akan tetapi sering dalam bentuk pembelian hak untuk menguasai siapa yang dapat menggunakan tekhnologi ini. Perusahaan besar cenderung lebih menerima manfaat daripada rakyat banyak. Perusahaan besar biasanya akan membatasi ini dan mengendorkannya pelan-pelan hingga investasi telah terbayar kembali.
Berdasarkan acuan di atas, maka proteksi terhadap penggunaan tanpa izin, reproduksi atau distribusi karya kreatif tidak akan bekerja untuk karya yang bersifat public domain. Begitu juga tak ada monopoli dapat diberikan berdasarkan prinsip kepentingan publik pada cuplikan di atas. Sebab pada hakekatnya peraturan hak cipta adalah bertujuan untuk kepentingan publik.
Karena Open Source ini tidak saja bisa diterapkan pada perangkat lunak (pada saat ini banyak buku atau terbitan yang sudah memberikan lisensi ala GPL), maka dunia penerbitan pun cepat atau lambat akan terkena imbasnya.
Dengan diinspirasikan oleh gerakan Open Source pada perangkat lunak, maka vendor perangkat keraspun sekaran mulai melakukan hal yang sama. Ini tampak dengan prakarsa Sun Microsystem untuk mengeluarkan secara terbuka spesifikasi prosesor terbarunya. Gerakan para vendor ini bernaung di bawah organisasi Open Hardware [www.openhardware.org]. Sama seperti pada Open Source, tujuan dari gerakan ini adalah kepentingan publik. Artinya publik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh apa yang terbaik dari yang mereka bayarkan. Di samping juga untuk mempercepat proses penemuan kesalahan dan pengembangan perangkat keras. Sebagai contoh akibat dari ketertutupan rancangan hardware ini adalah, error yang terjadi pada Pentium II. Bug pada Pentium II ditemukan oleh pengguna, bukan perancang sistem. Bukankah error-error semacam ini akan lebih mudah ditemukan apabila detail dari disain terbuka untuk diuji masyarakat luas ? Sebab yang akan menanggung akibat dari produk yang memiliki error adalah masyarakat.
Model Linux ini cenderung akan mengurangi keterlibatan hukum pada tingkat kepemilikan hak cipta. Terjadi pergeseran pada pandangan hukumnya. Dengan Linux ini kepemilikan perangkat lunak menjadi kurang penting, sedangkan layanan menjadi bagian yang lebih penting. Sehngga diprediksikan pengaruh popularitas Linux menjadikan mengurangi kebutuhan penasehat hukum bidang hak cipta, tetapi akan meningkatkan kebutuhan para penasehat hukum bidang kontrak. (Slind-Floor, 1999). Pergeseran dari penjualan produk menjadi pemberian layanan, juga menjadikan perubaan cara pandang terhadap perhitungan “damage” pada bisnis, yang biasanya terhitung dari “lost royalties” akan berubah menjadi “lost profit”, misal kehilangan kontrak service seperti dukungan teknis.
Salah satu contoh menarik dari perubahan pandangan hukum yang makin menjadi berpihak pada kepentingan publik, bukannya pada kepentingan pengembang teknologi adalah kemungkinan timbulnya “class action” dari para pengguna yang merasa dirugikan karena kebijaksanaan produsen. Sebagai contoh adalah kasus pengguna komputer yang menghendaki pengembalian uang pembelian (lebih dikenal dengan Windows Refund). Tampaknya posisi penasehat hukum pada kerangka bisnis Open Source ini akan menjadi lebih kepada public-interest lawyer.
Pandangan konvensional bahwa, orang wajar memperoleh uang dari kepemilikan hak cipta sebagai insentif untuk inovasinya menjadi tidak ada tempatnya dalam kerangka Open Source. Pada awal terbitnya virtual realitiy, e-commerce, dan infomrasi digital, bukankah sudah saatnya mempertanyakan kembali cara perlindungan atas usaha kreatif yang selama ini dilaksanakan melalui asumsi monopoli tersebut ?. Memang sebagian besar penasehat hukum (terutama di Indonesia) masih belum menanggapi dengan perubahan cara pandang ini.
Pergeseran pandangan terhadap nilai hukum dari suatu “source code” pun telah terjadi. Bahkan secara ekstreem beberapa orang telah mulai menghubungkan kebebasan terhadap source code ini setara dengan kebebasan berbicara. Dalam hal ini mereka menerapkan pendekatan semiotics pada source code tersebut. Memang perkembangan dari sisi hukum terhadap pola pandang yang cenderung filosofis ini akan masih sulit diterima oleh pihak praktisi hukum yang cenderung melakukan pandangan pragmatis. (Hannibal, 1999).
5.5 Pembajakan di Indonesia
Seperti telah ketahuai bahwa pembajakan (lebih tepatnya penyalinan tidak sah) begitu umum dilakukan di negara berkembang seperti halnya Indonesia. Dengan keberadaan produk Open Source yang sah untuk disalin maka menjadikan “saingan” bagi perangkat lunak bajakan ini. Di lain pihak ketersediaan program bajakan ini merupakan keuntungan sampingan bagi perusahaan seperti Microsoft, karena membantu mempopolerkan penggunaan Windows secara tidak langsung (IEEE Software, Januari 1999).
Software sendiri pada saat ini bisa dikatakan makin mahal, sebagai gambaan suatu sistem operasi Windows akan seharga US$55 untuk setiap mesin dan Windows NT akan seharga $500 untuk tiap mesin. Sehingga bila dibutuhkan instalasi pada 20 mesin harga tersebut sudah tidak bisa diabaikan lagi. Pola discount memang tersedia tetapi biasanya mengakibatkan monopoli lokal oleh vendor tersebut. Karena sebagian besar orang di negara berkembang tidak mampu membayar biaya sesungguhnya untuk perangkat lunak maka terjadilah praktek pembajakan ini.
Pembajakan adalah suatu langkah pilihan apabila ingin menggunakan perangkat lunak tersebut. Hal tersebut ditemui di sebagian besar negar
By Uli Ni'matul Khasanah on May 3, 2008
Pengembangan Teknologi Informasi
- Sentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika berbicara mengenai sentralisasi seringkali kita lebih memfokuskan diri pada aspek antara pusat dan daerah. Seringkali kita melupakan aspek sentralisasi dalam kajian global.
Diambil kutipan dari wawancara Alan Cox pada http://www.plcom.net/news/top_stories/linux/articles/990726.php3.
Q: One of the beautiful things about Linux is its international flavour. Linus Torvalds is from Finland, you’re from Britain. It’s not California -centric, as so much software is. How important is this to the Linux community, and Linux users?
A: It’s very, very important to a lot of countries, especially Third World countries, because American software is expensive. With Linux, developing nations can download the operating system, modify it to suit their needs, make copies, and no money flows out of the country.
- Barrier untuk mengembangkan teknologi informasi
Salah satu barrier atau hambatan yang cukup dirasakan bagi pengembangan teknologi informasi antara lain:
·a. Masih dikuasainya hak pengembangan dan modifikasi perangkat lunak oleh vendor besar. Sehingga para konsumen ataupun calon pengembang haruslah melewati jalur yang panjang dan membutuhkan biaya tinggi untuk menjadi solution provider di dunia Teknologi Informasi. Biaya ini sangat membebani untuk keperluan investasi awal, dan produksi selanjutnya.
·b. Biaya perangkat lunak yang digunakan untuk mengembangkan produk teknologi informasi masih sangat tinggi, misal harga sistem operasi, harga kompiler, harga development tool. Di tambah biaya komponen perangkat lunak yang mau tidak mau dimasukkan ke dalam produk jadi. Sebagai contoh misal membangun suatu sistem Point of Sale (POS) yang berbasiskan sistem operasi komersial, mau tidak mau komponen harga sistem operasi tersebut akan dimasukkan ke dalam harga akhir dari perangkat POS yang dikembangkan tersebut.
·c. Biaya memperoleh informasi pendukung yang tersedia yang sangat dibutuhkan oleh developer. Hal ini lazim dikenal sebagai Developer Network Subscription Fee. Sehingga apabila kita ingin menjadi pengembang teknologi informasi, agar dapat dilakukan akses kepada informasi-informasi penting biaya ini haruslah diperhitungkan.
·d. Biaya pelatihan yang sangat tinggi agar memenuhi suatu syarat sertifikasi dari vendor sehingga dapat dipercaya untuk menjadi solution provider ataupun trainning provider.
Biaya-biaya tersebut jelas menghambat keinginan pengguna yang antusias terjun mejadi pengembang teknologi informasi yang handal dan dikenal dunia. Di samping itu juga penguasaan secara sentral hak akses kepada pasar, serta pengakuan kerja menjadikan para pengembang TI di Indonesia kurang terdengar kiprahnya di dunia internasional, karena harus melalui tahapan-tahapan memutar yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebelum akhirnya dapat menghasilkan suatu produk teknologi informasi.
Di samping barier finansial terdapat juga barier hukum yang mau tidak mau harus dipertimbangkan dalam mengembangkan teknologi informasi lokal. Sebagai contoh dikutipkan definisi PEMBAJAKAN menurut salah satu perusahaan perangkat lunak besar, Microsoft di Indonesia [ http://www.microsoft.com/indonesia/piracy/:
Anti-Piracy (Bahasa Indonesia)
Berbagai bentuk Pembajakan Piranti lunak:
1.Pemuatan Hard Disk (Hard Disk loading)
Terjadi saat penjual komputer memuat salinan program piranti lunak yang tidak sah ke hard disk komputer yang akan dibeli oleh konsumen, sebagai rangsangan bagi konsumen untuk membeli perangkat PC dari penjual tersebut. Penjual ini tidak menyediakan disket/CD-ROM asli, dokumentasi atau persetujuan lisensi, yang seharusnya diberikan bersama-sama dengan copy program yang legal. Dengan demikian konsumen tanpa mereka sadari menerima piranti lunak ilegal yang telah diinstal di Hard Disk.
2.Softlifting
Tejadi jika copy ekstra piranti lunak dibuat di dalam suatu lembaga untuk dipakai oleh karyawannya atau untuk dibawa pulang. Menukarkan disket/CD dengan rekan rekan di dalam maupun di luar perusahaan juga termasuk dalam kategori pembajakan ini.
3.Pemalsuan piranti lunak (Software counterfeiting)
Penggandaan ilegal seluruh paket p iranti lunak dan dijual dalam kemasan yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak asli. Bentuk lainn pembajakan ini adalah kompilasi berbagai judul piranti lunak tiruan yang dikemas dalam satu CD-ROM secara ilegal dan dipasarkan dengan nama yang berbeda. Berbeda dengan pelanggaran yang terjadi dalam perusahaan, pemalsu piranti lunak beroperasi murni untuk keuntungan, tanpa mengindahkan pemilik hak cipta produk yang dipalsukan.
4.Penyewaan piranti lunak
Dikenal tiga bentuk pembajakan melalui penyewaan piranti lunak : produk yang disewa untuk digunakan pada komputer di rumah atau di kantor penyewa; produk yang disewakan melalui mail order dan produk yang dimuat dalam komputer yang disewa untuk waktu terbatas.
5.Downloading ilegal melalui BBS/Internet
Terjadi melalui downloading piranti lunak sah melalui hubungan modem ke buletin elektronik adalah bentuk lain pembajakan. Pembajakan ini tidak sama dan jangan disalah artikan dengan penggunaan piranti lunak yang diberikan di public domain, ataupun fasilitas shareware yang digunakan bersama.
Dari batasan piracy di atas tampak bahwa pengguna yang ingin memanfaatkan program informasi untuk mengembangkan pemanfaatan teknoloogi informasi akan mengalami hambatan yang cukup besar. Hambatan tersebut dikarenakan dikuasainya hak pengembangan secara sentral oleh suatu institusi. Sehingga sulit sekali pelaku bisnis TI lokal untuk mengembangkan secara optimal kemampuannya tanpa melakukan pelanggaran hukum. Sebagai contoh :
· Dari point 1, jelas para penjual komputer yang ingin menjual komputer yang telah disertai dengan perangkat lunak (Pre-installed) akan mengalami hambatan yang cukup berarti. Apabila para penjual tersebut ingin menyertakan software asli yang terinstall pada sistem komputer tersebut, maka mau tidak mau dia harus membeli lisensi yang cukup berharga mahal (minimal 100 USD). Hal ini belum termasuk perangkat lunak aplikasi lainnya. Sehingga paling tidak untuk menyediakan jasa penjualan pre-installed haruslah disisihkan dana yang cukup tinggi yang akhirnya dibebankan ke para pembeli. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah dengan cara melakukan instalasi program ``as-pal'' (asli tapi palsu), jadi satu salinan program asli diinstal di banyak komputer yang dijual. Secara hukum dan etika hal ini tak dapat dibenarkan.
· Pemakaian bersama (biaya tinggi). Bagi suatu insitusi seperti sekolah, ataupun lembaga pemerintahan pembelian perangkat lunak untuk tiap komputer di institusi tersebut akan menyebabkan ongkos yang cukup tinggi untuk pembelian perangkat lunak. Hal ini menyebabkan banyak institusi mengambil jalan pintas dengan melakukan ``pelanggaran'' yaitu dengan membeli versi asli satu buah dan menggunakan banyak salinannya di komputer laionnya. Jelas secara etika hal ini tak dapat dibenarkan (Wiryana, 1998).
· Praktek penggandaan program secara ilegal banyak sekali dijumpai di Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pada peringkat atas pembajak. Hal ini menimbulkan image yang kurang baik bagi dunia Teknologi Informasi.
· Pada point berikutnya, hal ini sering dilakukan secara tidak sadar. Sebagai contoh pada Warung Internet, ataupun penyedia jasa layanan penyewaan perangkat komputer yang sering dijumpai di sekitar kampus. Secara tidak sadar, walaupun program yang digunakan adalah asli tetap merupakan pembajakan, karena termasuk ``menyewakan'' perangkat lunak.
Dari contoh di atas, jelas adanya keterbatasan pemanfaatan dari perangkat lunak baik digunakan untuk keperluan sehari-hari ataupun untuk digunakan sebagai alat produksi. Sekarang bagaimana cara mengatasi hal tersebut agar kita dapat menghilangkan timbulnya praktek pelanggaran hukum ini. Pilihan yang ada adalah :
· Membeli perangkat lunak asli dan menggunakannya sesuai dengan batas yang ada dan tertera pada lisensi perangkat lunak tersebut. Hal ini jelas berdampak pada biaya yang tidak sedikit dan hal ini nampaknya sangatlah kurang bijaksana pada situasi ekonomi saat ini.
· Memanfaatkan program Open Source yang memberikan keleluasan tanpa harus melanggar hukum. Hal ini dimungkinkan karena program Open Soure memungkinkan pengguna memperbanyak ataupun mengubah program sesuai dengan yang diinginkannya.
Di samping faktor ekonomi dan hukum ternyata Open Source menimbulkan beberapa faktor-faktor non teknis yang disebabkan gaya pengembanganyannya.
- Era keterbukaan telah tiba : Open Source
Salah satu contoh keberhasilan dan yang menjadikan Open Source menjadi perhatian dunia pada saat ini, adalah fenomena GNU/Linux, suatu sistem operasi yang dapat dikatakan berkembang dengan pola Open Source. Internet pun dapat dikatakan berkembang dalam kerangka kerja ala Open Source pula. Program-program yang menjalankan Internet, aturan-aturan yang dikembangkan via Internet Engineer Task Force juga menerapkan ini.
Perkembangan Linux sendiri berciri ``self organizing'', hal ini memberikan ilusi bagaikan suatu perusahaan besar tanpa dinding, tanpa pemegang saham, tanpa gaji, tanpa iklan dan tanpa pemasukan. Tetapi keberadaanya tak dapat diabaikan pada saat ini, bila Linux dihilangkan dari muka dunia, maka Internet dapat dipastikan tidak akan bekerja. Kemampuan evolusi dan adaptibilitas dan bantuan yang tersedia untuk pengguna memberikan suatu jaminan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan khusus pengguna.
Banyak pihak yang mengkhawatirkan, bahwa GNU/Linux ini tak berbeda dengan trend komputer lainnya, dengan kata lain mereka berpendapat bahwa hal itu adalah sekedar pergantian trend saja, saat ini yang populer Microsoft, dan mendatang Linux dan begitu seterusnya. Sehingga tidak ada hal perbedaan essential yang dibawa oleh Open Source. Bahkan masih banyak pihak yang berpendapat atau memperoleh kesan bahwa GNU/Linux ini adalah suatu produk Amerika dari suatu perusahaan seperti Linux Inc. Masih sedikit pihak di Indonesia yang menyadari bahwa adanya perbedaan yang sangat krusial, bahwa GNU/Linux memakai prinsip "Open Source" yang memiliki implikasi yang sangat berbeda dalam tatanan hak cipta, dan dorongan sosial.
Sebagai akibat dari fenomena bahwa setiap tool yang digunakan akan merubah tata cara pandang si pengguna tersebut terhadap suatu permasalahan., ternyata Open Source menimbulkan beberapa dampak pendorong yang dapat membawa ke perubahan cara pandang pada masyarakat luas. Dengan adanya perbedaan motivasi dan perubahan attide pada pelaku Open Source maka adanya suatu kemungkinan untuk digunakan sebagai "pendorong" terciptanya pemikiran yang lebih baik pada masyarakat luas. Open Source membawa "attitude" seperti "peer review, pengakuan karya cipta, maka akan mendorong si pengguna memiliki attitude yang baik.
Sebetulnya pola Open Source ini bukanlah hal yang baru, Pada tahun 1960-an semua perangkat lunak dapat dikatakan ``open-source''. Komputer yang dijual (pada saat itu sebagian besar adalah IBM) selalu disertai dengan source code. Pada era tersebut perkembangan komputer dan sains oleh para saintist melalui penggunaan bersama source code secara bebas. Pada tahun 1970-an ketika para individu dan perusahaann mulai menggunakan program untuk beragam kebutuhan, software berubah menjadi bersifat proprietary. Pada saat itu mulai disadari keuntungan bisnis yang diakibatkan oleh monopoli source code yang dilakukan dengan cara membatasi orang untuk memiliki source code dengan kata lain penguasaan source code menjadi memiliki nilai ekonomi. Walau pada tahun 1983 Richard Stallman berusaha mempopulerkan lagi kebersamaan antar pengembang perangkat lunak dengan Free Software Fundationnya (FSF) tetapi usaha ini belum begitu berhasil. Walau begitu hingga saat ini FSF tetap memainkan peranan penting pada perkembangan Open Source. Barulah dengan perkembangan Linux pola Open Source ini mulai diperhitungkan orang kembali, hingga Netscape pun melepas source code dari browsernya.
Perkembangan Unix sendiripun memanfaatkan proses peer review ini. (Darwin dan Collyer, 1984). Sebuah buku yang dikeluarkan oleh Lion pada tahun 1976 yang berisi source code Unix dan komentarnya menjadikan sumber acuan informasi bagi para pengembang komputer pada saat itu. Dokumentasi Unix sendiri merupakan sumber informasi yang baik, tertulis dalam bentuk yang konsisten, akurat dan langsung ke pokok permasalahan. Rata-rata para saat itu para programmer menulis program dan juga menulis dokumentasi. Dan secara biasa pengakuan sumbangan kerja selalu dilakukan kepada mereka yang telah memberikan idea, saran dan dukungan pada suatu proyek.
Dengan mekanisme yang serba terbuka ini, para developer didorong untuk menjadi terbuka dengan keterbatasan mereka (misal tertulis pada bagian BUGS pada manual). Penulisan bagian BUGS ini menunjukkan agar pengguna mengetahui keterbatasan program mereka, bukannya membiarkan pengguna menemukannya. Tidak seperti pada closed source model mereka cenderung tidak menyertakan daftar bugs yang ada.
Keinginan mereka berbagi source code tersebut adalah untuk menyesuaikan program tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan Usenet pun dibuat dengan tujuan untuk mempermudah mereka saling mendistribusikan source code, informasi yang terkait dan juga melakukan diskusi. Dapat dikatakan Internet pun dibangun oleh suatu komunitas yang terdiri dari developer bebas yang membangun perangkat bantu mereka agar dapat bekerja sama lebih baik dan lebih efektif.
Keterbukaan Unix dihentikan oleh AT&T yang menerapkan kebijakan lisensi. Terbukti kebijakan ini membawa perkembangan dunia komputer menjadi terhambat dan terjadi ``reinvented the wheel''. Walaupun telah ada proposal untuk menjadikan Unix sebagai ``sourceware'' yaitu tersedia source code untuk masyarakat luas yang diajukan oleh McCoy pada tahun 1984 (McCoy, 1984). Tetapi hal itu tidak membawa perubahan lisensi. Keterbukaan ini menjadi terulang kembali dengan lahirnya Linux dan FreeBSD.
Internet Engineering Task Force (IETF) mendefiniskan suatu standard terbuka yang memungkinkan terciptanya dan beroperasinya internet. Sebagian besar pekerjaan dilakukan melalui mailing list. Setiap orang dapat bergabung dalam mailing list tersebut dan memberikan kontribusi. Tak ada yang memimpin untuk memberikan keputusan, bahkan voting relatif jarang dilakukan, yang ada hanyalah konsensus dan sistem yang dapat beroperasi dengan baik. Banyak sistem yang dibangun berdasarkan Open Source ini dan sekarang dapat dikatakan sebagai tulang punggung Internet.
GNU/Linux sendiri kini telah menjadi kesayangan para programmer berbakat di berbagai belahan dunia (Sanders, 1998). Konsep kerja sama pada Open Source makin menarik minat para programmer sedunia. Ditambah dengan makin menggejalanya konsep masyarakat virtual. Perkembangan masyarakat virtual pun tak terlepas dari semangat seperti kolaborasi secara sukarela seperti dalam Open Source ini, seperti yang ditunjukkan pada inisiatif Global Electronic Vilage, the Whole Electronic Link. (Rushkoff, 1994). Internet dan World Wide Web (WWW) juga berkembang dengan pesat sebagai suatu perkembangan dari jaringan untuk riset yang terbuka. Sukses keduanya tidak terlepas dari ``kerelaan'' orang yang membuatnya, dan semangat untuk saling berbagi. Teknologi ini tersedia secara bebas, dan kini mulai diambil alih sebagian oleh perusahaan besar (Lang, 1998). Jadi dari sudut pandang pengembangan sistem (system development) sejarah telah menunjukka bahwa Open Source ini sudah cukup teruji keefektifan dan keefisienannya sebagai suatu metode pengembangan sistem.
Kesuksesan pengembangan Internet menunjukkan bahwa pola Open Source yang membuat suatu bentukan ``gift economy'' telah mendorong inovasi secara cepat (Newman, 1999). Standardisasi yang dianut oleh Internet memungkinan beragam komputer melakukan penggunaan sumber daya secara bersama.
4 Pengembangan sistem yang berprinsip pada desentralisasi
Pada dasarnya Open Source adalah pengembangan sistem yang tak dikoordinasi oleh suatu entitas pusat, tetapi oleh para pelaku yang saling bekerja sama dengan memanfaatkan source code yang terdistribusi dan tersedia secara bebas dan menggunakan fasilitas komunikasi melalui Internet (O'Reilly, 1998). Pola pengembangan Open Source ini berdasarkan konsep pengembangan sistem yang mengambil model pengembangan ala "Bazaar". Sehingga pengembangan suatu software bebas bagi siapa saja yang ingin melakukannya. Di samping itu pola Open Source ini memiliki suatu ciri lain yaitu adanya dorongan yang bersumber dari "gift culture". Artinya ketika suatu komunitas menggunakan memakai suatu program Open Source komunitas telah menerima "sesuatu manfaat'' kemudian akan memotivasi dan menimbulkan pertanyaan "apa yang bisa si pengguna berikan kembali kepada orang banyak".
Pola Open Source ini telah digunakan secara optimal di berbagai proyek penelitian sebelum era komputer digunakan secara luas ataupun sebelum adanya Internet. dan telah menghasilkan beberapa prototipe yang dibuat oleh Engelbart dan sekarang relatif menjadi dasar berbagai produk komersial (Newman, 1999), seperti email, word procssing, mouse, environment Windows, hypertext browser yang telah dikembangkan sejak lama sebelum adanya produk komersial sejenis.
*Permasalahan pada pola pengembangan sistem saat ini
Salah satu permasalahan pada hasil produk perangkat lunak adalah kehandalan (reliabilitas). Bila pada tahun belakangan ini dunia Teknologi Informasi (TI) mendapat pandangan sinis karena kesalahan program yang berkaitan dengan Y2K, maka menjadi pertanyaan bagi orang awam, apakah ada sesuatu yang kurang tepat padametoda pengembangan perangkat lunak yang lazim digunakan. Mungkin dibutuhkan suatu metoda yang meninggalkan pola pengembangan sistem yang terlalu berbentuk hiererarki ini, atau pengembangan sistem hanya dilakukan oleh suatu team yang khusus untuk suatu projet, dan serba tertutup.
Model pengembangan perangkat lunak secara traditional menyarankan bahwa untuk membangun sistem yang handal, maka harus digunakan para developer yang terkontrol secara ketat, terkelola secara detail, dan proses yang dikontrol secara ketat. Hal yang berlawanan terjadi di dunia Open Source. Open Source lebih menitik beratkan pada kemampuan intelektual para programmer tenimbang proses mekanis pengembangan suatu perangkat lunak.
Salah satu cara untuk memperoleh kehandalan yang tinggi pada suatu produk adalah melakukan peer review yang independent dan banyak sekali. Sehingga produk telah diuji secara sangat intensif. Sebagai contoh suatu tulisan ilmiah pada jurnal ilmiah biasanya telah melewati proses peer review yang intensif sebelum dapat diterbitkan. Begitu juga dengan perekayasaan bidang lainnya. Internet menjadikan kemungkinan melakukan proses peer review secara masal. Misal setelah suatu project Open Source diluncurkan di Web, para pengguna dapat mendownload, mencoba dan melaporkan kesalahan, atau bahkan memberi masukan berupa program tambahan
Evolusi Linux memberikan inspirasi akan kemungkinan penerapan pola Open Source tersebut. Keterbukaan source code perangkat lunak adalah hal yang biasa bagi pengguna seperti NASA yang terkenal dengan ungkapan :
``If it is not source, it is not software''.
Hal ini disebabkan kebutuhan pengujian dan kustomisasi dari pihak NASA. Biasanya makin kritis suatu perangkat lunak, maka kustomer makin menginginkan tersedianya source code. Salah satu keuntungan nyata dari pola Open Source adalah mencegah duplikasi pekerjaan yang pernah dilakukan oleh orang lain. Sebagian besar pengembangan perangkat lunak adalah menggunakan perulangan dari solusi yang telah dilakukan orang lain pada hal tertentu. Hal lainnya dengan keterbukaan ini adalah permasalahan yang tertimbun pada source code dapat terbuka dan dievaluasi secara luas. Permasalahan seperti Y2K akan lebih kecil apabila program bersifat terbuka. (Stoltz, 1999).
*Model Bazaar
Pola pengembangan secara Open Source yang ditampakkan pada free software movement yang pada dasarnya adalah suatu kegiatakan yang bersifat kolektif (Perkins, 1999). Para pengembang Open Source bekerja mengembangkan source code mereka dan membuka kepada pengembang lain agar dapat bekerja sama. Mereka menginginkan ``kebebasan berkarya'' tanpa intervensi berfikir, dan mengungkapkan apa yang mereka ingini, menggunakan pengetahuan dan produk yang menurut mereka cocok. Kebebasan adalah pertimbangan utama ketika mereka membolehkan orang melihat source code mereka. Mereka mendapatkan ``kebebasan'' untuk belajar, mengutak-atik, mendisain ulang, membenarkan atau menyalahkan, mengaudit, menambahkan dan menggunakan code tersebut sesuai dengan yang mereka inginkan. Tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan ``tanggung jawab'', bukan bebas tanpa tanggung jawab. Artinya mereka berbuat dengan bebas tetapi dengan menanggung resiko sendiri. Tanpa bisa menyalahkan orang lain, karena mereka memilih proyek mereka sendiri dan memilih team mereka sendiri.
Pola pengembangan Open Source sendiri membalikkan teori-teori pengembanan sistem yang biasanya meliputi analisis kebtuhan, process maturity, software configuration control. Bahkan menunjukkan adanya suatu pola pengembangan yang bisa menghasilkan produk yang handal tetapi tanpa adanya sistem configuration and management control seperti halnya pada sistem pengembangan perangkat lunak biasa (Bollinger adn Beckman, 1999).
Bisa dikatakan prinsip dasar dari pengembangan ala Open Source ini adalah :
``rapid code evolution and massive independent peer review''.
Pada Open Source pengunaan ulang code (code reuse) yang sangat diingini oleh sistem pengembangan software konvensional selalu dimanfaatkan melalui ketersediaannya source code. Pada paper The Cathedral and Bazaar, prinsip pengembangan perangkat lunak secara Open Source adalah sebagai berikut (Raymond, 1998) :
· Proses dimulai dengan suatu prototipe yang telah agak berbentuk. Penayangan prototipe ini untuk menunjukkan bahwa memang proyek memiliki hasil yang menjanjikan. Janji hasil akhri ini berbentuk produk yang bermanfaat bukan dalam arti profit secara langsung. Memang program tidak harus bekerja sepenuhnya, mungkin masih penuh bug, belum lengkap, belum ada dokumentasi, tetapi cukup meyakinkan bagi para co-developer untuk turut serta mentransformasikan hingga ke hasil yang makin berbentuk.
· Produk diluncurkan sesegera dan sesering mungkin. Berbeda dengan konsep pengembangan perangkat lunak konvensional, pada open source pengguna mendapat posisi sebagai co-developer bukan saja sebagai end-user belaka. Komunitas merupakan kunci utama dari pengembangan sistem, sehingga respon terhadap pertanyaan atau saran dari pengguna menjadi sangat berperan. Peran komunikasi antar developer utama dan pengguna menjadi penting sekali. Sementara itu dengan cara meluncurkan produk sesering mungkin menjadikan para developer tetap terstimulasi dengan tantangan baru, dan tertarik untuk memberikan kontribusi. Dengan prinsip inilah dikenal Linus's Law :
``Given enough eyeballs, all bugs are shallow''.
· Delegasikan apapun yang mungkin. Bukannya berfungsi sebagai manajer proyek seperti dalam pola pengembangan konvensional, pemimpin pada suatu proyek Open Source cenderung berperan sebagai ``penjaga gerbang'' dengan kata lain sebagai koordinator dari semua orang yang telah memberikan kontribusi. Koordinator bekerja dengan cara lebih banyak mendelegasikan wewenang kepada para co-devoper, yang mengakibatkan kontribusi akan lebih bervariasi. Koordinator tidaklah harus seorang disainer program yang brilian, tetapi harus dapat mengenali idea disain yang baik dari orang lain (menerima dan memahami pendapat kontributor lain). Sudah barang tentu dia juga harus memiliki kemampuan menarik dan menjaga para kontributor yang berbakat tersebut.
· Keterbukaan. Hal ini merupakan bagian yang sangat asing bagi para developer yang terbiasa dengan metoda konvensional. Hal utama dari Open Source, adalah menarik orang sebanyak mungkin sehingga bisa memberikan fokus kerja ke banyak hal. Hal yang disembunyikan akan mempengaruhi kepada produk akhir secara keseluruhan.
*Keterlibatan pada pola Open Source
Untuk mengembangkan sistem dengan pola Open Source dibutuhkan keterlibatan fungsi personal yang berbeda yaitu (Behlenhof, 1999)
· Pendukung infrastruktur : yaitu personal yang berperan dalam menginstall, mengelola mailing list, web server, Concurrent Versioning System (CVS) dan database untuk bug, dengan kata lain menyediakan infrastruktur untuk terjadinya komunikasi antar pengembang.
· Code Captain personal yang mengawasi hal keseluruhan dan bertanggung jawab akan kualitas dari code yang dihasilkan. Melakukan integrasi dari patch yang disumbangkan pihak lain, memperbaiki bug dan ketidak-kompatibilitasan antar penyumbang program.
· Pengelola database bug penting bagi masyarakat banyak untuk mengetahui mengenai bug ini. Juga untuk melaporkan adanya bug yang ditemukan sehingga developer dapat segera memperbaikinya. Pengelola bug ini biasanya secara sukarela menjadi penjawab pertanyaan mengenai bug tersebut.
· Pengelola dokumentasi dan isi web site. Karena proses pengembangan sangat menggunakan Internet maka Web site selalu digunakan untuk menginformasikan seluruh kegiatan, untuk itu dibutuhkan seseorang yang secara ruting mengelola situs tempat informasi tersebut berada. Termasuk untuk memberikan informasi tentang sumber informasi yang dibutuhkan bagi siapapun yang tertarik untuk membantu proyek tersebut, dan juga berisi informasi tentang hal-hal umum termasuk bug yang sering ditemukan dan telah dilaporkan. Keberadaan situs ini akan mendorong mereka yang tadinya pengguna akan menjadi pengembang. Dokumentasi utama tentang sistem yang dikembangkan biasanya dijabarkan di situs ini.
· Pengatur strategi dan lainnya, pihak ini adalah orang yang membantu membangun momentum agar proyek dapat berjalan, dengan cara mencari pengembang lain, mendorong calon komsumen yang potentsal, termasuk mendekati perusahaan untuk menjelaskan tentang proyek ini. Personal ini memiliki karakteristik berbeda dengan personal pada pemasaran, karena orang yang bertugas ini harus memahami hal teknis dari sistem secara dekat.
Sebagian besar para pengembang freeware meminta diperlakukan secara fair dan menerima ``kebebasan'' berkreasi (Hecker, 1999). Proyek pada dunia Open Source biasa dilakukan secara kooperatif untuk mendorong inovasi dan tetap mengakui perbedaan dan tetap menghindarkan kebingungan (Leibovitch, 1999).
*Motivasi dan proses umpan balik
Para developer yang bergerak dengan paradigma Open Source relatif memiliki dorongan yang lain, mereka sebagian besar tidak berfokus pada mengasilkan uang secara langsung dari produk mereka. Tetapi mereka bertujuan memuaskan rasa artistik mereka dan memecahkan masalah mereka. Kecintaan akan pekerjaan menjadi lebih utama dibandingkan hasil finansial secara langsung yang mereka peroleh. Karena sifat keterbukaannya melalui media Internet, secara alami proyek Open Source menjadi lebih memiliki karakter mendunia dan bersifat kolaboratif.
Pada tinjuan filosofis, pola pengembangan Open Source mengakibatkan terbentuknya ``medan morpogenesis'' dari para pelakunya atau kebersamaan untuk mencapai tujuan. Hal ini disebabkan suatu dorongan yang sama dan mengakibatkan fenomena phase locked loop, yang membuat para pelakunya melakukan pergeseran dimensi. Walau para pelakunya berbeda tempat secara fisik tetapi mereka mengalami pergeseran dimensi ini karena melakukan suatu ``proses umpan balik'' yang terus menerus. Hal ini bisa lazim terlihat pada fenomena fraktal. (Rushkoff, 1994). Jadi jelas pada Open Source ini ada suatu ``kesamaan dorongan'' dari para pelakunya.
Kerja sama dilakukan atas hubungan ``win-win''. Pada tingkat individu ketimbang imbalan nilai ekonomis, maka pengakuan secara psikologi seperti reputasi di kalangan, kepuasaan menyelesaikan permasalahan, kebanggaan menjadi nilai-nilai yang ingin dicapai. Berbeda dengan dunia closed source, nilai ekonomis lebih ingin dicapai oleh para pengembang dengan cara melakukan penguasaan terhadap hasil kerja. Hal ini disebabkan pada Open Source yang berlandaskan budaya hacker (hacker bukan dalam arti cracker) mengakibatkan terjadinya ``gift economy'' dan bukannya ``exchange economy''.
Pada dunia Open Source ini nilai-nilai penghargaan terhadap individual akan berdasarkan pertimbangan : , pengetahuan, ketrampilan teknis, produktifitas, dedikasi mengerjakan proyek, analisis penilaian secara tajam dan berelasan, serta kreatifitas (Perkins, 1999).
Peer review atau penilaian terhadap rekan sejawat (atau sesama developer) terhadap hasil kerja memiliki fungsi yang penting dalam pelaksanaan proyek open source. Penilaian hasil karya bukan terhadap yang mereka ``ucapkan/janjikan'' tetapi terhadap apa yang mereka ``hasilkan''. Para developer akan bergabung dalam komunitas ini berharap agar mengalami peningkatan kemampuan setelah bergaul dengan pihak yang memiliki kemampuan lebih tingi. Proses peer review inilah yang merupakan umpan balik yang dilakukan secara terus menerus.
Dengan membuka source code yang merupakan hasil kerja, maka si penulis harus bersiap menerima kritikan atau perbaikan dari pihak lain. Proses kritik dan perbaikan ini berlangsung secara alami di alam Open Source. Dunia open source ini sepertinya terbentuk dari orang-orang yang individualitis tetapi mereka dapat bekerja secara kolektif. Tak ada figur utama yang memegang otoritas untuk menentukan segalanya secara diktator. Jadi bisa dikatakan bentukan kelompok terjadi secara self-organization, kooperasi terjadi secara otomatis untuk mengatasi ``tantangan'' yang ada. Dengan bentuknya yang desentralisasi disertai keterbukaan, maka mereka dapat menghasilkan suatu produk yang berkualitas tinggi, handal dan berguna. Kesalahan dapat dicegah terjadi sejak awal karena terlihat oleh pihak lain.
4.5 Kaitan dengan metoda ilmiah
Sains, bisa dikatakan juga merupakan komunitas Open Source yang sangat besar. Metoda ilmiah biasanya berlandaskan suatu proses penemuan, dan proses justifikasi hasil penemuan. Bagi kalangan ilmiah, agar suatu hasil dapat dijustifikasi, maka hasil tersebut haruslah dapat direplikasi. Proses replikasi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa adanya penggunaan bersama sumber informasi, yang biasanya terdiri dari: hipotesis, syarat pengujian, dan hasil pengujian. Memang proses penemuan dapat dilakukan secara terisolir, akan tetapi proses penemuan tersebut harus memungkinkan penggunaan bersama informasi, sehingga memungkinkan ilmuwan lain untuk bergerak ke arah pengembangan yang tidak sama.
Bila para ilmuwan memandang kemungkinan replikasi untuk percobaannya, maka para programmer membandingkan dengan proses debugging (penemuan kesalahan). Bila para ilmuwan mencoba melakukan penemuan, maka analogi dengan para programmer yang mencoba mengkreasikan suatu program dengan melewati tahapan-tapahan pengembangan sistem yang biasanya melewati tahapan : Requirement Analysis, System Level Design, Detailed design, Implementation, Integration, Field testing, dan Support.
Pada ilmu komputer, yang sangat berbeda dengan keilmuan lainnya, proses replikasi hanya dapat dilakukan oleh para ilmuwan apabila dilakukan proses penggunaan bersama source code. Untuk mendemonstrasikan validitas suatu program kepada orang lain, maka harus ditunjukkan proses kompilasi, dan juga eksekusi program tersebut. Jadi apa yang dipraketkan para pengembang di Open Source tidak lain adalah adopsi dari metoda ilmiah. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar mereka yang terlibat dalam pola Open Source ini berlatar belakang ilmuwan, mahasiswa dan akademisi, walau banyak juga yang berlatar belakang lain. Pengembangan perangkat lunak di awal sejarah komputer memang melibatkan proses kolaboratif antara akademisi dan mahasiswa. Software dipandang sebagai milik publik yang bisa digunakan bersama. Keterbukaan ini memungkinkan suatu kesalahan diperbaiki secara cepat. Komersialisasi komputer di era 1970-1980 merubah pola ini.
Pada dasarnya ada beberapa proses review yang lazim dilakukan terhadap suatu sistem adalah Peer review, Mentor/management review dan Cross disciplinary review. Replikasi untuk melakukan proses review telah dibuktikan oleh para ilmuwan sangat berguna, dan memberikah hasil yang tidak perlu diragukan lagi. Dengan memberikan keterbukaan terhadap hipotesis dan hasil pengujian pada komunitas setingkat, para imuwan dapat melihat apakah terjadi kekurang tepat pengamatan oleh ilmuwan lainnya.
Keterbukaan ini juga mendorong inovasi, karena mencegah terjadinya duplikasi usaha yang sama. Karena mereka akan tahu apakah ada pihak lain yang telah melakukan hal yang sama. Dengan cara ini suatu inovasi akan memberikan inspirasi pada inovasi yang lain. Bukan terjadi reinvention, yang banyak terjadi di dunia Closed Source.
Pengembagan perangkat lunak memiliki kemiripan pola dengan perkembangan teori matematik (Lang, 1998). Sains dan matematika khususnya biasanya sangat tidak cocok dengan hal yang ``rahasia'' dan adanya keterbatasan yang biasanya banyak dijumpai di pengembangan perangkat lunak komersial. Spesifikasi yang baik dan produk yang handal hanya dapat disusun melalui proses perlahan dan melalui proses sosial yang terbuka yang melibatkan ealuasi, pembandingan, dan kerja sama. Sehingga tidak mengherankan bila Linux walau jauh lebih muda dari Windows NT dalam pengembangannya telah mencapai tingkat kualitas yang lebih baik. Sehingga menimbulkan pertanyaan pada pola pengembangan klasik dari perangkat lunak.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5.2 Definisi Open Source
Tujuan dari definisi Open Source adalah untuk melindungi proses Open Source dan menjamin bahwa perangkat lunak yang didistribusikan dengan menggunakan lisensi open source akan tersedia untuk peer review secara bebas, dan secara kontinyu mengalami perbaikan secara evolusi, seleksi dan mencapai suatu tingkat kehandalan serta menjaga kemungkinan menjadi produk yang closed source. Lisensi ini harus menjamin mencegah orang mengunci software sehingga hanya orang tertentu yang dapat membaca source code dan memodifikasinya. Definisi ini bukan perangkat untuk mengumpulkan biaya lisensi. Penggunaan merk ini bebas dan tetap bebas bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Definisi Open Source sendiri bukanlah lisensi, dan tidak dimaksud sebagai dokumen bernilai hukum (legal document). Untuk menjadi Open Source semua syarat dalam definisi Open Source harus dipenuhi bersama pada semua kaseadaan.
Open Source sendiri menjamin hak untuk (Perens, 1999):
· Untuk membuat salinan program, dan mendistribusikan program tersebut
· Untuk mengakses source code, sebelum melakukan perubahan
· Melakukan perbaikan pada program
Definisi di bawah ini mengacu pada The Open Source Definition Version 1.3. yang awalnya ditulis oleh Bruce Perens dan dikenal sebagai `The Debian Free Software Guidelines', setelah diperbaiki dan batasan yang spesifik terhadap Debian dihilangkan maka diperkenalkan sebagai Open Source Definition. Berikut ini disertakan tulisan asli definisi Open Source dan penjelasan singkat.
1. Free Redistribution
The license may not restrict any party from selling or giving away the software as a component of an aggregate software distribution containing programs from several different sources. The license may not require a royalty or other fee for such sale.
Ini berarti orang boleh membuat salinan tak terbatas, menjual atau memberikan bebas, dan pengguna tak perlu membayar untuk melakukan hal tersebut. Dengan membatasi lisensi ini sehingga membutuhkan kebebasan mendistribusikan ulang, maka dicegah kemungkinan orang untuk mengambil keuntungan singkat dari penjualan yang berdasarkan usaha yang dilakukan orang dalam waktu lama.
2. Source Code
The program must include source code, and must allow distribution in source code as well as compiled form. Where some form of a product is not distributed with source code, there must be a well-publicized means of downloading the source code, without charge, via the Internet. The source code must be the preferred form in which a programmer would modify the program. Deliberately obfuscated source code is not allowed. Intermediate forms such as the output of a preprocessor or translator are not allowed.
Jelas pengaksesan source code menjadi syarat utama, sebab program tak dapat berevolusi bila tidak dimodifikasi. Karena tujuan dari Open Source membuat agar evolusi berlangsung mudah, maka dibutuhkan modifikasi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan tersedianya source code. Source code adalah syarat utama untuk melakukan modifikasi atau perbaikan. Tujuan dari klausa ini adalah agar source code didistribusikan dalam bentuk awal dan pekerjaan yang diturunkan darinya.
3. Derived Works
The license must allow modifications and derived works, and must allow them to be distributed under the same terms as the license of the original software.
Hanya keberadaan source code saja tidak cukup untuk mendorong peer review dan seleksi evolusi secara cepat. Agar terciptanya evolusi yang cepat, orang harus dapat mencoba dengan dan meredistribusi modifikasi yang dilakukannya.
Software akan berkurang manfaatnya bila tidak dapat dirawat, misal untuk memperbaiki bug, memport ke sistem baru, membuat perbaikan, dan melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal. Tujuan dari klausa ini bertujuan agar segala bentuk modifikasi diperbolehkan. Harus diijinkan melakukan pekerjaan modifikasi dan didistribusikan dengan lisensi seperti pekerjaan aslinya. Tetapi tidak disyaratkan bahwa semua jenis hasil kerja turunan harus menggunakan lisensi yang sama. Ini bergantung pada jenis lisensi yang digunakan, BSD memungkinkan hal tersebut, tetapi GPL tidak.
4. Integrity of The Author's Source Code.
The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of "patch files" with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software.
Mendorong dilakukannya banyak perbaikan adalah hal yang baik, tetapi pengguna harus memiliki hak untuk mengetahui siapa yang bertanggung-jawab terhadap program yang mereka gunakan. Penulis software dan perawat memiliki hak yang sama untuk menjaga reputasi mereka. Lisensi open source harus menjamin ketersediaan source code,yang memungkinkan perbaikan dengan menggunakan patch. Dengan cara ini perubahan ``tidak remsi'' dapat dilakukan tetapi tetap dapat dibedakan dengan hasil karya utama.
5. No Discrimination Against Persons or Groups.
The license must not discriminate against any person or group of persons.
Agar mendapatkan keuntungan maksimum dari proses open source, maka kemajemukan dari pengguna, dan kelompok pengguna harus diusahakan tercapai, sehingga setiap orang atau kelompok memiliki hak yang sama untuk melakukan kontribusi pada open source. Dengan cara ini lisensi open source mencegah dilarangnya seseorang untuk terlibat dalam proses. Sehingga tidak bisa dilakukan pelarangan berdasarkan sentimen politis, ataupun juga berdasarkan perkiraaan keinginan mereka untuk menggunakan program tersebut.
6. No Discrimination Against Fields of Endeavor.
The license must not restrict anyone from making use of the program in a specific field of endeavor. For example, it may not restrict the program from being used in a business, or from being used for genetic research.
Hal utama dari klausa ini adalah tetap adanya kemungkinan open source digunakan secara komersial. Diinginkan agar dunia komersial juga bergabung dengan komunitas Open Source sehingga tidak merasa dikucilkan. Oleh sebab itu dibuat tidak ada keterbatasan penggunaan Open Source untuk dunia bisnis atau pun untuk kegunaan lainnya.
7. Distribution of License.
The rights attached to the program must apply to all to whom the program is redistributed without the need for execution of an additional license by those parties.
Lisensi ini bersifat otomatis, jadi tidak membutuhkan tanda tangan, jadi berbeda dengan perjanjian seperti pada non-disclosure aggreement. Memang ini masih dipertanyakan pada beberapa pengadilan. Akan tetapi mengingat makin umumnya Open Source hal ini akan berubah di kemudian hari. Beberapa pihak menganggap bahwa lisensi adalah bagian dari perjanjian kontrak, dan ada yang berpendapat sebagai pernjanjian hak cipta.
8. License Must Not Be Specific to a Product.
The rights attached to the program must not depend on the program's being part of a particular software distribution. If the program is extracted from that distribution and used or distributed within the terms of the program's license, all parties to whom the program is redistributed should have the same rights as those that are granted in conjunction with the original software distribution.
Ini berarti tak ada pembatasan suatu produk yang dinyatakan sebagai Open Source menjadi bebas selama hanya menggunana merk distribusi tertentu saja. Program tersebut harus tetap bebas jika dipisahkan dari program distribusi yang menyertainya.
9. License Must Not Contaminate Other Software.
The license must not place restrictions on other software that is distributed along with the licensed software. For example, the license must not insist that all other programs distributed on the same medium must be open-source software.
Pada model Open Source suatu lisensi tidak bisa mensyaratkan agar diletakkan bersama-sama dengan program dengan lisensi tertentu. Harus dibedakan antara prinsip ``derivation'' dan ``aggregation''. Derivation terjadi ketika suatu program memasukkan program lain ke dalamnya program tersebut. Aggretation terjadi ketika suatu program menyertakan program lain dalam suatu media yang sama (misal pada CD ROM). Klausa ini membahasa permasalah aggregation bukan derivation, derivation dibahas pada klausa nomor empat.
10. Conforming Licenses and Certification.
Any software that uses licenses that are certified conformant to the Open Source Definition may use the Open Source trademark, as may software explicitly placed in the public domain. No other license or software is certified to use the Open Source trademark.
Klausa ini dijelaskan pada sub bab berikutnya.
5.3 Lisensi Open Source
Suatu kesalah-pahaman yang masih timbul pada masyarakat luas adalah pengertian bahwa free software adalah public domain (Perens, 1999). Suatu program public domain adalah program, yang penulisnya menyerahkan hak ciptanya (copyright) kepada publik. Dengan demikian siapapun dapat melakukan apapun terhadap program yang bersifat public domain. Bahkan dapat mengubah lisensi dari public domain menjadi komersial, mengubah nama penulis dan sebagainya. Perlu diketahui proram yang memiliki copyright adalah hak milik pemegang copyright. Suatu program memberikan beberapa hak kepada penggunanya bergantung lisensi yang diterapkan.
Beberapa contoh a lisensi yang memenuhi Open Source Definition adalah
· The GNU GPL, GNU General Public License. Bertujuan untuk membatasi kemungkinan developer dapat menjadikan software yang memiliki lisensi ini menjadi produk komersial yang tak memberikan kontribusi balik kepada ke komunitas. GPL ini menggunakan Copyright untuk menjamin agar program tetap ``free'' dibawah lisensi GPL. Setiap orang boleh mengcopy, mendistirbusi dan memodifikasikannya. Akan tetapi setiap distribusi dari softaware yang termodifikasi harus dengan GPL juga.
· The LGPL, Library GNU GPL
· The BSD license, Berkeley Software Distribution License. Lisensi relativ memiliki lebih sedikit kterbatasn pada apa yang boleh dilakuakn oleh developer. termasuk boleh membuat produk turunan yang bersifat proprietary.
· The X Consortium license, yang digunakan oleh distribusi X Window. Lisensi ini juga hampir membolehkan modifikasi apapun.
· The Artistic, yang digunakan oleh Perl. memodifikasi beberapa aspek yang bersifat kontroversial pada GPL. Lisensi ini melarang penjualan perangkat lunak, tetapi membolehkan penyertaan program lain yang dijual.
· The MPL and , Mozilla Public License, yang digunakan oleh Netscape ketika melepaskan source code browser Netscape. Juga membolehkan para developer untuk membuat karya derivatif yang bersifat proprietary.
· The QPL, Q Public license, yang digunakan Troll Tech ketika melepaskan library Q.
Lisensi Dapat dicampur dengan software non free Modifikasi dapat dilakukan secara privat dan hasilnya tidak dikembalikan ke publik Dapat dilakukan relisensi oleh siapapun Memberikan hak khusus kepada pemegang copy right awal atas modifikasi yang dilakukan
GPL Ya
LGPL Ya
BSD Ya Ya
NPL Ya Ya Ya
MPL Ya Ya
Public Domain Ya Ya Ya
Lisensi-lisensi tersebut memiliki perbedaan pada hak redistribusi, modifikasi dan beberapa hak minor lainnya. Bagi pihak yangtertarik ingin mengetahui apakah lisensi yang dibuatnya dapat memenuhi kriteria Open Source, cukup dilakukan dengan cara menulis email ke certification@opensource.org. Tetapi dengan cara melihat lisensi yang telah ada akan lebih mudah lagi, sebab proses review tidak perlu dilakukan.
5.4 Dampak pada hak cipta dan paten
Konsep dasar yang melatar-belakangi Hak atas kekayaan intelektual (HAKI), merk dan patent adalah untuk menyediakan suatu monopoli secara sah yang melindungi hasil usaha kreatif sebagai suatu bentuk insentif bagi orang untuk melaksanakan atau melanjutkan usaha kreatif tersebut. (Alsop, 1999). Konsep ini berdasarkan pandangan bahwa masyarakat tak termotivasi untuk menghasilkan sesuatu bila hasilnya dapat ditiru dengan bebas (pandangan ini memang timbul dari masyarakat ``West'').
Hukum ``copyright'' melindungi ekspresi fisis dari suatu ide, misal tulisan, musik, siaran, software, dan lain-lain. Hukum ``trademark'' melindungi nama dagang dan logo perusahaan. Hukum ``patent'' melindungi suatu pendemonstrasian suatu idea baru, sehingga nilai ``kebaruan'' tersebut dilindungi untuk tidak disalin secara tidak sah. Hukum ``copyright'' berevolusi di dunia ini sehingga hal apa yang dapt dilindungi. Hukum ``copyright'' ini memang tumbuh ketika proses penyalinan dapat dibatasi.
Pada saat ini, memang sulit untuk mencegah dilakukannya penyalinan tersebut. Sehingga usaha untuk menerapkan monopoli pada usaha kreatif menjadi tidak beralasan lagi. Pada era tahun 1980-1986 ketika perusahaan software sangat khawatir dengan masalah penyalinan ini, mereka memanfaatkan teknik proteski disk yang membuat orang sulit menyalin disk atau program. Tetapi hal ini menjadikan kustomer sulit dan program makin sulit digunakan. Setelah perusahaan perangkat lunak menyadari bahwa mereka tetap memperoleh keuntungan yang besar dari hal lain seperti, manual, service, dan pempelian perangkat lunak asli tetap tinggi, mereka meniadakan mekanisme proteksi penyalinan ini.
Secara umum memang tidak ada yang salah dengan konsep keterbukaan source code demi kepentingan publik pada Open Source ini. Sebab konsep hak cipta dan patent pun pada dasarnya diterapkan untuk melindungi kepentingan publik. Mengacu pada 1909 House of Representative yang menyertai Copyrigth Act (Cunard, 1995):
The enactment of copyrigth legislation by Congress under the terms of Consititution is note based upon any natural right that the author has in his writings, for the Supreme Court has held that such rigths as he has are purely statutory rights, but upon the ground that the welfare of the public will be served and progress of science and useful arts will be promoted.... Not primarily for the benefit of the author, but primarily for the benefit of the public, such rights are given. Not that any particular class of citizens, however, worthy, may benefit, but because the policy is believed to be for the benefit of the great body of people, in that it will stimulate writing and invention, to give some bonus to authors and inventors.
Hak intelektual, suatu sistem hukum yang memberikan dampak hasil penemuan dan kreatif dibatasi demi memberikan upah pada penciptanya, memberikan suatu pengaruh yang besar pada pasar, telah mengurangi pengadopsian suatu idea baru dan inovasi. Hukum paten memberikan keuntungan bagi para pencipta, akan tetapi sering dalam bentuk pembelian hak untuk menguasai siapa yang dapat menggunakan tekhnologi ini. Perusahaan besar cenderung lebih menerima manfaat daripada rakyat banyak. Perusahaan besar biasanya akan membatasi ini dan mengendorkannya pelan-pelan hingga investasi telah terbayar kembali.
Berdasarkan acuan di atas, maka proteksi terhadap penggunaan tanpa izin, reproduksi atau distribusi karya kreatif tidak akan bekerja untuk karya yang bersifat public domain. Begitu juga tak ada monopoli dapat diberikan berdasarkan prinsip kepentingan publik pada cuplikan di atas. Sebab pada hakekatnya peraturan hak cipta adalah bertujuan untuk kepentingan publik.
Karena Open Source ini tidak saja bisa diterapkan pada perangkat lunak (pada saat ini banyak buku atau terbitan yang sudah memberikan lisensi ala GPL), maka dunia penerbitan pun cepat atau lambat akan terkena imbasnya.
Dengan diinspirasikan oleh gerakan Open Source pada perangkat lunak, maka vendor perangkat keraspun sekaran mulai melakukan hal yang sama. Ini tampak dengan prakarsa Sun Microsystem untuk mengeluarkan secara terbuka spesifikasi prosesor terbarunya. Gerakan para vendor ini bernaung di bawah organisasi Open Hardware [www.openhardware.org]. Sama seperti pada Open Source, tujuan dari gerakan ini adalah kepentingan publik. Artinya publik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh apa yang terbaik dari yang mereka bayarkan. Di samping juga untuk mempercepat proses penemuan kesalahan dan pengembangan perangkat keras. Sebagai contoh akibat dari ketertutupan rancangan hardware ini adalah, error yang terjadi pada Pentium II. Bug pada Pentium II ditemukan oleh pengguna, bukan perancang sistem. Bukankah error-error semacam ini akan lebih mudah ditemukan apabila detail dari disain terbuka untuk diuji masyarakat luas ? Sebab yang akan menanggung akibat dari produk yang memiliki error adalah masyarakat.
Model Linux ini cenderung akan mengurangi keterlibatan hukum pada tingkat kepemilikan hak cipta. Terjadi pergeseran pada pandangan hukumnya. Dengan Linux ini kepemilikan perangkat lunak menjadi kurang penting, sedangkan layanan menjadi bagian yang lebih penting. Sehngga diprediksikan pengaruh popularitas Linux menjadikan mengurangi kebutuhan penasehat hukum bidang hak cipta, tetapi akan meningkatkan kebutuhan para penasehat hukum bidang kontrak. (Slind-Floor, 1999). Pergeseran dari penjualan produk menjadi pemberian layanan, juga menjadikan perubaan cara pandang terhadap perhitungan “damage” pada bisnis, yang biasanya terhitung dari “lost royalties” akan berubah menjadi “lost profit”, misal kehilangan kontrak service seperti dukungan teknis.
Salah satu contoh menarik dari perubahan pandangan hukum yang makin menjadi berpihak pada kepentingan publik, bukannya pada kepentingan pengembang teknologi adalah kemungkinan timbulnya “class action” dari para pengguna yang merasa dirugikan karena kebijaksanaan produsen. Sebagai contoh adalah kasus pengguna komputer yang menghendaki pengembalian uang pembelian (lebih dikenal dengan Windows Refund). Tampaknya posisi penasehat hukum pada kerangka bisnis Open Source ini akan menjadi lebih kepada public-interest lawyer.
Pandangan konvensional bahwa, orang wajar memperoleh uang dari kepemilikan hak cipta sebagai insentif untuk inovasinya menjadi tidak ada tempatnya dalam kerangka Open Source. Pada awal terbitnya virtual realitiy, e-commerce, dan infomrasi digital, bukankah sudah saatnya mempertanyakan kembali cara perlindungan atas usaha kreatif yang selama ini dilaksanakan melalui asumsi monopoli tersebut ?. Memang sebagian besar penasehat hukum (terutama di Indonesia) masih belum menanggapi dengan perubahan cara pandang ini.
Pergeseran pandangan terhadap nilai hukum dari suatu “source code” pun telah terjadi. Bahkan secara ekstreem beberapa orang telah mulai menghubungkan kebebasan terhadap source code ini setara dengan kebebasan berbicara. Dalam hal ini mereka menerapkan pendekatan semiotics pada source code tersebut. Memang perkembangan dari sisi hukum terhadap pola pandang yang cenderung filosofis ini akan masih sulit diterima oleh pihak praktisi hukum yang cenderung melakukan pandangan pragmatis. (Hannibal, 1999).
5.5 Pembajakan di Indonesia
Seperti telah ketahuai bahwa pembajakan (lebih tepatnya penyalinan tidak sah) begitu umum dilakukan di negara berkembang seperti halnya Indonesia. Dengan keberadaan produk Open Source yang sah untuk disalin maka menjadikan “saingan” bagi perangkat lunak bajakan ini. Di lain pihak ketersediaan program bajakan ini merupakan keuntungan sampingan bagi perusahaan seperti Microsoft, karena membantu mempopolerkan penggunaan Windows secara tidak langsung (IEEE Software, Januari 1999).
Software sendiri pada saat ini bisa dikatakan makin mahal, sebagai gambaan suatu sistem operasi Windows akan seharga US$55 untuk setiap mesin dan Windows NT akan seharga $500 untuk tiap mesin. Sehingga bila dibutuhkan instalasi pada 20 mesin harga tersebut sudah tidak bisa diabaikan lagi. Pola discount memang tersedia tetapi biasanya mengakibatkan monopoli lokal oleh vendor tersebut. Karena sebagian besar orang di negara berkembang tidak mampu membayar biaya sesungguhnya untuk perangkat lunak maka terjadilah praktek pembajakan ini.
Pembajakan adalah suatu langkah pilihan apabila ingin menggunakan perangkat lunak tersebut. Hal tersebut ditemui di sebagian besar negar
By Uli Ni'matul Khasanah on May 3, 2008
Pengembangan Teknologi Informasi
- Sentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika berbicara mengenai sentralisasi seringkali kita lebih memfokuskan diri pada aspek antara pusat dan daerah. Seringkali kita melupakan aspek sentralisasi dalam kajian global.
Diambil kutipan dari wawancara Alan Cox pada http://www.plcom.net/news/top_stories/linux/articles/990726.php3.
Q: One of the beautiful things about Linux is its international flavour. Linus Torvalds is from Finland, you’re from Britain. It’s not California -centric, as so much software is. How important is this to the Linux community, and Linux users?
A: It’s very, very important to a lot of countries, especially Third World countries, because American software is expensive. With Linux, developing nations can download the operating system, modify it to suit their needs, make copies, and no money flows out of the country.
- Barrier untuk mengembangkan teknologi informasi
Salah satu barrier atau hambatan yang cukup dirasakan bagi pengembangan teknologi informasi antara lain:
·a. Masih dikuasainya hak pengembangan dan modifikasi perangkat lunak oleh vendor besar. Sehingga para konsumen ataupun calon pengembang haruslah melewati jalur yang panjang dan membutuhkan biaya tinggi untuk menjadi solution provider di dunia Teknologi Informasi. Biaya ini sangat membebani untuk keperluan investasi awal, dan produksi selanjutnya.
·b. Biaya perangkat lunak yang digunakan untuk mengembangkan produk teknologi informasi masih sangat tinggi, misal harga sistem operasi, harga kompiler, harga development tool. Di tambah biaya komponen perangkat lunak yang mau tidak mau dimasukkan ke dalam produk jadi. Sebagai contoh misal membangun suatu sistem Point of Sale (POS) yang berbasiskan sistem operasi komersial, mau tidak mau komponen harga sistem operasi tersebut akan dimasukkan ke dalam harga akhir dari perangkat POS yang dikembangkan tersebut.
·c. Biaya memperoleh informasi pendukung yang tersedia yang sangat dibutuhkan oleh developer. Hal ini lazim dikenal sebagai Developer Network Subscription Fee. Sehingga apabila kita ingin menjadi pengembang teknologi informasi, agar dapat dilakukan akses kepada informasi-informasi penting biaya ini haruslah diperhitungkan.
·d. Biaya pelatihan yang sangat tinggi agar memenuhi suatu syarat sertifikasi dari vendor sehingga dapat dipercaya untuk menjadi solution provider ataupun trainning provider.
Biaya-biaya tersebut jelas menghambat keinginan pengguna yang antusias terjun mejadi pengembang teknologi informasi yang handal dan dikenal dunia. Di samping itu juga penguasaan secara sentral hak akses kepada pasar, serta pengakuan kerja menjadikan para pengembang TI di Indonesia kurang terdengar kiprahnya di dunia internasional, karena harus melalui tahapan-tahapan memutar yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebelum akhirnya dapat menghasilkan suatu produk teknologi informasi.
Di samping barier finansial terdapat juga barier hukum yang mau tidak mau harus dipertimbangkan dalam mengembangkan teknologi informasi lokal. Sebagai contoh dikutipkan definisi PEMBAJAKAN menurut salah satu perusahaan perangkat lunak besar, Microsoft di Indonesia [ http://www.microsoft.com/indonesia/piracy/:
Anti-Piracy (Bahasa Indonesia)
Berbagai bentuk Pembajakan Piranti lunak:
1.Pemuatan Hard Disk (Hard Disk loading)
Terjadi saat penjual komputer memuat salinan program piranti lunak yang tidak sah ke hard disk komputer yang akan dibeli oleh konsumen, sebagai rangsangan bagi konsumen untuk membeli perangkat PC dari penjual tersebut. Penjual ini tidak menyediakan disket/CD-ROM asli, dokumentasi atau persetujuan lisensi, yang seharusnya diberikan bersama-sama dengan copy program yang legal. Dengan demikian konsumen tanpa mereka sadari menerima piranti lunak ilegal yang telah diinstal di Hard Disk.
2.Softlifting
Tejadi jika copy ekstra piranti lunak dibuat di dalam suatu lembaga untuk dipakai oleh karyawannya atau untuk dibawa pulang. Menukarkan disket/CD dengan rekan rekan di dalam maupun di luar perusahaan juga termasuk dalam kategori pembajakan ini.
3.Pemalsuan piranti lunak (Software counterfeiting)
Penggandaan ilegal seluruh paket p iranti lunak dan dijual dalam kemasan yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak asli. Bentuk lainn pembajakan ini adalah kompilasi berbagai judul piranti lunak tiruan yang dikemas dalam satu CD-ROM secara ilegal dan dipasarkan dengan nama yang berbeda. Berbeda dengan pelanggaran yang terjadi dalam perusahaan, pemalsu piranti lunak beroperasi murni untuk keuntungan, tanpa mengindahkan pemilik hak cipta produk yang dipalsukan.
4.Penyewaan piranti lunak
Dikenal tiga bentuk pembajakan melalui penyewaan piranti lunak : produk yang disewa untuk digunakan pada komputer di rumah atau di kantor penyewa; produk yang disewakan melalui mail order dan produk yang dimuat dalam komputer yang disewa untuk waktu terbatas.
5.Downloading ilegal melalui BBS/Internet
Terjadi melalui downloading piranti lunak sah melalui hubungan modem ke buletin elektronik adalah bentuk lain pembajakan. Pembajakan ini tidak sama dan jangan disalah artikan dengan penggunaan piranti lunak yang diberikan di public domain, ataupun fasilitas shareware yang digunakan bersama.
Dari batasan piracy di atas tampak bahwa pengguna yang ingin memanfaatkan program informasi untuk mengembangkan pemanfaatan teknoloogi informasi akan mengalami hambatan yang cukup besar. Hambatan tersebut dikarenakan dikuasainya hak pengembangan secara sentral oleh suatu institusi. Sehingga sulit sekali pelaku bisnis TI lokal untuk mengembangkan secara optimal kemampuannya tanpa melakukan pelanggaran hukum. Sebagai contoh :
· Dari point 1, jelas para penjual komputer yang ingin menjual komputer yang telah disertai dengan perangkat lunak (Pre-installed) akan mengalami hambatan yang cukup berarti. Apabila para penjual tersebut ingin menyertakan software asli yang terinstall pada sistem komputer tersebut, maka mau tidak mau dia harus membeli lisensi yang cukup berharga mahal (minimal 100 USD). Hal ini belum termasuk perangkat lunak aplikasi lainnya. Sehingga paling tidak untuk menyediakan jasa penjualan pre-installed haruslah disisihkan dana yang cukup tinggi yang akhirnya dibebankan ke para pembeli. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah dengan cara melakukan instalasi program ``as-pal'' (asli tapi palsu), jadi satu salinan program asli diinstal di banyak komputer yang dijual. Secara hukum dan etika hal ini tak dapat dibenarkan.
· Pemakaian bersama (biaya tinggi). Bagi suatu insitusi seperti sekolah, ataupun lembaga pemerintahan pembelian perangkat lunak untuk tiap komputer di institusi tersebut akan menyebabkan ongkos yang cukup tinggi untuk pembelian perangkat lunak. Hal ini menyebabkan banyak institusi mengambil jalan pintas dengan melakukan ``pelanggaran'' yaitu dengan membeli versi asli satu buah dan menggunakan banyak salinannya di komputer laionnya. Jelas secara etika hal ini tak dapat dibenarkan (Wiryana, 1998).
· Praktek penggandaan program secara ilegal banyak sekali dijumpai di Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pada peringkat atas pembajak. Hal ini menimbulkan image yang kurang baik bagi dunia Teknologi Informasi.
· Pada point berikutnya, hal ini sering dilakukan secara tidak sadar. Sebagai contoh pada Warung Internet, ataupun penyedia jasa layanan penyewaan perangkat komputer yang sering dijumpai di sekitar kampus. Secara tidak sadar, walaupun program yang digunakan adalah asli tetap merupakan pembajakan, karena termasuk ``menyewakan'' perangkat lunak.
Dari contoh di atas, jelas adanya keterbatasan pemanfaatan dari perangkat lunak baik digunakan untuk keperluan sehari-hari ataupun untuk digunakan sebagai alat produksi. Sekarang bagaimana cara mengatasi hal tersebut agar kita dapat menghilangkan timbulnya praktek pelanggaran hukum ini. Pilihan yang ada adalah :
· Membeli perangkat lunak asli dan menggunakannya sesuai dengan batas yang ada dan tertera pada lisensi perangkat lunak tersebut. Hal ini jelas berdampak pada biaya yang tidak sedikit dan hal ini nampaknya sangatlah kurang bijaksana pada situasi ekonomi saat ini.
· Memanfaatkan program Open Source yang memberikan keleluasan tanpa harus melanggar hukum. Hal ini dimungkinkan karena program Open Soure memungkinkan pengguna memperbanyak ataupun mengubah program sesuai dengan yang diinginkannya.
Di samping faktor ekonomi dan hukum ternyata Open Source menimbulkan beberapa faktor-faktor non teknis yang disebabkan gaya pengembanganyannya.
- Era keterbukaan telah tiba : Open Source
Salah satu contoh keberhasilan dan yang menjadikan Open Source menjadi perhatian dunia pada saat ini, adalah fenomena GNU/Linux, suatu sistem operasi yang dapat dikatakan berkembang dengan pola Open Source. Internet pun dapat dikatakan berkembang dalam kerangka kerja ala Open Source pula. Program-program yang menjalankan Internet, aturan-aturan yang dikembangkan via Internet Engineer Task Force juga menerapkan ini.
Perkembangan Linux sendiri berciri ``self organizing'', hal ini memberikan ilusi bagaikan suatu perusahaan besar tanpa dinding, tanpa pemegang saham, tanpa gaji, tanpa iklan dan tanpa pemasukan. Tetapi keberadaanya tak dapat diabaikan pada saat ini, bila Linux dihilangkan dari muka dunia, maka Internet dapat dipastikan tidak akan bekerja. Kemampuan evolusi dan adaptibilitas dan bantuan yang tersedia untuk pengguna memberikan suatu jaminan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan khusus pengguna.
Banyak pihak yang mengkhawatirkan, bahwa GNU/Linux ini tak berbeda dengan trend komputer lainnya, dengan kata lain mereka berpendapat bahwa hal itu adalah sekedar pergantian trend saja, saat ini yang populer Microsoft, dan mendatang Linux dan begitu seterusnya. Sehingga tidak ada hal perbedaan essential yang dibawa oleh Open Source. Bahkan masih banyak pihak yang berpendapat atau memperoleh kesan bahwa GNU/Linux ini adalah suatu produk Amerika dari suatu perusahaan seperti Linux Inc. Masih sedikit pihak di Indonesia yang menyadari bahwa adanya perbedaan yang sangat krusial, bahwa GNU/Linux memakai prinsip "Open Source" yang memiliki implikasi yang sangat berbeda dalam tatanan hak cipta, dan dorongan sosial.
Sebagai akibat dari fenomena bahwa setiap tool yang digunakan akan merubah tata cara pandang si pengguna tersebut terhadap suatu permasalahan., ternyata Open Source menimbulkan beberapa dampak pendorong yang dapat membawa ke perubahan cara pandang pada masyarakat luas. Dengan adanya perbedaan motivasi dan perubahan attide pada pelaku Open Source maka adanya suatu kemungkinan untuk digunakan sebagai "pendorong" terciptanya pemikiran yang lebih baik pada masyarakat luas. Open Source membawa "attitude" seperti "peer review, pengakuan karya cipta, maka akan mendorong si pengguna memiliki attitude yang baik.
Sebetulnya pola Open Source ini bukanlah hal yang baru, Pada tahun 1960-an semua perangkat lunak dapat dikatakan ``open-source''. Komputer yang dijual (pada saat itu sebagian besar adalah IBM) selalu disertai dengan source code. Pada era tersebut perkembangan komputer dan sains oleh para saintist melalui penggunaan bersama source code secara bebas. Pada tahun 1970-an ketika para individu dan perusahaann mulai menggunakan program untuk beragam kebutuhan, software berubah menjadi bersifat proprietary. Pada saat itu mulai disadari keuntungan bisnis yang diakibatkan oleh monopoli source code yang dilakukan dengan cara membatasi orang untuk memiliki source code dengan kata lain penguasaan source code menjadi memiliki nilai ekonomi. Walau pada tahun 1983 Richard Stallman berusaha mempopulerkan lagi kebersamaan antar pengembang perangkat lunak dengan Free Software Fundationnya (FSF) tetapi usaha ini belum begitu berhasil. Walau begitu hingga saat ini FSF tetap memainkan peranan penting pada perkembangan Open Source. Barulah dengan perkembangan Linux pola Open Source ini mulai diperhitungkan orang kembali, hingga Netscape pun melepas source code dari browsernya.
Perkembangan Unix sendiripun memanfaatkan proses peer review ini. (Darwin dan Collyer, 1984). Sebuah buku yang dikeluarkan oleh Lion pada tahun 1976 yang berisi source code Unix dan komentarnya menjadikan sumber acuan informasi bagi para pengembang komputer pada saat itu. Dokumentasi Unix sendiri merupakan sumber informasi yang baik, tertulis dalam bentuk yang konsisten, akurat dan langsung ke pokok permasalahan. Rata-rata para saat itu para programmer menulis program dan juga menulis dokumentasi. Dan secara biasa pengakuan sumbangan kerja selalu dilakukan kepada mereka yang telah memberikan idea, saran dan dukungan pada suatu proyek.
Dengan mekanisme yang serba terbuka ini, para developer didorong untuk menjadi terbuka dengan keterbatasan mereka (misal tertulis pada bagian BUGS pada manual). Penulisan bagian BUGS ini menunjukkan agar pengguna mengetahui keterbatasan program mereka, bukannya membiarkan pengguna menemukannya. Tidak seperti pada closed source model mereka cenderung tidak menyertakan daftar bugs yang ada.
Keinginan mereka berbagi source code tersebut adalah untuk menyesuaikan program tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan Usenet pun dibuat dengan tujuan untuk mempermudah mereka saling mendistribusikan source code, informasi yang terkait dan juga melakukan diskusi. Dapat dikatakan Internet pun dibangun oleh suatu komunitas yang terdiri dari developer bebas yang membangun perangkat bantu mereka agar dapat bekerja sama lebih baik dan lebih efektif.
Keterbukaan Unix dihentikan oleh AT&T yang menerapkan kebijakan lisensi. Terbukti kebijakan ini membawa perkembangan dunia komputer menjadi terhambat dan terjadi ``reinvented the wheel''. Walaupun telah ada proposal untuk menjadikan Unix sebagai ``sourceware'' yaitu tersedia source code untuk masyarakat luas yang diajukan oleh McCoy pada tahun 1984 (McCoy, 1984). Tetapi hal itu tidak membawa perubahan lisensi. Keterbukaan ini menjadi terulang kembali dengan lahirnya Linux dan FreeBSD.
Internet Engineering Task Force (IETF) mendefiniskan suatu standard terbuka yang memungkinkan terciptanya dan beroperasinya internet. Sebagian besar pekerjaan dilakukan melalui mailing list. Setiap orang dapat bergabung dalam mailing list tersebut dan memberikan kontribusi. Tak ada yang memimpin untuk memberikan keputusan, bahkan voting relatif jarang dilakukan, yang ada hanyalah konsensus dan sistem yang dapat beroperasi dengan baik. Banyak sistem yang dibangun berdasarkan Open Source ini dan sekarang dapat dikatakan sebagai tulang punggung Internet.
GNU/Linux sendiri kini telah menjadi kesayangan para programmer berbakat di berbagai belahan dunia (Sanders, 1998). Konsep kerja sama pada Open Source makin menarik minat para programmer sedunia. Ditambah dengan makin menggejalanya konsep masyarakat virtual. Perkembangan masyarakat virtual pun tak terlepas dari semangat seperti kolaborasi secara sukarela seperti dalam Open Source ini, seperti yang ditunjukkan pada inisiatif Global Electronic Vilage, the Whole Electronic Link. (Rushkoff, 1994). Internet dan World Wide Web (WWW) juga berkembang dengan pesat sebagai suatu perkembangan dari jaringan untuk riset yang terbuka. Sukses keduanya tidak terlepas dari ``kerelaan'' orang yang membuatnya, dan semangat untuk saling berbagi. Teknologi ini tersedia secara bebas, dan kini mulai diambil alih sebagian oleh perusahaan besar (Lang, 1998). Jadi dari sudut pandang pengembangan sistem (system development) sejarah telah menunjukka bahwa Open Source ini sudah cukup teruji keefektifan dan keefisienannya sebagai suatu metode pengembangan sistem.
Kesuksesan pengembangan Internet menunjukkan bahwa pola Open Source yang membuat suatu bentukan ``gift economy'' telah mendorong inovasi secara cepat (Newman, 1999). Standardisasi yang dianut oleh Internet memungkinan beragam komputer melakukan penggunaan sumber daya secara bersama.
4 Pengembangan sistem yang berprinsip pada desentralisasi
Pada dasarnya Open Source adalah pengembangan sistem yang tak dikoordinasi oleh suatu entitas pusat, tetapi oleh para pelaku yang saling bekerja sama dengan memanfaatkan source code yang terdistribusi dan tersedia secara bebas dan menggunakan fasilitas komunikasi melalui Internet (O'Reilly, 1998). Pola pengembangan Open Source ini berdasarkan konsep pengembangan sistem yang mengambil model pengembangan ala "Bazaar". Sehingga pengembangan suatu software bebas bagi siapa saja yang ingin melakukannya. Di samping itu pola Open Source ini memiliki suatu ciri lain yaitu adanya dorongan yang bersumber dari "gift culture". Artinya ketika suatu komunitas menggunakan memakai suatu program Open Source komunitas telah menerima "sesuatu manfaat'' kemudian akan memotivasi dan menimbulkan pertanyaan "apa yang bisa si pengguna berikan kembali kepada orang banyak".
Pola Open Source ini telah digunakan secara optimal di berbagai proyek penelitian sebelum era komputer digunakan secara luas ataupun sebelum adanya Internet. dan telah menghasilkan beberapa prototipe yang dibuat oleh Engelbart dan sekarang relatif menjadi dasar berbagai produk komersial (Newman, 1999), seperti email, word procssing, mouse, environment Windows, hypertext browser yang telah dikembangkan sejak lama sebelum adanya produk komersial sejenis.
*Permasalahan pada pola pengembangan sistem saat ini
Salah satu permasalahan pada hasil produk perangkat lunak adalah kehandalan (reliabilitas). Bila pada tahun belakangan ini dunia Teknologi Informasi (TI) mendapat pandangan sinis karena kesalahan program yang berkaitan dengan Y2K, maka menjadi pertanyaan bagi orang awam, apakah ada sesuatu yang kurang tepat padametoda pengembangan perangkat lunak yang lazim digunakan. Mungkin dibutuhkan suatu metoda yang meninggalkan pola pengembangan sistem yang terlalu berbentuk hiererarki ini, atau pengembangan sistem hanya dilakukan oleh suatu team yang khusus untuk suatu projet, dan serba tertutup.
Model pengembangan perangkat lunak secara traditional menyarankan bahwa untuk membangun sistem yang handal, maka harus digunakan para developer yang terkontrol secara ketat, terkelola secara detail, dan proses yang dikontrol secara ketat. Hal yang berlawanan terjadi di dunia Open Source. Open Source lebih menitik beratkan pada kemampuan intelektual para programmer tenimbang proses mekanis pengembangan suatu perangkat lunak.
Salah satu cara untuk memperoleh kehandalan yang tinggi pada suatu produk adalah melakukan peer review yang independent dan banyak sekali. Sehingga produk telah diuji secara sangat intensif. Sebagai contoh suatu tulisan ilmiah pada jurnal ilmiah biasanya telah melewati proses peer review yang intensif sebelum dapat diterbitkan. Begitu juga dengan perekayasaan bidang lainnya. Internet menjadikan kemungkinan melakukan proses peer review secara masal. Misal setelah suatu project Open Source diluncurkan di Web, para pengguna dapat mendownload, mencoba dan melaporkan kesalahan, atau bahkan memberi masukan berupa program tambahan
Evolusi Linux memberikan inspirasi akan kemungkinan penerapan pola Open Source tersebut. Keterbukaan source code perangkat lunak adalah hal yang biasa bagi pengguna seperti NASA yang terkenal dengan ungkapan :
``If it is not source, it is not software''.
Hal ini disebabkan kebutuhan pengujian dan kustomisasi dari pihak NASA. Biasanya makin kritis suatu perangkat lunak, maka kustomer makin menginginkan tersedianya source code. Salah satu keuntungan nyata dari pola Open Source adalah mencegah duplikasi pekerjaan yang pernah dilakukan oleh orang lain. Sebagian besar pengembangan perangkat lunak adalah menggunakan perulangan dari solusi yang telah dilakukan orang lain pada hal tertentu. Hal lainnya dengan keterbukaan ini adalah permasalahan yang tertimbun pada source code dapat terbuka dan dievaluasi secara luas. Permasalahan seperti Y2K akan lebih kecil apabila program bersifat terbuka. (Stoltz, 1999).
*Model Bazaar
Pola pengembangan secara Open Source yang ditampakkan pada free software movement yang pada dasarnya adalah suatu kegiatakan yang bersifat kolektif (Perkins, 1999). Para pengembang Open Source bekerja mengembangkan source code mereka dan membuka kepada pengembang lain agar dapat bekerja sama. Mereka menginginkan ``kebebasan berkarya'' tanpa intervensi berfikir, dan mengungkapkan apa yang mereka ingini, menggunakan pengetahuan dan produk yang menurut mereka cocok. Kebebasan adalah pertimbangan utama ketika mereka membolehkan orang melihat source code mereka. Mereka mendapatkan ``kebebasan'' untuk belajar, mengutak-atik, mendisain ulang, membenarkan atau menyalahkan, mengaudit, menambahkan dan menggunakan code tersebut sesuai dengan yang mereka inginkan. Tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan ``tanggung jawab'', bukan bebas tanpa tanggung jawab. Artinya mereka berbuat dengan bebas tetapi dengan menanggung resiko sendiri. Tanpa bisa menyalahkan orang lain, karena mereka memilih proyek mereka sendiri dan memilih team mereka sendiri.
Pola pengembangan Open Source sendiri membalikkan teori-teori pengembanan sistem yang biasanya meliputi analisis kebtuhan, process maturity, software configuration control. Bahkan menunjukkan adanya suatu pola pengembangan yang bisa menghasilkan produk yang handal tetapi tanpa adanya sistem configuration and management control seperti halnya pada sistem pengembangan perangkat lunak biasa (Bollinger adn Beckman, 1999).
Bisa dikatakan prinsip dasar dari pengembangan ala Open Source ini adalah :
``rapid code evolution and massive independent peer review''.
Pada Open Source pengunaan ulang code (code reuse) yang sangat diingini oleh sistem pengembangan software konvensional selalu dimanfaatkan melalui ketersediaannya source code. Pada paper The Cathedral and Bazaar, prinsip pengembangan perangkat lunak secara Open Source adalah sebagai berikut (Raymond, 1998) :
· Proses dimulai dengan suatu prototipe yang telah agak berbentuk. Penayangan prototipe ini untuk menunjukkan bahwa memang proyek memiliki hasil yang menjanjikan. Janji hasil akhri ini berbentuk produk yang bermanfaat bukan dalam arti profit secara langsung. Memang program tidak harus bekerja sepenuhnya, mungkin masih penuh bug, belum lengkap, belum ada dokumentasi, tetapi cukup meyakinkan bagi para co-developer untuk turut serta mentransformasikan hingga ke hasil yang makin berbentuk.
· Produk diluncurkan sesegera dan sesering mungkin. Berbeda dengan konsep pengembangan perangkat lunak konvensional, pada open source pengguna mendapat posisi sebagai co-developer bukan saja sebagai end-user belaka. Komunitas merupakan kunci utama dari pengembangan sistem, sehingga respon terhadap pertanyaan atau saran dari pengguna menjadi sangat berperan. Peran komunikasi antar developer utama dan pengguna menjadi penting sekali. Sementara itu dengan cara meluncurkan produk sesering mungkin menjadikan para developer tetap terstimulasi dengan tantangan baru, dan tertarik untuk memberikan kontribusi. Dengan prinsip inilah dikenal Linus's Law :
``Given enough eyeballs, all bugs are shallow''.
· Delegasikan apapun yang mungkin. Bukannya berfungsi sebagai manajer proyek seperti dalam pola pengembangan konvensional, pemimpin pada suatu proyek Open Source cenderung berperan sebagai ``penjaga gerbang'' dengan kata lain sebagai koordinator dari semua orang yang telah memberikan kontribusi. Koordinator bekerja dengan cara lebih banyak mendelegasikan wewenang kepada para co-devoper, yang mengakibatkan kontribusi akan lebih bervariasi. Koordinator tidaklah harus seorang disainer program yang brilian, tetapi harus dapat mengenali idea disain yang baik dari orang lain (menerima dan memahami pendapat kontributor lain). Sudah barang tentu dia juga harus memiliki kemampuan menarik dan menjaga para kontributor yang berbakat tersebut.
· Keterbukaan. Hal ini merupakan bagian yang sangat asing bagi para developer yang terbiasa dengan metoda konvensional. Hal utama dari Open Source, adalah menarik orang sebanyak mungkin sehingga bisa memberikan fokus kerja ke banyak hal. Hal yang disembunyikan akan mempengaruhi kepada produk akhir secara keseluruhan.
*Keterlibatan pada pola Open Source
Untuk mengembangkan sistem dengan pola Open Source dibutuhkan keterlibatan fungsi personal yang berbeda yaitu (Behlenhof, 1999)
· Pendukung infrastruktur : yaitu personal yang berperan dalam menginstall, mengelola mailing list, web server, Concurrent Versioning System (CVS) dan database untuk bug, dengan kata lain menyediakan infrastruktur untuk terjadinya komunikasi antar pengembang.
· Code Captain personal yang mengawasi hal keseluruhan dan bertanggung jawab akan kualitas dari code yang dihasilkan. Melakukan integrasi dari patch yang disumbangkan pihak lain, memperbaiki bug dan ketidak-kompatibilitasan antar penyumbang program.
· Pengelola database bug penting bagi masyarakat banyak untuk mengetahui mengenai bug ini. Juga untuk melaporkan adanya bug yang ditemukan sehingga developer dapat segera memperbaikinya. Pengelola bug ini biasanya secara sukarela menjadi penjawab pertanyaan mengenai bug tersebut.
· Pengelola dokumentasi dan isi web site. Karena proses pengembangan sangat menggunakan Internet maka Web site selalu digunakan untuk menginformasikan seluruh kegiatan, untuk itu dibutuhkan seseorang yang secara ruting mengelola situs tempat informasi tersebut berada. Termasuk untuk memberikan informasi tentang sumber informasi yang dibutuhkan bagi siapapun yang tertarik untuk membantu proyek tersebut, dan juga berisi informasi tentang hal-hal umum termasuk bug yang sering ditemukan dan telah dilaporkan. Keberadaan situs ini akan mendorong mereka yang tadinya pengguna akan menjadi pengembang. Dokumentasi utama tentang sistem yang dikembangkan biasanya dijabarkan di situs ini.
· Pengatur strategi dan lainnya, pihak ini adalah orang yang membantu membangun momentum agar proyek dapat berjalan, dengan cara mencari pengembang lain, mendorong calon komsumen yang potentsal, termasuk mendekati perusahaan untuk menjelaskan tentang proyek ini. Personal ini memiliki karakteristik berbeda dengan personal pada pemasaran, karena orang yang bertugas ini harus memahami hal teknis dari sistem secara dekat.
Sebagian besar para pengembang freeware meminta diperlakukan secara fair dan menerima ``kebebasan'' berkreasi (Hecker, 1999). Proyek pada dunia Open Source biasa dilakukan secara kooperatif untuk mendorong inovasi dan tetap mengakui perbedaan dan tetap menghindarkan kebingungan (Leibovitch, 1999).
*Motivasi dan proses umpan balik
Para developer yang bergerak dengan paradigma Open Source relatif memiliki dorongan yang lain, mereka sebagian besar tidak berfokus pada mengasilkan uang secara langsung dari produk mereka. Tetapi mereka bertujuan memuaskan rasa artistik mereka dan memecahkan masalah mereka. Kecintaan akan pekerjaan menjadi lebih utama dibandingkan hasil finansial secara langsung yang mereka peroleh. Karena sifat keterbukaannya melalui media Internet, secara alami proyek Open Source menjadi lebih memiliki karakter mendunia dan bersifat kolaboratif.
Pada tinjuan filosofis, pola pengembangan Open Source mengakibatkan terbentuknya ``medan morpogenesis'' dari para pelakunya atau kebersamaan untuk mencapai tujuan. Hal ini disebabkan suatu dorongan yang sama dan mengakibatkan fenomena phase locked loop, yang membuat para pelakunya melakukan pergeseran dimensi. Walau para pelakunya berbeda tempat secara fisik tetapi mereka mengalami pergeseran dimensi ini karena melakukan suatu ``proses umpan balik'' yang terus menerus. Hal ini bisa lazim terlihat pada fenomena fraktal. (Rushkoff, 1994). Jadi jelas pada Open Source ini ada suatu ``kesamaan dorongan'' dari para pelakunya.
Kerja sama dilakukan atas hubungan ``win-win''. Pada tingkat individu ketimbang imbalan nilai ekonomis, maka pengakuan secara psikologi seperti reputasi di kalangan, kepuasaan menyelesaikan permasalahan, kebanggaan menjadi nilai-nilai yang ingin dicapai. Berbeda dengan dunia closed source, nilai ekonomis lebih ingin dicapai oleh para pengembang dengan cara melakukan penguasaan terhadap hasil kerja. Hal ini disebabkan pada Open Source yang berlandaskan budaya hacker (hacker bukan dalam arti cracker) mengakibatkan terjadinya ``gift economy'' dan bukannya ``exchange economy''.
Pada dunia Open Source ini nilai-nilai penghargaan terhadap individual akan berdasarkan pertimbangan : , pengetahuan, ketrampilan teknis, produktifitas, dedikasi mengerjakan proyek, analisis penilaian secara tajam dan berelasan, serta kreatifitas (Perkins, 1999).
Peer review atau penilaian terhadap rekan sejawat (atau sesama developer) terhadap hasil kerja memiliki fungsi yang penting dalam pelaksanaan proyek open source. Penilaian hasil karya bukan terhadap yang mereka ``ucapkan/janjikan'' tetapi terhadap apa yang mereka ``hasilkan''. Para developer akan bergabung dalam komunitas ini berharap agar mengalami peningkatan kemampuan setelah bergaul dengan pihak yang memiliki kemampuan lebih tingi. Proses peer review inilah yang merupakan umpan balik yang dilakukan secara terus menerus.
Dengan membuka source code yang merupakan hasil kerja, maka si penulis harus bersiap menerima kritikan atau perbaikan dari pihak lain. Proses kritik dan perbaikan ini berlangsung secara alami di alam Open Source. Dunia open source ini sepertinya terbentuk dari orang-orang yang individualitis tetapi mereka dapat bekerja secara kolektif. Tak ada figur utama yang memegang otoritas untuk menentukan segalanya secara diktator. Jadi bisa dikatakan bentukan kelompok terjadi secara self-organization, kooperasi terjadi secara otomatis untuk mengatasi ``tantangan'' yang ada. Dengan bentuknya yang desentralisasi disertai keterbukaan, maka mereka dapat menghasilkan suatu produk yang berkualitas tinggi, handal dan berguna. Kesalahan dapat dicegah terjadi sejak awal karena terlihat oleh pihak lain.
4.5 Kaitan dengan metoda ilmiah
Sains, bisa dikatakan juga merupakan komunitas Open Source yang sangat besar. Metoda ilmiah biasanya berlandaskan suatu proses penemuan, dan proses justifikasi hasil penemuan. Bagi kalangan ilmiah, agar suatu hasil dapat dijustifikasi, maka hasil tersebut haruslah dapat direplikasi. Proses replikasi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa adanya penggunaan bersama sumber informasi, yang biasanya terdiri dari: hipotesis, syarat pengujian, dan hasil pengujian. Memang proses penemuan dapat dilakukan secara terisolir, akan tetapi proses penemuan tersebut harus memungkinkan penggunaan bersama informasi, sehingga memungkinkan ilmuwan lain untuk bergerak ke arah pengembangan yang tidak sama.
Bila para ilmuwan memandang kemungkinan replikasi untuk percobaannya, maka para programmer membandingkan dengan proses debugging (penemuan kesalahan). Bila para ilmuwan mencoba melakukan penemuan, maka analogi dengan para programmer yang mencoba mengkreasikan suatu program dengan melewati tahapan-tapahan pengembangan sistem yang biasanya melewati tahapan : Requirement Analysis, System Level Design, Detailed design, Implementation, Integration, Field testing, dan Support.
Pada ilmu komputer, yang sangat berbeda dengan keilmuan lainnya, proses replikasi hanya dapat dilakukan oleh para ilmuwan apabila dilakukan proses penggunaan bersama source code. Untuk mendemonstrasikan validitas suatu program kepada orang lain, maka harus ditunjukkan proses kompilasi, dan juga eksekusi program tersebut. Jadi apa yang dipraketkan para pengembang di Open Source tidak lain adalah adopsi dari metoda ilmiah. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar mereka yang terlibat dalam pola Open Source ini berlatar belakang ilmuwan, mahasiswa dan akademisi, walau banyak juga yang berlatar belakang lain. Pengembangan perangkat lunak di awal sejarah komputer memang melibatkan proses kolaboratif antara akademisi dan mahasiswa. Software dipandang sebagai milik publik yang bisa digunakan bersama. Keterbukaan ini memungkinkan suatu kesalahan diperbaiki secara cepat. Komersialisasi komputer di era 1970-1980 merubah pola ini.
Pada dasarnya ada beberapa proses review yang lazim dilakukan terhadap suatu sistem adalah Peer review, Mentor/management review dan Cross disciplinary review. Replikasi untuk melakukan proses review telah dibuktikan oleh para ilmuwan sangat berguna, dan memberikah hasil yang tidak perlu diragukan lagi. Dengan memberikan keterbukaan terhadap hipotesis dan hasil pengujian pada komunitas setingkat, para imuwan dapat melihat apakah terjadi kekurang tepat pengamatan oleh ilmuwan lainnya.
Keterbukaan ini juga mendorong inovasi, karena mencegah terjadinya duplikasi usaha yang sama. Karena mereka akan tahu apakah ada pihak lain yang telah melakukan hal yang sama. Dengan cara ini suatu inovasi akan memberikan inspirasi pada inovasi yang lain. Bukan terjadi reinvention, yang banyak terjadi di dunia Closed Source.
Pengembagan perangkat lunak memiliki kemiripan pola dengan perkembangan teori matematik (Lang, 1998). Sains dan matematika khususnya biasanya sangat tidak cocok dengan hal yang ``rahasia'' dan adanya keterbatasan yang biasanya banyak dijumpai di pengembangan perangkat lunak komersial. Spesifikasi yang baik dan produk yang handal hanya dapat disusun melalui proses perlahan dan melalui proses sosial yang terbuka yang melibatkan ealuasi, pembandingan, dan kerja sama. Sehingga tidak mengherankan bila Linux walau jauh lebih muda dari Windows NT dalam pengembangannya telah mencapai tingkat kualitas yang lebih baik. Sehingga menimbulkan pertanyaan pada pola pengembangan klasik dari perangkat lunak.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5 Mengatasi hambatan pada aspek hukum dengan Open Source
Makin populer dan diterimanya Open Source pada pulbik menjadikan ``kerahasiaan produk'' dan ``kepemilikan produk'' mendapat definisi dan cara interpretasi baru. Bila sebelumnya orang banyak menganggap bahwa source code dari suatu program adalah ``suatu hal yang harus dijaga kerahasiaannya'' kini pendapat tersebut menjadi bergeser. Beragam lisensi menjadikan definisi ``membajak'', ``melanggar hak cipta'', harus mulai dipertanyakan kembali. Bagaimana suatu software dapat dikatakan dibajak, bila software tersebut telah diberikan secara bebas sejak awal ? Istilah pembajakan (piracy) menjadi kurang bermakna, mungkin yang lebih tepat adalah penyalinan tidak sah (non authorized copy).
5.1 Implikasi Open Source pada hukum
Hukum kepemilikan intelektual (intellectual property) yang meliputi copyright, patent, dan hukum tentang trade secret, bertujuan untuk melindungi pekerjaan yang tak kasat mata (intangible works), seperti hasil karya seni, ilmiah, atau aktifitas lainnya. Awal tahun 1970-an software diyakini ``tidak dilindungi oleh hukum intelectual property''. US Patent and Trademark Office secara umum tidak menyetujui patent software hingga awal tahun 1990.
Pada tahun 1976, Copyright Act menambahkan proteksi karya cipta ke program komputer dengan mendefinsikan bahwa suatu program komputer, adalah :
``suatu kumpulan perintah yang digunakan secara langsung atau tidak langung pada satu komputer untuk memberikan hasil tertentu''.
Untuk itulah sistem operasi sendiri pada saat itu tidak termasuk perangkat lunak yang dapat dilindungi hukum ini. Barulah pada tahun 1976 dan 1980 hal itu berubah setelah adanya ``amandement to the Copyright''. Barulah awal 1980-an beberapa keputusan pengadilan meluaskan jangkauan perlindungan hak cipta untuk software komputer, diantaranya kasus Franklin Computer Corporation vs Apple. Sehingga perlindungan hak cipta perangkat lunak meliuputi, sistem operasi, object code, source code, microcode, program structure, sequence, organization dan juga look and feel. (Graham, 1999).
Software proprietary (sebagian besar software), didistribusikan dengan suatu persyaratan, yang melarang dilakukannya, pengkopian, pendistribusian ulang anpa izin perusahaan pembuat perangkat lunak tersebut. Biasanya perangkat lunak ini dibuat oleh suatu kelompok kecil programmer pada suatu perushaan tertentu, yang biasanya bekerja dengan tekanan batas waktu tertentu. Mereka menyelesaikan program dan mencoba menghilangkan kesalahan yang mungkin timbul pada program tersebut. Akan tetapi biasanya tetap ada kesalahan yang terikut sertakan para produk. Membeli produk komersial seperti halnya menjadi ``tester sukarela'', tetapi tanpa kemungkinan memperbaiki, karena linsesi mencegah pengguna untuk memperbaikinya.
Software yang bersifat proprietary dilindungi oleh UU hak cipta. Pada awalnya hak cipta ini digunakan untuk melindungi dan memberikan balas jasa kepada kreatifitas sesorang pada media cetak dalam kepentingan untuk membuatnya dapat digunakan oleh publik secara luas. Akan tetapi seringkali copyrigth ini digsalah gunakan sebagai suatu hak untuk membatasi dan mengatur kreatfitas dalam upaya menekan kompetisi di pasar. Pembuat dapat membatasi orang untuk melakukan pengubahan produk agar sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna ``dipaksa'' menerima ketidak sesuaian ini tanpa adanya daya untuk mengubahnya atau menghilankan kesalahan ini.
Seringkali patent dan hak cipta digunakan secara semena-mena, sehingga malah melindungi pribadi (bukannya untuk kepentingan publik), dan malah tidak menghargai standard yang bersifat terbuka yang telah diakui oleh industri, melalukan kendali pada interface yang ada, dan melakukan monopoli pada herahasisaan , dan membuat halangan yang besar untuk kemajuan ekononmi, dan teknologi untuk menghasilkan lapangan pekerjaan yang baru (Lang. 1998). Pada saat ini hukum paten dan hak cipta relatif dikendalikan oleh para konglomerat besar, dan sangat berbeda dengan semangat untuk melindungi kepentingan publik seperti ketika pertama kali hukum ini dicetuskan.
Perangkat lunak Open Source memungkinkan hal sebaliknya. Kemungkinan melihat ke source code adalah suatu elemen penting pada open source. Dari sisi hukum Linux adalah ``free''. Perkembangan Open Source ini menunjukkan keterbatasan konsep copyright yang ada saat ini, yang tidak mengenali insentif bentulk lain dari ekspresi seni atau kreatifitas. Pengakuran oleh masyarakat dan prestige yang ada pada komunitas gift culture tidak dihargai dalam kerangka hukum copyright yang lama. Sehingga dibutuhkannya dikembangkan pola hukun yang melindungi motivasi ini pada masyarakat dan mengakuinya dari titik pandang hukum.
Hal positif lain dipandang dari sisi hukum dari penggunaan Open Source ini, adalah mencegah adanya ``kerahasiaan penyelewangan protokol standard untuk kepentingan monopoli pasar (decomoditizing protocol)''. Sebab pada proprietary software penyelewangan ini dengan mudah disembunyikan dalam code yang tak dapat dievaluasi oleh orang banyak (Stoltz, 1999).
Lebih jauh lagi ternyata Open Source memberikan dampak kepada cara pandang dan praktek hukum secara luas. Hal ini ditunjukkan oleh suatu inisiatif yang dilakukan oleh Profesor Lawrence Lessing dari Harvard Law School (Kriz, 1999). Dengan diinspirasikan proses peer-review secara terbuka, maka hal yang sama dapat pula digunakan dalam proses pelaksanaan hukum. Ini yang dikenal dengan inisiatif Open Law,.Cara yang diinspirasikan oleh pengembangan secara Open Source ini dicoba diterapkan pada kasus Eldred vs Reno. Langkah ini didukung oleh mahasiswa dari Harvard dan Intellectual Property Clinic di Universiy of California at Berkeley's Boalt Hall Scholl of Law. yang juga didukung oleh Berkman Center for Internet and Society. Menurut para ahli hukum hal ini memberikan dampak konsitutisional yang cukup luas.
5.2 Definisi Open Source
Tujuan dari definisi Open Source adalah untuk melindungi proses Open Source dan menjamin bahwa perangkat lunak yang didistribusikan dengan menggunakan lisensi open source akan tersedia untuk peer review secara bebas, dan secara kontinyu mengalami perbaikan secara evolusi, seleksi dan mencapai suatu tingkat kehandalan serta menjaga kemungkinan menjadi produk yang closed source. Lisensi ini harus menjamin mencegah orang mengunci software sehingga hanya orang tertentu yang dapat membaca source code dan memodifikasinya. Definisi ini bukan perangkat untuk mengumpulkan biaya lisensi. Penggunaan merk ini bebas dan tetap bebas bagi siapapun yang memenuhi persyaratan. Definisi Open Source sendiri bukanlah lisensi, dan tidak dimaksud sebagai dokumen bernilai hukum (legal document). Untuk menjadi Open Source semua syarat dalam definisi Open Source harus dipenuhi bersama pada semua kaseadaan.
Open Source sendiri menjamin hak untuk (Perens, 1999):
· Untuk membuat salinan program, dan mendistribusikan program tersebut
· Untuk mengakses source code, sebelum melakukan perubahan
· Melakukan perbaikan pada program
Definisi di bawah ini mengacu pada The Open Source Definition Version 1.3. yang awalnya ditulis oleh Bruce Perens dan dikenal sebagai `The Debian Free Software Guidelines', setelah diperbaiki dan batasan yang spesifik terhadap Debian dihilangkan maka diperkenalkan sebagai Open Source Definition. Berikut ini disertakan tulisan asli definisi Open Source dan penjelasan singkat.
1. Free Redistribution
The license may not restrict any party from selling or giving away the software as a component of an aggregate software distribution containing programs from several different sources. The license may not require a royalty or other fee for such sale.
Ini berarti orang boleh membuat salinan tak terbatas, menjual atau memberikan bebas, dan pengguna tak perlu membayar untuk melakukan hal tersebut. Dengan membatasi lisensi ini sehingga membutuhkan kebebasan mendistribusikan ulang, maka dicegah kemungkinan orang untuk mengambil keuntungan singkat dari penjualan yang berdasarkan usaha yang dilakukan orang dalam waktu lama.
2. Source Code
The program must include source code, and must allow distribution in source code as well as compiled form. Where some form of a product is not distributed with source code, there must be a well-publicized means of downloading the source code, without charge, via the Internet. The source code must be the preferred form in which a programmer would modify the program. Deliberately obfuscated source code is not allowed. Intermediate forms such as the output of a preprocessor or translator are not allowed.
Jelas pengaksesan source code menjadi syarat utama, sebab program tak dapat berevolusi bila tidak dimodifikasi. Karena tujuan dari Open Source membuat agar evolusi berlangsung mudah, maka dibutuhkan modifikasi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan tersedianya source code. Source code adalah syarat utama untuk melakukan modifikasi atau perbaikan. Tujuan dari klausa ini adalah agar source code didistribusikan dalam bentuk awal dan pekerjaan yang diturunkan darinya.
3. Derived Works
The license must allow modifications and derived works, and must allow them to be distributed under the same terms as the license of the original software.
Hanya keberadaan source code saja tidak cukup untuk mendorong peer review dan seleksi evolusi secara cepat. Agar terciptanya evolusi yang cepat, orang harus dapat mencoba dengan dan meredistribusi modifikasi yang dilakukannya.
Software akan berkurang manfaatnya bila tidak dapat dirawat, misal untuk memperbaiki bug, memport ke sistem baru, membuat perbaikan, dan melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal. Tujuan dari klausa ini bertujuan agar segala bentuk modifikasi diperbolehkan. Harus diijinkan melakukan pekerjaan modifikasi dan didistribusikan dengan lisensi seperti pekerjaan aslinya. Tetapi tidak disyaratkan bahwa semua jenis hasil kerja turunan harus menggunakan lisensi yang sama. Ini bergantung pada jenis lisensi yang digunakan, BSD memungkinkan hal tersebut, tetapi GPL tidak.
4. Integrity of The Author's Source Code.
The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of "patch files" with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software.
Mendorong dilakukannya banyak perbaikan adalah hal yang baik, tetapi pengguna harus memiliki hak untuk mengetahui siapa yang bertanggung-jawab terhadap program yang mereka gunakan. Penulis software dan perawat memiliki hak yang sama untuk menjaga reputasi mereka. Lisensi open source harus menjamin ketersediaan source code,yang memungkinkan perbaikan dengan menggunakan patch. Dengan cara ini perubahan ``tidak remsi'' dapat dilakukan tetapi tetap dapat dibedakan dengan hasil karya utama.
5. No Discrimination Against Persons or Groups.
The license must not discriminate against any person or group of persons.
Agar mendapatkan keuntungan maksimum dari proses open source, maka kemajemukan dari pengguna, dan kelompok pengguna harus diusahakan tercapai, sehingga setiap orang atau kelompok memiliki hak yang sama untuk melakukan kontribusi pada open source. Dengan cara ini lisensi open source mencegah dilarangnya seseorang untuk terlibat dalam proses. Sehingga tidak bisa dilakukan pelarangan berdasarkan sentimen politis, ataupun juga berdasarkan perkiraaan keinginan mereka untuk menggunakan program tersebut.
6. No Discrimination Against Fields of Endeavor.
The license must not restrict anyone from making use of the program in a specific field of endeavor. For example, it may not restrict the program from being used in a business, or from being used for genetic research.
Hal utama dari klausa ini adalah tetap adanya kemungkinan open source digunakan secara komersial. Diinginkan agar dunia komersial juga bergabung dengan komunitas Open Source sehingga tidak merasa dikucilkan. Oleh sebab itu dibuat tidak ada keterbatasan penggunaan Open Source untuk dunia bisnis atau pun untuk kegunaan lainnya.
7. Distribution of License.
The rights attached to the program must apply to all to whom the program is redistributed without the need for execution of an additional license by those parties.
Lisensi ini bersifat otomatis, jadi tidak membutuhkan tanda tangan, jadi berbeda dengan perjanjian seperti pada non-disclosure aggreement. Memang ini masih dipertanyakan pada beberapa pengadilan. Akan tetapi mengingat makin umumnya Open Source hal ini akan berubah di kemudian hari. Beberapa pihak menganggap bahwa lisensi adalah bagian dari perjanjian kontrak, dan ada yang berpendapat sebagai pernjanjian hak cipta.
8. License Must Not Be Specific to a Product.
The rights attached to the program must not depend on the program's being part of a particular software distribution. If the program is extracted from that distribution and used or distributed within the terms of the program's license, all parties to whom the program is redistributed should have the same rights as those that are granted in conjunction with the original software distribution.
Ini berarti tak ada pembatasan suatu produk yang dinyatakan sebagai Open Source menjadi bebas selama hanya menggunana merk distribusi tertentu saja. Program tersebut harus tetap bebas jika dipisahkan dari program distribusi yang menyertainya.
9. License Must Not Contaminate Other Software.
The license must not place restrictions on other software that is distributed along with the licensed software. For example, the license must not insist that all other programs distributed on the same medium must be open-source software.
Pada model Open Source suatu lisensi tidak bisa mensyaratkan agar diletakkan bersama-sama dengan program dengan lisensi tertentu. Harus dibedakan antara prinsip ``derivation'' dan ``aggregation''. Derivation terjadi ketika suatu program memasukkan program lain ke dalamnya program tersebut. Aggretation terjadi ketika suatu program menyertakan program lain dalam suatu media yang sama (misal pada CD ROM). Klausa ini membahasa permasalah aggregation bukan derivation, derivation dibahas pada klausa nomor empat.
10. Conforming Licenses and Certification.
Any software that uses licenses that are certified conformant to the Open Source Definition may use the Open Source trademark, as may software explicitly placed in the public domain. No other license or software is certified to use the Open Source trademark.
Klausa ini dijelaskan pada sub bab berikutnya.
5.3 Lisensi Open Source
Suatu kesalah-pahaman yang masih timbul pada masyarakat luas adalah pengertian bahwa free software adalah public domain (Perens, 1999). Suatu program public domain adalah program, yang penulisnya menyerahkan hak ciptanya (copyright) kepada publik. Dengan demikian siapapun dapat melakukan apapun terhadap program yang bersifat public domain. Bahkan dapat mengubah lisensi dari public domain menjadi komersial, mengubah nama penulis dan sebagainya. Perlu diketahui proram yang memiliki copyright adalah hak milik pemegang copyright. Suatu program memberikan beberapa hak kepada penggunanya bergantung lisensi yang diterapkan.
Beberapa contoh a lisensi yang memenuhi Open Source Definition adalah
· The GNU GPL, GNU General Public License. Bertujuan untuk membatasi kemungkinan developer dapat menjadikan software yang memiliki lisensi ini menjadi produk komersial yang tak memberikan kontribusi balik kepada ke komunitas. GPL ini menggunakan Copyright untuk menjamin agar program tetap ``free'' dibawah lisensi GPL. Setiap orang boleh mengcopy, mendistirbusi dan memodifikasikannya. Akan tetapi setiap distribusi dari softaware yang termodifikasi harus dengan GPL juga.
· The LGPL, Library GNU GPL
· The BSD license, Berkeley Software Distribution License. Lisensi relativ memiliki lebih sedikit kterbatasn pada apa yang boleh dilakuakn oleh developer. termasuk boleh membuat produk turunan yang bersifat proprietary.
· The X Consortium license, yang digunakan oleh distribusi X Window. Lisensi ini juga hampir membolehkan modifikasi apapun.
· The Artistic, yang digunakan oleh Perl. memodifikasi beberapa aspek yang bersifat kontroversial pada GPL. Lisensi ini melarang penjualan perangkat lunak, tetapi membolehkan penyertaan program lain yang dijual.
· The MPL and , Mozilla Public License, yang digunakan oleh Netscape ketika melepaskan source code browser Netscape. Juga membolehkan para developer untuk membuat karya derivatif yang bersifat proprietary.
· The QPL, Q Public license, yang digunakan Troll Tech ketika melepaskan library Q.
Lisensi Dapat dicampur dengan software non free Modifikasi dapat dilakukan secara privat dan hasilnya tidak dikembalikan ke publik Dapat dilakukan relisensi oleh siapapun Memberikan hak khusus kepada pemegang copy right awal atas modifikasi yang dilakukan
GPL Ya
LGPL Ya
BSD Ya Ya
NPL Ya Ya Ya
MPL Ya Ya
Public Domain Ya Ya Ya
Lisensi-lisensi tersebut memiliki perbedaan pada hak redistribusi, modifikasi dan beberapa hak minor lainnya. Bagi pihak yangtertarik ingin mengetahui apakah lisensi yang dibuatnya dapat memenuhi kriteria Open Source, cukup dilakukan dengan cara menulis email ke certification@opensource.org. Tetapi dengan cara melihat lisensi yang telah ada akan lebih mudah lagi, sebab proses review tidak perlu dilakukan.
5.4 Dampak pada hak cipta dan paten
Konsep dasar yang melatar-belakangi Hak atas kekayaan intelektual (HAKI), merk dan patent adalah untuk menyediakan suatu monopoli secara sah yang melindungi hasil usaha kreatif sebagai suatu bentuk insentif bagi orang untuk melaksanakan atau melanjutkan usaha kreatif tersebut. (Alsop, 1999). Konsep ini berdasarkan pandangan bahwa masyarakat tak termotivasi untuk menghasilkan sesuatu bila hasilnya dapat ditiru dengan bebas (pandangan ini memang timbul dari masyarakat ``West'').
Hukum ``copyright'' melindungi ekspresi fisis dari suatu ide, misal tulisan, musik, siaran, software, dan lain-lain. Hukum ``trademark'' melindungi nama dagang dan logo perusahaan. Hukum ``patent'' melindungi suatu pendemonstrasian suatu idea baru, sehingga nilai ``kebaruan'' tersebut dilindungi untuk tidak disalin secara tidak sah. Hukum ``copyright'' berevolusi di dunia ini sehingga hal apa yang dapt dilindungi. Hukum ``copyright'' ini memang tumbuh ketika proses penyalinan dapat dibatasi.
Pada saat ini, memang sulit untuk mencegah dilakukannya penyalinan tersebut. Sehingga usaha untuk menerapkan monopoli pada usaha kreatif menjadi tidak beralasan lagi. Pada era tahun 1980-1986 ketika perusahaan software sangat khawatir dengan masalah penyalinan ini, mereka memanfaatkan teknik proteski disk yang membuat orang sulit menyalin disk atau program. Tetapi hal ini menjadikan kustomer sulit dan program makin sulit digunakan. Setelah perusahaan perangkat lunak menyadari bahwa mereka tetap memperoleh keuntungan yang besar dari hal lain seperti, manual, service, dan pempelian perangkat lunak asli tetap tinggi, mereka meniadakan mekanisme proteksi penyalinan ini.
Secara umum memang tidak ada yang salah dengan konsep keterbukaan source code demi kepentingan publik pada Open Source ini. Sebab konsep hak cipta dan patent pun pada dasarnya diterapkan untuk melindungi kepentingan publik. Mengacu pada 1909 House of Representative yang menyertai Copyrigth Act (Cunard, 1995):
The enactment of copyrigth legislation by Congress under the terms of Consititution is note based upon any natural right that the author has in his writings, for the Supreme Court has held that such rigths as he has are purely statutory rights, but upon the ground that the welfare of the public will be served and progress of science and useful arts will be promoted.... Not primarily for the benefit of the author, but primarily for the benefit of the public, such rights are given. Not that any particular class of citizens, however, worthy, may benefit, but because the policy is believed to be for the benefit of the great body of people, in that it will stimulate writing and invention, to give some bonus to authors and inventors.
Hak intelektual, suatu sistem hukum yang memberikan dampak hasil penemuan dan kreatif dibatasi demi memberikan upah pada penciptanya, memberikan suatu pengaruh yang besar pada pasar, telah mengurangi pengadopsian suatu idea baru dan inovasi. Hukum paten memberikan keuntungan bagi para pencipta, akan tetapi sering dalam bentuk pembelian hak untuk menguasai siapa yang dapat menggunakan tekhnologi ini. Perusahaan besar cenderung lebih menerima manfaat daripada rakyat banyak. Perusahaan besar biasanya akan membatasi ini dan mengendorkannya pelan-pelan hingga investasi telah terbayar kembali.
Berdasarkan acuan di atas, maka proteksi terhadap penggunaan tanpa izin, reproduksi atau distribusi karya kreatif tidak akan bekerja untuk karya yang bersifat public domain. Begitu juga tak ada monopoli dapat diberikan berdasarkan prinsip kepentingan publik pada cuplikan di atas. Sebab pada hakekatnya peraturan hak cipta adalah bertujuan untuk kepentingan publik.
Karena Open Source ini tidak saja bisa diterapkan pada perangkat lunak (pada saat ini banyak buku atau terbitan yang sudah memberikan lisensi ala GPL), maka dunia penerbitan pun cepat atau lambat akan terkena imbasnya.
Dengan diinspirasikan oleh gerakan Open Source pada perangkat lunak, maka vendor perangkat keraspun sekaran mulai melakukan hal yang sama. Ini tampak dengan prakarsa Sun Microsystem untuk mengeluarkan secara terbuka spesifikasi prosesor terbarunya. Gerakan para vendor ini bernaung di bawah organisasi Open Hardware [www.openhardware.org]. Sama seperti pada Open Source, tujuan dari gerakan ini adalah kepentingan publik. Artinya publik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh apa yang terbaik dari yang mereka bayarkan. Di samping juga untuk mempercepat proses penemuan kesalahan dan pengembangan perangkat keras. Sebagai contoh akibat dari ketertutupan rancangan hardware ini adalah, error yang terjadi pada Pentium II. Bug pada Pentium II ditemukan oleh pengguna, bukan perancang sistem. Bukankah error-error semacam ini akan lebih mudah ditemukan apabila detail dari disain terbuka untuk diuji masyarakat luas ? Sebab yang akan menanggung akibat dari produk yang memiliki error adalah masyarakat.
Model Linux ini cenderung akan mengurangi keterlibatan hukum pada tingkat kepemilikan hak cipta. Terjadi pergeseran pada pandangan hukumnya. Dengan Linux ini kepemilikan perangkat lunak menjadi kurang penting, sedangkan layanan menjadi bagian yang lebih penting. Sehngga diprediksikan pengaruh popularitas Linux menjadikan mengurangi kebutuhan penasehat hukum bidang hak cipta, tetapi akan meningkatkan kebutuhan para penasehat hukum bidang kontrak. (Slind-Floor, 1999). Pergeseran dari penjualan produk menjadi pemberian layanan, juga menjadikan perubaan cara pandang terhadap perhitungan “damage” pada bisnis, yang biasanya terhitung dari “lost royalties” akan berubah menjadi “lost profit”, misal kehilangan kontrak service seperti dukungan teknis.
Salah satu contoh menarik dari perubahan pandangan hukum yang makin menjadi berpihak pada kepentingan publik, bukannya pada kepentingan pengembang teknologi adalah kemungkinan timbulnya “class action” dari para pengguna yang merasa dirugikan karena kebijaksanaan produsen. Sebagai contoh adalah kasus pengguna komputer yang menghendaki pengembalian uang pembelian (lebih dikenal dengan Windows Refund). Tampaknya posisi penasehat hukum pada kerangka bisnis Open Source ini akan menjadi lebih kepada public-interest lawyer.
Pandangan konvensional bahwa, orang wajar memperoleh uang dari kepemilikan hak cipta sebagai insentif untuk inovasinya menjadi tidak ada tempatnya dalam kerangka Open Source. Pada awal terbitnya virtual realitiy, e-commerce, dan infomrasi digital, bukankah sudah saatnya mempertanyakan kembali cara perlindungan atas usaha kreatif yang selama ini dilaksanakan melalui asumsi monopoli tersebut ?. Memang sebagian besar penasehat hukum (terutama di Indonesia) masih belum menanggapi dengan perubahan cara pandang ini.
Pergeseran pandangan terhadap nilai hukum dari suatu “source code” pun telah terjadi. Bahkan secara ekstreem beberapa orang telah mulai menghubungkan kebebasan terhadap source code ini setara dengan kebebasan berbicara. Dalam hal ini mereka menerapkan pendekatan semiotics pada source code tersebut. Memang perkembangan dari sisi hukum terhadap pola pandang yang cenderung filosofis ini akan masih sulit diterima oleh pihak praktisi hukum yang cenderung melakukan pandangan pragmatis. (Hannibal, 1999).
5.5 Pembajakan di Indonesia
Seperti telah ketahuai bahwa pembajakan (lebih tepatnya penyalinan tidak sah) begitu umum dilakukan di negara berkembang seperti halnya Indonesia. Dengan keberadaan produk Open Source yang sah untuk disalin maka menjadikan “saingan” bagi perangkat lunak bajakan ini. Di lain pihak ketersediaan program bajakan ini merupakan keuntungan sampingan bagi perusahaan seperti Microsoft, karena membantu mempopolerkan penggunaan Windows secara tidak langsung (IEEE Software, Januari 1999).
Software sendiri pada saat ini bisa dikatakan makin mahal, sebagai gambaan suatu sistem operasi Windows akan seharga US$55 untuk setiap mesin dan Windows NT akan seharga $500 untuk tiap mesin. Sehingga bila dibutuhkan instalasi pada 20 mesin harga tersebut sudah tidak bisa diabaikan lagi. Pola discount memang tersedia tetapi biasanya mengakibatkan monopoli lokal oleh vendor tersebut. Karena sebagian besar orang di negara berkembang tidak mampu membayar biaya sesungguhnya untuk perangkat lunak maka terjadilah praktek pembajakan ini.
Pembajakan adalah suatu langkah pilihan apabila ingin menggunakan perangkat lunak tersebut. Hal tersebut ditemui di sebagian besar negar
By Uli Ni'matul Khasanah on May 3, 2008
GNU/Linux pembuka jalan desentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika kita membicarakaan tentang sentralisasi pengembangan teknologi, sebagian besar pembicaraan hanyalah terfokus pada tingkat nasional. Dalam arti hubungan pusat Jakarta dengan daerah. Pada tulisan ini dibicarakan mengenai desentralisasi dalam arti luas yang sesuai dengan kondisi yang makin menuju globalisasi. Seperti dipahami seringkali pengembangan teknologi informasi mengalami hambatan dikarenakan dikuasainya suatu teknologi oleh suatu institusi tunggal. Kejadian ini ditunjukkan dengan fakta bahwa pengembangan perangkat lunak yang relatif sangat didikte oleh sebuah perusahaan penyedia perangkat lunak besar. GNU/Linux dengan prinsip Open Source dapat dimanfaatkan sebagai suatu framework untuk mengembangkan teknologi informasi secara desentralisasi. Di samping itu Open Source menimbulkan dampak pada model lisensi dan pengakuan hak cipta, serta memberikan suatu kemungkinan model bisnis baru. Pemanfaatan Open Sourc e di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mendorong desentralisasi pengembangan teknologi informasi.
-Pengembangan Teknologi Informasi
Sentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika berbicara mengenai sentralisasi seringkali kita lebih memfokuskan diri pada aspek antara pusat dan daerah. Seringkali kita melupakan aspek sentralisasi dalam kajian global.
Diambil kutipan dari wawancara Alan Cox pada http://www.plcom.net/news/top_stories/linux/articles/990726.php3.
Q: One of the beautiful things about Linux is its international flavour. Linus Torvalds is from Finland, you’re from Britain. It’s not California -centric, as so much software is. How important is this to the Linux community, and Linux users?
A: It’s very, very important to a lot of countries, especially Third World countries, because American software is expensive. With Linux, developing nations can download the operating system, modify it to suit their needs, make copies, and no money flows out of the country.
- Barrier untuk mengembangkan teknologi informasi
Salah satu barrier atau hambatan yang cukup dirasakan bagi pengembangan teknologi informasi antara lain:
· Masih dikuasainya hak pengembangan dan modifikasi perangkat lunak oleh vendor besar. Sehingga para konsumen ataupun calon pengembang haruslah melewati jalur yang panjang dan membutuhkan biaya tinggi untuk menjadi solution provider di dunia Teknologi Informasi. Biaya ini sangat membebani untuk keperluan investasi awal, dan produksi selanjutnya.
· Biaya perangkat lunak yang digunakan untuk mengembangkan produk teknologi informasi masihlah sangat tinggi, misal harga sistem operasi, harga kompiler, harga development tool. Di tambah biaya komponen perangkat lunak yang mau tidak mau dimasukkan ke dalam produk jadi. Sebagai contoh misal membangun suatu sistem Point of Sale (POS) yang berbasiskan sistem operasi komersial, mau tidak mau komponen harga sistem operasi tersebut akan dimasukkan ke dalam harga akhir dari perangkat POS yang dikembangkan tersebut.
· Biaya memperoleh informasi pendukung yang tersedia yang sangat dibutuhkan oleh developer. Hal ini lazim dikenal sebagai Developer Network Subscription Fee. Sehingga apabila kita ingin menjadi pengembang teknologi informasi, agar dapat dilakukan akses kepada informasi-informasi penting biaya ini haruslah diperhitungkan.
· Biaya pelatihan yang sangat tinggi agar memenuhi suatu syarat sertifikasi dari vendor sehingga dapat dipercaya untuk menjadi solution provider ataupun trainning provider.
Biaya-biaya atas jelas menghambat keinginan pengguna yang antusias terjun mejadi pengembang teknologi informasi yang handal dan dikenal dunia. Di samping itu juga penguasaan secara sentral hak akses kepada pasar, serta pengakuan kerja menjadikan para pengembang TI di Indonesia kurang terdengar kiprahnya di dunia internasional, karena harus melalui tahapan-tahapan memutar yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebelum akhirnya dapat menghasilkan suatu produk teknologi informasi.
Di samping barier finansial terdapat juga barier hukum yang mau tidak mau harus dipertimbangkan dalam mengembangkan teknologi informasi lokal. Sebagai contoh dikutipkan definisi PEMBAJAKAN menurut salah satu perusahaan perangkat lunak besar, Microsoft di Indonesia [ http://www.microsoft.com/indonesia/piracy/:
Anti-Piracy (Bahasa Indonesia)
Berbagai bentuk Pembajakan Piranti lunak:
1.Pemuatan Hard Disk (Hard Disk loading)
Terjadi saat penjual komputer memuat salinan program piranti lunak yang tidak sah ke hard disk komputer yang akan dibeli oleh konsumen, sebagai rangsangan bagi konsumen untuk membeli perangkat PC dari penjual tersebut. Penjual ini tidak menyediakan disket/CD-ROM asli, dokumentasi atau persetujuan lisensi, yang seharusnya diberikan bersama-sama dengan copy program yang legal. Dengan demikian konsumen tanpa mereka sadari menerima piranti lunak ilegal yang telah diinstal di Hard Disk.
2.Softlifting
Tejadi jika copy ekstra piranti lunak dibuat di dalam suatu lembaga untuk dipakai oleh karyawannya atau untuk dibawa pulang. Menukarkan disket/CD dengan rekan rekan di dalam maupun di luar perusahaan juga termasuk dalam kategori pembajakan ini.
3.Pemalsuan piranti lunak (Software counterfeiting)
Penggandaan ilegal seluruh paket p iranti lunak dan dijual dalam kemasan yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak asli. Bentuk lainn pembajakan ini adalah kompilasi berbagai judul piranti lunak tiruan yang dikemas dalam satu CD-ROM secara ilegal dan dipasarkan dengan nama yang berbeda. Berbeda dengan pelanggaran yang terjadi dalam perusahaan, pemalsu piranti lunak beroperasi murni untuk keuntungan, tanpa mengindahkan pemilik hak cipta produk yang dipalsukan.
4.Penyewaan piranti lunak
Dikenal tiga bentuk pembajakan melalui penyewaan piranti lunak : produk yang disewa untuk digunakan pada komputer di rumah atau di kantor penyewa; produk yang disewakan melalui mail order dan produk yang dimuat dalam komputer yang disewa untuk waktu terbatas.
5.Downloading ilegal melalui BBS/Internet
Terjadi melalui downloading piranti lunak sah melalui hubungan modem ke buletin elektronik adalah bentuk lain pembajakan. Pembajakan ini tidak sama dan jangan disalah artikan dengan penggunaan piranti lunak yang diberikan di public domain, ataupun fasilitas shareware yang digunakan bersama.
Dari batasan piracy di atas tampak bahwa pengguna yang ingin memanfaatkan program informasi untuk mengembangkan pemanfaatan teknoloogi informasi akan mengalami hambatan yang cukup besar. Hambatan tersebut dikarenakan dikuasainya hak pengembangan secara sentral oleh suatu institusi. Sehingga sulit sekali pelaku bisnis TI lokal untuk mengembangkan secara optimal kemampuannya tanpa melakukan pelanggaran hukum. Sebagai contoh :
· Dari point 1, jelas para penjual komputer yang ingin menjual komputer yang telah disertai dengan perangkat lunak (Pre-installed) akan mengalami hambatan yang cukup berarti. Apabila para penjual tersebut ingin menyertakan software asli yang terinstall pada sistem komputer tersebut, maka mau tidak mau dia harus membeli lisensi yang cukup berharga mahal (minimal 100 USD). Hal ini belum termasuk perangkat lunak aplikasi lainnya. Sehingga paling tidak untuk menyediakan jasa penjualan pre-installed haruslah disisihkan dana yang cukup tinggi yang akhirnya dibebankan ke para pembeli. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah dengan cara melakukan instalasi program “as-pal” (asli tapi palsu), jadi satu salinan program asli diinstal di banyak komputer yang dijual. Secara hukum dan etika hal ini tak dapat dibenarkan.
· Pemakaian bersama (biaya tinggi). Bagi suatu insitusi seperti sekolah, ataupun lembaga pemerintahan pembelian perangkat lunak untuk tiap komputer di institusi tersebut akan menyebabkan ongkos yang cukup tinggi untuk pembelian perangkat lunak. Hal ini menyebabkan banyak institusi mengambil jalan pintas dengan melakukan “pelanggaran” yaitu dengan membeli versi asli satu buah dan menggunakan banyak salinannya di komputer laionnya. Jelas secara etika hal ini tak dapat dibenarkan (Wiryana, 1998).
· Praktek penggandaan program secara ilegal banyak sekali dijumpai di Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pada peringkat atas pembajak. Hal ini menimbulkan image yang kurang baik bagi dunia Teknologi Informasi.
· Pada point berikutnya, hal ini sering dilakukan secara tidak sadar. Sebagai contoh pada Warung Internet, ataupun penyedia jasa layanan penyewaan perangkat komputer yang sering dijumpai di sekitar kampus. Secara tidak sadar, walaupun program yang digunakan adalah asli tetap merupakan pembajakan, karena termasuk “menyewakan” perangkat lunak.
Dari contoh di atas, jelas adanya keterbatasan pemanfaatan dari perangkat lunak baik digunakan untuk keperluan sehari-hari ataupun untuk digunakan sebagai alat produksi. Sekarang bagaimana cara mengatasi hal tersebut agar kita dapat menghilangkan timbulnya praktek pelanggaran hukum ini. Pilihan yang ada adalah :
· Membeli perangkat lunak asli dan menggunakannya sesuai dengan batas yang ada dan tertera pada lisensi perangkat lunak tersebut. Hal ini jelas berdampak pada biaya yang tidak sedikit dan hal ini nampaknya sangatlah kurang bijaksana pada situasi ekonomi saat ini.
· Memanfaatkan program Open Source yang memberikan keleluasan tanpa harus melanggar hukum. Hal ini dimungkinkan karena program Open Soure memungkinkan pengguna memperbanyak ataupun mengubah program sesuai dengan yang diinginkannya.
Di samping faktor ekonomi dan hukum ternyata Open Source menimbulkan beberapa faktor-faktor non teknis yang disebabkan gaya pengembanganyannya.
3 Era keterbukaan telah tiba : Open Source
Salah satu contoh keberhasilan dan yang menjadikan Open Source menjadi perhatian dunia pada saat ini, adalah fenomena GNU/Linux, suatu sistem operasi yang dapat dikatakan berkembang dengan pola Open Source. Internet pun dapat dikatakan berkembang dalam kerangka kerja ala Open Source pula. Program-program yang menjalankan Internet, aturan-aturan yang dikembangkan via Internet Engineer Task Force juga menerapkan ini.
Perkembangan Linux sendiri berciri “self organizing”, hal ini memberikan ilusi bagaikan suatu perusahaan besar tanpa dinding, tanpa pemegang saham, tanpa gaji, tanpa iklan dan tanpa pemasukan. Tetapi keberadaanya tak dapat diabaikan pada saat ini, bila Linux dihilangkan dari muka dunia, maka Internet dapat dipastikan tidak akan bekerja. Kemampuan evolusi dan adaptibilitas dan bantuan yang tersedia untuk pengguna memberikan suatu jaminan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan khusus pengguna.
Banyak pihak yang mengkhawatirkan, bahwa GNU/Linux ini tak berbeda dengan trend komputer lainnya, dengan kata lain mereka berpendapat bahwa hal itu adalah sekedar pergantian trend saja, saat ini yang populer Microsoft, dan mendatang Linux dan begitu seterusnya. Sehingga tidak ada hal perbedaan essential yang dibawa oleh Open Source. Bahkan masih banyak pihak yang berpendapat atau memperoleh kesan bahwa GNU/Linux ini adalah suatu produk Amerika dari suatu perusahaan seperti Linux Inc. Masih sedikit pihak di Indonesia yang menyadari bahwa adanya perbedaan yang sangat krusial, bahwa GNU/Linux memakai prinsip “Open Source” yang memiliki implikasi yang sangat berbeda dalam tatanan hak cipta, dan dorongan sosial.
Sebagai akibat dari fenomena bahwa setiap tool yang digunakan akan merubah tata cara pandang si pengguna tersebut terhadap suatu permasalahan., ternyata Open Source menimbulkan beberapa dampak pendorong yang dapat membawa ke perubahan cara pandang pada masyarakat luas. Dengan adanya perbedaan motivasi dan perubahan attide pada pelaku Open Source maka adanya suatu kemungkinan untuk digunakan sebagai “pendorong” terciptanya pemikiran yang lebih baik pada masyarakat luas. Open Source membawa “attitude” seperti “peer review, pengakuan karya cipta, maka akan mendorong si pengguna memiliki attitude yang baik.
Sebetulnya pola Open Source ini bukanlah hal yang baru, Pada tahun 1960-an semua perangkat lunak dapat dikatakan “open-source”. Komputer yang dijual (pada saat itu sebagian besar adalah IBM) selalu disertai dengan source code. Pada era tersebut perkembangan komputer dan sains oleh para saintist melalui penggunaan bersama source code secara bebas. Pada tahun 1970-an ketika para individu dan perusahaann mulai menggunakan program untuk beragam kebutuhan, software berubah menjadi bersifat proprietary. Pada saat itu mulai disadari keuntungan bisnis yang diakibatkan oleh monopoli source code yang dilakukan dengan cara membatasi orang untuk memiliki source code dengan kata lain penguasaan source code menjadi memiliki nilai ekonomi. Walau pada tahun 1983 Richard Stallman berusaha mempopulerkan lagi kebersamaan antar pengembang perangkat lunak dengan Free Software Fundationnya (FSF) tetapi usaha ini belum begitu berhasil. Walau begitu hingga saat ini FSF tetap memainkan peranan penting pada perkembangan Open Source. Barulah dengan perkembangan Linux pola Open Source ini mulai diperhitungkan orang kembali, hingga Netscape pun melepas source code dari browsernya.
Perkembangan Unix sendiripun memanfaatkan proses peer review ini. (Darwin dan Collyer, 1984). Sebuah buku yang dikeluarkan oleh Lion pada tahun 1976 yang berisi source code Unix dan komentarnya menjadikan sumber acuan informasi bagi para pengembang komputer pada saat itu. Dokumentasi Unix sendiri merupakan sumber informasi yang baik, tertulis dalam bentuk yang konsisten, akurat dan langsung ke pokok permasalahan. Rata-rata para saat itu para programmer menulis program dan juga menulis dokumentasi. Dan secara biasa pengakuan sumbangan kerja selalu dilakukan kepada mereka yang telah memberikan idea, saran dan dukungan pada suatu proyek.
Dengan mekanisme yang serba terbuka ini, para developer didorong untuk menjadi terbuka dengan keterbatasan mereka (misal tertulis pada bagian BUGS pada manual). Penulisan bagian BUGS ini menunjukkan agar pengguna mengetahui keterbatasan program mereka, bukannya membiarkan pengguna menemukannya. Tidak seperti pada closed source model mereka cenderung tidak menyertakan daftar bugs yang ada.
Keinginan mereka berbagi source code tersebut adalah untuk menyesuaikan program tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan Usenet pun dibuat dengan tujuan untuk mempermudah mereka saling mendistribusikan source code, informasi yang terkait dan juga melakukan diskusi. Dapat dikatakan Internet pun dibangun oleh suatu komunitas yang terdiri dari developer bebas yang membangun perangkat bantu mereka agar dapat bekerja sama lebih baik dan lebih efektif.
Keterbukaan Unix dihentikan oleh AT&T yang menerapkan kebijakan lisensi. Terbukti kebijakan ini membawa perkembangan dunia komputer menjadi terhambat dan terjadi “reinvented the wheel”. Walaupun telah ada proposal untuk menjadikan Unix sebagai “sourceware” yaitu tersedia source code untuk masyarakat luas yang diajukan oleh McCoy pada tahun 1984 (McCoy, 1984). Tetapi hal itu tidak membawa perubahan lisensi. Keterbukaan ini menjadi terulang kembali dengan lahirnya Linux dan FreeBSD.
Internet Engineering Task Force (IETF) mendefiniskan suatu standard terbuka yang memungkinkan terciptanya dan beroperasinya internet. Sebagian besar pekerjaan dilakukan melalui mailing list. Setiap orang dapat bergabung dalam mailing list tersebut dan memberikan kontribusi. Tak ada yang memimpin untuk memberikan keputusan, bahkan voting relatif jarang dilakukan, yang ada hanyalah konsensus dan sistem yang dapat beroperasi dengan baik. Banyak sistem yang dibangun berdasarkan Open Source ini dan sekarang dapat dikatakan sebagai tulang punggung Internet.
GNU/Linux sendiri kini telah menjadi kesayangan para programmer berbakat di berbagai belahan dunia (Sanders, 1998). Konsep kerja sama pada Open Source makin menarik minat para programmer sedunia. Ditambah dengan makin menggejalanya konsep masyarakat virtual. Perkembangan masyarakat virtual pun tak terlepas dari semangat seperti kolaborasi secara sukarela seperti dalam Open Source ini, seperti yang ditunjukkan pada inisiatif Global Electronic Vilage, the Whole Electronic Link. (Rushkoff, 1994). Internet dan World Wide Web (WWW) juga berkembang dengan pesat sebagai suatu perkembangan dari jaringan untuk riset yang terbuka. Sukses keduanya tidak terlepas dari “kerelaan” orang yang membuatnya, dan semangat untuk saling berbagi. Teknologi ini tersedia secara bebas, dan kini mulai diambil alih sebagian oleh perusahaan besar (Lang, 1998). Jadi dari sudut pandang pengembangan sistem (system development) sejarah telah menunjukka bahwa Open Source ini sudah cukup teruji keefektifan dan keefisienannya sebagai suatu metode pengembangan sistem.
Kesuksesan pengembangan Internet menunjukkan bahwa pola Open Source yang membuat suatu bentukan “gift economy” telah mendorong inovasi secara cepat (Newman, 1999). Standardisasi yang dianut oleh Internet memungkinan beragam komputer melakukan penggunaan sumber daya secara bersama.
By Uli Ni'matul Khasanah (C1C006141) on May 3, 2008
Pengembangan Teknologi Informasi
- Sentralisasi pengembangan teknologi informasi
Ketika berbicara mengenai sentralisasi seringkali kita lebih memfokuskan diri pada aspek antara pusat dan daerah. Seringkali kita melupakan aspek sentralisasi dalam kajian global.
I Made Wiryana SSi, SKomp, MSc1
RVS Arbeitsgruppe - Universitaet Bielefeld
eprints.rclics.org
Ketika kita membicarakaan tentang sentralisasi pengembangan teknologi, sebagian besar pembicaraan hamnyalah terfokus pada tingkat nasional. Dalam arti hubungan pusat Jakarta dengan daerah. Pada tulisan ini dibicarakan mengenai desentralisasi dalam arti luas yang sesuai dengan kondisi yang makin menuju globalisasi. Seperti dipahami seringkali pengembangan teknologi informasi mengalami hambatan dikarenakan dikuasainya suatu teknologi oleh suatu institusi tunggal. Kejadian ini ditunjukkan dengan fakta bahwa pengembangan perangkat lunak yang relatif sangat didikte oleh sebuah perusahaan penyedia perangkat lunak besar. GNU/Linux dengan prinsip Open Source dapat dimanfaatkan sebagai suatu framework untuk mengembangkan teknologi informasi secara desentralisasi. Di samping itu Open Source menimbulkan dampak pada model lisensi dan pengakuan hak cipta, serta memberikan suatu kemungkinan model bisnis baru. Pemanfaatan Open Sourc e di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mendorong desentralisasi pengembangan teknologi informasi.
- Barrier untuk mengembangkan teknologi informasi
Salah satu barrier atau hambatan yang cukup dirasakan bagi pengembangan teknologi informasi antara lain:
· Masih dikuasainya hak pengembangan dan modifikasi perangkat lunak oleh vendor besar. Sehingga para konsumen ataupun calon pengembang haruslah melewati jalur yang panjang dan membutuhkan biaya tinggi untuk menjadi solution provider di dunia Teknologi Informasi. Biaya ini sangat membebani untuk keperluan investasi awal, dan produksi selanjutnya.
· Biaya perangkat lunak yang digunakan untuk mengembangkan produk teknologi informasi masihlah sangat tinggi, misal harga sistem operasi, harga kompiler, harga development tool. Di tambah biaya komponen perangkat lunak yang mau tidak mau dimasukkan ke dalam produk jadi. Sebagai contoh misal membangun suatu sistem Point of Sale (POS) yang berbasiskan sistem operasi komersial, mau tidak mau komponen harga sistem operasi tersebut akan dimasukkan ke dalam harga akhir dari perangkat POS yang dikembangkan tersebut.
· Biaya memperoleh informasi pendukung yang tersedia yang sangat dibutuhkan oleh developer. Hal ini lazim dikenal sebagai Developer Network Subscription Fee. Sehingga apabila kita ingin menjadi pengembang teknologi informasi, agar dapat dilakukan akses kepada informasi-informasi penting biaya ini haruslah diperhitungkan.
· Biaya pelatihan yang sangat tinggi agar memenuhi suatu syarat sertifikasi dari vendor sehingga dapat dipercaya untuk menjadi solution provider ataupun trainning provider.
Biaya-biaya atas jelas menghambat keinginan pengguna yang antusias terjun mejadi pengembang teknologi informasi yang handal dan dikenal dunia. Di samping itu juga penguasaan secara sentral hak akses kepada pasar, serta pengakuan kerja menjadikan para pengembang TI di Indonesia kurang terdengar kiprahnya di dunia internasional, karena harus melalui tahapan-tahapan memutar yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebelum akhirnya dapat menghasilkan suatu produk teknologi informasi.
Berbagai bentuk Pembajakan Piranti lunak:
1.Pemuatan Hard Disk (Hard Disk loading)
2.Softlifting
3.Pemalsuan piranti lunak (Software counterfeiting)
4.Penyewaan piranti lunak
5.Downloading ilegal melalui BBS/Internet
By Uli Ni'matul Khasanah (C1C006141) on May 3, 2008
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi.
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
Sumber: http://www.pratesis.com/knowledge/topic/detail.php?sessionid=&det_id=88
By PATRICIA APRILLINA W (C1C006107) on May 3, 2008
Peranan CIO Meningkat di Asia Tenggara
wartaegov.com ~ INOVASI di bidang teknologi informasi (TI) meningkat di Asia Tenggara dan lebih maju dibandingkan Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan Accenture, konsultan manajemen, layanan teknologi dan pelaku alih daya dengan komitmen mengantarkan inovasi. Penelitiannya menunjukkan 60 persen dari para pemimpin TI telah diberikan tanggung jawab dalam menentukan kepentingan bisnis perusahaan selama dua tahun terakhir. sumberdaya manusia
Analisa tersebut merupakan penelitian terhadap 48 CIO (chief information officer) dan CTO (chief technology officer) di Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian global accenture terhadap 500 CIO dari perusahaan publik maupun swasta di 22 negara. Penemuan kunci dari penelitian tersebut seperti Investasi dibidang inovasi sebaiknya berkaitan dengan tujuan-tujuan bisnis. Industrialialisasi TI saat ini hanya 36 dari manajemen aplikasi TI dipergunakan untuk menjalankan atau memperbaiki sistem yang ada. Sedangkan dua pertiga dari waktu yang ada dipergunakan untuk membangun atau meluncurkan aplikasi baru.
Penemuan lainnya seperti aplikasi dan integrasi TI, perusahaan di kawasan Asia Tenggara sangat lamban dalam memanfaatkan proses bisnis berbasis TI. Begitu juga dengan infrastruktur, perbaikan operasional mendominasi daripada aplikasi infrastruktur on demand dan yang lebih fleksibel. Untuk manajemen informasinya, para eksekutif dan karyawan membutuhkan waktu dan akses yang lebih banyak ke informasi bisnis penting. Untuk keterangan lebih lanjut dan untuk mendapatkan laporan keseluruhan silakan hubungi email: nia.s.atmojo@accenture.com/ 021 574 6575 ext 1403.
Sumber: http://www.egov-indonesia.org/index.php?name=News&file=article&sid=174
By PATRICIA APRILLINA W (C1C006107) on May 3, 2008
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BISNIS ( Menggunakan Blog dan Friendster)
Blog dan friendster adalah situs yang sering digunakan dewasa ini. Dalam penggunaannya, kedua situs ini memiliki fungsi yang berbeda. Dalam blog ( ex : blogger ) kita dapat menyampaikan apapun yang kita inginkan dan mengeluarkan apa yang kita miliki. Konten suatu blog menyampaikan pengetahuan atau pendapat kita tentang topik yang kita sukai sedangkan tampilan menunjukkan kemahiran kita dalam mengolah teknologi yang ada di dalamnya. Sedangkan friendsPEMANFAATANter menunjukkan koneksi kita.
Dari dua sarana kita dapat mengembangkan bisnis kita dengan dasar :
• Aset intelektual. Teknologi memudahkan proses perekaman dan distribusi aset intelektual sumber daya manusia organisasi. Memasuki era knowledge worker saat ini, teknologi sangat membantu meningkatkan nilai dari knowledge capital organisasi. Aplikasi dibidang ini masih sangat jarang diterapkan di Indonesia. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengandalkan sumber daya fisik/material dan belum sampai ke tingkat knowledge industry.
• Menghilangkan kendala geografis. Melalui jaringan komputer yang menghubungkan baik internal ( intranet ) maupun eksternal perusahaan ( internet ), koordinasi-komunikasi dan integrasi perusahaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efisien apabila kita bisa mengoptimalkan kedua situs tersebut bersamaan dengan intranet, hal ini bisa dilakukan juga oleh pemula dalam bisnis sebagai langkah awal dalam memulai usaha bisnis.
• Informasi dan analisis. Dalam usaha memulai bisnis kita memerlukan data dan informasi yang cukup. Oleh karena itu posisi informasi di sini sangat penting. Ditambah lagi dengan analisis yang sesuai untuk mengambil langkah terbaik dalam bisnis awal melalui kedua situs tersebut.
• Penelusuran (tracking). Mempermudah kita dalam mensurvei bagaimana memulai bisnis dengan baik.
• Disintermediasi. Komputerisasi dan jaringan komputer mampu menghilangkan mata rantai suatu proses yang secara logis tidak diperlukan lagi dalam proses bisnis.
• Sekuensial dan paralel. Urutan sebuah proses bisnis dapat diubah secara lebih fleksibel. Begitu pula proses kerja yang sebelumnya berurutan dapat dibuat menjadi paralel.
Sehingga dapat diketahui bahwa dari dasar – dasar yang disebutkan dapat dicoba bagaimana seseorang mangawali bisnis. Dalam hal ini memang tidak disebutkan langkah – langkah yang spesifik tapi hanya secara global.
Dalam bisnis menggunakan dua situs yang berkaitan dalam pembuatan dan penyebaran tersebut maka perlu penerapan cara yang efektif karena setiap hari kita dibanjiri oleh informasi tentang sebuah produk teknologi baru. Keterbukaan akses informasi makin memberi ruang untuk memilih bagaimana proses mengawali bisnis. Kemampuan dan pengalaman bisa menjadi bekal yang baik dalam memulai sebuah bisnis yang melibatkan kedua situs tersebut.
Jadi seseorang yang memulai bisnis awal apabila kesulitan dalam memasarkan produk bisa menggunakan kedua situs ini untuk mengoptimalkan pemasarannya sehingga proses bisnis menjadi lancar tanpa hambatan. Ditambah lagi seseorang harus berusaha mencari relasi yang banyak melalui dunia maya karena bisnis tidak akan berjalan tanpa relasi dan bisnis akan gagal bila tidak ada relasi yang mendukung. Alternatif untuk bisnis jangan kita cari dengan cara konvensional tetapi carilah dengan cara praktis dan menguntungkan yaitu menggunakan internet.
Sumber :http://dontmissit.wordpress.com/category/artikel-information-system/page/2/
( dengan berbagai perubahan )
By Ardhi Irawan Gunawan (C1C006082 ) on May 3, 2008
Sistem Bayar Pajak Online Diberlakukan
Sistem pembayaran pajak secara online mulai diberlakukan pemerintah DKI Jakarta. Dengan sistem ini efisiensi pajak diharapkan bisa ditingkatkan dan kepercayaan masyarakat terhadap administrasi pajak semakin bertambah.
“Masyarakat bisa menghitung dan menyetor sendiri pajaknya. Kami hanya memonitor,” kata Prijanto saat meluncurkan sistem online itu di Balai Kota. Diharapkan juga sistem ini mampu meminimalkan tingkat kebocoran. Seluruh mekanisme pembayaran dilakukan melalui Internet dan dimonitor oleh petugas Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).
Sayangnya, sementara ini tak semua wajib pajak bisa terlayani oleh sistem pembayaran online. Hanya pengusaha hotel, restoran, dan tempat hiburan yang bisa mengaksesnya. Jumlahnya pun tak lebih dari 31 wajib pajak.
Dari 31 wajib pajak yang bisa menggunakan sistem online, baru 4 di antaranya yang bersedia diuji coba. Mereka adalah perusahaan McDonald di Mall Taman Anggrek, Pizza Hut di Permata Hijau, Hotel Tropical di Jakarta Barat, dan Izzi Pizza di Jalan M.T. Haryono.
Sisanya memang menyatakan bersedia. Namun, mereka ragu karena khawatir dengan masalah keamanan. Mereka ragu apakah sistem baru itu benar-benar aman dan tak merusak jaringan sistem yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Secara keseluruhan, jumlah wajib pajak 2008 berjumlah 6.793 orang. Rinciannya, 770 wajib pajak hotel, 5.040 wajib pajak restoran, dan 983 wajib pajak hiburan. “Kalau banyak yang nggak mau, akan dibuat peraturan daerah agar ada sanksi,” kata Priyanto.
Karena itu, pemerintah mentargetkan Juni mendatang 31 wajib pajak tersebut sudah menggunakan sistem online. Apalagi pihak legislatif juga mendesak agar pola ini bisa segera diterapkan. Untuk meyakinkan 27 wajib pajak yang sudah bersedia tapi masih ragu, kata Priyanto, pemerintah akan memberikan paparan lebih lanjut dengan mengikutsertakan 4 wajib pajak yang sudah menerapkan sistem online ini.
Wakil Kepala Dispenda DKI Jakarta Rachmat Achyar mengatakan target pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun ini sebesar Rp 1, 454 triliun. Jumlah itu diperoleh dari pajak hotel Rp 625 miliar, pajak restoran Rp 610 miliar, dan pajak tempat hiburan Rp 219 miliar.
Menurut Priyanto, pengadaan sistem pembayaran online ini terhitung murah. “Mereka tinggal memasang Speedy saja.” katanya. Untuk memasang program, setiap 200 wajib pajak hanya menghabiskan dana Rp 1, 408 miliar per tahun. Sedangkan untuk pengadaan peralatan dan pengunduhan program sebesar Rp 417, 8 juta serta masukan dari wajib pajak Rp 1,636 miliar.
Sumber:http://www.ortax.org/ortax/?mod=berita&page=show&id=1837&q=&hlm=12
By Badra Indrayana (C1C005094) on May 3, 2008
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BISNIS ( Menggunakan Blog dan Friendster)
Blog dan friendster adalah situs yang sering digunakan dewasa ini. Dalam penggunaannya, kedua situs ini memiliki fungsi yang berbeda. Dalam blog ( ex : blogger ) kita dapat menyampaikan apapun yang kita inginkan dan mengeluarkan apa yang kita miliki. Konten suatu blog menyampaikan pengetahuan atau pendapat kita tentang topik yang kita sukai sedangkan tampilan menunjukkan kemahiran kita dalam mengolah teknologi yang ada di dalamnya. Sedangkan friendsPEMANFAATANter menunjukkan koneksi kita.
Dari dua sarana kita dapat mengembangkan bisnis kita dengan dasar :
• Aset intelektual. Teknologi memudahkan proses perekaman dan distribusi aset intelektual sumber daya manusia organisasi. Memasuki era knowledge worker saat ini, teknologi sangat membantu meningkatkan nilai dari knowledge capital organisasi. Aplikasi dibidang ini masih sangat jarang diterapkan di Indonesia. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengandalkan sumber daya fisik/material dan belum sampai ke tingkat knowledge industry.
• Menghilangkan kendala geografis. Melalui jaringan komputer yang menghubungkan baik internal ( intranet ) maupun eksternal perusahaan ( internet ), koordinasi-komunikasi dan integrasi perusahaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efisien apabila kita bisa mengoptimalkan kedua situs tersebut bersamaan dengan intranet, hal ini bisa dilakukan juga oleh pemula dalam bisnis sebagai langkah awal dalam memulai usaha bisnis.
• Informasi dan analisis. Dalam usaha memulai bisnis kita memerlukan data dan informasi yang cukup. Oleh karena itu posisi informasi di sini sangat penting. Ditambah lagi dengan analisis yang sesuai untuk mengambil langkah terbaik dalam bisnis awal melalui kedua situs tersebut.
• Penelusuran (tracking). Mempermudah kita dalam mensurvei bagaimana memulai bisnis dengan baik.
• Disintermediasi. Komputerisasi dan jaringan komputer mampu menghilangkan mata rantai suatu proses yang secara logis tidak diperlukan lagi dalam proses bisnis.
• Sekuensial dan paralel. Urutan sebuah proses bisnis dapat diubah secara lebih fleksibel. Begitu pula proses kerja yang sebelumnya berurutan dapat dibuat menjadi paralel.
Sehingga dapat diketahui bahwa dari dasar – dasar yang disebutkan dapat dicoba bagaimana seseorang mangawali bisnis. Dalam hal ini memang tidak disebutkan langkah – langkah yang spesifik tapi hanya secara global.
Dalam bisnis menggunakan dua situs yang berkaitan dalam pembuatan dan penyebaran tersebut maka perlu penerapan cara yang efektif karena setiap hari kita dibanjiri oleh informasi tentang sebuah produk teknologi baru. Keterbukaan akses informasi makin memberi ruang untuk memilih bagaimana proses mengawali bisnis. Kemampuan dan pengalaman bisa menjadi bekal yang baik dalam memulai sebuah bisnis yang melibatkan kedua situs tersebut.
Jadi seseorang yang memulai bisnis awal apabila kesulitan dalam memasarkan produk bisa menggunakan kedua situs ini untuk mengoptimalkan pemasarannya sehingga proses bisnis menjadi lancar tanpa hambatan. Ditambah lagi seseorang harus berusaha mencari relasi yang banyak melalui dunia maya karena bisnis tidak akan berjalan tanpa relasi dan bisnis akan gagal bila tidak ada relasi yang mendukung. Alternatif untuk bisnis jangan kita cari dengan cara konvensional tetapi carilah dengan cara praktis dan menguntungkan yaitu menggunakan internet.
Sumber :http://dontmissit.wordpress.com/category/artikel-information-system/page/2/
( dengan berbagai perubahan )
By Ardhi Irawan Gunawan (C1C006082 ) on May 3, 2008
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Nukman Luthfie, Pengamat Bisnis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
By SEPTIA NUR MAHARANI on May 3, 2008
PENTING / TIDAKNYA TEKNOLOGI INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN
Dewasa ini, banyak sekali orang berbicara mengenai peran dan kontribusi teknologi informasi (TI) di dunia bisnis. Namun dari hasil pengamatan, sebagian besar dari manajemen, terutama manajemen senior di berbagai perusahaan, masih meragukan kontribusi TI terhadap bisnis perusahaan mereka.
Bahkan tidak sedikit dari para eksekutif yang berpendapat bahwa TI hanya menghamburkan dana dan menjadi beban operasional yang besar. Ada apa dengan TI? Bukankah seharusnya TI menjadi senjata strategis untuk bersaing dan merebut pangsa pasar?
Bagaimana dengan kisah sukses keberhasilan penerapan TI dalam memenangkan persaingan usaha di berbagai perusahaan yang sampai saat ini masih didominasi oleh perusahaan asing atau multinasional?
Sebenarnya kalau kita pelajari masalah ini lebih dalam, ada sebuah isu strategis yang harus bisa dijawab sebelum melakukan investasi TI. Isu tersebut adalah bagaimana kita menerapkan strategi agar TI bisa menjadi senjata strategis perusahaan untuk memenangkan persaingan.
Dengan perkataan lain, apa yang harus dilakukan agar investasi TI bisa selaras dengan visi dan misi perusahaan? Disinilah konsep Strategi Pengembangan Teknologi Informasi (Strategi Pengembangan TI) perlu disusun.
Strategi Pengembangan TI merupakan sebuah IT Blueprint (Cetak Biru TI) yang menjadi landasan pengembangan dan penerapan TI di sebuah perusahaan.
Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah Cetak Biru TI? Peran sebuah Cetak Biru TI bisa dianalogiskan dengan arsitektur sebuah gedung yang akan dibangun.
Dalam membangun sebuah gedung tentu kita ingin agar fungsionalitas gedung dapat dikembangkan secara optimal. Bisa dibayangkan bagaimana sebuah gedung dibangun tanpa menggunakan arsitektur walaupun secara fisik hal tersebut bisa saja dilakukan.
Jadi, Cetak Biru TI merupakan sebuah arsitektur yang akan menjadi acuan pengembangan dan penerapan TI di sebuah perusahaan di mana komponen-komponen utama Cetak Biru TI tesebut adalah: rencana pengembangan aplikasi (portofolio aplikasi), rencana pengembangan infrastruktur TI, rencana pelatihan & pengembangan personil TI dan rencana investasi TI.
Dengan adanya Cetak Biru TI akan memudahkan para eksekutif terutama eksekutif senior untuk menilai layak tidaknya investasi TI di perusahaan mereka.
Diharapkan dengan menerapkan Cetak Biru TI tersebut, perusahaan-perusahaan terutama perusahaan di Indonesia bisa meraih manfaat yang sebesar-besarnya dari pengembangan dan penerapan TI untuk bersaing secara global.
Oleh Richard Kumaradjaja
Partner Binus Consulting dan Dosen Pascasarjana Universitas Bina Nusantara.
Bisnis.com
By Hersinta A. ( C1C005154 ) on May 3, 2008
PENERAPAN MULTI CHANNEL DELIVERY SYSTEM DI LIPPOBANK
LippoBank adalah salah satu bank yang menerapkan sistem informasi berbasis teknologi komputer dalam kegiatan operasionalnya seperti dalam pelayanan nasabah, kerjasama dengan perusahaan aliansinya, juga dalam pengolahan informasi intern (seperti informasi keuangan) dan informasi ekstern perusahaannya. Selain sistem komputer, sistem informasi LippoBank juga didukung oleh sistem komunikasi, sistem operasi, dan sistem pengamanan yang memadai.
Untuk mengevaluasi mengenai implementasi sistem informasi dan teknologi informasi di LippoBank dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu Internal Bisnis Proses, IT, dan people. Tiga komponen tersebut merupakan hal yang paling utama dalam suatu sistem informasi. Komponen pertama mengenai Internal Bisnis Proses, seperti di perusahaan perbankan lain pada umumnya LippoBank juga melakukan proses bisnis berkaitan mulai dengan penyimpanan uang nasabah sampai dengan melayani bermacam-macam transaksi yang dilakukan oleh nasabah baik pada bank maupun pada pihak ketiga yang menjadi mitra kerja LippoBank seperti Matahari Departement Store, Pizza Hut, PT. Unilever Indonesia, PT. Pos Indonesia, PT. Telekomunikasi Seluler, dan sebagainya. LippoBank menyediakan bermacam-macam layanan kepada nasabah mereka seperti menyediakan layanan transaksi pembayaran melalui telepon seluler (m-Banking solution) dengan mengeluarkan Visa Electron Distribution Card untuk mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi seperti yang dilakukan pada Matahari dan Pizza Hut, sistem clearing scripless pasar modal untuk nasabah korporasi, pelayanan e-Banking melalui pengembangan fasilitas LippoNetB@nk, mobile banking, host-to-host payment, perluasan jaringan ATM beserta perluasan fiturnya yang memberikan fasilitas kemudahan nasabah untuk melakukan transaksi pembayaran seperti pembayaran listrik dan telpon.
Dengan demikian, perusahaan membutuhkan sistem informasi yang terintegrasi penuh untuk mendukung kinerja perusahaan dan mereka menjawab semua masalah proses bisnis tersebut dengan menggunakan sistem ”Multi Channel Delivery system”. Sistem informasi tersebut mendukung kegiatan bisnis proses seperti : melaksanakan komputasi numeric, bervolume besar dan dengan kecepatan tinggi; menyediakan komunikasi dalam organisasi atau antar organisasi yang murah,akurat dan cepat; menyimpan informasi dalam jumlah yang besar dalam ruang yang kecil tetapi mudah diakses; memungkinkan pengaksesan informasi diseluruh dunia dengan cepat dan murah; meningkatkan efektifitas dan efisiensi orang-orang yang bekerja dalam kelompok dalam suatu tempat atau pada beberapa lokasi; menyajikan informasi yang jelas; mengotomasikan proses-proses bisnis yang semiotomatis dan tugas-tugas yang dikerjakan secara manual; dan sebagainya.
”Multi Channel Delivery system” memungkinkan nasabah akan semakin mudah mengakses kebutuhan perbankannya. Dengan demikian LippoBank harus mengintegrasikan semua sistem transaksi dengan perusahaan-perusahaan tersebut dengan teknologi informasi yang memadai. Selain mengembangkan delivery channel, LippoBank juga mengembangkan teknologi dalam kegiatan operasional dengan mengimplementasikan OPICS sebagai aplikasi treasury yang dipadukan dengan core banking system untuk memberikan sarana pengendalian risiko. Dan terakhir LippoBank mendukung sistem terpusat dengan sistem komunikasi VSAT yang memungkinkan pusat dapat secara langsung memantau semua aktivitas yang terjadi di semua bagian. Jika dilihat dari evolusi pengembangan teknologi informasi di LippoBank sudah tidak lagi berada dalam dua tahap awal pengembangan yaitu reducing cost dan peningkatan produktifitas semata. Dimana pada tahap ini yang menjadi obyek dari manajemen adalah bagaimana teknologi informasi dapat meningkatkan efisiensi perusahaan yang dapat dicapai dengan dua cara: mengurangi total biaya yang biasa dikeluarkan oleh perusahaan (reducing cost) dan meningkatkan utilisasi sumber daya (leveraging resources). Salah satu bukti dari kebenaran fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya aplikasi-aplikasi yang dipergunakan perusahaan Indonesia yang cenderung diimplementasikan untuk mendukung proses-proses back-office, seperti untuk keperluan administrasi dan keuangan. Tetapi yang telah terjadi di LippoBank, hal-hal yang diharapkan teknologi informasi sudah jauh melebihi daripada hanya sekedar untuk meningkatkan efisiensi perusahaan semata. Paling tidak ada tiga obyektif besar yang dicapai dan menjadi target utama dari penerapan teknologi informasi di LippoBank, yang jika diamati secara lebih seksama akan nampak bahwa fokus pengembangan lebih terarah pada fungsi-fungsi front-office: teknologi informasi secara langsung maupun tidak langsung memiliki dampak terhadap penciptaan produk pelayanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan (value adding activity); teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dari manajemen dalam bentuk penyediaan informasi dan pengetahuan yang relevan, tepat, akurat, terpercaya, dan bernilai tinggi; dan teknologi informasi digunakan untuk meningkatkan level perolehan pendapatan perusahaan (revenue) dengan cara memanfaatkannya untuk semakin “mendekatkan” perusahaan dengan para calon pelanggan (orientasi pada customers).
Kemudian berkaitan dengan komponen terakhir ”people”, Sebagai contohnya semua karyawan diberikan pelatihan tentang penggunaan jaringan/layanan internet sebelum perusahaan mengeluarkan fasilitas LippoNetB@nk, pelatihan tentang aplikasi sistem mobile banking dan sebagainya. Pelatihan-pelatihan ini sangat penting dan merupakan sesuatu yang vital saat LippoBank akan mengaplikasikan layanan dan fasilitas tersebut. Lippo Bank juga secara aktif meningkatkan komunikasi internal baik antara atasan dengan karyawan maupun antar karyawan sehingga tercipta suatu hubungan dan koordinasi yang baik diantara mereka. Layanan komunikasi yang digunakan dalam LippoBank antara lain adalah melalui majalah Lippovoice, fasilitas komunikasi intranet dan juga internet. Kita ketahui bersama bahwa dengan komunikasi yang baik, masalah yang muncul dalam aplikasi sistem informasi tersebut akan dapat diselesaikan dengan baik seperti masalah yang timbul karena kekurang pahaman pada aplikasi layanan mobile banking oleh operator cabang daerah. Masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan komunikasi secara dengan orang di bagian teknis pusat melalui internet. Selain itu, dengan adanya fasilitas komunikasi maka semua orang yang terlibat dalam sistem tersebut dapat saling melakukan pembelajaran satu sama lain dan menyamakan persepsinya melalui media tersebut agar sistem berjalan dengan baik.
Sumber : http://argodanardhono.blogspot.com/
By ADE HIDAYATUL MUSTOFA _ C1C005101 on May 3, 2008
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
View all articles by Vitriyan Espa IMAM SONNY,S.Kom : ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
Prosedur pengolahan data yang dilakukan secara manual meliputi kegiatan pengumpulan data, melakukan pengelompokan, pengurutan, penghitungan, yang pada akhirnya menyusunnya dalam sejumlah bentuk laporan, untuk berbagai keperluan yang ada di dalam perusahaan yang bersangkutan.
Prosedur pengolahan data akan berlangsung secara konsisten, dari waktu ke waktu, sampai dirasakan perlu untuk melakukan perbaikan, baik karena perbedaan orientasi manajemen dalam sistem pelaporan yang ada, atau karena ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi.
Prosedur pengolahan data secara manual tersebut bahkan sudah pula disusun dalam sebuah buku panduan pengolahan data, yang menjadi acuan baku yang akan dipakai sebagai pedoman oleh para staf perusahaan yang bersangkutan dalam melakukan kegiatan pengolahan data.
Kegiatan pengolahan data secara manual tersebut akan berlangsung secara konsisten, secara terus-menerus, sepanjang waktu. Dengan adanya unsur serta karakteristik seperti itu, maka timbul pemikiran manajemen untuk mengerjakannya dengan bantuan komputer, yang diatur melalui terapan program-program komputer (disebut aplikasi komputer).
Komputer memberikan peningkatan kualitas atas beberapa langkah yang ada dalam prosedur pengolahan data. Antara lain adalah dalam hal penghimpunan data dalam suatu sistematika tertentu, yang menjamin kemudahan akses data serta penggunaannya dalam berbagai bentuk laporan yang akan dibuat.
Data bisa disusun dalam suatu urutan (disebut sort), dalam berbagai model kriteria urutannya, meski hanya menggunakan tumpukan data yang sama (disebut file). Sehingga, untuk keperluan pembuatan laporan yang memerlukan suatu susunan urutan data tertentu, dengan mudah, dan tanpa repot serta perlu waktu lama, bisa segera dihasilkan. Misalnya, untuk sebuah pengolahan data kendaraan, kita bisa menyusunnya berdasarkan nomor-polisi, untuk mengetahui nomor-nomor polisi mana yang sudah dikeluarkan, dan tampil secara urut (juga membantu pencarian identitas kendaraan yang melakukan pelanggaran tabrak-lari, dengan berbekal nomor-polisi). Namun kita memerlukan susunan berkas data yang berbeda, misalnya, berdasarkan merek, type, tahun pembuatan, nomor rangka, nomor mesin, bahkan kalau perlu, nama dan alamat pemilik (di DKI Jakarta akan diterapkan penarikan pajak kendaraan bermotor secara progresif, untuk kepemilikan kendaraan yang kedua, ketiga dan seterusnya, untuk menghambat makin bertambahnya jumlah kendaraan yang sangat membebani kondisi jalan raya).
Untuk sepuluh sampai seratus berkas data, untuk membolak-balik data tersebut untuk berbagai keperluan, mungkin tak jadi soal. Bagaimana untuk berkas data kendaraan yang sampai dalam jumlah jutaan ?
Selain itu, komputer juga mampu melakukan pengelompokan data dengan mudah (dan cepat), serta melakukan perhitungan dengan kecepatan dan ketepatan yang sangat tinggi, sehingga hasil olahan perangkat tersebut menjadi lebih terjamin hasilnya (dengan demikian, juga lebih layak untuk dipercayai).
Komputer tidak mampu melakukan hal tersebut dengan sendirinya, artinya, komputer hanya menyediakan sarana, yaitu kemampuan perangkat kerasnya, untuk menerima berbagai penugasan berat tersebut. Yang membuat komputer tersebut bekerja sesuai dengan prosedur pengolahan data yang berlaku, adalah karena adanya instruksi yang diterimanya, sebagai pedoman bekerja komputer yang bersangkutan. Program itu dibuat, dengan menirukan langkah-langkah yang dikerjakan dalam prosedur manual.
Mengingat bahwa cukup banyak perusahaan yang memiliki ragam tatacara pengolahan data dan kebutuhan sistem informasinya, maka tentu harus ada penelitian pendahuluan, sebelumnya, untuk mengetahui bentuk terapan pengolahan data komputerisasi yang bagaimana yang akan diterapkan di perusahaan tersebut. Untuk itu, maka seorang penganalisa sistem perlu dihadirkan, untuk mempelajari sistem komputer yang dikehendaki oleh pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Sekaligus, yang bersangkutan adalah juga perancang bentuk sistem komputerisasi, yang mampu membuat desain sistem yang tidak saja mampu memenuhi kebutuhan sistem informasi bagi perusahaan tersebut, namun juga mampu mendayagunakan semua kemampuan dan sifat-sifat yang ada di komputer, agar mampu mencapai hasil tadi dengan cara yang efektif dan efisien. Dengan demikian pula kiranya, maka investasi yang akan dilekukan dalam proyek komputerisasi ini bisa dipertanggungjawabkan rasio biaya-dibanding-manfaatnya secara optimal.
Seorang pendesain sistem komputer, oleh karena itu, tak hanya dituntut memahami bagaimana sebuah sistem bekerja (dan dikerjakan, secara manual), tetapi juga memahami bagaimana komputer dan program komputer bekerja.
Sasaran Analisa Sistem
Pengertian pengolahan data bisa disederhanakan sebagai sebuah mekanisme untuk menerima data, mengkomunikasikan ke berbagai pihak yang berkepentingan, menyimpan, memproses dan menyajikannya dalam berbagai bentuk laporan, untuk menunjang segenap fungsi dalam sebuah perusahaan. Lebih-lebih akan menjadi terasa, jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang menggunakan laba finansial sebagai orientasi keberhasilannya.
Sebuah kegiatan pengolahan data akan berlangsung dengan melibatkan sejumlah fungsi, yang terdiri dari staf dan karyawan yang terlibat secara langsung dan tidak, mulai dari penyediaan data, sampai ke penyajian laporan, hingga ke pemanfaatan laporan tersebut bagi keberhasilan pekerjaannya.
Kegiatan pengolahan data juga akan melibatkan peralatan, yang akan membantu penyelenggaraan data secara berkualitas, baik dalam kecepatan olah, atau penampilan laporan tersebut sebagai sajian informasi.
Selain itu, yang ikut menyukseskan sebuah kegiatan pengolahan data adalah ketersediaan akan sebuah sistem dan prosedur, yang akan dipakai sebagai pemandu bekerja dari petugas-petugas pengolah data tersebut.
Melakukan kajian, dan menemukan berbagai faktor dari prosedur penyelenggaraan pengolahan data yang berlangsung saat ini (present systems) untuk bisa memenuhi kebutuhan akan sistem informasi yang efektif, itulah yang menjadi titik berat dari sebuah proses penganalisaan akan sebuah sistem (yang akan dikomputerisasikan). Kendala-kendala umum yang sering ditemukan dalam ketidakberhasilan sebuah kegiatan pengolahan data, antara lain adalah sebagai berikut : Adanya kecenderungan jumlah data yang terus membesar, baik volume, atau jenisnya. Ini akan mempengaruhi penanganan yang akan dilakukan oleh para staf, yang harus menerima beban yang lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Juga diperlukan pelatihan secara terus-menerus, khususnya pada staf yang baru, agar mampu menangani perkembangan data yang terjadi tersebut.
Adanya kebutuhan informasi yang terus bertambah, dengan berbagai titik berat informasi yang berbeda-beda. Tuntutan lain adalah soal kecepatan olah data, yang menghendaki tersajinya laporan-laporan tadi dalam waktu yang cepat, karena manajemen dihadapkan pada situasi yang sangat singakt dalam proses pengambilan keputusan.
Jumlah data yang semakin besar, tak hanya membebani proses pengolahan data yang terjadi saat ini, namun juga karena data-data tersebut akan dipakai sebagai referensi-referensi kunci, dalam penarikan kesimpulan di masa yang akan datang.
Dengan melihat faktor-faktor di atas, maka wajar kiranya, jika pekerjaan pendahuluan sebuah komputerisasi ini harus ditangani oleh seorang analis dan pendisain sistem komputer yang benar-benar paham akan tugasnya.
By Marlia Diah M on May 3, 2008
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
By Vitriyan Espa | Published 05/13/2007 | Sistem Informasi Akuntansi | Rating:
Vitriyan Espa
Ian, panggilan akrabnya dilahirkan di Pontianak 6 September 1978, memiliki pasangan hidup bernama Marsela Diaz (Sita) dan seorang anak bernama Violeta Naurah Zafira Saeladifa (Vio) aktivitas sehari-hari adalah sebagai Dosen tetap Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak.
View all articles by Vitriyan Espa IMAM SONNY,S.Kom : ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
Prosedur pengolahan data yang dilakukan secara manual meliputi kegiatan pengumpulan data, melakukan pengelompokan, pengurutan, penghitungan, yang pada akhirnya menyusunnya dalam sejumlah bentuk laporan, untuk berbagai keperluan yang ada di dalam perusahaan yang bersangkutan.
Prosedur pengolahan data akan berlangsung secara konsisten, dari waktu ke waktu, sampai dirasakan perlu untuk melakukan perbaikan, baik karena perbedaan orientasi manajemen dalam sistem pelaporan yang ada, atau karena ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi.
Prosedur pengolahan data secara manual tersebut bahkan sudah pula disusun dalam sebuah buku panduan pengolahan data, yang menjadi acuan baku yang akan dipakai sebagai pedoman oleh para staf perusahaan yang bersangkutan dalam melakukan kegiatan pengolahan data.
Kegiatan pengolahan data secara manual tersebut akan berlangsung secara konsisten, secara terus-menerus, sepanjang waktu. Dengan adanya unsur serta karakteristik seperti itu, maka timbul pemikiran manajemen untuk mengerjakannya dengan bantuan komputer, yang diatur melalui terapan program-program komputer (disebut aplikasi komputer).
Komputer memberikan peningkatan kualitas atas beberapa langkah yang ada dalam prosedur pengolahan data. Antara lain adalah dalam hal penghimpunan data dalam suatu sistematika tertentu, yang menjamin kemudahan akses data serta penggunaannya dalam berbagai bentuk laporan yang akan dibuat.
Data bisa disusun dalam suatu urutan (disebut sort), dalam berbagai model kriteria urutannya, meski hanya menggunakan tumpukan data yang sama (disebut file). Sehingga, untuk keperluan pembuatan laporan yang memerlukan suatu susunan urutan data tertentu, dengan mudah, dan tanpa repot serta perlu waktu lama, bisa segera dihasilkan. Misalnya, untuk sebuah pengolahan data kendaraan, kita bisa menyusunnya berdasarkan nomor-polisi, untuk mengetahui nomor-nomor polisi mana yang sudah dikeluarkan, dan tampil secara urut (juga membantu pencarian identitas kendaraan yang melakukan pelanggaran tabrak-lari, dengan berbekal nomor-polisi). Namun kita memerlukan susunan berkas data yang berbeda, misalnya, berdasarkan merek, type, tahun pembuatan, nomor rangka, nomor mesin, bahkan kalau perlu, nama dan alamat pemilik (di DKI Jakarta akan diterapkan penarikan pajak kendaraan bermotor secara progresif, untuk kepemilikan kendaraan yang kedua, ketiga dan seterusnya, untuk menghambat makin bertambahnya jumlah kendaraan yang sangat membebani kondisi jalan raya).
Untuk sepuluh sampai seratus berkas data, untuk membolak-balik data tersebut untuk berbagai keperluan, mungkin tak jadi soal. Bagaimana untuk berkas data kendaraan yang sampai dalam jumlah jutaan ?
Selain itu, komputer juga mampu melakukan pengelompokan data dengan mudah (dan cepat), serta melakukan perhitungan dengan kecepatan dan ketepatan yang sangat tinggi, sehingga hasil olahan perangkat tersebut menjadi lebih terjamin hasilnya (dengan demikian, juga lebih layak untuk dipercayai).
Komputer tidak mampu melakukan hal tersebut dengan sendirinya, artinya, komputer hanya menyediakan sarana, yaitu kemampuan perangkat kerasnya, untuk menerima berbagai penugasan berat tersebut. Yang membuat komputer tersebut bekerja sesuai dengan prosedur pengolahan data yang berlaku, adalah karena adanya instruksi yang diterimanya, sebagai pedoman bekerja komputer yang bersangkutan. Program itu dibuat, dengan menirukan langkah-langkah yang dikerjakan dalam prosedur manual.
Mengingat bahwa cukup banyak perusahaan yang memiliki ragam tatacara pengolahan data dan kebutuhan sistem informasinya, maka tentu harus ada penelitian pendahuluan, sebelumnya, untuk mengetahui bentuk terapan pengolahan data komputerisasi yang bagaimana yang akan diterapkan di perusahaan tersebut. Untuk itu, maka seorang penganalisa sistem perlu dihadirkan, untuk mempelajari sistem komputer yang dikehendaki oleh pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Sekaligus, yang bersangkutan adalah juga perancang bentuk sistem komputerisasi, yang mampu membuat desain sistem yang tidak saja mampu memenuhi kebutuhan sistem informasi bagi perusahaan tersebut, namun juga mampu mendayagunakan semua kemampuan dan sifat-sifat yang ada di komputer, agar mampu mencapai hasil tadi dengan cara yang efektif dan efisien. Dengan demikian pula kiranya, maka investasi yang akan dilekukan dalam proyek komputerisasi ini bisa dipertanggungjawabkan rasio biaya-dibanding-manfaatnya secara optimal.
Seorang pendesain sistem komputer, oleh karena itu, tak hanya dituntut memahami bagaimana sebuah sistem bekerja (dan dikerjakan, secara manual), tetapi juga memahami bagaimana komputer dan program komputer bekerja.
Sasaran Analisa Sistem
Pengertian pengolahan data bisa disederhanakan sebagai sebuah mekanisme untuk menerima data, mengkomunikasikan ke berbagai pihak yang berkepentingan, menyimpan, memproses dan menyajikannya dalam berbagai bentuk laporan, untuk menunjang segenap fungsi dalam sebuah perusahaan. Lebih-lebih akan menjadi terasa, jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang menggunakan laba finansial sebagai orientasi keberhasilannya.
Sebuah kegiatan pengolahan data akan berlangsung dengan melibatkan sejumlah fungsi, yang terdiri dari staf dan karyawan yang terlibat secara langsung dan tidak, mulai dari penyediaan data, sampai ke penyajian laporan, hingga ke pemanfaatan laporan tersebut bagi keberhasilan pekerjaannya.
Kegiatan pengolahan data juga akan melibatkan peralatan, yang akan membantu penyelenggaraan data secara berkualitas, baik dalam kecepatan olah, atau penampilan laporan tersebut sebagai sajian informasi.
Selain itu, yang ikut menyukseskan sebuah kegiatan pengolahan data adalah ketersediaan akan sebuah sistem dan prosedur, yang akan dipakai sebagai pemandu bekerja dari petugas-petugas pengolah data tersebut.
Melakukan kajian, dan menemukan berbagai faktor dari prosedur penyelenggaraan pengolahan data yang berlangsung saat ini (present systems) untuk bisa memenuhi kebutuhan akan sistem informasi yang efektif, itulah yang menjadi titik berat dari sebuah proses penganalisaan akan sebuah sistem (yang akan dikomputerisasikan). Kendala-kendala umum yang sering ditemukan dalam ketidakberhasilan sebuah kegiatan pengolahan data, antara lain adalah sebagai berikut : Adanya kecenderungan jumlah data yang terus membesar, baik volume, atau jenisnya. Ini akan mempengaruhi penanganan yang akan dilakukan oleh para staf, yang harus menerima beban yang lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Juga diperlukan pelatihan secara terus-menerus, khususnya pada staf yang baru, agar mampu menangani perkembangan data yang terjadi tersebut.
Adanya kebutuhan informasi yang terus bertambah, dengan berbagai titik berat informasi yang berbeda-beda. Tuntutan lain adalah soal kecepatan olah data, yang menghendaki tersajinya laporan-laporan tadi dalam waktu yang cepat, karena manajemen dihadapkan pada situasi yang sangat singakt dalam proses pengambilan keputusan.
Jumlah data yang semakin besar, tak hanya membebani proses pengolahan data yang terjadi saat ini, namun juga karena data-data tersebut akan dipakai sebagai referensi-referensi kunci, dalam penarikan kesimpulan di masa yang akan datang.
Dengan melihat faktor-faktor di atas, maka wajar kiranya, jika pekerjaan pendahuluan sebuah komputerisasi ini harus ditangani oleh seorang analis dan pendisain sistem komputer yang benar-benar paham akan tugasnya.
sumber : http://www.fitriyanespa.com
By Marlia Diah M (C1C005124) on May 3, 2008
ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
View all articles by Vitriyan Espa IMAM SONNY,S.Kom : ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI
Prosedur pengolahan data yang dilakukan secara manual meliputi kegiatan pengumpulan data, melakukan pengelompokan, pengurutan, penghitungan, yang pada akhirnya menyusunnya dalam sejumlah bentuk laporan, untuk berbagai keperluan yang ada di dalam perusahaan yang bersangkutan.
Prosedur pengolahan data akan berlangsung secara konsisten, dari waktu ke waktu, sampai dirasakan perlu untuk melakukan perbaikan, baik karena perbedaan orientasi manajemen dalam sistem pelaporan yang ada, atau karena ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi.
Prosedur pengolahan data secara manual tersebut bahkan sudah pula disusun dalam sebuah buku panduan pengolahan data, yang menjadi acuan baku yang akan dipakai sebagai pedoman oleh para staf perusahaan yang bersangkutan dalam melakukan kegiatan pengolahan data.
Kegiatan pengolahan data secara manual tersebut akan berlangsung secara konsisten, secara terus-menerus, sepanjang waktu. Dengan adanya unsur serta karakteristik seperti itu, maka timbul pemikiran manajemen untuk mengerjakannya dengan bantuan komputer, yang diatur melalui terapan program-program komputer (disebut aplikasi komputer).
Komputer memberikan peningkatan kualitas atas beberapa langkah yang ada dalam prosedur pengolahan data. Antara lain adalah dalam hal penghimpunan data dalam suatu sistematika tertentu, yang menjamin kemudahan akses data serta penggunaannya dalam berbagai bentuk laporan yang akan dibuat.
Data bisa disusun dalam suatu urutan (disebut sort), dalam berbagai model kriteria urutannya, meski hanya menggunakan tumpukan data yang sama (disebut file). Sehingga, untuk keperluan pembuatan laporan yang memerlukan suatu susunan urutan data tertentu, dengan mudah, dan tanpa repot serta perlu waktu lama, bisa segera dihasilkan. Misalnya, untuk sebuah pengolahan data kendaraan, kita bisa menyusunnya berdasarkan nomor-polisi, untuk mengetahui nomor-nomor polisi mana yang sudah dikeluarkan, dan tampil secara urut (juga membantu pencarian identitas kendaraan yang melakukan pelanggaran tabrak-lari, dengan berbekal nomor-polisi). Namun kita memerlukan susunan berkas data yang berbeda, misalnya, berdasarkan merek, type, tahun pembuatan, nomor rangka, nomor mesin, bahkan kalau perlu, nama dan alamat pemilik (di DKI Jakarta akan diterapkan penarikan pajak kendaraan bermotor secara progresif, untuk kepemilikan kendaraan yang kedua, ketiga dan seterusnya, untuk menghambat makin bertambahnya jumlah kendaraan yang sangat membebani kondisi jalan raya).
Untuk sepuluh sampai seratus berkas data, untuk membolak-balik data tersebut untuk berbagai keperluan, mungkin tak jadi soal. Bagaimana untuk berkas data kendaraan yang sampai dalam jumlah jutaan ?
Selain itu, komputer juga mampu melakukan pengelompokan data dengan mudah (dan cepat), serta melakukan perhitungan dengan kecepatan dan ketepatan yang sangat tinggi, sehingga hasil olahan perangkat tersebut menjadi lebih terjamin hasilnya (dengan demikian, juga lebih layak untuk dipercayai).
Komputer tidak mampu melakukan hal tersebut dengan sendirinya, artinya, komputer hanya menyediakan sarana, yaitu kemampuan perangkat kerasnya, untuk menerima berbagai penugasan berat tersebut. Yang membuat komputer tersebut bekerja sesuai dengan prosedur pengolahan data yang berlaku, adalah karena adanya instruksi yang diterimanya, sebagai pedoman bekerja komputer yang bersangkutan. Program itu dibuat, dengan menirukan langkah-langkah yang dikerjakan dalam prosedur manual.
Mengingat bahwa cukup banyak perusahaan yang memiliki ragam tatacara pengolahan data dan kebutuhan sistem informasinya, maka tentu harus ada penelitian pendahuluan, sebelumnya, untuk mengetahui bentuk terapan pengolahan data komputerisasi yang bagaimana yang akan diterapkan di perusahaan tersebut. Untuk itu, maka seorang penganalisa sistem perlu dihadirkan, untuk mempelajari sistem komputer yang dikehendaki oleh pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Sekaligus, yang bersangkutan adalah juga perancang bentuk sistem komputerisasi, yang mampu membuat desain sistem yang tidak saja mampu memenuhi kebutuhan sistem informasi bagi perusahaan tersebut, namun juga mampu mendayagunakan semua kemampuan dan sifat-sifat yang ada di komputer, agar mampu mencapai hasil tadi dengan cara yang efektif dan efisien. Dengan demikian pula kiranya, maka investasi yang akan dilekukan dalam proyek komputerisasi ini bisa dipertanggungjawabkan rasio biaya-dibanding-manfaatnya secara optimal.
Seorang pendesain sistem komputer, oleh karena itu, tak hanya dituntut memahami bagaimana sebuah sistem bekerja (dan dikerjakan, secara manual), tetapi juga memahami bagaimana komputer dan program komputer bekerja.
Sasaran Analisa Sistem
Pengertian pengolahan data bisa disederhanakan sebagai sebuah mekanisme untuk menerima data, mengkomunikasikan ke berbagai pihak yang berkepentingan, menyimpan, memproses dan menyajikannya dalam berbagai bentuk laporan, untuk menunjang segenap fungsi dalam sebuah perusahaan. Lebih-lebih akan menjadi terasa, jika perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang menggunakan laba finansial sebagai orientasi keberhasilannya.
Sebuah kegiatan pengolahan data akan berlangsung dengan melibatkan sejumlah fungsi, yang terdiri dari staf dan karyawan yang terlibat secara langsung dan tidak, mulai dari penyediaan data, sampai ke penyajian laporan, hingga ke pemanfaatan laporan tersebut bagi keberhasilan pekerjaannya.
Kegiatan pengolahan data juga akan melibatkan peralatan, yang akan membantu penyelenggaraan data secara berkualitas, baik dalam kecepatan olah, atau penampilan laporan tersebut sebagai sajian informasi.
Selain itu, yang ikut menyukseskan sebuah kegiatan pengolahan data adalah ketersediaan akan sebuah sistem dan prosedur, yang akan dipakai sebagai pemandu bekerja dari petugas-petugas pengolah data tersebut.
Melakukan kajian, dan menemukan berbagai faktor dari prosedur penyelenggaraan pengolahan data yang berlangsung saat ini (present systems) untuk bisa memenuhi kebutuhan akan sistem informasi yang efektif, itulah yang menjadi titik berat dari sebuah proses penganalisaan akan sebuah sistem (yang akan dikomputerisasikan). Kendala-kendala umum yang sering ditemukan dalam ketidakberhasilan sebuah kegiatan pengolahan data, antara lain adalah sebagai berikut : Adanya kecenderungan jumlah data yang terus membesar, baik volume, atau jenisnya. Ini akan mempengaruhi penanganan yang akan dilakukan oleh para staf, yang harus menerima beban yang lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Juga diperlukan pelatihan secara terus-menerus, khususnya pada staf yang baru, agar mampu menangani perkembangan data yang terjadi tersebut.
Adanya kebutuhan informasi yang terus bertambah, dengan berbagai titik berat informasi yang berbeda-beda. Tuntutan lain adalah soal kecepatan olah data, yang menghendaki tersajinya laporan-laporan tadi dalam waktu yang cepat, karena manajemen dihadapkan pada situasi yang sangat singakt dalam proses pengambilan keputusan.
Jumlah data yang semakin besar, tak hanya membebani proses pengolahan data yang terjadi saat ini, namun juga karena data-data tersebut akan dipakai sebagai referensi-referensi kunci, dalam penarikan kesimpulan di masa yang akan datang.
Dengan melihat faktor-faktor di atas, maka wajar kiranya, jika pekerjaan pendahuluan sebuah komputerisasi ini harus ditangani oleh seorang analis dan pendisain sistem komputer yang benar-benar paham akan tugasnya.
sumber : http://www.vitriyanespa.com
By Marlia Diah M on May 3, 2008
BPM : SOLUSI TI TERBARU UNTUK EFISIENSI DAN KOMPETISI BISNIS
Perkembangan pasar yang bergerak menjadi sangat kompetitif dan persaingan bisnis yang semakin kompleks dan ketat telah menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Kecepatan menjadi masalah yang patut diperhatikan yaitu bagaimana cara perusahaan atau organisasi untuk mendapatkan dan mengevaluasi informasi dengan segera, dan untuk kemudian menggunakan informasi tersebut untuk merespon setiap kejadian dan masalah secara cepat dan tepat pula. Karena itu kecepatan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan nilai kompetitif suatu perusahaan atau organisasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, para pemimpin perusahaan sangat membutuhkan suatu solusi yang dapat membantu mereka untuk melihat gambaran bisnis mereka secara menyeluruh (komprehensif) dan real-time, dalam arti apa yang mereka lihat saat itu di laporan adalah benar-benar menggambarkan kondisi perusahaan sebenarnya saat itu juga, bukan 1 minggu yang lalu, 1 hari yang lalu, atau bahkan 1 jam yang lalu. Untuk itu peranan teknologi di sini menjadi sangat vital. Perusahaan dapat mengandalkan teknologi yang tepat untuk membantu mereka dalam meningkatkan efisiensi, mempertajam daya respons, dan pada akhirnya adalah mampu menghasilkan nilai kompetitif bagi perusahaan.
Pada beberapa tahun terakhir telah banyak perusahaan yang memanfaatkan solusi dengan teknologi informasi (TI) untuk mengoptimasi proses bisnis yang dimilikinya, tapi kadang solusi yang mereka kembangkan masih setengah-setengah. Mereka membangun solusi TI tersebut dalam beberapa sistem yang terpisah, bukan dalam satu kesatuan. Sistem yang dibangun biasanya terbagi berdasarkan unit kerja, atau berdasarkan proses bisnis yang ada. Hal ini tentunya dapat menimbulkan beberapa masalah ketika suatu saat terdapat proses bisnis yang membutuhkan adanya kolaborasi ataupun pertukaran informasi antar unit kerja atau antar proses bisnis untuk menyelesaikan rangkaian prosesnya tersebut, yang tentunya hal ini tidak akan dapat ditangani dengan solusi TI model seperti ini. Solusi TI seperti ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada dunia bisnis yang sangat dinamis seperti saat ini.
Teknologi Manajemen Proses Bisnis atau Business Process Management (BPM) adalah jawaban yang benar-benar ditunggu dan dibutuhkan kalangan bisnis untuk membantu bisnis mereka dalam menghadapi tantangan dan kompetisi seperti sekarang ini. BPM adalah solusi TI dengan pendekatan baru yang ampuh digunakan untuk membantu meningkatkan efisiensi dan menumbuhkan nilai kompetitif suatu bisnis. BPM dirancang untuk mengintegrasikan antara karyawan dan sistem informasi melalui proses-proses yang telah terotomatisasi dan bersifat sangat fleksibel. BPM juga merupakan solusi yang tepat untuk meningkatkan daya respon perusahaan secara signifikan untuk menyesuaikan keinginan pelanggannya pada setiap produk atau layanan yang dihasilkan, dengan cara memberikan akses informasi secara real-time yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah, serta pengambilan tindakan untuk merespon masalah yang terjadi secara lebih cepat dan tepat.Manajemen Proses Bisnis (BPM) adalah sebuah pendekatan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi melalui pembangunan otomatisasi proses dan ketangkasan untuk mengelola perubahan. BPM membantu perusahaan dalam mengawasi dan mengontrol seluruh elemen pada proses bisnis, seperti karyawan, pelanggan, pemasok, dan workflow. BPM meningkatkan kualitas proses bisnis melalui penyediaan mekanisme feedback yang lebih baik. Review yang berkesinambungan dan real-time akan membantu perusahaan dalam mengidentifikasi masalah dan kemudian mengatasinya secara lebih cepat sebelum masalah tersebut berkembang menjadi lebih besaSetiap solusi Manajemen Proses Bisnis (BPM) memiliki empat komponen utama:(1)Pemodelan : pengguna dapat mendefinisikan dan mendesain struktur dari setiap proses bisnis secara grafis. Manajer Proses dapat mendesain sebuah proses beserta seluruh elemen, aturan, sub-proses, parallel proses, penanganan exception, penangan error, dan workflow dengan mudah tanpa perlu memiliki kemampuan programming khusus dan tanpa membutuhkan bantuan dari staf IT. (2) Pengintegrasian: BPM dapat menghubungkan setiap elemen dalam proses sehingga elemen-elemen tersebut dapat saling berkolaborasi dan bertukar informasi untuk menyelesaikan tujuannya. Pada level aplikasi, hal ini bisa diartikan sebagai penggunaan Application Programming Interface (API) dan messaging. Bagi pengguna, hal ini berarti tersedianya sebuah workspace pada komputernya ataupun perangkat wireless-nya untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perannya pada suatu proses bisnis. (3)Pengawasan: pengguna dapat mengawasi dan mengontrol performansi dari proses bisnis yang sedang berjalan dan performansi dari setiap personil yang terlibat dalam proses bisnis tersebut. Pengguna juga dapat memperoleh informasi mengenai proses yang tengah berjalan, maupun yang telah selesai, beserta data-data yang ada di dalamnya. (4) Optimalisasi: pengguna dapat menganalisa dan memonitor suatu proses bisnis, melihat ketidakefisienan, dan juga memungkinkan pengguna untuk mengambil tindakan dengan cepat dan merubah proses tersebut untuk meningkatkan efisiensinya.
Keuntungan dari pemanfaatan solusi Manajemen Proses Bisnis (BPM) antara lain: (1) Solusi BPM akan memfasilitasi perusahaan dalam memodelkan proses bisnis yang dimiliki, mengotomatisasi jalannya proses bisnis tersebut, memonitor jalannya proses, serta memberikan cara yang mudah dan cepat ketika perusahaan akan melakukan perubahaan proses bisnis untuk meningkatkan performansinya. (2) Software BPM membantu perusahaan untuk mengotomatisasi tugas-tugas yang selama ini masih dilakukan secara manual. Solusi BPM dapat mengotomatisasi proses persetujuan serta penolakan, notifikasi dan laporan status. (3)Dengan BPM, integrasi antar proses bisnis dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. (4) BPM dapat meningkatkan daya respon bisnis melalui kemampuan untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan real-time.
Lalu tunggu apalagi untuk menunda pemakaian metode bussiness process management dalam bisnis anda, jika trerbukti metode ini akan membawa bisnis kita dalam efisiensi yang tinggi dan tentu saja akan meningkatkan nilai kompetisi bisnis? ^_^
Sumber : http//id.saltanera.com
By Ratih KUsuma Jati on May 3, 2008
TEKNIK BIOMEDIKA
Teknik Biomedika (Biomedical Engineering) adalah
bidang multidisiplin yang menerapkan berbagai
metoda engineering, science dan teknologi untuk
membantu memecahkan masalah dalam bidang
biologi & kedokteran, guna meningkatkan kualitas
hidup manusia, melalui peningkatan pelayanan
kesehatan masyarakat. Dalam berbagai kegiatan
dalam bidang teknik biomedika, perlu dilakukan
tahap pemrosesan informasi kedokteran (medical information), untuk membantu pelaksanaan prosedur kedokteran (medical procedure). Beberapa contoh
informasi kedokteran adalah: data alfanumerik (misal
data pribadi pasien, hasil diagnosa dokter), sinyal fisiologis (misal: sinyal EKG, EEG), citra kedokteran
statik & dinamik (misal: citra X-ray thorax, citra USG janin bergerak), bunyi & suara (misal: bunyi pernafasan, bunyi Korotkoff, suara pembicaraan pasien & dokter). Adapun contoh tahap prosedur kedokteran adalah: pengumpulan data pasien, analisis data pasien, menegakkan diagnosa, memberikan terapi, dan tahap tindak-lanjut.
Teknik Biomedika telah berkembang sejak lebih dari 50 tahun yang lalu di banyak negara maju, dan pada
awal tahun 2006, terdapat lebih dari 110 (seratus
sepuluh) perguruan tinggi di Amerika Utara. Di
lingkungan STEI – ITB, program pendidikan teknik
biomedika yang telah diselenggarakan adalah: tingkat
magister (sejak 1995), tingkat sarjana (sejak 1998),
dan tingkat doktor (sejak 1999).
MENGENAL SISTEM TELEMEDIKA
Secara umum, telemedika sebagai salah satu ruang lingkup teknik biomedika, diartikan sebagai: aplikasi
elektronika, komputer dan telekomunikasi dalam
teknik biomedika, untuk melakukan pertukaran informasi kedokteran dari satu tempat ke tempat lain, guna membantu pelaksanaan prosedur kedokteran.Adapun tujuan telemedika adalah guna meningkatkan kualitas hidup manusia, melalui peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dan pendidikan.
Untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi &balita, telah diusulkan dan dilakukan berbagai usaha oleh banyak instansi/lembaga dan/atau kelompok,
terutama di bawah koordinasi departemen kesehatan.Kelompok Teknik Biomedika telah sejak sekitar tahun 1997 memfokuskan pada penelitian dalam
sistem telemedika (ICT-based Telemedicine System).Penggunaan sistem telemedika berbasis teknologi komunikasi & informasi dalam pelayanan kesehatan masyarakat, yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, diharapkan secara bertahap dapat
menurunkan angka kematian ibu, bayi & balita di Indonesia.
Ide pengembangan sistem telemedika di Program Teknik Biomedika ITB timbul dari adanya masalah dalam pelayanan kesehatan masyarakat, serta telah tersedianya berbagai perangkat keras & perangkat lunak komputer (PC), infrastruktur telekomunikasi,
perkembangan teknologi & fasilitas internet di
Indonesia. Diperlukan waktu sekitar tiga tahun mengembangkan dan memasyarakatkan ide tersebut,
sebelum akhirnya mulai dicoba di sejumlah
puskesmas, rumahsakit, serta DKK Bandung.
Dalam makalah ini, disampaikan informasi singkat
mengenai latar belakang masalah pelayanan
kesehatan masyarakat di Indonesia. Selanjutnya
disampaikan pula pengertian telemedika dan
aplikasinya. Kemudian dijelaskan pengembangan
sistem telemedika serta sejumlah aplikasi yang telah dan/atau sedang dikembangkan oleh Kelompok
Keilmuan Teknik Biomedika ITB. Makalah akan
diakhiri dengan membahas kemajuan yang telah
dicapai dan penutup.
sumber : oegi@ieee.org
By RIDWAN FARID (C1C005047) on May 4, 2008
Maaf pak sebelumnya aku salah ngirim comment di Topik “Menuju BHPMN”.
Mohon pengertiannya, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih!!!
E-commerce: Alternatif Strategi Bisnis pada era Global
E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang
memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet
(teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik
antara dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to
consumer), melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang
dominan. Pada masa persaingan ketat di era globalisasi saat ini, maka persaingan yang
sebenarnya adalah terletak pada bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan
e-commerce untuk meningkatkan kinerja dan eksistensi dalam bisnis inti. Dengan
aplikasi e-commerce, seyogyanya hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal
lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat,
lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional
(door to door, one-to-one relationship). Maka e-commerce bukanlah sekedar suatu
mekanisme penjualan barang atau jasa melalui medium internet, tetapi juga terhadap
terjadinya sebuah transformasi bisnis yang mengubah cara pandang perusahaan dalam
melakukan aktivitas usahanya. Membangun dan mengimplementasikan sebuah system
e-commerce bukanlah merupakan proses instant, namun merupakan transformasi
strategi dan system bisnis yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan
perusahaan dan teknologi.
Dalam tataran strategis dan aktivitas operasional, pengembangan teknologi informasi
sebagai basis e-commerce harus berada dalam kerangka arsitektur bisnis perusahaan
yang terdiri dari tiga komponen besar yaitu organisasi, proses, dan teknologi.
Kompleksitas arsitektur bisnis semakin bertambah tinggi sejalan dengan cepatnya
perubahan yang terjadi di dalam perusahaan sebagai respons terhadap dinamika
lingkungan bisnis yang sedemikian cepat berubah.
Sumber:http://www.dkp.go.id/content.php?c=4621
[ Samudera_Wawasan_E-commerce.pdf ]
By Hilman Sapari on May 4, 2008
>>Revisi artikel No.3
Maaf, artikel tidak relevan dengan perubahan tema.
Revisi:
SOLUSI TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK USAHA KECIL-MENENGAH
Di era 1990-an, kata ISO 9000 menjadi kata yang paling sering disebut dan menjadi sebuah standar mutu dan kualitas, terutama dalam berbagai sektor. Bahkan, ISO 9001 telah menjadi standar untuk perusahaan yang lebih kreatif. Hasil dari ISO 9000 ini adalah sebuah Standard Operating Procedures (SOP) untuk sebuah perusahaan, yang tentu saja bagi negara yang bernama Indonesia menjadi sebuah standar yang sangat membantu sekali, membuat perusahaan-perusahaan yang proses bisnisnya semaunya menjadi lebih rapi dan dapat diukur. Dampak ISO 9000 akan terasa sekali bilamana diimplementasikan sebuah mekanisme performa, seperti Balanced Scorecard ataupun prosedur implementasi Performance Appraisal ataupun MBO (Management by Objective). Otomatisasi SOP meliputi pembelian bahan baku, proses produksi, dan penjualan produk, dan sekarang sering disebut ERP (Enterprise Resource Planning). Persaingan bisnis yang sangat kompetitif membuat implementasi ERP dan ISO/SOP dilakukan secara paralel. Tren ini terjadi sekitar era akhir 1990-an searah dengan booming ERP. Banyak proyek ERP yang terkenal mahal bermunculan, diikuti searah dengan tren kekecewaan karena bugs dari ERP yang membuat perusahaan-perusahaan yang tergiur oleh mekanisme otomatis harus menanggung bugs tersebut. Sekitar era 2000-an, penulis sempat marah- marah sampai ke regional dan level Asia-Pasifik karena sebuah bugs yang membuat beberapa implementasi ERP tidak dapat dilakukan secara mulus. Ini masih terjadi sampai hari ini.
Implementasi ERP menjadi standar di perusahaan-perusahaan, jadi leluconnya adalah sudah bayar mahal tetapi harus tanggung tidak jalan. Kalaupun jalan, direlakan tidak ideal dan sempurna. Dikarenakan tekanan konsultan manajemen perusahaan untuk melancarkan pembayaran serta tekanan dari manajemen yang mengimplementasikan karena telah keluar dana banyak sekali.
Di sisi vendor penyedia ERP, adalah karena persaingan dari para vendor ERP yang sering kali saling membunuh, dan lebih berbahaya adalah lahirnya berbagai ERP yang secara teknologi bagus dan Open Source. Gara-gara ini semua, sering terjadi kepercayaan terhadap kelangsungan sebuah vendor jadi berkurang. Perusahaan sekelas PeopleSoft, JD Edward, Baan, yang merupakan lima perusahaan ERP terbesar di dunia adalah buktinya. Sekarang Peopelsoft dan JD Edward menjadi bagian dari Oracle, Baan menjadi satu perusahaan dengan BPCS di bawah SSA.
Lebih parah lagi adalah perusahaan ERP kelas atas ini, tentu saja karena tergiur dengan pasar ERP kelas menengah, masuk pasar UMKM, di antaranya SAP yang mengeluarkan SAP Business One yang secara arsitektur berbeda dengan produk wahidnya yaitu SAP R/3 yang sekarang memiliki merek MySAP. Masuknya kuda hitam peranti lunak, yaitu Microsoft ke dunia apa pun terutama di sistem proses bisnis dengan nama Microsoft Dynamics, yang merupakan gabungan 3 ERP yang dulunya bersaing keras yaitu Navision/Axapta, GreatPlains, dan Solomon. Dapat dibayangkan seorang pemilik perusahaan yang awam terhadap dunia IT, dan baru belajar ISO 9000, pasti sangat pusing dengan semua ini. Bayangkan perusahaannya yang dikembangkan puluhan tahun atau malah beberapa generasi harus memilih ERP dan tekanan merapikan perusahaannya.
Tidak sedikit yang mulai usahanya dari door-to-door. Tekanan persaingan usaha, tekanan untuk merespons pasar yang berubah cepat, serta kecepatan perubahan teknologi yang tidak bisa diikuti oleh seorang yang fulltime di dunia IT sekalipun, apalagi seorang pemilik perusahaan non-IT yang sangat fokus terhadap bisnisnya yang non-IT. Sebuah harapan muncul dengan lahirnya Linux sebagai sistem operasi, Postgres/MySQL sebagai database, dan JBoss sebagai middleware yang semuanya bukan hanya gratis tetapi Open Source. Ada Compiere yang merupakan full stack ERP atau OfBiz yang berbasis web.
(Sumber:vitriyanespa.com)
By IRFAN HELMY on May 4, 2008
MENGELOLA BANK DENGAN TI
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam bisnis bank, kepercayaan nasabah merupakan aset terpenting. Agar nasabah senang, pelayanan terbaik harus diberikan. Citigroup tahu benar hal itu. Tak mengherankan kalau investasi dalam teknologi informasi (TI) perusahaan ini tidak tanggung-tanggung. Menurut Umang Moondra, Director Operations & Technology Group Citigroup, alokasi anggaran untuk TI mencapai 15 persen dari total anggaran perusahaan.
Salah satu contoh penerapan TI Citigroup adalah online credit card application. Aplikasi komputer berbasis Internet ini memungkinkan calon nasabah mengajukan permohonan kartu kredit baru hanya dengan mengunjungi situs web Citibank dan mengisi formulir yang tersedia. Persetujuan diperoleh dalam 60 menit. “Ini merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia,” ujar Umang bangga.
TI juga berperan dalam kenyamanan nasabah saat membayar tagihan. Melalui aplikasi pembayaran online real time, nasabah yang memiliki rekening di Citibank dapat membayar tagihan kartu kredit dari 11 ribu anjungan tunai mandiri mitra Citigroup di Indonesia. Pembayaran dibukukan saat itu juga.
Metode pembayaran lainnya yang telah diterapkan Citigroup adalah penggunaan formulir online berformat photoshop document file (PDF) dari Adobe. Untuk meningkatkan keamanan, transaksi ini dipadukan dengan teknologi pemindaian radio frequency identification.
Tidak cuma untuk meningkatkan mutu layanan bagi nasabah, TI juga dimanfaatkan oleh Citigroup untuk efisiensi dan produktivitas operasi. Para karyawan, contohnya, mengandalkan aplikasi berbasis web, yang disebut e-Workplace. Dalam e-Workplace terdapat banyak aplikasi, misalnya Resource Reservation–memungkinkan karyawan memesan mobil, ruang rapat, proyektor, atau apa saja melalui intranet–serta Employee Portal–berisi segala sesuatu yang terkait dengan personel, mulai biodata, riwayat pekerjaan, job desk, hingga riwayat pelatihan.
Pemanfaatan TI juga tidak berhenti pada aplikasi yang ada. Demi tujuan mengembangkan bisnis, TI dimutakhirkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Contohnya, saat ini sedang dikembangkan teknologi original character recognition, yang bisa mengenali tulisan tangan nasabah pada formulir penyetoran. “Ini adalah inovasi lokal dan saat ini dalam tahap pengujian selama dua-tiga bulan,” Umang menjelaskan.
Citigroup tidak mengatur semua itu tanpa referensi yang pasti. Sejak enam tahun silam, mereka membuat cetak biru kebijakan Citigroup IT Management Policy. “Kebijakan ini menjadi dasar dari pengelolaan TI dan bagian dari suatu proses peningkatan yang berkesinambungan,” ujar Umang.
Pengaturan TI Citigroup itu mendapat pengakuan dari Warta Ekonomi Indonesia E-Company Awards 2006 sebagai yang terbaik di Indonesia melalui penghargaan special award for best IT governance akhir Mei lalu. Selain itu, untuk sektor perbankan, Citibank menjadi ketiga terbaik setelah Bank BCA dan Bank Niaga.
Bagi Citigroup, kata Umang, pemanfaatan TI bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Selain itu, TI dan bisnis adalah setara dan saling tergantung. “TI yang ada ditambah keahlian dan sumber daya dapat mengendalikan bisnis dan memantau peluang bisnis. Sebaliknya, peluang bisnis, model bisnis, dan pendanaan dapat dipakai untuk mengatur penerapan dan memantau perkembangan TI,” tutur dia.
Manfaat itu sudah dibuktikan Citigroup dalam tiga tahun ini. Dengan penerapan TI–di antaranya memakai 86 aplikasi komputer, jumlah komputer melebihi jumlah karyawan (1,2 : 1), 70 persen karyawan memiliki account e-mail, dan seluruh peranti lunak berlisensi–telah membuat pertumbuhan rata-rata nasabah online per tahun mencapai 35 persen dan transaksi rata-rata per tahun mencapai 30 persen.
Selain itu, “Business corporate and investment banking meningkat lebih dari 12 persen dan penurunan biaya proses 12 persen,” kata Umang.
By FAJAR EKO SAPUTRO on May 4, 2008
SAATNYA PARIWISATA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
Perkembangan Global
Sebagaimana kita ketahui seiring perkembangan teknologi informasi secara global yang melanda seluruh aspek kehidupan dan membawa banyak sekali perubahan secara revolusioner, contoh sederhana adalah begitu maraknya pemakaian ponsel walaupun untuk sekedar bertelepon dan ber-sms ria, didunia perbankan tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ATM dan internet banking. Fenomena chatting di kalangan kaum muda yang begitu besar walaupun masih dalam taraf “ngobrol ngalor ngidul”. Di dunia bisnis pemanfaatan email dan website telah mampu meningkatkan performa dan daya saing bisnis di era globalisasi dimana kebutuhan akan komunikasi yang cepat dan ketersediaan data untuk proses pengambilan keputusan dan proses transaksi yang kompleks menuntut dunia bisnis untuk selalu meningkatkan pemanfaatan TI dalam berbagai aspek bisnis, dari sekadar menampilkan info perusahaan (web presence) sampai proses transaksi yang lebih rumit (semisal e-commerce dan e-bussiness).
Fenomena Electronic Government
Pada tataran pemerintahan kita mengenal istilah egovernment yang sedang menjadi trend saat ini, Bagaimana pemanfaatan TI di pemerintahan yang kita kenal dengan fenomena “egovernment”nya ? Ternyata pemanfaatan TI di pemerintahan tidak seperti yang kita bayangkan, pengertian TI di pemerintahan masih sebatas komputer untuk pengetikan dan mendukung proses administrasi semata. Fungsi TI untuk proses pengolahan data dan transaksi yang komplek serta penyediaan informasi publik masih jauh dari harapan. Apalagi proses pengambilan keputusan berbasis TI (misal: DSS/ EIS) masih belum menjadi fokus perhatian. Hal yang paling sederhana misalnya penyediaan data/ informasi publik untuk kepentingan masyarakat terkadang masih dijumpai keengganan sebagian birokrat untuk membuka akses kepada publik supaya dapat meminta data dan informasi publik (share data) yang memang data/ informasi tersebut untuk konsumsi publik.
Pariwisata berbasis TI (Sistem Informasi Manajemen Pariwisata)
Bahwa dunia pariwisata adalah menjadi salah satu bidang garapan pemerintah daerah dalam implementasi egovernment untuk mempublikasikan/ memasarkan) potensi wisata di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen yang berbasis pada pengolahan data elektronik.
Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.
Selain kebutuhan wisatawan akan informasi yang lengkap, akurat dan mudah didapat, maka pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan dibidang pariwisata. Namun penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat membantu baik pemerintah maupun industri/ pelaku pariwisata.
Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata maka tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat dan dapat disebarluaskan dengan mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau jaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi dan media informasi lainnya maka sekarang dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.Secara umum saat ini SIM merupakan kebutuhan setiap organisasi. Hal ini disebabkan karena data yang disimpan suatu organisasi harus selalu diperbaharui dan ditambah, sehingga keberadaannya dapat membantu memberikan keputusan dengan cepat. Untuk bidang pariwisata maka SIM dapat digunakan untuk mengelola data yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, industri pariwisata maupun pemerintah. Data pariwisata yang banyak dan selalu bertambah membutuhkan pengelolaan yang tepat. SIM punya kemampuan untuk membantu mengambil keputusan, dan juga menyediakan informasi bagi pengguna data dan informasi pariwisata. Keberadaan sistem informasi manajemen yang terintegrasi dengan baik, disertai dengan dukungan sistem komputer, akan sangat membantu pengelolaan data pariwisata.
Disamping kesiapan dari sistem pengelola data maka orang yang membangun struktur sistem informasi ini harus benar-benar mengerti kebutuhan pengguna data tersebut, karena informasi pariwisata memiliki karakteristik data yang sangat beragam seperti objek dan daya tarik, data hotel, data sarana transportasi, dan data-data fasilitas lain, hingga ke data statistik seperti jumlah wisatawan dan pemandu wisatanya, perlu dikelola secara terintegrasi. Data-data ini juga sangat dinamis, sehingga kompleks dalam pemilahannya, serta harus diperhatikan masalah keakuratan atau kebenaran datanya. Kegunaan dari setiap data juga harus diperhatikan berdasarkan segmen pasar penggunanya.
Berikut data-data yang umumnya dibutuhkan dalam Perencanaan Pariwisata :
1. Data Rencana Pengembangan
Kebijakan pembangunan, arah pembangunan & pengembangan wilayah; wilayah perencanaan & wilayah yg lebih luas (mikro-makro).
Karakteristik kepariwisataan di daerah; ideologi, politik, sosial-budaya, hukum, ekonomi, pertahanan dan keamanan.
Ketersediaan daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas dan komunitas, regulasi & kebijakan, sumber daya manusia, manajemen, dan informasi
Segmen Pasar: Wisman dan/ atau Wisnus
2. Data Wisatawan
Jumlah Kunjungan (wisnus, wisman)
Jumlah Perjalanan (wisnus, , wisman)
Jumlah Pengeluaran (wisnus, wisman
Pendapatan Devisa (wisman)
Profil Wisatawan:
Tinjauan Geografis: daerah asal & tujuan Wisata;
Tinjauan Demografis : jenis kelamin, umur, pekerjaan, dsb;
Tinjauan Psikografis: minat, tujuan, dan sasaran berwisata;
Tinjauan Perilaku: kepuasan & pengalaman berwisata.
3. Data Industri Pariwisata
Database Hotel & Akomodasi
Database Agen & Biro Perjalanan Wisata
Database Usaha Jasa Makan & Minum
Database Jasa Konsultan
Database Jasa Transportasi
4. Data Destinasi Pariwisata
Fokus (tematik/ clustering)
Lokus
Daya Tarik (alam, budaya, minat khusus)
Fasilitas (hotel, restoran, biro perjalanan dsb)
Aksesibilitas (transportasi)
Komunitas (penduduk yang berada di sekitar daya tarik wisata)
Kebijakan & Regulasi
Manajemen Destinasi
Komunikasi & Informasi
5. Analisis
Kebijakan pembangunan yang ada (sektoral & regional)
Potensi kewilayahan; untuk mengetahui potensi wilayah dalam mendukung pengembangan pariwisata
Aspek ketersediaan (supply) dan perhitungan kebutuhan pengembangan
Aspek pasar dan proyeksi wisatawan
6. Hasil Analisis
Pengembangan Pemasaran
Pengembangan Destinasi Pariwisata
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan Kelembagaan
Pengembangan Tata Ruang Pariwisata
Pengembangan Lingkungan (alam & budaya)
Pengembangan Investasi
Perumusan diarahkan pada tujuan & sasaran pembangunan yang akan dicapai. Hasil Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan data ditampilkan melalui website.
Website Pariwisata
Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk Website / Portal sangat beragam mulai dari sekadar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks misalnya : reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi dll), sistem pembayaran online, pengelolaan data base pariwisata daerah dan proses interaksi dan transaksi lainnya.
Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain :
Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu , misal : orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.
Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah
Menyediakan informasi sedetail mungkin : harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.
Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.
Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia misal : Indonesia dianggap tempat teroros dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.
Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.
Kehadiran internet terutama tersedianya website/ portal pariwisata yang handal, lengkap dan interaktif tentu sangat mendukung promosi tujuan wisata yang ada di suatu daerah, sebagai contoh : sebuah website pariwisata milik suatu pemda memuat suatu promosi perjalanan wisata ke daerah yang meliputi :
Lokasi obyek wisata (dimana, apa saja yang bisa dilihat)
Waktu yang dibutuhkan
Perkiraan biaya
Pendukung yang terkait (hotel, restoran, toko souvenir, sarana hiburan, atraksi wisata)
Saran souvenir yang perlu dibeli
Budaya lokal (adat istiadat, bahasa, kesenian dll)
Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan, untuk sekadar publikasi, maka cukuplah sebuah website yang memuat info pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/ foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakatmengetahui (web prsence).
Perkembangan Global
Sebagaimana kita ketahui seiring perkembangan teknologi informasi secara global yang melanda seluruh aspek kehidupan dan membawa banyak sekali perubahan secara revolusioner, contoh sederhana adalah begitu maraknya pemakaian ponsel walaupun untuk sekedar bertelepon dan ber-sms ria, didunia perbankan tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ATM dan internet banking. Fenomena chatting di kalangan kaum muda yang begitu besar walaupun masih dalam taraf “ngobrol ngalor ngidul”. Di dunia bisnis pemanfaatan email dan website telah mampu meningkatkan performa dan daya saing bisnis di era globalisasi dimana kebutuhan akan komunikasi yang cepat dan ketersediaan data untuk proses pengambilan keputusan dan proses transaksi yang kompleks menuntut dunia bisnis untuk selalu meningkatkan pemanfaatan TI dalam berbagai aspek bisnis, dari sekadar menampilkan info perusahaan (web presence) sampai proses transaksi yang lebih rumit (semisal e-commerce dan e-bussiness).
Fenomena Electronic Government
Pada tataran pemerintahan kita mengenal istilah egovernment yang sedang menjadi trend saat ini, Bagaimana pemanfaatan TI di pemerintahan yang kita kenal dengan fenomena “egovernment”nya ? Ternyata pemanfaatan TI di pemerintahan tidak seperti yang kita bayangkan, pengertian TI di pemerintahan masih sebatas komputer untuk pengetikan dan mendukung proses administrasi semata. Fungsi TI untuk proses pengolahan data dan transaksi yang komplek serta penyediaan informasi publik masih jauh dari harapan. Apalagi proses pengambilan keputusan berbasis TI (misal: DSS/ EIS) masih belum menjadi fokus perhatian. Hal yang paling sederhana misalnya penyediaan data/ informasi publik untuk kepentingan masyarakat terkadang masih dijumpai keengganan sebagian birokrat untuk membuka akses kepada publik supaya dapat meminta data dan informasi publik (share data) yang memang data/ informasi tersebut untuk konsumsi publik.
Pariwisata berbasis TI (Sistem Informasi Manajemen Pariwisata)
Bahwa dunia pariwisata adalah menjadi salah satu bidang garapan pemerintah daerah dalam implementasi egovernment untuk mempublikasikan/ memasarkan) potensi wisata di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen yang berbasis pada pengolahan data elektronik.
Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.
Selain kebutuhan wisatawan akan informasi yang lengkap, akurat dan mudah didapat, maka pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan dibidang pariwisata. Namun penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat membantu baik pemerintah maupun industri/ pelaku pariwisata.
Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata maka tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat dan dapat disebarluaskan dengan mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau jaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi dan media informasi lainnya maka sekarang dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.
Secara umum saat ini SIM merupakan kebutuhan setiap organisasi. Hal ini disebabkan karena data yang disimpan suatu organisasi harus selalu diperbaharui dan ditambah, sehingga keberadaannya dapat membantu memberikan keputusan dengan cepat. Untuk bidang pariwisata maka SIM dapat digunakan untuk mengelola data yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, industri pariwisata maupun pemerintah. Data pariwisata yang banyak dan selalu bertambah membutuhkan pengelolaan yang tepat. SIM punya kemampuan untuk membantu mengambil keputusan, dan juga menyediakan informasi bagi pengguna data dan informasi pariwisata. Keberadaan sistem informasi manajemen yang terintegrasi dengan baik, disertai dengan dukungan sistem komputer, akan sangat membantu pengelolaan data pariwisata.
Disamping kesiapan dari sistem pengelola data maka orang yang membangun struktur sistem informasi ini harus benar-benar mengerti kebutuhan pengguna data tersebut, karena informasi pariwisata memiliki karakteristik data yang sangat beragam seperti objek dan daya tarik, data hotel, data sarana transportasi, dan data-data fasilitas lain, hingga ke data statistik seperti jumlah wisatawan dan pemandu wisatanya, perlu dikelola secara terintegrasi. Data-data ini juga sangat dinamis, sehingga kompleks dalam pemilahannya, serta harus diperhatikan masalah keakuratan atau kebenaran datanya. Kegunaan dari setiap data juga harus diperhatikan berdasarkan segmen pasar penggunanya.
Berikut data-data yang umumnya dibutuhkan dalam Perencanaan Pariwisata :
1. Data Rencana Pengembangan
Kebijakan pembangunan, arah pembangunan & pengembangan wilayah; wilayah perencanaan & wilayah yg lebih luas (mikro-makro).
Karakteristik kepariwisataan di daerah; ideologi, politik, sosial-budaya, hukum, ekonomi, pertahanan dan keamanan.
Ketersediaan daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas dan komunitas, regulasi & kebijakan, sumber daya manusia, manajemen, dan informasi
Segmen Pasar: Wisman dan/ atau Wisnus
2. Data Wisatawan
Jumlah Kunjungan (wisnus, wisman)
Jumlah Perjalanan (wisnus, , wisman)
Jumlah Pengeluaran (wisnus, wisman
Pendapatan Devisa (wisman)
Profil Wisatawan:
Tinjauan Geografis: daerah asal & tujuan Wisata;
Tinjauan Demografis : jenis kelamin, umur, pekerjaan, dsb;
Tinjauan Psikografis: minat, tujuan, dan sasaran berwisata;
Tinjauan Perilaku: kepuasan & pengalaman berwisata.
3. Data Industri Pariwisata
Database Hotel & Akomodasi
Database Agen & Biro Perjalanan Wisata
Database Usaha Jasa Makan & Minum
Database Jasa Konsultan
Database Jasa Transportasi
4. Data Destinasi Pariwisata
Fokus (tematik/ clustering)
Lokus
Daya Tarik (alam, budaya, minat khusus)
Fasilitas (hotel, restoran, biro perjalanan dsb)
Aksesibilitas (transportasi)
Komunitas (penduduk yang berada di sekitar daya tarik wisata)
Kebijakan & Regulasi
Manajemen Destinasi
Komunikasi & Informasi
5. Analisis
Kebijakan pembangunan yang ada (sektoral & regional)
Potensi kewilayahan; untuk mengetahui potensi wilayah dalam mendukung pengembangan pariwisata
Aspek ketersediaan (supply) dan perhitungan kebutuhan pengembangan
Aspek pasar dan proyeksi wisatawan
6. Hasil Analisis
Pengembangan Pemasaran
Pengembangan Destinasi Pariwisata
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan Kelembagaan
Pengembangan Tata Ruang Pariwisata
Pengembangan Lingkungan (alam & budaya)
Pengembangan Investasi
Perumusan diarahkan pada tujuan & sasaran pembangunan yang akan dicapai. Hasil Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan data ditampilkan melalui website.
Website Pariwisata
Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk Website / Portal sangat beragam mulai dari sekadar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks misalnya : reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi dll), sistem pembayaran online, pengelolaan data base pariwisata daerah dan proses interaksi dan transaksi lainnya.
Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain :
Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu , misal : orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.
Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah
Menyediakan informasi sedetail mungkin : harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.
Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.
Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia misal : Indonesia dianggap tempat teroros dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.
Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.
Kehadiran internet terutama tersedianya website/ portal pariwisata yang handal, lengkap dan interaktif tentu sangat mendukung promosi tujuan wisata yang ada di suatu daerah, sebagai contoh : sebuah website pariwisata milik suatu pemda memuat suatu promosi perjalanan wisata ke daerah yang meliputi :
Lokasi obyek wisata (dimana, apa saja yang bisa dilihat)
Waktu yang dibutuhkan
Perkiraan biaya
Pendukung yang terkait (hotel, restoran, toko souvenir, sarana hiburan, atraksi wisata)
Saran souvenir yang perlu dibeli
Budaya lokal (adat istiadat, bahasa, kesenian dll)
Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan, untuk sekadar publikasi, maka cukuplah sebuah website yang memuat info pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/ foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakatmengetahui (web prsence).
Sedangkan untuk layanan yang lebih kompleks dan rumit diperlukan teknoogi yang lebih “advance” misalnya : diperlukan adanya website yang interaktif dengan animasi flash, gambar dan link yang lengkap, sehingga calon customer bisa meminta suatu penjelasan secara lebih detail. Perlu ditambah pula menu semacam, jadwal trayek atau peta jalan interaktif sehingga memudahkan calon customer untuk bisa sampai di suatu tempat, perlu dipikirkan pula menu transaksi yang harus ada misalnya : reservasi hotel, nilai tukar mata uang, kamus, waktu/ jam, pembayaran online, layanan sms interaktif, interaktif voice response/ call center, dan lain-lain.
Supaya suatu website diminati oleh calon customer maka diperlukan beberapa hal sebagai berikut :
Informasi harus di up date secara berkala (events, info baru, berita, artikel, gambar, film, animasi, dll)
Suatu website juga harus responsif terhadap request dan pertanyaan (banyak yang tidak menjawab email) serta tanggap terhadap keiningan pengunjung dan komunikatif (memahami alasan mengapa audiens web mendarat di suatu website).
Sesuaikan dengan target pembaca/ pengunjung dengancara penyampaian informasi (calon wisatawan asing membutuhkan informasi dalam bahasa Inggris/ atau bahasa asing lainnya dan dalam bahasa Indonesia).
Kendala
Beberapa kendala yang sering dihadapi oleh suatu Dinas Pariwisata di daerah untuk mengembangkan egovernment di bidang pariwisata adalah sebagai berikut:
Kesulitan utama secara teknis ada pada ketersediaan akses internet, serta peralatan komputer dan jaringan yang kurang memadai.
Secara non teknis kesulitan ada pada ketersediaan data (content) dari Dinas Pariwisata sendiri yang mana sangat membutuhkan kerjasama dan keterbukaan dari setiap bidang dan seksi yang ada, sehingga data dapat terintegrasi dengan baik.
Kemampuang SDM yang relatif masih rata-rata dan belum sampai pada tingkat yang mahir khususnya penguasaan jarirngan komputer dan internet.
Pariwisata berbasis TI belum menjadi ”minded” dari pimpinan daerah yang dimana pada beberapa daerah, Dinas Pariwisata masih ”dianggap” dinas yang ”kering” dan ”dihindari” oleh para pejabat
Egovernment merupakan aplikasi pemacu untuk memasarkan tujuan dan potensi wisata di daerah, zaman sedang berubah dan suka atau tidak suka semua harus berubah termasuk sektor pariwisata daerah.
sumber: http://pariwisata.jogja.go.id/
By Kristian Rahayu on May 4, 2008
Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Sekolah
Kenyataan bahwa pada era informasi abad ini, teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (Information and Communication Teclznology) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan global oleh kita karena itu setiap institusi termasuk perpustakaan berlomba untuk mengintegrasikan “ICT” guna membangun dan memberdayakan civitas akademikanya berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Dalam menyikapi perkembangan ICT pada era informasi tahun ini, Perpustakaan berbasis teknologi informasi (komputerisasi) sangat di butuhkan.. Keberadaan perpustakaan berbasis komputerisasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan sehingga dapat memperlancar proses belajar-mengajar di lingkungan Sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta dapat meningkatkan Efektifitas dan efisiensi penatalaksanaan perpustakaan
Pustakawan berpotensi menjadi seorang manajer informasi. Peranan baru itu mensyaratkan penguasaan berbagai macam keterampilan, pengetahuan dan kemampuan. Dengan begitu, mereka dapat mengakses dan menyebarkan informasi berbantuan komputer dan teknologi telekomunikasi dari perpustakaannya. Salah satu pendekatan yang sangat mungkin dilakukan dalam hal ini ialah dengan memanfaatkan teknologi internet. Pustakawan secara proaktif dapat memperkenalkan perpustakaannya ke lingkungan sekolah, bisnis, institusi, akademis dan masyarakat seluas-luasnya melalui situs web.
Sekarang bukan jamannya lagi mencari-cari buku dari katalog kusam di perpustakaan. Peran Teknologi Informasi (TI) telah banyak digunakan untuk memudahkan para pengguna perpustakaan menemukan buku favoritnya. Dengan hanya mengetik judul buku atau nama pengarang pada layar komputer, informasi mengenai posisi serta keberadaan buku yang kita cari pun akan segera tersaji di layar komputer.
Perkembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatisl terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna dapat membantu mencari sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan catalog on-line yang dapat diakses melalui internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan dan dimanapun ia berada.
Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Diperlukan beberapa perangkat untuk pengelolaan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi.
1.Komputer
Komputer diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data koleksi buku data anggota perpustakaan, dan OPAC (Online Public Accses Catalogue). Dengan OPAC, para pelanggan perpustakaan bisa mencari informasi koleksi buku yang mereka butuhkan tanpa harus mencari secara langsung. Komputer itu juga bisa dikoneksikan ke internet. Kemudian setelah mempunyai koleksi digital, maka kita memerlukan pula komputer yang mempunyai performa yang cukup tinggi sebagai sarana untuk menyimpan serta melayani pengguna dalam mengakses koleksi. Sebuah komputer dengan processor pentium 4 dengan hard disk sebesar 40 giga, memory 256 Mega bytes adalah spesifikasi komputer minimal.
2. Internet
Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaan adalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat homepage perpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.
3.Software
Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis offline maupun online (open source), di antaranya Athenaeum Light, Freelib dan Senayan Open Source Library Management System.
secara otomatis, barcode akan muncul saat pengklasifikasian buku.
Sumber : almaipii.multiply.com/journal/item/64
(Email :tarto_ipi@yahoo.com)
By rahayu Fajri Susanti C1C005187 on May 4, 2008
IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN INTERNET TERHADAP BISNIS
Dimana saja anda membaca, saat ini, sulit untuk menghindari dari informasi atau tulisan tentang teknologi informasi (information technology, IT ) dan Internet. Hal ini tidak saja terjadi di negara Amerika sana, akan tetapi di Indonesia juga. Surat kabar dan majalah dipenuhi dengan cerita sukes dan gagal dari individu atau perusahaan yang merangkul IT dan Internet. Tulisan singkat ini akan sedikit mengulas implikasi IT terhadap bidang Bisnis.
Sebelum mebahas lebih lanjut, mari kita bahas dahulu apa yang dimaksud dengan IT dan Internet. Teknologi Informasi adalah sama dengan teknologi lainnya, hanya informasi merupakan komoditas yang diolah dengan teknologi tersebut. Dalam hal ini, teknologi mengandung konotasi memiliki nilai ekonomi. Teknologi pengolah informasi ini memang memiliki nilai jual, seperti contohnya teknologi database, dan security.
Berita atau informasi manfaat IT dan Internet di bidang bisnis nampaknya sudah sedemikian banyak sehingga jika dituliskan akan menjadi sebuah buku. Perlu diingat bahwa IT dapat dijadikan produk atau dapat digunakan sebagai alat (tools). Jadi sebuah perusahaan dapat menghasilkan produk IT atau dapat menggunakan IT untuk menghasilkan produk atau layanannya. Untuk yang terakhir ini, IT dijadikan sebagai tools, bukan sebagai end product.
Adanya Internet mendobrak batasan ruang dan waktu. Sebuah perusahaan di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pasar Amerika dibandingkan dengan perusahaan di Eropa, atau bahkan dengan perusahaan di Amerika. Dahulu hal ini mungkin akan sulit dilakukan karena perusahaan lokal akan memiliki akses yang lebih mudah kepada pasar lokalnya. Perlu diingat, hal yang sebaliknya (perusahaan luar mengakses pasar Indonesia) dapat juga dilakukan dengan mudah. Jika hal ini tidak mendapat perhatian, maka pasar dalam negeri kita akan dijarah oleh perusahaan asing.
IT dan Internet dipercaya menjadi salah satu penopang ekonomi Amerika Serikat. Demikian percayanya mereka kepada hal ini sehingga pemerintah Amerika sangat bersungguh-sungguh untuk menjaga dominasi mereka dalam hal ini. Berbagai inisiatif dilaksanakan oleh pemerintah Amerika Serikat seperti dapat dilihat pada dokumen-dokumen yang dapat diperoleh di Web site mereka:
· “Digital Economy 2000” (diperoleh dari http://www.ecommerce.gov)
Ekonomi yang berbasis kepada IT dan Internet ini bahkan memiliki nama sendiri: New Digital Networked Economy. Dalam ekonomi baru ini banyak kaidah ekonomi lama (old economy) yang dijungkirbalikkan. Pasar modal seperti NASDAQ yang didominasi oleh saham perusahaan yang berbasis teknologi ramai diburu dan dimonitor oleh pelaku bisnis. Saham-saham perusahaan teknologi, terutama yang berbasis IT dan Internet, dicari-cari oleh orang meskipun perusahaan tersebut masih dalam keadaan merugi. Ini berbeda dengan kaidah old economy. Apakah ini sehat atau tidak, banyak sudah kajian tentang hal ini. Ada yang mengatakannya sebagai bubble economy. Point yang ingin disampaikan adalah ini ekonomi baru yang mesti kita simak dan kaji dengan seksama.
Di dalam industri software telah terjadi sebuah perubahan filosofi. Source code program yang semula dijaga kerahasiaannya sekarang dibuka dan dapat dibaca oleh siapa saja. Bagaimana perusahaan bisa menjual produk softwarenya? Perubahan filosofi ini dituangkan dalam sebuah model yang disebut model “Bazaar” dengan implementasi yang disebut “open source”. Contoh keberhasilan pendekatan ini adalah adanya operating system Linux yang gratis dan perusahaan Redhat yang mengkomersialkan produk Linux tersebut.
Hilangnya batasan ruang dan waktu dengan adanya Internet membuka peluang baru untuk melakukan pekerjaan dari jarak jauh. Istilah teleworker atau teleworking mulai muncul. Seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dari rumah tanpa perlu pusing dengan masalah lalulintas.
Kesemua hal di atas menunjukkan adanya peluang-peluang baru di dalam bisnis dengan adanya IT dan Internet.
Di Indonesia ada berbagai inisiatif untuk menumbuhkan bisnis dan industri IT & Internet seperti program Nusantara 21, program Telematikan Indonesia, dan program Bandung High-Tech Valley (BHTV) . Kesemuanya ini diharapkan dapat memacu Indonesia sehingga tidak tertinggal di dalam dunia IT dan Internet.
Sumber : budi.insan.co.id/articles/riau-it.doc
By Fazar Nugraha (C1C005090) on May 4, 2008
“ Pengembangan Content Berbasis Broadband Network untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bisnis“
Saat ini dunia binis tidak lagi dibatasi dengan ruang dan waktu. Bisnis menuntut pertukaran informasi yang cepat dan akurat serta efisiensi kerja dari tiap unit kerjanya. Di era globalisasi sekarang ini, mobilitas, teknologi komunikasi atau jaringan mutakhir, dan integrasi aplikasi teknologi informasi (TI) di seluruh unit kerja, telah menjadi kebutuhan bisnis. Penerapan teknologi ICT (Information and Communication Technology) diyakini sebagai salah satu tindakan penting untuk meningkatkan efisiensi kerja internal dan eksternal. Teknologi informasi dan komunikasi juga merupakan sumberdaya yang sangat membantu untuk mengambil keputusan dan kebijakan dalam bisnis. Teknologi Broadband Network yang berupa jaringan data kecepatan tinggi seperti ADSL, 3G, 3.5G, WiMax dan lain-lain menjadi pilihan dalam memberikan solusi bisnis berbasis TI.
Konteks seminar dan workshop adalah pembahasan mengenai pemanfaatan ICT untuk bisnis, yang meliputi :
Meningkatkan mutu penggunaan ICT untuk mendukung e-business.
Pengembangan content berbasis broadband network untuk mengoptimalkan pemanfaatan TI dalam bisnis.
Berdasarkan hal tersebut E-Bizz Club MMUGM bekerjasama dengan Inixindo Jogja menyelenggarakan Seminar Nasional & Workshop “Pengembangan Content Berbasis Broadband Network untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bisnis.“ Seminar ini melibatkan pihak akademisi, praktisi bisnis, praktisi teknologi informasi dan pemerintah. Seminar tersebut berjalan pada Rabu, 12 Maret 2008 pukul 08.00-12.00 di Auditorium MMUGM dan Workshop pukul 13.00-18.00 di Lab Komputer MMUGM.
Sebagai pembicara seminar tersebut adalah bapak Bambang Supriyanto, SH, M.Sc. sebagai Direktur Pengembangan Telematika dari DepKomInfo sebagai wakil dari Regulator dengan topik Pengembangan Content berbasis Broadband untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bisnis. Kemudian bapak Ir. Hermanudin, MT sebagai GM Business Planning Development IM2 mewakili Broadband Provider dengan topik Internet Broadband di Indonesia, terakhir bapak Pudja U. Kartiman sebagai Direktur Cisco Systems Indonesia mewakili Broadband Vendor dengan topik Create Public Value Through Broadbad. Seminar di moderatori Surahyo, B.Eng.,M.Eng.Sc. yang merupakan direktus Inixindo Jogja dan pengajar di MMUGM.
Workshop yang bersifat lebih teknis dilaksanakan di Laboratorium Komputer MM UGM dengan topik Pengelolaan Content Video dan Audio berbasis CMS (Content Management System) dibawakan oleh Trainer dari Inixindo Jogja. Peserta diberikan pelatihan bagaimana membuat website dinamis menggunakan OpenSource CMS yaitu Joomla. Selain itu, diajarkan juga bagaimana membuat video server di Joomla seperti YouTube.
Sumber : http://www.inixindojogja.com/detailnews.php?id=107
By Sagita Rahma (C1C005032) on May 5, 2008
XL Kembangkan Bisnis Berbasis Konvergensi Teknologi
Penyedia jasa telekomunikasi, PTB Excelcomindo Pratama Tbk. (XL), mengembangkan strategi bisnis berbasis konvergensi teknologi komunikasi dan teknologi musik.
Wujud bisnis konvergensi teknologi yang dikembangkan baru-baru ini adalah menerapkan fitur voice music massage (VMS).
VMS merupakan pesan berdurasi 30 detik yang berisi pesan suara dan dilanjutkan dengan musik pilihan pelanggan.
Konvergensi merupakan suatu perkembangan industri luar biasa, yang menandai tumbuhnya sesuatu yang baru sehingga bertambah powerfull dan memberikan pengkayaan.
Ia mengatakan, melalui bisnis yang dikembangkan XL tercipta saluran pasar baru. Selama ini pangsa pasar musik melalui penyedia jasa layanan telekomunikasi, seperti ringtone, ringbacktone, dan nada tunggu mencapai 50 hingga 60 juta pelanggan atau lebih besar dari penjualan melalui CD dan kaset tradisional.
Untuk teknisnya, XL bekerja sama dengan PTB Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) yang selama ini banyak bergerak di bidang infrastruktur.
Sementara itu, produser musik Benc Leo, mengatakan, promosi musik melalui ringtone atau ringbacktone pada ponsel justru sangat baik untuk mengurangi risiko pembajakan lagu.
Oleh karena itu, menurut dia, pengembangan dunia musik sangat ideal bila disatupadukan dengan teknologi telekomunikasi.
sumber : http://www.kapanlagi.com/h/0000162188.html
By Novita Puspasari (C1C005150) on May 5, 2008
Pertamina Menuju Bisnis Berbasis “TI”
Pertamina hampir setahun ini sudah melaksanakan proses negosiasi melalui perangkat komputer (e-Auction). Sekarang sedang bersiap-siap untuk memasuki gerbang e-Procurement, melengkapi teknologi e di semua proses pengadaan barang/jasa. Tak hanya di proses negosiasi saja.
Bahkan tak menutup kemungkinan, semangat Pertamina melanjutkan ke babak lebih luas lagi, yaitu e-Commerce akan terus bergulir. Bukan utopia, karena di sektor pemasaran Pertamina sudah melahirkan embrio e-Commerce.
E-Commerce adalah mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa antara dua institusi (business to business). Ataupun antara instusi dengan konsumen langsung (business to costumer).
Kalau mencermati ramalan (baca: prediksi) Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation, Pertamina memang harus lebih mempercepat realisasi penerapan teknologi informasi dalam proses bisnisnya.
Bill Gates pernah meramalkan, suatu saat sebagian besar aplikasi akan bermigrasi ke Internet atau web-based (Koran Tempo, 8/2/05). Katanya, yang bergerak ke Internet bukan hanya berita atau aplikasi kecil, solusi untuk perusahaan juga bergerak ke arah yang sama.
Jika Pertamina tidak cepat bergerak ke sana, percepatan menjadi perusahaan kelas dunia tersendat oleh ketertinggalan di pemanfaatan TI dalam operasi bisnisnya.
Kemajuan TI seolah-olah tak terbendung. IBM bahkan telah menyediakan solusi bisnis berbasis telekomunikasi dari hulu sampai ke hilir. Mulai manajemen tagihan, pengelolaan data pelanggan (CRM, customer relationship management), hingga manajemen sistem informasi internal perusahaan.
Hampir berbarengan, raksasa teknologi informasi (TI) dari Jerman, SAP AG, meluncurkan solusi CRM on-demand alias solusi berbasis internet.
SAP AG adalah perusahaan TI asal Jerman yang didirikan tahun 1972 oleh lima mantan insinyur IBM. Pada perkembangannya SAP AG dikenal sebagai pembuat aplikasi enterprise resources planning (ERP) terbesar. SAP merupakan perusahaan TI terbesar di dunia setelah Microsoft, IBM, dan Oracle.
Direktur Umum dan SDM Suprijanto pun akhirnya melihat kemungkinan bahwa perluasan impelementasi e-Auction dan penerapan e-Procurement ? disiapkan secara serempak.
Di sisi lain penerapan e-Commerce yang sudah ada embrionya di lingkungan pemasaran, tidak akan dibiarkan menunggu persiapannya. Memang bertahap, tapi tahapannya terus berjalan bersama teknologi informasi lain.
E-PROCUREMENT
Pertamina bersiap-siap melaksanakan lebih lengkap lagi dalam proses pengadaaan (procurement of supplies), yaitu dengan menerapkan e-Procurement. Tak hanya di sisi negosiasi pengadaan saja yang telah sukses dengan penerapan e-Auction yang membukukan penghematan anggaran pengadaan Rp 72,4 miliar.
Untuk pilot project, Pertamina EP sudah menawarkan kesiapannya menjadi proyek percontohan penerapan e-Procurement.
E-COMMERCE
Direktur Umum dan SDM Suprijanto dan Sekretaris Perseroan Sudrajat tidak menampik kemungkinan Pertamina mengarah juga ke e-Commerce untuk mendukung transaksi bisnisnya (lihat wawancara dengan Suprijanto dan Sudrajat, red).
Bahkan RUPS menitahkan Pertamina menerapkan SAP secara menyeluruh pada tahun 2006 ini. Dengan cakupan lebih luas, penerapan SAP tentu mendorong penerapan TI ?di bawahnya? seperti e-Procurement dan e-Commerce lebih gencar persiapan pengimplementasiannya.
Namun apapun kendalanya, titah RUPS itu menunjukkan komitmen para pemegang saham agar BUMN berstatus Perusahaan Perseroan ini semakin profesional.
Penerapan e-Commerce didasarkan pada kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan daya saing. Perlunya mekanisme untuk mempercepat proses pengadaan material ataupun penjualan produk perusahaan.
Juga diperlukan untuk memperkenalkan produk-produk perusahaan kepada konsumen. Mendekatkan diri kepada konsumen. Dan yang lebih penting mendukung pelaksanaan teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu ERP, SCM, dan CRM.
By NOREMA DESTIARINI on May 5, 2008
BANDUNG COMTECH 2007,BERSAMA MEMBANGUN BISNIS TI YANG SEHAT DAN SUKSES
Bandung merupakan pasar yang menjanjikan untuk industri teknologi informasi (TI). Di Bandung, terdapat salah satu pusat perbelenjaan yang memiliki fasilitas lengkap untuk kebutuhan belanja TI di Bandung. Pusat perbelanjaan ini adalah Be Mall (Bandung E-Tronical Mall) yang berlokasi di Jl. Naripan 89 / Jl. Veteran 54 Bandung dekat dengan kawasan strategis Jl. Asia-Afrika Bandung. Untuk semakin membuat pasar TI di Bandung menjadi lebih bergairah, berbagai event telah sukses digelar di Be Mall yang bekerjasama dengan BISKOM, Mitra Komunitas Telematika.
Di Be Mall inilah, diselenggarakan pameran komputer akhir tahun terbesar di Jawa Barat yaitu Bandung Comtech 2007. Pameran bertema “IT EDUCATION & EXPO” ini digelar pada tanggal 14 – 18 November 2007 yang menghadirkan berbagai kegiatan unik, menarik dan terbaru. Pameran Bandung Comtech digelar bersamaan waktunya dengan pameran IndoComtech yang berlangsung di Jakarta Convention Center.
Sebelum digelar pameran, berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mensosialisasikan Bandung Comtech. Diantaranya adalah menyelenggarakan Gathering Bandung Comtech 2007 yang diselenggarakan sebanyak dua kali didukung oleh PANIN BANK. Gathering pertama digelar di Grand Ball Room Sun City Restaurant Lindeteves Trade Center, Jakarta pada 3 Oktober 2007. Gathering kedua pada 2 November 2007 di Ballroom Restaurant Grand Eastern, Bandung. Kedua gathering tersebut berlangsung dengan meriah dan mendapat sambutan hangat dari undangan yang hadir dengan hiburan yang atraktif. Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aptel Depkominfo, yang hadir dalam gathering menyambut gembira pameran Bandung Comtech. “Kami yang mewakili pemerintah sangat mendukung kegiatan Bandung Comtech ini, karena akan semakin memajukan teknologi informasi di Indonesia dimana nantinya akan bergabung berbagai unsur seperti pemerintah dalam hal ini Depkominfo dan Ristek, akademisi, pebisnis komputer dan perbankan, dan komunitas,” ujarnya.
Aneka Kegiatan TI yang Edukatif dan Menghibur
Selain sebagai pameran produk-produk TI terkini, digelar berbagai kegiatan yang bersifat edukatif dan entertain untuk semakin menyemarakkan acara Bandung Comtech 2007. Beberapa komunitas Open Source yang salah satunya adalah Komunitas Ubuntu Indonesia akan menyelenggarakan Workshop, Seminar, Computer for Kids, Konsultasi & Klinik TI, dan berbagai kegiatan menarik lainnya.
Dari kalangan akademisi, Universitas Widyatama dan ITB di Bandung akan melakukan Demo Robot, Workshop, Seminar & Talk Show yang tujuannya untuk mempertemukan pihak Akademisi dengan pelaku bisnis atau industri. Para pakar TI dan Dosen ITB juga akan unjuk kebolehan bermain musik lewat BAND IT dan Planet GBT Project Band. Aksi panggug band tersebut digawangi oleh pakar security yang juga dosen ITB, Budi Rahardjo.
Pameran Komputer yang Bisa Diakses dari Seluruh Dunia
Di pameran Bandung Comtech 2007, pengguna yang membawa perangkat elektronik seperti PDA atau Notebook juga bisa menikmati layanan akses internet gratis via hotspot dan komputer publik dengan bandwidth besar didukung oleh ISP Melsa.Net. Pemanfaatan teknologi informasi mutakhir membuat Bandung Comtech 2007 menjadi unik. Seluruh kegiatan yang ada di Bandung Comtech akan bisa dinikmati dari berbagai penjuru dunia karena direkam secara online streaming. Pengguna komputer yang ingin mengetahui kemeriahan suasana Bandung Comtech bisa mengungi live streaming di website http://bandungcomtech.axiscam.net. Bandung Comtech 2007 menjadi pelopor sebagai pameran pertama yang menyiarkan berbagai kegiatan secara live yang bisa diakses dari seluruh dunia.
Pembukaan IGOS Center dan I2TB
Ada hal yang menarik dari Bandung Comtech 2007, pameran akan memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal. Pembukaan pameran akan dilakukan secara online. Diadakan teleconference pameran antara Bandung Comtech di Bandung dengan IndoComtech di Jakarta.
Bersamaan dengan pameran Bandung Comtech 2007, diadakan pembukaan I2TB (Inkubator Inovasi Telematika Bandung) yang diprakarasi oleh DEPKOMINFO berlokasi di Be Mall Lantai UG Blok G No. 3,5,6 & 7. I2TB merupakan tempat dimana para pebisnis, akademisi dan pelaku industri telematika serta para inovator menampung segala ide dan karya cipta di bidang teknologi informasi.
Kementerian RISTEK yang memprakarsai IGOS Center (Indonesia, Go Open Source) juga akan meresmikannya pada hari yang sama. IGOS Center Bandung dikelola oleh Yayasan yang bergerak dalam bidang “Open Innovation” yang kegiatannya pada saat ini fokus dalam hal Penyediaan Produk dan Jasa berbasis teknologi “Open Source Software” (OSS). Inisiatif IGOS Center Bandung bermula dari program Kantor Menteri Negara Riset & Teknologi, yang dimotori oleh kerjasama antara Institut Teknologi Bandung, ZamrudTechnology, Penajati, dan Klub Linux Bandung. Sementara itu Showroom IGOS Center Bandung yang berlokasi di Be Mall Lantai UG Blok I No. 1,2,3 dan 5 terwujud karena dukungan Be-Mall dan Majalah BISKOM.
Baik I2TB maupun IGOS adalah salah satu wujud nyata dukungan pemerintah untuk memajukan masyarakat lewat inkubator teknologi dengan mempertemukan berbagai pihak seperti akademisi, pebisnis dan komunitas secara berkesinambungan di lokasi yang strategis mudah dijangkau.
Selain peresmian I2TB dan IGOS Center, pada tanggal 17 November 2007 pukul 13:00 – 14:00 akan ada peluncuran NEXT (National Elearning Xchange Technology) oleh APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer). APTIKOM merupakan jaringan perguruan tinggi di bidang ilmu komputer yang memiliki anggota sekitar 700 institusi tersebar di seluruh Indonesia.
Dukung Penggunaan Software Legal
Jika diamati, pameran Bandung Comtech memiliki nuansa untuk mempromosikan penggunaan software legal, terutama yang bersifat Open Source Software (OSS). Ada beragam kegiatan yang diselenggarakan untuk semakin memasyarakatkan penggunaan software legal. Pengunjung yang menghadiri pameran bisa memperoleh gratis CD-ROM Internet Sehat dan Ubuntu Linux 7.10 Gutsy Gibbon PC X86-32 bit. Tiap hari selama pameran, pengunjung bisa konsultasi gratis seputar masalah penggunaan sistem operasi Linux khususnya distro Ubuntu yang ada di stand Ubuntu. Komunitas Ubuntu Indonesia akan siap membantu pengunjung setiap saat termasuk instalasi sistem operasi Ubuntu di notebook milik pengunjung.
Mengunjungi Bandung Comtech 2007, bukan sekedar untuk belanja produk TI dengan harga murah. Anda akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat seputar Linux karena ada dua seminar menarik yang dibawakan oleh praktisi Linux. Akhir pekan, tanggal 17 November, pada siang hari diadakan seminar Ubuntu Linux, Desain dan Industri Kreatif oleh Yulian Andriansyah, Andi Sugandi dan Diki Andreas. Malam harinya diadakan workshop instalasi Ubuntu oleh Rolly M. Arwangga bersama tim. Di hari terakhir pameran yaitu hari Minggu, pengunjung bisa membawa serta anak-anak untuk memperkenalkan Linux sejak dini karena akan ada FOSS (Free Open Source Software) for Kids, ada banyak permainan berbasis open source yang bersifat edukatif. Pengunjung juga bisa mengikuti seminar gratis ”Migrasi Linux” oleh Harry Sufehmi.
Bagi yang memiliki hobi mencari celah security atau hacking, pameran Bandung Comtech tidak bisa dilewatkan karena di tempat ini digelar Hacking Competition. Kompetisi untuk para hacker ini digelar selama lima hari berturut-turut dari jam 10.00 sampai jam 20.00, Grand Final untuk membuktikan sebagai ”dedengkot” hacker diadakan pada hari Minggu. Selain hacker, gamer juga akan unjuk kebolehan karena akan diadakan game competition yang didukung oleh AMD.
Didukung Pemerintah, Pebisnis TIK, Akademisi dan Komunitas
Beberapa instansi dan komunitas yang mendukung pameran Bandung Comtech 2007 diantaranya adalah DEPKOMINFO, RISTEK, DEPDIKNAS, PANIN BANK, JARDIKNAS, APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer), BHTV (Bandung Hi Tech Valley), FORKKOM Bandung, DetikINET, ICT Watch, ITB, Universitas Widyatama, Melsa.Net Internet Service Provider, serta komunitas Open Source. Sementara vendor TI yang turut bergabung memeriahkan Bandung Comtech seperti ACER, ASUS, AMD, AXIOO, BELAIR, EPSON, EXELCOMINDO (XL), CANON, COMPAQ, HEWLETT PACKARD / CONCORDIA, LENOVO, LINKSYS, RUCKLUS, SAMSUNG, TELKOM, ZEND PHP, dan ZYREX. Pengusaha komputer di Bandung yang bergabung di Bandung Comtech 2007 seperti Centro Notebook, Sima Computer, Mediatama, Bio Showroom, Zion Computer, DCS, Virtue Computer, Masterlink, Terus Jaya, Bio Notebook, Titanium, Gracia, Sol Majestia, Lexishop1.com, Penerbit Andi, Millenium III, X-Book, Diaz Comp, Expert, Optoma/PT. Datascrip, Diseven, Mitra Solusindo Computama, IT Talk, Ultima.
Bandung Comtech 2007 merupakan tempat berkumpul berbagai pihak baik dari kalangan bisnis atau industri, akademisi dan juga pemerintah. Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum Majalah BISKOM, mengatakan bahwa acara Bandung Comtech 2007 diharapkan dapat memacu pertumbuhan bisnis TI di kota Bandung. “Bandung Comtech 2007 akan dimanfaatkan untuk ajang perkenalan produk baru, penciptaan peluang bisnis baru bagi para pengusaha TI dan sebagai sarana edukasi kepada masyakarakat luas di bidang industri TI,” ujar pria yang akrab dipanggil Pak Hoky tersebut. Diharapkan pula, Bandung Comtech 2007 akan mempertemukan investor dengan inventor. Sehingga hasil-hasil penelitian anak bangsa tidak berhenti sebatas penelitian saja, melainkan dapat langsung dipasarkan kepada masyarakat luas.
Jadi, bagi yang berkeinginan belanja komputer, pameran Bandung Comtech 2007 adalah saat yang tepat karena nanti akan ada diskon belanja besar-besaran pada produk komputer dan aksesoris dari vendor-vendor ternama. Pameran Bandung Comtech 2007 ini akan dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat yang potensial untuk berbelanja produk TI sehingga diharapkan semakin membuat bisnis komputer di Bandung semakin bergairah. Bandung Comtech 2007 menjadi momentum yang tepat bagi banyak perusahaan untuk memperkenalkan dan meluncurkan berbagai produk, jasa ataupun teknologi terbaru kepada masyarakat. Mengingat Jawa Barat, khususnya Bandung, merupakan daerah dengan penyerapan Teknologi Informasi yang besar, dimana budaya, fashion, gaya hidup dan teknologi seolah tidak dapat dipisahkan, maka membuka bisnis di Bandung bagaikan menanam investasi yang menjanjikan di masa depan.
SUMBER : http://www.biskom-majalah.com/2007/11/14/bandung-comtech-2007-bersama-membangun-bisnis-ti-yang-sehat-dan-sukses/
By RATIH KARTIKASARI on May 5, 2008
Pertamina Menuju Bisnis Berbasis “TI”
Pertamina hampir setahun ini sudah melaksanakan proses negosiasi melalui perangkat komputer (e-Auction). Sekarang sedang bersiap-siap untuk memasuki gerbang e-Procurement, melengkapi teknologi e di semua proses pengadaan barang/jasa. Tak hanya di proses negosiasi saja.
Bahkan tak menutup kemungkinan, semangat Pertamina melanjutkan ke babak lebih luas lagi, yaitu e-Commerce akan terus bergulir. Bukan utopia, karena di sektor pemasaran Pertamina sudah melahirkan embrio e-Commerce.
E-Commerce adalah mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa antara dua institusi (business to business). Ataupun antara instusi dengan konsumen langsung (business to costumer).
Kalau mencermati ramalan (baca: prediksi) Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation, Pertamina memang harus lebih mempercepat realisasi penerapan teknologi informasi dalam proses bisnisnya.
Bill Gates pernah meramalkan, suatu saat sebagian besar aplikasi akan bermigrasi ke Internet atau web-based (Koran Tempo, 8/2/05). Katanya, yang bergerak ke Internet bukan hanya berita atau aplikasi kecil, solusi untuk perusahaan juga bergerak ke arah yang sama.
Jika Pertamina tidak cepat bergerak ke sana, percepatan menjadi perusahaan kelas dunia tersendat oleh ketertinggalan di pemanfaatan TI dalam operasi bisnisnya.
Kemajuan TI seolah-olah tak terbendung. IBM bahkan telah menyediakan solusi bisnis berbasis telekomunikasi dari hulu sampai ke hilir. Mulai manajemen tagihan, pengelolaan data pelanggan (CRM, customer relationship management), hingga manajemen sistem informasi internal perusahaan.
Hampir berbarengan, raksasa teknologi informasi (TI) dari Jerman, SAP AG, meluncurkan solusi CRM on-demand alias solusi berbasis internet.
SAP AG adalah perusahaan TI asal Jerman yang didirikan tahun 1972 oleh lima mantan insinyur IBM. Pada perkembangannya SAP AG dikenal sebagai pembuat aplikasi enterprise resources planning (ERP) terbesar. SAP merupakan perusahaan TI terbesar di dunia setelah Microsoft, IBM, dan Oracle.
Direktur Umum dan SDM Suprijanto pun akhirnya melihat kemungkinan bahwa perluasan impelementasi e-Auction dan penerapan e-Procurement ? disiapkan secara serempak.
Di sisi lain penerapan e-Commerce yang sudah ada embrionya di lingkungan pemasaran, tidak akan dibiarkan menunggu persiapannya. Memang bertahap, tapi tahapannya terus berjalan bersama teknologi informasi lain.
E-PROCUREMENT
Pertamina bersiap-siap melaksanakan lebih lengkap lagi dalam proses pengadaaan (procurement of supplies), yaitu dengan menerapkan e-Procurement. Tak hanya di sisi negosiasi pengadaan saja yang telah sukses dengan penerapan e-Auction yang membukukan penghematan anggaran pengadaan Rp 72,4 miliar.
Untuk pilot project, Pertamina EP sudah menawarkan kesiapannya menjadi proyek percontohan penerapan e-Procurement.
E-COMMERCE
Direktur Umum dan SDM Suprijanto dan Sekretaris Perseroan Sudrajat tidak menampik kemungkinan Pertamina mengarah juga ke e-Commerce untuk mendukung transaksi bisnisnya (lihat wawancara dengan Suprijanto dan Sudrajat, red).
Bahkan RUPS menitahkan Pertamina menerapkan SAP secara menyeluruh pada tahun 2006 ini. Dengan cakupan lebih luas, penerapan SAP tentu mendorong penerapan TI ?di bawahnya? seperti e-Procurement dan e-Commerce lebih gencar persiapan pengimplementasiannya.
Namun apapun kendalanya, titah RUPS itu menunjukkan komitmen para pemegang saham agar BUMN berstatus Perusahaan Perseroan ini semakin profesional.
Penerapan e-Commerce didasarkan pada kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan daya saing. Perlunya mekanisme untuk mempercepat proses pengadaan material ataupun penjualan produk perusahaan.
Juga diperlukan untuk memperkenalkan produk-produk perusahaan kepada konsumen. Mendekatkan diri kepada konsumen. Dan yang lebih penting mendukung pelaksanaan teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu ERP, SCM, dan CRM.
sumber:
http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1285&Itemid=507
By NOREMA DESTIARINI on May 5, 2008
“Marketing Online,Metode Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi (Sumber: Dunia QT.Blogspot)”
Telah kita ketahui bahwa dunia bisnis sekarang menuntut pelayanan yang modern, dan menuntut cara yang praktis baik segi biaya yang semakin murah dan juga kecepatan dan kemudahan dalam bertransaksi. Jika perusahaan dapat memenuhi aspek tersebut, tidak menutup kemungkinan perusahaan akan menguasai persaingan yang semakin ketat.
Ada salah satu pakar menyebutkan bahwa penggunaan internet dalam dunia bisnis, terutama di setiap fungsi-fungsi organisasi akan semakin ramai di tahun 2008 dan tahun-tahun berikutnya. Penggunaan internet juga ditidak bisa dilepaskan dari kegitan bisnis. Kita telah lihat waktu yang lalu, ketika terjadi gangguan internet, terjadi yang namanya perlambanan kegiatan ekonomi. Tapi kita tidak bisa pungkiri juga bahwa internet juga bisa membawa hal negatif, jika kita terlalu bergantung betigu besarnya dengan internet dan teknologi informasi.
Penggunaan internet dan teknologi informasi sekarang ini dan yang akan datang, akan ramai oleh kegiatan pemasaran suatu produk oleh perusahaan, hal ini dikenal dengan marketing online. Pemasran yang berbasis teknologi informasi ini dirasakan bisa memenuhi kebutuhan para konsumen akan pelayanan yang modern, dari segi kepraktisan marketing online sudah tidak diragukan, karena hanya dengan duduk dirumah dan menggunakan baju seadanya, para konsumen dapat bertransaksi. Di lain sisi juga perusahaan diuntungkan, karena dengan metode pemasaran ini perusahaan dapat merespon konsumen dengan cepat, dan dengan hal ini pula omzet perusahaan meningkat.
et tapi entar dulu, tidak semua situs-situs perusahaan yang ada di internet menyugukan kebenaran ada situs perusahaan setan, situs perusahaan setan ini merupakan mainan para oknum tidak bertanggung jawab yang ingin meraih ketuntungan dengan cara menipu. Tapi anda jangan takut, di dunia maya tidak ada yang namanya hukum rimba, di dunia maya juga dikenal adanya penegakan hukum. jadi jika anda salah satu korban penipuan, tinggal laporkan saja pada lembaga yang bertanggung jawab, kalo diindonesia kita kenal dengan departemen informasi dan komunikasi. Jadi tunggung apa lagi, qt shopping in web world wide.
Ada tambahan nih, yang kita bahas diatas merupakan kegiatan perusahaan meraih keuntungan lewat pemanfaatan internet. kita pun sebagai pengguna internet bisa loh mendapatkan penghasilan yang akan meningkatkan taraf hidup kita, sebut aja forex online, penghasilan melalui adsense google, pay perclic, pay perword, pemasangan iklan, web design, webmaster, dan lainnya. yang pasti internet untuk semua orang didunia.
Jika kita ingin mendapatkan penghasilan lewat internet, jangan sekali-kali melakukan hal tanpa ilmu yang mendukung, tapi jangan juga takut untuk memulai. Banyak situs penyedia yang menyediakan e-book, artikel, pengarahan, buku-buku juga telah banyak yang membahas tentang dunia maya dan hal-hal yang unik di internet. Kita sebut saja situs : http://www.goldengrab.com penyedia e-book dan artikel tentang web design. Ada lagi yang memberikan kursus affiliate program: http://www.asianbrain.com, yang dikelola oleh orang jenius berkewarganegaraan indonesia. Ada lagi yang memberikan pelajaran tentang transaksi perdagangan mata uang asing online sekaligus merupakan bursa valas online, kunjugi: http://www.marketiva.com. Jadi tunggu apalagi, dan siapa bilang ilmu itu mahal, internet telah merubah itu semua menjadi lebih mudah dan murah. selamat mencoba
By Krismanuel Soedjadi (C1C006070) on May 5, 2008
Telkom Menjadi Perusahaan Teknologi Informasi No. 12 Terbaik Di Dunia
Jakarta, 20 Juli 2006 - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. kembali mencatat prestasi Internasional. Perusahaan Nasional yang sahamnya juga tercatat di New York Stock Exchange itu berhasil menduduki peringkat 12 dalam InfoTech 100 di majalah berita bisnis internasional BusinessWeek Global - Amerika. Pemeringkatan ini memanfaatkan data Standard & Poor’s yang mengacu pada pencapaian kinerja sepanjang tahun 2005.
President Director Business Week Indonesia, Robert Eskappa mewakili BusinessWeek Global - Amerika menyerahkan penghargaan Award kepada TELKOM yang diterima oleh Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Arwin Rasyid, di Jakarta (20/7).
InfoTech 100 adalah pemeringkatan tahunan terhadap kinerja perusahaan-perusahaan teknologi informasi di dunia berdasarkan laporan keuangan. Tahun lalu, TELKOM berada di posisi 20 dan tahun ini berhasil mengungguli perusahaan ternama seperti Google, Accenture, dan juga Dell. Prestasi TELKOM ini telah diterbitkan di majalah BusinessWeek edisi 3 Juli yang beredar secara internasional dan BusinessWeek Indonesia edisi 26 Juli.
Catatan penting yang digarisbawahi oleh BusinessWeek adalah prestasi TELKOM yang pada 2005 mencatat kenaikan pendapatan 23% dan laba bersih 21%. Hal ini terutama didorong ekspansi anak perusahaan di bidang seluler yang berhasil mendapat 24 juta pelanggan (dari total 47 juta pengguna seluler di Indonesia). Dibanding kinerja perusahaan teknologi di dunia, pertumbuhan TELKOM tentu mendapat penilaian sangat baik.
Secara global, prestasi TELKOM sebetulnya tidak mengherankan. Perusahaan telekomunikasi yang menggarap wilayah-wilayah berkembang-dengan tingkat penetrasi seluler masih rendah-menunjukkan kinerja mengagumkan. Tahun ini, 4 perusahaan telekomunikasi yang beroperasi di wilayah-wilayah tersebut menduduki 10 besar peringkat. Untuk pasar Indonesia sendiri, ke depan, layanan seluler diyakini masih akan cerah. Pada 2010, diperkirakan jumlah pelanggan akan mencapai 100 juta.
Dalam kategori industri telekomunikasi, TELKOM kini berada di posisi 5 setelah America Movil (Meksiko/1), Telefonica Moviles (Spanyol/6), Telefonica (Spanyol/7) dan China Mobile (Hong Kong/8). Prestasi perusahaan Indonesia itu berada di atas BT Group (Inggris/20), China Netcom Group (Hong Kong/21), Telenor (Norwegia/25), dan Telefonos De Mexico (Meksiko/27). Sementara itu, perusahaan telekomunikasi ternama Sprint (Amerika Serikat) berada di urutan 36, AT&T (AS) 53, dan LG Telecom (Korea Selatan) 64. Tahun ini, perusahaan raksasa France Telecom (Perancis) keluar dari daftar peringkat (tahun lalu perusahaan tersebut ada di urutan 45).
Arwin Rasyid, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk menyampaikan bahwa keberhasilan TELKOM tidak lain berkat adanya dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat bangsa, sehingga TELKOM mendapatkan kepercayaan dunia menduduki posisi peringkat 12. “TELKOM tetap akan mengambil peran strategis sebagai National Flag Carrier”, tambahnya. Arwin Rasyid juga berharap kedepan seluruh stake holders Telkom dapat lebih meningkatkan kerjasama dalam rangka untuk menghasilkan kinerja perusahaan lebih baik lagi.
Dirut TELKOM kembali menyampaikan sekilas kinerja tahun 2005 diantaranya perusahaan mampu menghasilkan laba Bersih Usaha Konsolidasi tahun 2005, yang tumbuh sebesar Rp.1,4 Triliun atau 21% menjadi Rp.8 triliun. Hal ini menyebabkan Perseroan masih bisa mempertahankan EBITDA Margin diatas 60% dan termasuk yang tertinggi di Asia Pasifik.
Sejalan dengan rencana pengembangan bisnis perusahaan guna mencapai target kapitalisasi pasar sebesar US$ 30 Milyar di tahun 2010, Telkom kedepan akan mengembangkan bisnis dan produknya antara lain : layanan untuk pelanggan korporasi seperti bisnis call centre, transaksi finansial, dsb. Untuk meraih peluang pasar broadband di dalam negeri dan mengantisipasi turunnya bisnis telepon tetap, Telkom juga akan mengembangkan bisnis IP TV. Direncanakan, paling cepat di akhir tahun 2007 layanan IP TV sudah akan di operasikan oleh Telkom.
SUMBER:http://www.telkom.co.id/pojok-media/siaran-pers/telkom-menjadi-perusahaan-teknologi-informasi-no-12-terbaik-di-dunia.html
By Firdaus Yunanto Prabowo C1C005148 on May 5, 2008
IBM Perusahaan TI ‘Hijau’ No.1 Versi ComputerWorld
JAKARTA ?” IBM mengumumkan bahwa IDG Computerworld memilih IBM sebagai Perusahaan TI ? Hijau? Nomor Satu pada 2008.
“Untuk menjadi ?~hijau? , kita tidak cukup mengatakan bahwa kita peduli lingkungan dan tantangan-tantangan yang terkait dengannya saja. Di dunia bisnis saat ini, kita harus mengatasi masalah efisiensi, konsumsi listrik dan penerapan prinsip-prinsip hijau untuk mengambil keputusan bisnis yang cerdas,” jelas Direktur Editorial Computerworld Don Tennant, yang dirilis keterangan resmi IBM, Rabu (27/2/2008). JAKARTA ?” IBM mengumumkan bahwa IDG Computerworld memilih IBM sebagai Perusahaan TI ? Hijau? Nomor Satu pada 2008.
“Untuk menjadi ?~hijau? , kita tidak cukup mengatakan bahwa kita peduli lingkungan dan tantangan-tantangan yang terkait dengannya saja. Di dunia bisnis saat ini, kita harus mengatasi masalah efisiensi, konsumsi listrik dan penerapan prinsip-prinsip hijau untuk mengambil keputusan bisnis yang cerdas,” jelas Direktur Editorial Computerworld Don Tennant, yang dirilis keterangan resmi IBM, Rabu (27/2/2008).
? IBM, yang dinobatkan sebagai Perusahaan TI Hijau yang terkemuka dalam edisi Top Green-IT Computing yang pertama, sangat serius mempertimbangkan dampak perusahaan terhadap lingkungan dan bagaimana mereka dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut dengan pemikiran bisnis yang baik melalui inisiatif Project Big Green, selain fokus seluruh perusahaan pada teknologi dan layanan yang hemat energi,? imbuhnya.
? IBM merasa terhormat dinobatkan oleh IDG dan Computerworld sebagai Perusahaan TI Hijau Nomor Satu Tahun 2008,” Country Manager IBM Global Technology Services Hengkie Kastono.
Henkie menambahkan bahwa hal Ini merupakan cerminan komitmen jangka panjang IBM terhadap lingkungan dan keberhasilan global dengan para klien melalui inisiatif Project Big Green, selain upaya kami menilai dan mengimplementasikan strategi yang memungkinkan mereka untuk melipat-gandakan kapasitas komputasi mereka tanpa menambah konsumsi energi.
Di musim gugur 2007, IDG, melalui majalah Computerworld-nya, memulai sebuah misi untuk mengidentifikasi perusahaan-peruahaan yang mengimplementasikan strategi-strategi cerdas dan efisien untuk mewujudkan lingkungan TI ? Hijau.? Computerworld mengundang pakar-pakar TI hijau untuk membantunya menetapkan serangkaian kriteria untuk sebaik mungkin mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang berupaya mengurangi konsumsi energi di perlengkapan TI mereka dan yang menggunakan teknologi untuk menghemat energi dan mengurangi emisi karbon.
Berdasarkan masukan dari para pakar ini, anggota redaksi Computerworld mengembangkan sebuah survey dengan metode checklist dan skema tertimbang. Computerworld kemudian mengikutsertakan komunitas TI melalui berbagai saluran, dan didapatilah 86 survey. Computerworld kemudian menghubungi representatif dari perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi untuk memverifikasikan apakah informasi yang didapat dari survey adalah akurat dan yang sebenarnya.
Majalah ini hanya mempertimbangkan perusahaan-perusahaan yang menyerahkan surat verifikasi. Berdasarkan skema tertimbang yang dikembangkan, dipilih 12 Pengguna TI Hijau Teratas dan 12 Vendor TI Hijau Teratas. (//srn)
Sumber:http://www.smun2-mlg.sch.id/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=53
By Davied Eko P C1C005177 on May 5, 2008
KEBUTUHAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN APLIKASI BERBASIS WEB
Di zaman globalisasi ini, “information is prestigious knowledge”. Kebutuhan manusia akan Informasi didasari oleh insting mereka untuk memenuhi 15 human desires and value (Menurut penelitian StevenReiss dan Susan Havercamp, peneliti dari Ohio State University, di Amerika Serikat, ada 15 keinginan atau hasrat (desire) manusia dan nilai-nilai (values) yang dianutnya : curiosity, food, honor, rejection, sex, physical, order, independence, vengeance, social contact, family, social prestige, aversive sensations, citizenship, power.
Hasrat yang dimiliki oleh manusia tersebut mengangkat informasi menjadi sesuatu yang memiliki nilai komoditas tinggi – seperti contoh : seorang pialang anda mengetahui besok nilai tukar rupiah akan jatuh dengan drastis, maka ia akan bergegas ke bank untuk menukarkan rupiah anda dengan dollar. Bayangkan apa yang akan terjadi dengan uang anda apabila ia tidak mendapatkan informasi tersebut. Demikian pula jika anda mengetahui bahwa ada berita tentang terungkapnya skandal pejabat negara, atau berita mengenai pemadaman lampu yang akan terjadi di daerah kita, maka kita akan segera mencari tahu tentang berita tersebut.
Penggunaan teknologi informasi untuk kegiatan bisnis dan pendidikan sudah dirasa sebagai keharusan. Karena luasnya aspek implementasi teknologi informasi, perlu dibahas bersama anatar mereka yang berkepentingan untuk menentukan prioritas urutan aspek-aspek yang perlu didahulukan. Persoalannya adalah bahwa implementasi teknologi informasi tidak semata-mata masalah teknologi tapi dalam prakteknya lebih banyak berurusan dengan pelaku-pelaku pengguna teknologi informasi itu sendiri.
Beberapa aspek pengembangan Teknologi Informasi yang harus menjadi prioritas utama untuk digunakan dalam kegiatan bisnis dan dunia pendidikan antara lain :
1. Penyediaan sarana fisik berupa peralatan TI dan jaringannya yang terjangkau
2. Perencanaan pembangunan/pengembangan aplikasi yang mudah dalam penggunaannya
3. Kemampuan jumlah pengguna dalam mengakses aplikasi secara bersama tidak terbatas
4. Penyediaan database yang terpusat dan terintegrasi sehingga memudahkan dalam pemeliharaan, termasuk dalam hal penciptaan database cadangan
5. Kemampuan menyediakan informasi utk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan
6. Kemudahan dalam perbaikan dan pengembangan lebih lanjut
Dari 6 aspek diatas maka tidaklah berlebihan jika saat ini berkembang pesat aplikasi berbasis web karena semua aspek diatas bisa dipenuhi dengan mudah, cepat dan murah.
sumber : http://www.rumahscript.com/
By PUSPITA NUR RATNA (C1C005151) on May 5, 2008
maaf pak, artikel yang kedua ini,rasanya lebih pas dengan tema yang diberikan.
INTERNET : THE HIDDEN MONEY
Pernyataan yang pernah dilontarkan Alvin Toffle akan terjadinya penggeseran dari masyarakat industri menjadi mansyarakat informasi kini telah menjadi kenyataan.Sebuah komunitas baru di masyarakat yang begitu getol memburu informasi(e-community) telah hadir dengan ciri khas tersendiri.Dalam waktu 24 jam sehari, yang sepertinya masih kurang, komunitas ini berburu sekian juta informasi yang setiap saat siap untuk di update.Mereka memiliki kesempatan untuk saling berbagi begitu banyak informasi di jagat raya bumi ini sebuah jejaring maya yang di kenal dengan internet.
Fenomena ini begitu besar pengaruh nya hingga kemudian muncul sebuah paradigma baru bernama new economy.Dalam artian yang sederhana,ekonomi baru adalah sebuah istilah yang merefleksikan berbagai macam aktivitas dengan basis internet.dengan term-term e(electronic)-things-nya, ekonomi baru muncul banyak istilah di masyarakat seperti e-comerce,e-business,e-banking dan lain sebagainya.
Don Tapscot, Penulis The Digital Economy yang di juluki wakil Presiden Amerika,Al Gore, sebagai salah satu maha guru cyber,mengatakan bahwa perubahan fenomena bisnis yang terjadi pada saat sekarang membawa konsekuensi logis yang mengharuskan berbagai macam aktivtas mau tidak mau bergabung dalam bisnis internet.
Salah satu fenomena yang bisa membuktikan adalah banyaknya para pebisnis yang berlomba-lomba terjun di bisnis berbasis Internet dan TI (Teknologi Informasi)atau-meninjam istilah Benoit Marchal-Migrating to e-comerce.
Di Amerika,kita bisa melihat banyak perusahaan old-company yang mulai melirik dunia Web seperti(sears.com),procter&gamble(reflect.com),baner & nobel(banerandnobel.com),amazon(amazon.com),dan lain sebagai nya.bahkan raja hiburan Time Warner yang berkiprah sejak tahun1925 dengan total pendapatan sebesar us$23 miliar besedia merger dengan America Online(AOL)yang baru berdiri pada 1985 dengan pendapatan pertahun yang hanya us$5,2 miliar.
Di Tanah air kita juga bisa menyaksikan perusahaan-perusahaan old company yang melakukan hal serupa.selain itu bayak pula perusahaan-perusahaan baru start up yang mengejar bisnis berbasis internet dan TI
Jika anda sering menjelajahi internet,Anda juga bisa menjumpai banyak anak muda di negeri ini yang sudah menjalankan bisnis melalui internet dengan bermodalkan situs bahkan blog gratisan,mereka menjual apapun yang bisa di jual.
Salah satu yang mendorong suburnya bisnis melalui internet adalah murah nya modal yang di perlukan untuk memiliki sebuah domain saat ini anda bisa memiliki “toko” di internet dengan sebuah domain dot com yang berharga tidak lebih dari seratusribu rupiah plus hosting di bawah lima ribu rupiah.bahkan,script untuk memiliki sebuah toko online bisa di dapatkan secara gratis seperti yang bisa di download dari oscom-merce.com.
Bandingkan jika anda mendirikan toko di pinggir jalan atau bahkan gerobak dorong sekalipun,tentu modal yang di perlukan lebih dari setengah juta rupiah.
Terlepas dari adanya kenyataan bahwa ada banyak bisnis online yang gagal bertahan,perkembangan dunia maya yang sedemikian pesat tersebut memunculkan anggapan bahwa ekonomi baru dengan e-commerce-nya bakal menciptakan mesin uang bagi pemilik nya.
Menurut Sawidji Widoatmodjo,paling tidak ada sepuluh bisnis yang akan menjadi mesein uang yang akan datang yaitu e-budget, bisnis suara, software, privacy, Transmisi data, iklan, rumah dan mobil, server, wireless e-mail, internet content, dan solusi.
Jika perkiraan ini benar,maka sudah saat nya bagi siapa saja untuk mulai menengok internet sebagai media bisnis atau bahkan pekerjaan.
Hebatnya, bisnis atau pekerjaan melalui internet bisa di di lakukan tanpa harus memiliki kantor dan pegawai. Ini artinya biaya yang harus di keluarkan juga tidak sebesar bisnis konvensional lain.cukup dengan komputer atau PDA yang Connect dengan internet, aktivitas bisnis sudah bisa di lakukan.
Mari kita bayangkan contoh sederhana berikut: seorang penjual Software membuat toko online dengan membeli sebuah toko online dengan membeli domain plus hosting(dengan biaya tidak lebih dari rp.200.000).saat ada pengunjung yang tertarik membeli,si pembeli akan mengisi form pemesanan dan melakukan transfer ke rekening bank atau internet occount (paypal,e-gold,dll)milik si penjual.dengan sistem mobile banking, si pejual akan mendapat kan informasi melalui sms bahwa ada kiriman uang untuk nya.setelah di cek kebenaran nya melalui internet banking,si penjual tinggal mengaktifkan status order si pembeli.saat itu juga si pembeli sudah bisa mendownload software yang dia pesan,selesai.
Well,jika bisnis di lakukan denga cara semacam itu bukan kah akan ada banyak penghematan ? bayangkan berapa penghematan yang bisa di dapat kan oleh amazon.mereka tidak membeli toko buku dalam bentuk fisik,tetapi mampu menjadi toko buku online terbesar di dunia.
Contoh di atas barang kali terlalu sederhana untuk di jadikan pemisalan namun kenyataan nya,sudah ada ribuan orang yang melakukan nya.
Cobalah melakukan Browsing, Maka anda akan menemukan “industri e-book” dimana banyak orang dengan modal minimal menjual produk informasi dalam bentuk e-(electronic) book sebagai contoh nya.mereka menjual prpduk informasi dengan biaya produksi nyaris nol karena informasi rersebut di jual bukan dalam bentuk print edition, tetapi berupa file dalam format pdf adau exe.
Inilah ‘the hidden money’ yang sudah saat nya anda juga bisa memperoleh dari internet dengan cara mudah,simple, dan punya potensi untuk terus berkembang-karena pengguna internet juga pasti akan semakin banyak.
Ada banyak keinginan dalam kebutuhan manusiayang di cari melalui internet.oleh karena itu,siapa pun yang pandai mengelolahnya.maka ia akan memiliki peluang besar untuk menemukan ‘harta karun’ yang masih terpendam tersebut.
Seperti yang di katakan banyak orang,”uang itu ada di mana-mana”,tetapi memang benar sangatlah tidak mudah bagi kita untuk bisa melihat, apalagi mendapatkan nya.namun bagi seseorang yang sudah memiliki kejelian melihat peluang ia tak perlu lagi meminta bantuan ‘orang pintar’ untuk melihat apa yang tidak terlhat tersebut.
Nah,untuk itu mari kita melakukan nya sekarang!!
SUMBER : http://siraitonline.blogspot.com/
By PUSPITA NUR RATNA (C1C005151) on May 5, 2008
Bandung Comtech 2007, Bersama Membangun Bisnis TI yang Sehat dan Sukses
Bandung merupakan pasar yang menjanjikan untuk industri teknologi informasi (TI). Di Bandung, terdapat salah satu pusat perbelenjaan yang memiliki fasilitas lengkap untuk kebutuhan belanja TI di Bandung. Pusat perbelanjaan ini adalah Be Mall (Bandung E-Tronical Mall) yang berlokasi di Jl. Naripan 89 / Jl. Veteran 54 Bandung dekat dengan kawasan strategis Jl. Asia-Afrika Bandung. Untuk semakin membuat pasar TI di Bandung menjadi lebih bergairah, berbagai event telah sukses digelar di Be Mall yang bekerjasama dengan BISKOM, Mitra Komunitas Telematika.
Di Be Mall inilah, diselenggarakan pameran komputer akhir tahun terbesar di Jawa Barat yaitu Bandung Comtech 2007. Pameran bertema “IT EDUCATION & EXPO” ini digelar pada tanggal 14 – 18 November 2007 yang menghadirkan berbagai kegiatan unik, menarik dan terbaru. Pameran Bandung Comtech digelar bersamaan waktunya dengan pameran IndoComtech yang berlangsung di Jakarta Convention Center.
Sebelum digelar pameran, berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mensosialisasikan Bandung Comtech. Diantaranya adalah menyelenggarakan Gathering Bandung Comtech 2007 yang diselenggarakan sebanyak dua kali didukung oleh PANIN BANK. Gathering pertama digelar di Grand Ball Room Sun City Restaurant Lindeteves Trade Center, Jakarta pada 3 Oktober 2007. Gathering kedua pada 2 November 2007 di Ballroom Restaurant Grand Eastern, Bandung. Kedua gathering tersebut berlangsung dengan meriah dan mendapat sambutan hangat dari undangan yang hadir dengan hiburan yang atraktif. Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aptel Depkominfo, yang hadir dalam gathering menyambut gembira pameran Bandung Comtech. “Kami yang mewakili pemerintah sangat mendukung kegiatan Bandung Comtech ini, karena akan semakin memajukan teknologi informasi di Indonesia dimana nantinya akan bergabung berbagai unsur seperti pemerintah dalam hal ini Depkominfo dan Ristek, akademisi, pebisnis komputer dan perbankan, dan komunitas,” ujarnya.
Aneka Kegiatan TI yang Edukatif dan Menghibur
Selain sebagai pameran produk-produk TI terkini, digelar berbagai kegiatan yang bersifat edukatif dan entertain untuk semakin menyemarakkan acara Bandung Comtech 2007. Beberapa komunitas Open Source yang salah satunya adalah Komunitas Ubuntu Indonesia akan menyelenggarakan Workshop, Seminar, Computer for Kids, Konsultasi & Klinik TI, dan berbagai kegiatan menarik lainnya.
Dari kalangan akademisi, Universitas Widyatama dan ITB di Bandung akan melakukan Demo Robot, Workshop, Seminar & Talk Show yang tujuannya untuk mempertemukan pihak Akademisi dengan pelaku bisnis atau industri. Para pakar TI dan Dosen ITB juga akan unjuk kebolehan bermain musik lewat BAND IT dan Planet GBT Project Band. Aksi panggug band tersebut digawangi oleh pakar security yang juga dosen ITB, Budi Rahardjo.
Pameran Komputer yang Bisa Diakses dari Seluruh Dunia
Di pameran Bandung Comtech 2007, pengguna yang membawa perangkat elektronik seperti PDA atau Notebook juga bisa menikmati layanan akses internet gratis via hotspot dan komputer publik dengan bandwidth besar didukung oleh ISP Melsa.Net. Pemanfaatan teknologi informasi mutakhir membuat Bandung Comtech 2007 menjadi unik. Seluruh kegiatan yang ada di Bandung Comtech akan bisa dinikmati dari berbagai penjuru dunia karena direkam secara online streaming. Pengguna komputer yang ingin mengetahui kemeriahan suasana Bandung Comtech bisa mengungi live streaming di website http://bandungcomtech.axiscam.net. Bandung Comtech 2007 menjadi pelopor sebagai pameran pertama yang menyiarkan berbagai kegiatan secara live yang bisa diakses dari seluruh dunia.
Pembukaan IGOS Center dan I2TB
Ada hal yang menarik dari Bandung Comtech 2007, pameran akan memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal. Pembukaan pameran akan dilakukan secara online. Diadakan teleconference pameran antara Bandung Comtech di Bandung dengan IndoComtech di Jakarta.
Bersamaan dengan pameran Bandung Comtech 2007, diadakan pembukaan I2TB (Inkubator Inovasi Telematika Bandung) yang diprakarasi oleh DEPKOMINFO berlokasi di Be Mall Lantai UG Blok G No. 3,5,6 & 7. I2TB merupakan tempat dimana para pebisnis, akademisi dan pelaku industri telematika serta para inovator menampung segala ide dan karya cipta di bidang teknologi informasi.
Kementerian RISTEK yang memprakarsai IGOS Center (Indonesia, Go Open Source) juga akan meresmikannya pada hari yang sama. IGOS Center Bandung dikelola oleh Yayasan yang bergerak dalam bidang “Open Innovation” yang kegiatannya pada saat ini fokus dalam hal Penyediaan Produk dan Jasa berbasis teknologi “Open Source Software” (OSS). Inisiatif IGOS Center Bandung bermula dari program Kantor Menteri Negara Riset & Teknologi, yang dimotori oleh kerjasama antara Institut Teknologi Bandung, ZamrudTechnology, Penajati, dan Klub Linux Bandung. Sementara itu Showroom IGOS Center Bandung yang berlokasi di Be Mall Lantai UG Blok I No. 1,2,3 dan 5 terwujud karena dukungan Be-Mall dan Majalah BISKOM.
Baik I2TB maupun IGOS adalah salah satu wujud nyata dukungan pemerintah untuk memajukan masyarakat lewat inkubator teknologi dengan mempertemukan berbagai pihak seperti akademisi, pebisnis dan komunitas secara berkesinambungan di lokasi yang strategis mudah dijangkau.
Selain peresmian I2TB dan IGOS Center, pada tanggal 17 November 2007 pukul 13:00 – 14:00 akan ada peluncuran NEXT (National Elearning Xchange Technology) oleh APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer). APTIKOM merupakan jaringan perguruan tinggi di bidang ilmu komputer yang memiliki anggota sekitar 700 institusi tersebar di seluruh Indonesia.
Dukung Penggunaan Software Legal
Jika diamati, pameran Bandung Comtech memiliki nuansa untuk mempromosikan penggunaan software legal, terutama yang bersifat Open Source Software (OSS). Ada beragam kegiatan yang diselenggarakan untuk semakin memasyarakatkan penggunaan software legal. Pengunjung yang menghadiri pameran bisa memperoleh gratis CD-ROM Internet Sehat dan Ubuntu Linux 7.10 Gutsy Gibbon PC X86-32 bit. Tiap hari selama pameran, pengunjung bisa konsultasi gratis seputar masalah penggunaan sistem operasi Linux khususnya distro Ubuntu yang ada di stand Ubuntu. Komunitas Ubuntu Indonesia akan siap membantu pengunjung setiap saat termasuk instalasi sistem operasi Ubuntu di notebook milik pengunjung.
Mengunjungi Bandung Comtech 2007, bukan sekedar untuk belanja produk TI dengan harga murah. Anda akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat seputar Linux karena ada dua seminar menarik yang dibawakan oleh praktisi Linux. Akhir pekan, tanggal 17 November, pada siang hari diadakan seminar Ubuntu Linux, Desain dan Industri Kreatif oleh Yulian Andriansyah, Andi Sugandi dan Diki Andreas. Malam harinya diadakan workshop instalasi Ubuntu oleh Rolly M. Arwangga bersama tim. Di hari terakhir pameran yaitu hari Minggu, pengunjung bisa membawa serta anak-anak untuk memperkenalkan Linux sejak dini karena akan ada FOSS (Free Open Source Software) for Kids, ada banyak permainan berbasis open source yang bersifat edukatif. Pengunjung juga bisa mengikuti seminar gratis ”Migrasi Linux” oleh Harry Sufehmi.
Bagi yang memiliki hobi mencari celah security atau hacking, pameran Bandung Comtech tidak bisa dilewatkan karena di tempat ini digelar Hacking Competition. Kompetisi untuk para hacker ini digelar selama lima hari berturut-turut dari jam 10.00 sampai jam 20.00, Grand Final untuk membuktikan sebagai ”dedengkot” hacker diadakan pada hari Minggu. Selain hacker, gamer juga akan unjuk kebolehan karena akan diadakan game competition yang didukung oleh AMD.
Didukung Pemerintah, Pebisnis TIK, Akademisi dan Komunitas
Beberapa instansi dan komunitas yang mendukung pameran Bandung Comtech 2007 diantaranya adalah DEPKOMINFO, RISTEK, DEPDIKNAS, PANIN BANK, JARDIKNAS, APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer), BHTV (Bandung Hi Tech Valley), FORKKOM Bandung, DetikINET, ICT Watch, ITB, Universitas Widyatama, Melsa.Net Internet Service Provider, serta komunitas Open Source. Sementara vendor TI yang turut bergabung memeriahkan Bandung Comtech seperti ACER, ASUS, AMD, AXIOO, BELAIR, EPSON, EXELCOMINDO (XL), CANON, COMPAQ, HEWLETT PACKARD / CONCORDIA, LENOVO, LINKSYS, RUCKLUS, SAMSUNG, TELKOM, ZEND PHP, dan ZYREX. Pengusaha komputer di Bandung yang bergabung di Bandung Comtech 2007 seperti Centro Notebook, Sima Computer, Mediatama, Bio Showroom, Zion Computer, DCS, Virtue Computer, Masterlink, Terus Jaya, Bio Notebook, Titanium, Gracia, Sol Majestia, Lexishop1.com, Penerbit Andi, Millenium III, X-Book, Diaz Comp, Expert, Optoma/PT. Datascrip, Diseven, Mitra Solusindo Computama, IT Talk, Ultima.
Bandung Comtech 2007 merupakan tempat berkumpul berbagai pihak baik dari kalangan bisnis atau industri, akademisi dan juga pemerintah. Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum Majalah BISKOM, mengatakan bahwa acara Bandung Comtech 2007 diharapkan dapat memacu pertumbuhan bisnis TI di kota Bandung. “Bandung Comtech 2007 akan dimanfaatkan untuk ajang perkenalan produk baru, penciptaan peluang bisnis baru bagi para pengusaha TI dan sebagai sarana edukasi kepada masyakarakat luas di bidang industri TI,” ujar pria yang akrab dipanggil Pak Hoky tersebut. Diharapkan pula, Bandung Comtech 2007 akan mempertemukan investor dengan inventor. Sehingga hasil-hasil penelitian anak bangsa tidak berhenti sebatas penelitian saja, melainkan dapat langsung dipasarkan kepada masyarakat luas.
Jadi, bagi yang berkeinginan belanja komputer, pameran Bandung Comtech 2007 adalah saat yang tepat karena nanti akan ada diskon belanja besar-besaran pada produk komputer dan aksesoris dari vendor-vendor ternama. Pameran Bandung Comtech 2007 ini akan dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat yang potensial untuk berbelanja produk TI sehingga diharapkan semakin membuat bisnis komputer di Bandung semakin bergairah. Bandung Comtech 2007 menjadi momentum yang tepat bagi banyak perusahaan untuk memperkenalkan dan meluncurkan berbagai produk, jasa ataupun teknologi terbaru kepada masyarakat. Mengingat Jawa Barat, khususnya Bandung, merupakan daerah dengan penyerapan Teknologi Informasi yang besar, dimana budaya, fashion, gaya hidup dan teknologi seolah tidak dapat dipisahkan, maka membuka bisnis di Bandung bagaikan menanam investasi yang menjanjikan di masa depan.
By TIARA PANDAN SARI (C1C006120) on May 6, 2008
TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi
Perubahan demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman berikutnya telah mengantarkan manusia memasuki era digital, suatu era yang seringkali menimbulkan pertanyaan : apakah kita masih hidup di masa kini atau telah hidup di masa datang. Pertanyaan ini timbul karena hampir segala sesuatu yang semula tidak terbayangkan akan terjadi pada saat ini, secara tiba-tiba muncul di hadapan kita. Masa depan seolah-olah dapat ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat kemajuan teknologi informasi.
Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and communication technology –ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana memecahkan masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional.
Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global.
Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada “kotak” tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia ilmu pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis tersebut, dalam kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai pihak yang paling benar.
Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan nasional suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi keunggulan daya saing suatu negara. Dengan kata lain, pendidikan memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa. Dan hal ini telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti Singapore, Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas kehidupan bangsa-bangsa tersebut terus meningkat.
Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan dijadikan alat politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too slow), sehingga tidak dapat mengejar tuntutan perubahan. Pendidikan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan pendidikan seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Faktor penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal sulam, juga dibuat secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum memiliki visi dan komitmen yang jelas tentang pendidikan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia baru dan sedang melakukan perubahan orientasi pendidikan dari pendidikan yang berbasis akademis kepada pendidikan yang berbasis kompetensi. Disinilah pokok bahasan tentang technopreneurship tersebut perlu dikembangkan. Memang tidak mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk memajukan bangsa ini pada masa yang akan datang.
By Aditiyah juniarfi C1C006060 on May 7, 2008
(Pak, saya terlambat banget ya ngumpulinnya?? Saya ga tau Pak…Maaf)
Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Sekolah
Kenyataan bahwa pada era informasi abad ini, teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (Information and Communication Teclznology) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan global oleh kita karena itu setiap institusi termasuk perpustakaan berlomba untuk mengintegrasikan “ICT” guna membangun dan memberdayakan civitas akademikanya berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Dalam menyikapi perkembangan ICT pada era informasi tahun ini, Perpustakaan berbasis teknologi informasi (komputerisasi) sangat di butuhkan.. Keberadaan perpustakaan berbasis komputerisasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan sehingga dapat memperlancar proses belajar-mengajar di lingkungan Sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta dapat meningkatkan Efektifitas dan efisiensi penatalaksanaan perpustakaan
Pustakawan berpotensi menjadi seorang manajer informasi. Peranan baru itu mensyaratkan penguasaan berbagai macam keterampilan, pengetahuan dan kemampuan. Dengan begitu, mereka dapat mengakses dan menyebarkan informasi berbantuan komputer dan teknologi telekomunikasi dari perpustakaannya. Salah satu pendekatan yang sangat mungkin dilakukan dalam hal ini ialah dengan memanfaatkan teknologi internet. Pustakawan secara proaktif dapat memperkenalkan perpustakaannya ke lingkungan sekolah, bisnis, institusi, akademis dan masyarakat seluas-luasnya melalui situs web.
Sekarang bukan jamannya lagi mencari-cari buku dari katalog kusam di perpustakaan. Peran Teknologi Informasi (TI) telah banyak digunakan untuk memudahkan para pengguna perpustakaan menemukan buku favoritnya. Dengan hanya mengetik judul buku atau nama pengarang pada layar komputer, informasi mengenai posisi serta keberadaan buku yang kita cari pun akan segera tersaji di layar komputer.
Perkembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatisl terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna dapat membantu mencari sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan catalog on-line yang dapat diakses melalui internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan dan dimanapun ia berada.
Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Diperlukan beberapa perangkat untuk pengelolaan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi.
1.Komputer
Komputer diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data koleksi buku data anggota perpustakaan, dan OPAC (Online Public Accses Catalogue). Dengan OPAC, para pelanggan perpustakaan bisa mencari informasi koleksi buku yang mereka butuhkan tanpa harus mencari secara langsung. Komputer itu juga bisa dikoneksikan ke internet. Kemudian setelah mempunyai koleksi digital, maka kita memerlukan pula komputer yang mempunyai performa yang cukup tinggi sebagai sarana untuk menyimpan serta melayani pengguna dalam mengakses koleksi. Sebuah komputer dengan processor pentium 4 dengan hard disk sebesar 40 giga, memory 256 Mega bytes adalah spesifikasi komputer minimal.
2. Internet
Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaan adalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat homepage perpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.
3.Software
Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis offline maupun online (open source), di antaranya Athenaeum Light, Freelib dan Senayan Open Source Library Management System.
AthenaeumLight
Kata Athenaeum diambil dari bahasa Yunani, yang artinya perpustakaan atau reading room. Nama ini digunakan oleh Sumware Consulting NZ untuk nama produk perangkat lunak ‘gratisan’ yang mereka buat. Atheaneum Light 8.5.vi merupakan versi modifikasi dari Athenaeum Light 6.0. yang telah melalui proses konversi menggunakan Filemaker 8.5 dengan kemampuan lebih baik, robust serta mampu mengelola data hingga 8 Tera byte. Athenaeum Light 8.5 ini hanya dapat bekerja pada OS Windows XP dan 2000 service pack 4, dengan processor minimal Pentium 3 atau lebih tinggi.
Dengan software ini para pustakawan akan sangat terbantu dalam pengelolaan perpustakaan, dari proses katalog, input daftar anggota, OPAC, peminjaman, pengembalian, informasi, serta klasifikasi koleksi buku. Pengelola perpustakaan pun tak perlu lagi repot membuat barcode, karena secara otomatis, barcode akan muncul saat pengklasifikasian buku.
Freelib
Freelib merupakan singkatan dari Freedom Library yang diambil dari nama Perpustakaan Freedom, yang pertama kali menerapkan aplikasi software ini. Sampai saat ini, Freelib sudah menginjak versi 3.0.2 untuk aplikasi katalog, manajemen versi 1.0.2 sedangkan untuk Linux versi 0.0.4. Spesifikasi hardware yang direkomendasikan minimal pentium 3, 600 Mhz dengan memori 64 Mb. Untuk versi Linux, spesifikasi hardware yang dianjurkan lebih tinggi, minimal pentium 4 dengan memori minimal 128Mb
Senayan Open Source Library Management System
Senayan Open Source Library Management System merupakan Software perpustakaan buatan Pusat dan Informasi dan Humas Depdiknas dapat di peroleh secara gratis, Kriteria komputer yang disarankan Pentium III class processor 256 MB, RAM Standard VGA with 16-Bit color support, Optional tampilan yang ada di software ini adalah menu peminjaman, pengembalian, penelusuran, anggota, laporan, cover buku. Pada system sirkulasi peminjaman buku mengggunakan Barcodes reader untuk scan barcode dengan ini memudahkan pustakawan. Dapat berjalan pada windows XP, Vista dan Linux.
Selain Athenaeum Light dan Freelib, Senayan Open Source Library Management System masih ada banyak software lain seperti CDS/ISIS, Open Biblio, IBRA, LIBRA, SIMPEL, Chyprus, dan lain lain. Rata rata program itu merupakan open source dan dibuat secara khusus untuk perpustakaan.
Penerapan perpustakaan berbasis teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan, sehingga dapat memperlancar proses belajar mengajar di lingkungan sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengoperasional perpustakaan.
Kemudahan yang ditawarkan teknologi itu harus dimbangi dengan meningkatnya sumber daya manusia (SDM) para pustakawan. Mereka harus memahami dan dapat mengaplikasikan segala kemajuan teknologi itu untuk kepentingan perpustakaan. Karena akan sia-sia saja program-program itu diciptakan, jika tidak dimanfaatkan.
Sumber :http://almaipii.multiply.com/journal/item/64
By Devi Intan Pramesta (C1C006086) on May 7, 2008
Mengembangkan Bisnis Lewat Internet
Dalam sejarah internet Indonesia, jaringan internet mulai dibangun dan dikembangkan pada akhir tahun 80-an melalui jaringan paket radio. Saat itu para pionir pelaku radio amatir Indonesia dalam wadah Amatir Packet Radio Network (AMPR-net) seperti Robby Soebiakto dan Onno W. Purbo, berkontribusi besar dengan mengerahkan segala keahlian dan dedikasinya demi perkembangan internet di Indonesia. Kemudian dalam perjalanannya, internet mulai banyak dikonsumsi secara umum di akhir tahun 1990-an yang diitandai mulai menjamurnya warung internet (warnet) di berbagai tempat.
Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia relatif stabil yaitu 25% per tahun, namun cenderung berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2000 pengguna internet baru 2 juta orang, namun di tahun ini diperkirakan sudah mencapai angka 20 juta pengguna. Memang angka yang cukup besar meski sebenarnya belum ada 10 persen-nya dari total penduduk Indonesia. Dilihat dari tingkat penetrasinya yang hanya 8,1%, Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara ASEAN lainnya. Salah satu faktornya karena penyebaran penggunaan internet di Indonesia tidak merata dan masih terkonsentrasi di Jawa, sementara desa-desa di luar Jawa kurang mendapatkan akses komunikasi data tersebut.
Namun pemerintah bukannya diam saja dalam upaya pertumbuhan internet. Lewat Depkominfo, pemerintah mencanangkan program Desa Berdering pada 2010 dan Desa Pintar pada 2015 di mana sekitar 50% penduduknya akan dapat mengakses Internet. Hal ini sesuai dengan target PBB pada sidang WSIS 2003 di Geneva, dimana diharapkan pada tahun 2015 sudah 50% penduduk Indonesia terkoneksi ke Internet.
Seiring dengan perkembangan internet, para pakar marketing juga melihat pergeseran marketing dari konvensional ke arah electronic/internet marketing. Internet diyakini menjadi media ampuh untuk mengembangkan bisnis. Bahkan perusahaan yang tidak segera beradaptasi diperkirakan akan ditinggalkan klien dan konsumennya. Internet marketing sendiri terus berkembang dari sekedar sebuah company branding, e-commerce (jual beli online), program afiliasi, blog marketing sampai RSS Marketing.
Fenomena yang ada sekarang, internet tidak hanya teruntuk perusahaan yang sudah establish saja, namun sudah banyak dioptimalkan untuk small business bahkan personal business. Apalagi banyaknya penyedia webblog gratis, ikut menyemarakkan dunia bisnis di inernet. Banyak cerita sebuah toko yang hampir kolap mencoba bangkit lewat internet, hasilnya bisnisnya kembali normal bahkan berkembang lebih besar dari sebelumnya. Selain meningkatkan prestise sebuah usaha, lewat website, webstore atau weblog, pemilik usaha juga bisa berinterkasi dengan calon konsumennya sekaligus mencari dan menarik konsumen-konsumen baru.
Ada banyak upaya agar sekecil apapun bisnis kita, sesederhana apapun produk dan jasa kita, bisa bersaing dan terus berkembang lewat internet.
* Pertama tentunya adalah keberadaan sebuah webpage. Sebuah website bisa memberikan informasi tentang bisnis kita pada para pengunjung. Anda tidak harus belajar detail membuat sebuah website, banyak penyedia blog gratis bisa berfungsi sebagai website sederhana. Kita bisa memunculkan profil lengkap usaha kita, foto-foto atau gambar toko/usaha atau produk-produk kita, dan juga nomor telepon dan email yang bisa dihubungi.
* Kedua yaitu mendaftarkan bisnis atau usaha kita di portal atau direktori bisnis, seperti http://www.indonetwork.co.id atau http://www.barangjasa.com. Dengan begitu akan memudahkan bertemunya para pemilik usaha dengan calon konsumen yang sedang mencari sebuah produk atau jasa.
* Ketiga yaitu mengikuti komunitas-komunitas bisnis di Internet yang bisa diikuti di forum groups atau mailing list. Dengan mengikuti komunitas, para anggotanya akan saling membantu dalm memberikan informasi dan juga peluang yang bermanfaat.
By Gian Mokhammad R(c1h004056) on May 7, 2008
-Assalamu’alaikum wr.wb…
Bapak, tugas artikel ini juga tugas untuk kelas rabu 14.15 yang kemarin, 6 Mei 2008, kosong?)
Wassalamu’alaikum wr.wb…-
Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi
Banyak pemain consumer good besar yang memilih membangun jaringan distribusi sendiri karena alasan-alasan klasik seperti biaya yang lebih murah dan sulitnya menemukan distributor yang bertanggungjawab (tidak memainkan harga, memperhatikan efisiensi dan memiliki armada yang cukup). Jelas ini tantangan besar bagi distributor independen.
Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan keseriusan perusahaan Distributor Independen (DI) untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) yang tepat. Dengan membangun bisnis proses berbasis TI yang terintegrasi, DI dapat melaporkan kinerja bisnisnya kepada produsen secara berkala baik harian, mingguan atau bulanan berdasarkan produk. Misalnya, jika DI mendistribusikan produk-produk Unilever, maka perusahaan tersebut bisa melaporkan data-data penjualan produk Unilever secara online ke Unilever secara berkala langsung dari software aplikasi distribusi perusahaan.
Dengan pola ini, kepercayaan produsen kepada DI akan membesar dengan sendirinya karena semua dilaporkan secara terbuka. Produsen selalu ter-update berapa besar penjualan produknya dan produk mana yang paling laku di daerah tertentu secara riel- time. Dengan informasi yang berasal dari para DI ini produsen dapat melakukan analisa yang tepat mengenai produknya dan mendapatkan data akurat untuk rencana produksinya. Lebih dari itu, produsen dapat memantau stok aman setiap DI sehingga mengefisienkan pengiriman barangnya.
Bagi DI sendiri, implementasi TI akan memberi manfaat yang luar biasa dalam hal meningkatkan efisiensi perusahaan. Tantangan utama bisnis distribusi adalah inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia memang bukan urusan sepele.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Inventory System misalnya, pergerakan item barang mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center) dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.
Masalah ujung tombak penjualan pun bisa diatasi dengan TI. Aktivitas orang sales DI tercatat secara elektronik, baik ketika melakukan canvassing barang, mengunjungi pelanggan dan mengambil order, atau ke supermarket untuk mengecek apakah ada barang yang perlu ditambahi. Dengan mengimplementasikan modul Sales Order Processing & Invoicing, sekali jalan seorang sales dapat melakukan banyak hal, termasuk mengeluarkan invoice.
Bahkan jika ingin lebih efisien, rute perjalanan orang sales sudah ditetapkan. Sementara untuk mempermudah kerja orang sales, pihak manajemen dapat menetapkan kebijakan harga diskon secara terpusat yang tidak dapat diubah oleh orang sales.
Jika kedua modul software aplikasi itu diintegrasikan, hasilnya akan lebih bagus. Begitu invoice dicetak, dan barang dikirim, maka inventory segera ter-update. Akan lebih bagus lagi jika modul-modul tersebut menyatu dengan modul keuangan termasuk Account Recievable (A/R) dan Account Payable (A/P) sehingga perusahaan dapat mengelola piutang dan tagihan dengan baik.
Dengan basis data yang akurat DI yang mengimplemntasikan piranti lunak distribusi dapat melakukan analisa yang tepat terhadap pergerakan produk-produk yang didistribusikannya. Sering terjadi beberapa item barang lebih laku di suatu tempat atau sebaliknya. Dengan memahami ini secara cepat, DI dapat secara efisien mengalokasikan barang ke setiap daerah. DI pun dapat dengan cepat mengetahui kelompok produk yang paling laku sehingga persediaan barang bisa dijaga dalam batas aman.
Banyak jalan untuk membangun DI berbasis TI seperti di atas. Perusahaan dapat membangun sendiri sesuai dengan budget dan secara bertahap. Hanya saja, biasanya perusahaan DI jarang memiliki tim programmer. Jika demikian, membeli software aplikasi distribusi adalah pilihan terbaik. Saat ini cukup banyak pilihan piranti lunak tersebut di pasar baik yang buatan lokal maupun buatan luar negeri. Cara mencarinya mudah via Internet. Cukup lacak di portal pelacak Google (www.google.com) atau Yahoo! (www.yahoo.com). Salah satu pemain lokal adalah PT Pratesis (www.pratesis.com) yang merilis piranti lunak Scylla Pro 3.0 dua bulan lalu dengan dua pilihan operating system Windows dan Linux dengan database Oracle.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih piranti lunak seperti ini adalah keluwesannya mengadopsi kebutuhan lokal. Aplikasi jadi biasanya kaku, sehingga ketika diterapkan membutuhkan modifikasi yang cukup banyak dan kadang memakan biaya tinggi. Padahal dalam bisnis proses distribusi banyak kasus-kasus lokal yang harus bisa diadopsi di software aplikasi. Sebagai contoh adalah soal pajak yang setiap Negara pasti berbeda kebijakannya. Demikian pula kebijakan multiple diskon yang diberlakukan DI kepada pelanggannya yang kadangkala tidak sama.
Jika makin banyak perusahaan DI yang menjalankan bisnisnya dengan dukungan TI yang baik, bisa jadi di masa mendatang semakin sedikit produsen yang mengembangkan sendiri jaringan distribusinya.
By herisna widyasari_C1C 006 012 on May 8, 2008
Membangun Bisnis Berbasis Teknologi
Informasi
Istilah TI ( Teknologi Informasi ) atau IT ( Information Technology ) yang populer saat ini adalah bagian dari mata rantai panjang dari perkembangan istilah dalam dunia SI ( Sistem Informasi ) atau IS ( Information System ). Istilah TI memang lebih merujuk pada teknologi yang digunakan dalam menyampaikan maupunmengolah informasi, namun pada dasarnya masih merupakan bagian dari sebuah sistem informasi itu sendiri. TImemang secara nota bene lebih mudah dipahami secara umum sebagai pengolahan informasi yang berbasis pada teknologi komputer yang tengah terus berkembang pesat.
Sebuah Sistem TI atau selanjutnya akan disebut STI, pada dasarnya dibangun di atas lima tingkatan dalam sebuah piramida STI. Berurutan dari dasar adalah : konsep dasar, teknologi, aplikasi, pengembangan dan pengelolaan.
Pengantar Sistem Teknologi Informasi (STI)
1. Konsep Dasar
Konsep memberikan pemahaman yang penting dan menyeluruh dari sebuah STI yang tengah dibangun. Setidaknya ada 4 (empat) konsep dasar dari sebuah STI yang harus dipahami secara umum.
1. Konsep tentang sistem yang tengah berlangsung atau berlaku. Ini penting karena STI itu sendiri adalah sebuah sistem dan merupakan bagian dari sistem pula, misalnya dalam sebuah perusahaan.
2. Konsep tentang informasi. Informasi tentu saja adalah produk yang diharapkan dapat dihasilkan darisebuah STI dan informasi adalah sebuah fokus yang harus mendapatkan pemahaman serius secara umum dan merata. Sudah menjadi sebuah permasalahan yang sering kali muncul manakala sering kali didapati sebuah kenyataan bahwa terkadang sebuah STI tidak selalu menghasilkan informasi, bahwa banyak dari STI dapat dinilai gagal karena ternyata bukan informasi yang dihasilkan, meskipun didukung teknologiyang cukup memadai.
3. Konsep yang menyangkut komponen-komponen pembentuk STI itu sendiri. Pemahaman akan hal tersebut akan berguna saat proses penerapan STI dengan aplikasi – aplikasi berbeda sambil tetap mempertahankan STI tersebut sebagai satu kesatuan yang utuh. Aplikasi STI untuk Bagian Penjualan sudah tentu akan berbeda dengan aplikasi yang digunakan di Bagian Keuangan dan pasti berbeda dengan yang diterapkan di Bagian Personalia, namun ketiganya merupakan bagian dari sebuah STI yang lebih luas dan besar dan dibangun atas dasar yang sama. Konteks penerapannyalah yang membuat ketiganyamemiliki perbedaan.
4. Konsep tentang pemanfaatan informasi yang dihasilkan dari STI yang dikembangkan.
Dengan memahami tipe-tipe/jenis-jenis pemanfaatan informasi, maka dapat diketahui karakteristik/macam ragam informasi yang relevan untuk dihasilkan oleh sebuah STI.
2. Teknologi
Di atas konsep dasar dapat ditentukan teknologi yang akan digunakan dalam STI yang akan dikembangkan.Dapat berupa teknologi komputer, telekomunikasi atau teknologi apapun yang dapat memberi nilai tambah dalam proses STI
3. Aplikasi
Pengaplikasian dari STI dapat diterapkan dengan berbagai cara. Bisa diterapkan mengikuti fungsi-fungsi organisasi atau tingkatan manajemen dimana STI tersebut akan diaplikasikan. Beberapa contoh STI yang diaplikasikan mengikuti fungsi-fungsi organisasi yang ada misalnya, MIS (Marketing Information System) untuk Bagian Penjualan, HRIS (Human Resources Information System) untuk Bagian Personalia, atau FIS (Financial Information System) untuk Bagian Keuangan. Sedangkan beberapa contoh STI yang diaplikasikan mengikuti fungsi-fungsi manajemen yang ada misalnya, TP (Transaction Processing) dan PCS (Process Control System) untuk manajemen level bawah, DSS (Decision Support System) atau sistem penunjang keputusan, ES (Expert
System) atau sistem pakar, kemudian ada EIS (Executive Information System) untuk manajemen tingkat,menengah dan atas.
4. Pengembangan
STI dapat dikembangkan melalui beberapa cara. Antara lain :
1. SDLC ( System Development Life Cycle ), yang menempuh tahapan analisis, desain, implementasi dan perawatan dalam siklus hidupnya.
2. Metode Paket (Package), yang merupakan pembelian modul dalam bentuk paket STI.
3. Prototype, mengandalkan pengembangan paket kecil secara terus-menerus selama digunakan sampai
prototype tersebut memiliki bentuk jadi yang diinginkan.
4. EUC (End User Computing) yang dikembangkan para praktisi dari dalam/insourcing.
5. Outsourcing, yang merupakan STI yang dikembangkan dan dioperasikan oleh pihak ketiga/vendor.
5. Pengelolaan
Tahap paling tinggi dari pengembangan STI adalah pengelolaan STI itu sendiri yang telah beroperasi. Ada 2(dua) isu penting tentang pengelolaan STI.
1. Pertama, pengendalian dan kontrol terhadap STI itu sendiri. Kontrol yang tidak dikelola dengan baikakan menyebabkan STI tidak dapat mencapai tujuannya. Informasi yang diinginkan dari STI mungkinbisa menjadi tidak akurat. Kontrol dan pengendalian di sini termasuk di dalamnya isu-isu seputar keamanan STI.
2. Kedua, etika dan politik informasi yang juga harus diberikan perhatian yang cukup. Pengelolaan dibidang ini yang dilakukan dengan tidak tepat mungkin akan menurunkan kinerja. Demikian juga dengan pengelolaan politik informasi. Banyak STI yang secara teknis bagus, tetapi mengalami kegagalan dalam penerapannya karena adanya politik informasi yang menggagalkan STI tersebut. Salah satu diantaranya adalah adanya resistance to change atau keengganan berubah karena STI yang diterapkan ini akanmenurunkan kekuasaan atau kesempatan seseorang yang menyebabkan yang bersangkutan engganmenerima STI yang ada.
Informasi dalam STI
Dalam sistem teknologi informasi, selanjutnya disebut STI, serumit apa pun atau sesederhana apapun pengembangannya, terdapat satu inti dan tujuan, yaitu menghasilkan informasi itu sendiri. Sesederhana apapun STI yang dikembangkan, jika bisa menghasilkan informasi yang diharapkan, maka pengembangannya bisa dikatakan berhasil. Namun di lain pihak, secanggih apa pun STI yang dikembangkan, jika tidak dapat menghasilkan informasi yang diharapkan, maka pengembangan STI yang canggih tersebut dikatakan gagal. Kata ‘informasi’ telah menjadi urat nadi pengembangan STI. Lalu, apakah informasi itu sendiri ? Telahdisepakati secara umum, informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna bagi para pemakainya.
Dalam mencermati kalimat tersebut perlu diperhatikan bahwa data yang diolah menjadi bentuk yang berguna, tidak hanya sekedar memiliki arti. Katakanlah, misalnya informasi “1,3 meter”, 1,3 meter jelas memiliki arti sebagai satu koma tiga satuan panjang yang bernama “meter”, namun tidak begitu berguna bagi orang yang menginginkannya dalam satuan “centimeter”. Dengan demikian “1,3 meter” tersebut harus diolah
kembali agar menjadi berguna bagi orang yang memerlukannya. Misalnya dengan menyodorkan pada orang tersebut konversi satuan meter ke centimeter, bahwa “1 meter” adalah sama dengan “100 centimeter” sehingga kita bisa memberikan kepadanya angka “130 centimeter”. Informasi tersebut kini menjadi berguna bagi orang yang menginginkan informasi dalam satuan “centimeter”.
Di dalam STI, sebuah informasi dapat dikatakan berguna apabila ditopang oleh tiga hal :
1. Tepat pada kebutuhannya atau relevan
2. Tepat pada waktunya atau timelines
3. Tepat nilainya atau accurate
Dalam STI, informasi yang tidak didukung oleh ketiga hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai informasi yang berguna, tetapi dapat dikatakan sebagai informasi sampah atau garbage. Kelak anggapan tersebut memunculkan hukum Gi = Go (Garbage in = Garbage out / Sampah yang masuk = Sampah yang keluar).
Dalam perkembangannya, informasi di dunia STI banyak dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam dunia organisasi bisnis yang memang merupakan konsumen terbesar dari pengembangan STI. Hal tersebut mengakibatkan informasi dalam STI secara umum disebutkan memiliki 3 (tiga) tipe (Jogiyanto HM) sebagai berikut :
1. Informasi Pengumpulan Data (Scorekeeping Information)
Merupakan informasi yang mengambil bentuk berupa akumulasi atau pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan, “ Am I doing well or badly ?” “Apakah saya sudah mengerjakannya dengan baik atau belum ?”. Dalam sebuah organisasi bisnis atau perusahaan, informasi ini berguna bagi manajer tingkat bawah untuk mengevaluasi kinerja personel-personelnya.
2. Informasi Pengarah Perhatian (Attention Directing Information)
Merupakan informasi untuk membantu memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang menyimpang, ketidakberesan, ketidakefesienan dan kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan informasi tersebut untuk menjawab pertanyaan, “What problem should I look into ?” Permasalahan apakah yang seharusnya saya cermati ?” Dalam sebuah organisasi bisnis atau perusahaan, informasi tipe ini akan membantu manajemen menengah untuk melihat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Penyimpangan disini bisa berupa over budget biaya, target penjualan yang tidak tercapai, pendapatanperusahaan yang menurun, biaya produksi yang meningkat diluar perkiraan atau lainnya. Yangmerupakan perbedaan dari apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi dalam kenyataan, das sein vsdas sollen.
3. Informasi Pemecahan Masalah (Problem Solving Information)
Merupakan informasi yang membantu pengambilan keputusan untuk memecahkan permasalahan yang tengah dihadapi. Informasi ini untuk menjawab pertanyaan “ Of the several ways of doing the job,which is the best ?” Problem solving biasanya dihubungkan dengan keputusan-keputusan yang tidak berulang-ulang serta situasi yang membutuhkan analisis yang dilakukan oleh manajemen tingkat atas. Masih bersentuhan dengan pengembangan STI dalam sebuah organisasi yang bergerak di bidang bisnis khususnya, informasi mengambil beberapa karakteristik. Karakteristik yang berbeda tersebut biasanya disebabkan pembagian tingkat manajemen yang diberlakukan dalam sebuah organisasi bisnis. Setiap level manajemen memiliki perbedaan fungsi dan fokus kerja sehingga membutuhkan informasi yang relevan pula. Karena itulah sebenarnya, informasi mengikuti karakteristik dari tiap level manajemen yang ada.
Beberapa karakteristik yang bisa disebutkan antara lain :
1. Kepadatan Informasi
Manajemen tingkat bawah biasanya memerlukan informasi yang berkarakter mendetail dan terperinci atau dengan kata lain, kurang padat. Hal tersebut terjadi karena manajemen level bawah lebih banyak berkecimpung dengan tugas pengendalian operasi langsung. Sedangkan untuk manajemen yang lebih tinggi, biasanya informasi makin tersaring, lebih ringkas dan semakin padat.
2. Frekuensi Informasi
Frekuensi informasi yang diterima manajemen yang berbeda akan berbeda pula. Untuk manajemen tingkat bawah biasanya lebih cenderung rutin karena berkaitan dengan tugas dan pekerjaan yang rutin pula serta berulang-ulang. Semakin tinggi level manajemen, informasi yang dibutuhkan akan semakin tidak rutin dan seringkali ad hoc atau mendadak karena manajemen yang makin tinggi seringkali dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tidak terstruktur dimana pola dan waktunya tidak pasti.
3. Jadwal Informasi
Masih berkaitan dengan frekuensi. Karakter informasi yang disajikan secara periodik dan jadwal yang jelas biasanya dikonsumsi oleh manajemen tingkat bawah. Sedangkan manajemen yang lebih tinggi biasanya tidak terjadwal.
4. Periode Informasi Tersebut Dibutuhkan
Manajemen tingkat bawah lebih membutuhkan informasi historis untuk mengevaluasi tugas-tugas rutin yang sudah terjadi. Sedangkan karakter informasi yang dibutuhkan oleh manajemen yang lebih tinggi cenderung informasi prediksi yang menyangkut nilai masa depan.
5. Akses Informasi
Informasi historis, rutin/periodik, berulang-ulang dapat diakses secara offline. Sajian offline ini ditujukan untuk manajmen tingkat bawah. Sebaliknya, untuk manajmen tingkat atas yang memerlukan informasi kapanpun diperlukan akses informasi secara online.
6. Luas Informasi
Terfokus pada masalah tertentu digunakan oleh manajmen tingkat bawah yang memang mempunyai tugas yang khusus. Sedangkan untuk manajemen tingkat atas membutuhkan informasi yang semakin luas karena manajemen tingkat atas berhubungan dengan permasalahan yang lebih luas.
7. Sumber Informasi
Manajemen tingkat bawah biasanya lebih terfokus pada pengendalian operasi internal perusahaan,maka manajemen tingkat ini memerlukan informasi yang bersumber pada internal perusahaan itu sendiri.Sedangkan untuk menejemen tingkat atas yang berorientasi pada strategi dan perencanaan di masa yangakan datang , selain informasi internal, diperlukan juga informasi yang bersumber dari eksternal
Outsourcing Percepatan Pengembangan
STI
American Hospital Supply Company (AHSC) memulai pengembangan Sistem Teknologi Informasi (STI) sejaktahun 1950 untuk mencapai tingkat pengembangan STI pada saat ini. Sebuah usaha pengembangan STI yangterus-menerus, memakan waktu yang lama dan sudah pasti memakan biaya yang sangat besar. Namun, pada saatini, tidak semua organisasi bisnis sepakat dengan apa yang ditempuh oleh AHSC untuk mengembangkan STI. Faktor persaingan bisnis yang sarat strategi, bidang persaingan bisnis yang semakin meluas dan kompleks, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat organisasi-organisasi bisnis ini memutar otak lebih keras untuk bisa mengembangkan STI tanpa mengganggu fokus bisnis mereka baik dari segi budget, strategi maupun sumberdaya organisasi lainnya. Dengan kata lain mereka mengharapkan pengembangan STI yang progresif,cepat dalam pengembangan, cepat dalam implementasi, berkelas, berkualitas tinggi, solid dan ditangani oleh para expert / pakar dibidangnya sekaligus sanggup membawa organisasi bisnis mereka memiliki kemampuan daya saing yang meningkat dan tidak ragu untuk terjun dibidang persaingan bisnis yang global. Nyaris dengancara instan.
Gagasan-gagasan seperti itulah yang kemudian melahirkan istilah pengembangan STI metode Outsourcing, sebuah metode pengembangan STI secara terpadu yang dikembangkan dan dikelola oleh pihak ketiga.
Motode outsourcing ini menjadi pilihan karena memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut :
1. Biaya teknologi yang semakin meningkat dan akan lebih murah jika perusahaan tidak berinvestasi lagi tetapi menyerahkan pada pihak ketiga dalam bentuk outsourcing yang terhitung lebih murah dibandingkan mengembangkan sendiri dikarenakan outsourcer menerima jasa dari perusahaan lainnya sehingga biaya tetap outsourcer dapat dibagi ke beberapa perusahaan yang memanfaatkan jasanya.
2. Mengurangi waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih lebih dari satu sekaligus untuk bekerja sama untuk menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
3. Jasa yang diberikan oleh outsourcer telah dikembangkan oleh para ahlinya
4. Suatu perusahaan mungkin tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem teknologi sedangkan outsourcer memilikinya
5. Perusahaan merasa tidak perlu dan tidak ingin melakukan transfer teknologi dan tranfer pengetahuan yang dimiliki outsourcer.
6. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi
7. Mengurangi resiko kegagalan investasi yang mahal
8. Perusahaan dapat memfokuskan pada pekerjaan lain yang lebih penting
Sedangkan paket-paket aplikasi yang terintegrasi dalam sebuah metode outsourcing biasa disebut ERP(Enterprise Resources Planning), suatu perangkat lunak / software dengan aplikasi yang terintegrasi dengan baik untuk digunakan secara luas dalam organisasi bisnis. Termasuk di dalamnya TPS (Transaction Processing System) ditambah dengan sistem-sistem informasi fungsional yang terintegrasi. Aplikasi-aplikasi yang terintegrasi itu biasanya dapat digolongkan dalam fungsi-fungsi akuntansi, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, logistik dan lainnya. Aplikasi yang menyangkut fungsi akuntansi biasanya modul buku besar, piutang
dagang, hutang dagang, aktiva tetap, manajemen kas dan akuntansi. Fungsi keuangan dikelola oleh modul analisis portofolio, analisis resiko, analisis kredit, manajemen aktiva, sewa guna dll. Aplikasi ERP untuk fungsi SDM diantaranya rekruitmen, penggajian, manajemen personil, pengembangan karyawan dan manajemen kompensasi serta lainnya. Dibudang pemasaran meliputi manajemen relasi pelanggan, pemasukkan order dan pemrosesan order dll. Sedangkan ERP dibidang logistik biasanya perencanaan produksi, menejemen materialdan manajemen pabrik.
Manfaat ERP menurut penelitian terakhir yang dilakukan oleh Martin (et al., 2002) menunjukkan adanya 6(enam) keuntungan dengan menerapkan paket ERP. 3 (tiga) keuntungan berhubungan dengan masalah bisnis, 2(dua) berhubungan dengan STI dan 1 (sastu) berhubungan baik bisnis maupun STI.
Tiga keuntungan yang berhubungan dengan masalah bisnis antara lain :
1. Integrasi data yang menyebabkan akses data ke unit bisnis lain, fungsi-sungsi lain, proses-proses dan organisasi meningkat.
2. Menyediakan cara lain untuk melakukan bisnis yaitu lewat rekayasa proses bisnis (business process reengineering) menuju ke orientasi proses dan pengurangan biaya proses bisnis.
3. Menyediakan kemampuan global dengan menyediakan globalisasi lewat proses bisnis yang umum dan kelas dunia yang berstandar internasional.
Kedua keuntungan yang berkaitang dengan STI :
1. Manfaat menerapkan paket yang sudah jadi bukan membangunnya dari bawah. Manfaat yang diperoleh adalan manfaat waktu yang lebih cepat, biaya yang relatif murah dan kemampuan dari paket.
2. Memanfaatkan arsitektur teknologi informasi yang digunakan yang dapat menghemat biaya
REFERENSI
1. [Jogiyanto HM. 2003] Sistem Teknologi Informasi terbitan Andi Offset Yogjakarta.
2. Sumber-sumber terkait lainnya.
By Waluyo (C1H005036) on May 8, 2008
Once things start going right, you could be asked to bring some proof.
By maeva on Jul 3, 2008
Just follow up your instinct and people will believe you.
By Sylvia on Jul 13, 2008
Don’t you understand that this is the best time to get the business loans, which will help you.
By Kristy28DAWSON on Mar 1, 2010